Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 7: Blood in the Forest, part 1



...—25th June, E642 | Hutan Besar Amarest—...


HUJAN bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, tetapi beda lagi ceritanya jika itu adalah hujan anak panah yang terbuat dari angin terkonsentrasi dan debu bintang yang panas. Bahkan bagi individu sekaliber Imperial Army, pandangan mengerikan di langit itu tetap membuat pelipis mereka dipenuhi keringat kepanikan. Anak-anak panah itu bukan sesuatu yang bisa diblok dengan dinding tanah—tak ragu kalau itu akan mampu menusuk menembus perisai adamantite tipis.


Xavier menginstruksikan para prajurit di belakangnya untuk berhenti, yang dengan tanggap dipenuhi oleh 4503 orang di belakangnya. Ia tidak perlu menebak-nebak siapa yang memborbardir langit Hutan Besar Amarest dengan anak panah; jawabannya lebih jelas daripada anak-anak panah itu sendiri.


“Merapat!” seru Xavier, dan seketika rentang jarak mereka terhadap satu sama lain menjadi lebih kecil.


Lebih menghemat mana menggunakan [Reverse Law] dengan area jangkauan yang lebih kecil, batin Xavier seraya menengadah dengan tangan kanan terangkat tinggi—menggunakan [Reverse Law] untuk membalikkan arah anak-anak panah yang menargeti mereka.


Bagaimanapun juga, Xavier tidak ingin membiarkan para prajuritnya gugur jika ia bisa menyelematkan mereka. Mereka semua punya keluarga yang selalu menanti kepulangan mereka. Membiarkan mereka terbunuh padahal bisa ia cegah itu seperti sengaja menderitakan ribuan keluarga yang mendoakan keselamatan mereka. Sebanyak apa pun Xavier tidak ingin memedulikan, …ia adalah pemimpin mereka.


“Commander!” seru salah satu prajurit, pandangannya mengarah ke depan—yang lantas diikuti oleh para prajurit lainnya.


Xavier memandang sekilas para prajurit, sebelum kemudian turut menoleh ke arah yang mereka semua pandang.


Magical Beast. Harusnya area yang mereka lewati tidak dihuni oleh banyak Magical Beast. Jika pun banyak, itu tentu para Magical Beast yang tak berbahaya—yang bahkan tak lebih kuat dari kelinci bertanduk. Namun, selain jumlahnya yang ratusan, Magical Beast yang menghadang mereka terbilang berbahaya. Bahkan, ada dari mereka yang sebesar naga muda.


Mereka memanfaatkan Magical Beast dengan baik, puji Xavier dalam hati, tetapi di luar membiarkan keningnya mengernyit. “Formasi kepala trisula!” perintah Xavier, dan dengan penuh kedisiplinan para prajurit melaksanakan perintah.


Tidak ada yang terlalu spesial dengan formasi kepala trisula, selain fleksibilitasnya yang hebat.


Itu formasi yang mereka pelajari untuk digunakan saat mereka terkepung, atau berada dalam situasi di mana pertarungan satu lawan satu tak memungkinkan. Tergantung pada keadaan, posisi para prajurit akan berbeda. Kala mereka dikepung melingkar, prajurit yang lebih baik dalam sihir pendukung akan berada di bagian yang diluar target serangan. Jika hanya diserang dari satu sisi, semua prajurit yang kuat ofensifnya akan membentuk mata tombak. Sebagai yang terkuat, Xavier tentu saja berada di ujung tombak tengah trisula.


Dengan tangan kanan yang masih tetap terangkat mengatasi anak-anak panah yang masih belum berhenti turun, tangan kiri Xavier terulur ke depan dengan telapaknya yang terbuka. Api hitam seketika menyembur mengintimidasi para Magical Beast. Bersamaan dengan itu, para prajurit secara serentak melontarkan spell mereka.


...* * *...


Seperti yang ia serukan pada para prajuritnya, Emily mengerahkan segala fokusnya untuk mengatasi anak-anak panah berbahaya itu. Kedua tangannya dalam keadaan menyatu dengan gigi yang menggemeretak, rentetan lingkaran sihir dari berbagai ukuran menembakkan anak-anak panah petir mengintersep anak-anak panah yang jatuh dari langit. Rentetan ledakan laksana bunga api seketika memenuhi langit saat anak-anak panah itu saling berlaga.


Di sisi lain, meskipun para prajurit telah melesat maju sesuai yang Emily, laju mereka terhenti tiba-tiba. Pekikan dan ringikan yang mulut-mulut Magical Beast itu suarakan membuat mereka tak bisa melaju.


Tidak ada yang bisa Emily lakukan untuk membantu mereka. Fokusnya sepenuhnya terpusat pada serangan musuh ‒ ia tidak ingin anak-anak panah itu terselip dari perhatiannya. Anak-anak panah yang turun dari langit masih memburu mereka, tetapi anak-anak panah petir Emily dapat mengintersep mereka terlebih dahulu. Jika fokusnya ia bagi, tentu ia takkan mampu menghalangi hujan anak panah itu dengan sempurna.


...* * *...


Kanna harus mengakui kalau itu serangan pembuka yang bagus untuk mengurangi jumlah pasukan musuh. Pun ia tak segan memuji pengguna sihir yang dapat menyerang dari jarak sejauh itu. Sayangnya, itu tidak begitu berarti saat ia berada di sini.


Dengan sekali ayunan replika Kurtalægon, barier raksasa telah membentang di atas mereka. Semua anak panah itu langsung melebur menjadi serpihan mana saat menghantam barier, dan barier itu menjadi lebih kuat dengan pasokan mana tambahan.


Kepanikan para prajurit langsung menghilang setelah melihat betapa tak berdayanya serangan musuh. Hal itu membuat mereka kehilangan ragu tentang apa yang mereka dengar atas sosok sang putri. Segala hal yang telah dia lakukan sejauh ini sama sekali tidak dilebih-lebihkan. Kanna el Vermillion sungguh-sungguh kuat; keberadaannya selalu memastikan para prajurit memiliki peluang selamat yang paling maksimum. Perang yang lalu, contohnya, tak satu pun prajurit Imperial Army yang tewas.


Kepercayaan diri para prajurit kali ini sudah tak lagi dikusami oleh noda-noda ragu. Mereka memiliki keyakinan yang tak tergoyahkan di hati: “Selama kami berada di bawah perintah sang putri, tidak ada yang perlu ditakuti.”


...* * *...


“Commander Xavier dan Putri Kanna berada di antara para prajurit itu, bukan begitu?” tanya Atland seraya melompat dari atas dinding kota, mendarat di antara Alforalis dan Evillia.


“Ya.” Respons itu datang dari Camelia. “Mereka berdua berada dalam pasukan yang menyerang.”


“Itu menjelaskan mengapa seranganku tak berkutik.” Atland mengangguk-angguk sendiri, darahnya serasa mendidih membayangkan dirinya untuk kedua kalinya menyilangkan senjata menyerang Xavier. “Lantas, siapa commander yang satunya? Dia terlihat sangat mumpuni dalam sihir petir—dan aku tahu itu bukan Commander Dermyus; orang itu tak mungkin menggunakan petir pink.”


“Commander Emily, pengganti dari Commander Nizivia.”


Atland tidak menyembunyikan kekagetannya. Nizivia kuat, bahkan Xavier yang mengalahkannya tak berkutik di hadapan gadis cebol itu. “Apa Commander Emily ini lebih kuat dari Nizivia?” tanyanya heran. “Atau, Nizivia telah tewas?”


“Commander Nizivia lebih kuat. Commander Emily…dia mungkin yang terlemah di antara para commander,” jelas Camelia. “Dia menjadi commander karena Commander Nizivia sudah menghilang sejak beberapa waktu lalu. Mati atau tidaknya dia, kekaisaran belum memberi konfirmasi. Jika kau belum tahu, dia dan Commander Lumeira sempat menyusup ke Elf Kingdom.”


“Ada banyak hal yang terjadi beberapa hari ini,” buka suara Evillia. “Dua anggota Deus Chaperon telah tewas. Menez sempat ditawan Vampire Kingdom. Dan lain-lain. Kita akan membicarakan hal itu setelah peperangan ini selesai. Untuk sekarang, kita fokus pada apa yang ada di depan. Alforalis.” Evillia melangkah maju; Aforalis mengangguk. “Ayo pergi.”


Camelia dan squadnya langsung mengikuti Evillia yang telah berada di depan bersama Alforalis.


Atland mengendikkan bahu. Di Deus Chaperon, ia bisa mengatakan hanya dekat dengan Menez. Jadi, ia tidak terlalu merasakan apa-apa mendengar ada yang mati. Namun begitu, ia sangat mengerti apa itu artinya. Situasi ke depan akan semakin serius. Dan, bukan tak mungkin gilirannya mati akan menyusul.


Paling tidak, sebelum mati aku minimal harus sudah mendapatkan kecupan mesra Elenoa. Dengan gumaman penuh tekad di hati, Atland turut melangkah menyusul Evillia dan yang lainnya.