Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 36: The Stronger Saints, part 5



Pada detik ini, tak ada frasa yang tepat untuk menggambarkan keadaan Axellibra selain kekacauan besar. Death Knight ada di mana-mana. Para prajurit Knight Templar bekerja keras untuk mengatasi mereka. Bahkan King Lexata IX sampai turut menggerakkan pedang. Namun, Death Knight seakan tak ada ada habisnya. Apalagi mereka berada di dalam kota, Lexata IX dan para prajuritnya terpaksa menahan diri dari mengeluarkan spell skala luas.


Sementara itu, Lancelot—yang berusaha menyerang dua wanita tak normal yang berada di atas salah satu atap bangunan—terpaksa menunda niat lantaran kemunculan cermin yang mengeluarkan replika dirinya. Lancelot bisa merasakan dia kuat dari hanya melihatnya. Dan ketika pedang mereka berbenturan, apa yang Lancelot rasakan benar-benar tak bisa lagi diragukan. Ia benar-benar menghadapi dirinya sendiri; matanya benar-benar melihat kekuatannya sendiri.


Lancelot tak memiliki opsi lain selain menghancurkan replika dirinya jika ingin menyerang kedua wanita itu. Dan itu adalah apa yang akan ia lakukan. Tanpa keraguan sedikit pun ia mengayunkan pedang dengan kekuatan penuh.


Tak jauh dari lokasi pertempuran Lancelot dengan replika dirinya, tepatnya di atap bangunan yang ingin sang saint tuju, Valeria menghela napas mendengar penolakan Lilithia. Sang commander menolak menerima tawaran ratu para vampire. Tidak bisa dibilang itu mengejutkan, Lilithia bukan satu-satunya orang yang menghargai dan menaati kesepakatan.


“Lantas, bagaimana kalau Nueva terbunuh? Apa kau akan menerima tawaran Nona Vermyna?” tanya Valeria sekali lagi.


Mata Lilithia tak beranjak dari memandang pertempuran Lancelot dengan replikanya, tetapi ia tetap mendengar pertanyaan sang vampire.


Bagaimana kalau Nueva terbunuh?


Lilithia tidak pernah memikirkan kemungkinan itu, tetapi ia mengerti kalau Nueva bukan yang terkuat. Tepatnya, dia belum menjadi yang terkuat. Mati bagi Nueva bukan sesuatu yang tak masuk logika. Lilithia bahkan tak punya keraguan kalau sekarang Xavier lebih kuat dari Nueva. Dan jika Nueva sampai mati, keinginannya takkan bisa terpenuhi.


“Datangi aku lagi jika Nueva sampai mati,” respons Lilithia setelah beberapa saat. “Jika aku harus menjadi vampire dan bekerja di bawahnya agar keinginanku terpenuhi, biarlah begitu.” Lilithia menjeda sebentar dan menoleh pada sang vampire. “Apa kalian mengetahui keinginanku dari Lumeira pengkhianat itu?”


“Sejak awal Lumeira tak pernah setia, kau tak bisa mencapnya sebagai pengkhianat. Tapi terima kasih untuk jawabanmu. Nona Vermyna sangat memerlukan petarung yang kuat untuk menyerang sumber dari segala kesengsaraan yang ada.”


“Aku masih tak percaya Edenia nyata. Kalau dia nyata, tak mungkin dia membiarkan orang-orang yang ingin membunuhnya untuk merencanakan kematiannya. Kecuali…itu memang adalah apa yang dia inginkan. Mungkin dia ingin menciptakan era para dewa…atau barangkali dia bosan dan perlu tantangan.”


Lilithia mengedikkan bahu dan berdiri.


“Kau mau pergi?”


“Wakilku baru saja melaporkan kalau Divisi 12 sudah berada di lokasi Divisi 1 beristirahat. Aku akan membawa mereka ke sini. Kau bisa lakukan apa pun di kota ini, tapi jika Neira Claudian datang sebelum aku kembali, katakan padanya kalau aku menantang dia duel satu lawan satu.”


“Kau yakin? Neira Claudian punya pedang gravitasi; sihir kebanggaanmu mungkin takkan efektif melawannya.”


Lilithia melirik Valeria seolah dia baru saja mengatakan hal paling bodoh di dunia. “Tak ada yang lebih baik dariku dalam gravitasi,” tegasnya sebelum menghilang ke dalam cermin.


Valeria mengedikkan bahu, tapi bibirnya melengkung tipis. Kemudian pandangannya kembali berlabuh pada Lancelot yang kesulitan menghadapi replikanya sendiri.


“Mengganggu Lancelot dan membuatnya mati di tangan replikanya akan menarik. Ah, tapi sebelum itu aku harus melenyapkan semua stok tubuh Genea—untuk berjaga-jaga kalau Crow gagal mengurung jiwanya.”


...— — — — —...


Lancelot menggeram penuh amarah. Ia tak bisa memercayai apa yang replika itu tunjukkan. Bukan saja dia bisa menggunakan semua teknik pedangnya, dia juga bisa menggunakan spell gabungan Lancelot. Lebih parah dari itu, makhluk replika tersebut baru saja menggunakan sihir peniadaan pada teknik pedang yang ia gabungkan dengan salah satu spell andalannya.


Dan tentu saja, sebagaimana Replika Nueva tak bisa berkomunikasi, replika dirinya juga begitu. Lancelot tak bisa berharap untuk mendapatkan jawaban. Jika ia benar-benar menginginkan jawaban, yang harus Lancelot lakukan adalah menghabisi replikanya dan membuat pembuatnya babak belur.


Namun begitu, Lancelot bukan termasuk golongan orang-orang idiot. Ia bisa menggunakan otaknya dengan baik. Replikanya itu baru menggunakan beberapa spellnya setelah ia gunakan. Pun begitu dengan [Nullification Magic]—sihir yang bisa meniadakan segala serangan selama bisa dilihat. Replika Lancelot menggunakan sihir itu setelah Lancelot menggunakannya.


Apa itu artinya dia bisa meniru apa pun yang bisa kulakukan?


Jika itu rahasianya, Lancelot harus berhati-hati untuk tidak menggunakan lebih banyak spell. Kecuali ia yakin spell yang ia gunakan akan bisa membunuhnya. Jika tidak begitu, Lancelot khawatir dia bisa sa—


Serangan yang replikanya lancarkan secara tiba-tiba memaksa Lancelot mengabaikan isi pikirannya. Ia menangkis sabetan pedang sang replika dengan pedangnya. Kedua pedang sama-sama berselimutkan api. Lancelot mencoba menekan, tetapi replikanya juga melakukan hal yang serupa. Seperti yang sudah-sudah, mereka tak mampu mengungguli satu sama lain. Dan seperti yang sudah-sudah pula, keduanya secara serentak melompat ke belakang memperlebar jarak.


Bagaimana caranya menghadapi diri sendiri? Lancelot bertanya-tanya sembari kembali menyerang. Semakin ia menyadari aksinya justru memperkuat sang replika, semakin ia ragu untuk mengerahkan kekuatan penuh. Namun, jika ia menurunkan kekuatannya, boneka replika itu akan leluasa menghancurkan sang saint. Aku tidak yakin bisa menghabisinya dengan spellku yang tersisa. Harusnya aku menyadari kemampuannya lebih awal. Apa yang harus kulakukan sekarang?


Lancelot menghela napas panjang, antara kesal pada diri sendiri dan marah atas situasi. Apa boleh buat, batinnya, akan kugunakan kekuatan tertinggi dari [Nulfication Magic]. Meskipun aku harus kehilangan semua sihirku, tapi tak ada pi—


“Lancelot.”


—lihan la‒Lancelot spontan menoleh pada sumber suara yang baru saja memanggilnya. “…Nona Neira?”


Seorang wanita dengan postur tubuh yang serupa dengan sang nephilim sudah berdiri belasan meter di kirinya, tepatnya di atas bongkahaan bangunan yang dihancurkan sang replika. Rambutnya biru panjang bergelombang, digerai bebas ke belakang. Pakaiannya adalah apa yang biasa dikenakan seorang putri, tetapi lebih kepada seorang kesatria dibandingkan putri biasa.


Lancelot tak sempat melanjutkan suaranya karena sang replika telah menyerang. Ia sudah terbilang veteran, harusnya tak melakukan kesalahan seperti terdistraksi dari musuh. Sang replikan benar-benar mengambil manfaat akan hal itu. Lancelot mengumpat dalam hati.


“Pergilah ke gereja.” Suara itu datang dari belakang, tetapi Neira sendiri sudah berada di belakang Replika Lancelot (yang telah membeku tanpa Lancelot sadari) dengan sebilah pedang di tangan. “Valeria ada di sana. Urusan di sini biar aku yang tangani.”


Neira Claudian langsung melangkahkan kaki tanpa menunggu respons sang saint. Pada saat yang bersamaan, langit kota dipenuhi tiga lingkaran putih super masif yang saling bersinggungan.


“Holy Magic: Light of Purification, Holy Sanctuary, Holy Disintegration.”


Dan seketika kota dipenuhi cahaya suci. Replika Lancelot yang membeku lenyap bagaikan kertas yang dijatuhkan dalam kolam api. Dan begitu pula nasib semua Death Knight yang memenuhi ibukota.


…Satu-satunya yang lebih baik dalam [Holy Magic] melebihi Saint Petra tidak lain adalah wanita bermata biru itu.


Lancelot berterima kasih dalam diam, kemudian melesat menuju gereja seperti yang diinstruksikan.


...»»» End of Chapter 36 «««...


Jika lupa, sila cek: Against the World: Initiation, Chapter 23 (Part 10), tentang Neira sudah tertulis di sana.