Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 34: Chaos in Holy Kingdom, part 2



...—Eden—...


Axellibra bukan satu-satunya kota yang diliputi kekacauan. Eden juga. Taman surga yang erat dikaitkan pada kota tersebut kini telah kehilangan maknanya. Pilar petir beradius dua puluh lima meter telah menancap kokoh di tengah-tengah kota, tingginya mencapai seratus meter lebih. Sambaran-sambaran petir secara random melesat dari pilar dan menyambar bangunan-bangunan yang ada. Kehancuran merebak di mana-mana.


Second Saint Gawain Swordainth tak bisa melakukan apa pun selain memandang penuh amarah dari dalam barier biru transparan yang mengurungnya dan lima prajurit elitenya. Ia sudah berusaha menghancurkan barier dengan pedang dan sihir, tetapi tak berhasil. Bukan saja ini barier sembilan lapis yang tergabung menjadi satu, formula rune juga terukir di sudut-sudut barier berbentuk kubus ini.


Prajurit elite ahli barier yang ia miliki (Noira) tengah berusaha keras memecahkan kunci untuk meluruhkan barier. Empat prajurit lain membantu Noira sebisa mereka, tetapi akan memerlukan waktu yang tak sedikit untuk melakukannya. Noira sangat bertalenta dalam Sihir Rune dan Sihir Barier, tetapi pembuat barier ini bukan individu biasa.


“Commander Lumeira!” geram Gawain sembari memukul-mukul dinding barier yang di baliknya bersandar sang wanita. “Kau benar-benar akan menyesali ini. Tak akan pernah ada kata ampun untukmu.”


Wanita yang dimaksud menolehkan wajah ke belakang, memandang Gawain dengan senyum terhibur. “Pertama sekali, aku sudah bukan commander. Aku sudah kembali menjadi bawahan Nona Vermyna. Kedua, mustahil aku akan menyesali sesuatu. Ketiga, hari di mana aku memohon ampun takkan pernah tiba.”


Gawain spontan mengayunkan pedangnya, untuk kali kesekian menghantam dinding barier yang di baliknya bersandar Lumeira. Tentu saja tidak ada hasil. Jangankan hancur, goresan pun tak terbentuk. Namun, Gawain tak berhenti mengayunkan senjatanya ‒ ia sangat berhasrat menghabisi wanita di hadapannya ini.


Hanya dengan melihat mata Gawain, siapa pun akan bisa melihat kemarahan yang menggebu-gebu dalam dirinya. Bagaimana tidak? Ia sudah sedari tadi melihat kota terindah di dunia luluh lantak oleh sambaran-sambaran petir. Jika itu belum cukup, melihat para prajurit dan warga dihabisi dengan beringas oleh rekan Lumeira sudah lebih dari cukup untuk memenuhi jiwa Gawain dengan amarah.


“Bukan saja kau kelewat sombong, kau juga pengkhianat busuk! Hilangkan barier ini sekarang juga biar kuperlihatkan betapa hina dan tak bergunanya kau ini. Berhenti jadi pengecut dan hilangkan barier ini!”


Hinaan Gawain itu sukses membuat rona wajah Lumeira berubah. Wanita tersebut berhenti bersandar dan berbalik badan. Wajahnya dia dekatkan pada barier, memandang Gawaian seperti seorang perisak memandang korban perundungannya.


“Kau telah membuat banyak asumsi yang keliru di sini, Gawain Swordainth.” Berkata Lumeira dengan penuh penekanan. “Pertama, aku tak pernah setia pada Nueva atau emperor-emperor sebelumnya. Aku menjadi bagian Imperial Army karena tugas yang Nona Vermyna berikan. Kedua, kau sebut aku hina dan tak berguna? Kepalamu sudah busuk hingga otakmu menjadi peyot? Kau tak lihat siapa yang memerangkapmu di dalam sini?”


“Dan yang ketiga,” lanjut Lumeira tanpa membiarkan Gawain menyela. “Siapa yang kau sebut pengecut, hah? Hanya karena kau kukurung di sini terus kau berpikiran kami pengecut? Sungguh naif. Betapa menggelikan.”


“Kalau begitu hilangkan barier ini, pelacur busuk! Biarkan aku keluar dan akan kubuktikan semua ucapanku.”


Pandangan Lumeira mendatar. Wajahnya bergerak menjauh dari barier. Ia menengadah, memandang langit yang sudah mendung hebat. “Pelacur…busuk…?” gumamnya pelan, ekspresinya menjadi gelap. “Aku tahu kau hanya menggunakan kata-kata itu karena marah tanpa tahu apa-apa, tapi aku tak bisa mengelaknya.”


“Dunia ini mungkin tak lebih buruk dari neraka,” lanjut Lumeira bercerita. “Saat itu aku hanya gadis remaja biasa, tiga bersaudara. Kami hidup dalam kemiskinan. Terkadang makan dua hari sekali. Kehidupan waktu itu sangat sulit. Suatu hari ayah kami kembali dengan tangan berlumur darah. Dia bilang dia suduh membunuh ibu kami yang tak berguna dan sakit-sakitan. ‘Kalian juga tak berguna. Tapi kalian bisa berguna jika kujual.’ Begitu katanya.


“Singkat cerita, kami dibawa pergi oleh kelompok pedagang ilegal. Untungnya, kami berhasil melarikan diri saat mereka singgah di suatu kota. Butuh perjuangan untuk bersembunyi, tapi kami berhasil lolos. Sayangnya, hidup di kota tanpa punya apa-apa sangat sulit bagi kami bertiga. Apalagi saat itu sedang musim dingin. Kami hidup dengan meminta-minta, tidur di tempat-tempat kotor. Tak jarang kami ditendang, dipukul, diusir dengan hina.


“Hidup yang sulit dan salju yang dingin membuat adik perempuanku jatuh sakit. Kami berlari ke sana kemari mencari bantuan, tapi tak ada yang peduli. Adik perempuanku mati sehari kemudian. Adik laki-lakiku jatuh sakit dua hari setelah itu. Tak ingin melihatnya menyusul adikku yang lain, aku menaruh harapan pada satu-satunya tempat yang mungkin bisa membantu. Seperti yang kau duga, aku ke tempat pelacuran, menjual diri.


“Tentu saja mereka tak mau mempekerjakan gelandangan berpenampilan buruk sepertiku, tapi aku berhasil menarik minat mereka setelah rambut dan wajahku kubasuh dengan air dingin. Dan mereka mengiyakan saat kubilang aku hanya memerlukan tempat tinggal, makanan, dan perawatan untuk adikku yang sakit. Begitulah, aku tak bisa mengelak saat kau hina begitu. Meskipun tubuh menjijikkanku itu sudah hancur lebur, jiwaku tak mungkin lupa pada kepahitan waktu itu.


“…Percuma menceritakan masa lalumu,” ketus Gawain. “Kau takkan mendapatkan sedikit pun simpatiku. Aku akan membunuhmu segera setelah barier ini lenyap! Noira, berapa lama lagi?”


“Sebentar lagi, Sir!”


“Sekali lagi kau salah memahami, Gawain Swordainth.” Lumeira menolehkan pandangan pada sang saint. “Simpati? Aku tak butuh simpatimu. Aku bercerita hanya untuk membuktikan satu hal padamu. Kau tahu apa itu?”


“Sir, aku sudah bisa me—”


Mata Gawain melebar.


“Jangan kira kau akan kubiarkan melenyapkan barier ini,” gumam Lumeira, memandang dingin pada Noira yang sudah berdiri. Sebuah tombak petir sudah menembus tenggorokannya, satu lagi menembus jantungnya. “Aku bisa menyerang kalian dari luar.”


Gawain hanya bisa memandang diam pada Noira yang jatuh tak bernyawa. Bukan hanya dia saja, keempat prajuritnya yang lain juga mengalami nasib yang sama. Mereka mati dalam pandangan Gawain.


“Kau tahu apa itu, Gawain?” tanya Lumeira kembali pada topik pembicaraan. Tidak ada respons, tetapi Lumeira tetap melanjutkan. “Aku ingin kau mengerti kalau Knight Templar sama sekali tak berguna. Deus Guardian jauh lebih berguna. Kalian bukan menjaga kedamaian; kinerja kalian tidak ada; kalian adalah organisasi terbusuk dalam sejarah dunia. Dan kau mau tahu kenapa kau berada di sini?”


“Nona Ciela bisa membunuhmu dengan mudah,” lanjut Lumeira. “Meskipun kekuatanku hanya setengah, aku juga bisa mengalahkanmu. Alasan satu-satunya mengapa kukurung kau di sini adalah untuk memenuhimu dengan amarah. Mungkin kau tak menyadarinya, tapi menurut Nona Vermyna kau adalah saint yang paling berbahaya dari semuanya, bahkan melebihi Pope Genea. Sihir [Wrathful Heart] yang kau miliki cukup unik. Semakin kau marah, kau akan semakin kuat. Apa jadinya jika amarahmu terlalu besar sampai-sampai menelan akal sehatmu?”


Lumeira berbalik badan; bibirnya melengkung puas merasakan tekanan energi yang besar meluap-luap dalam diri Gawain.


“Nona Ciela ingin menghabisimu dalam keadaan terkuatmu; semua ini dilakukan demi mewujudkan hal itu,” beber Lumeira sembari melangkah. “Ah,” Lumeira berhenti sejenak dan melirik ke belakang. “Kalau kau tak mampu keluar dari barier itu dalam mode terkuatmu, aku akan menghancurkanmu bersama barier tersebut.”


“Marahlah semarah-marahnya, Second Saint Gawain Swordainth!” teriak Lumeira dengan senyum jahat, kemudia melanjutkan langkah kedua kakinya.


Ia bergabung dengan Ciela menghabisi setiap manusia yang masih hidup. Eden akan mereka buat rata dengan tanah, dan tak ada satu pun manusia yang akan mereka biarkan berdiri.


“Aku mendengar ceritamu tadi. Apa itu benar?” tanya Sataniciela sedikit serius.


“Tentu saja tidak. Memangnya Nona pikir Nona Vermyna akan menginjakkan kaki di tempat-tempat menjijikkan?”


“Kau yang terburuk. Leviathan akan menyukaimu.”


“Oh, terima kasih?”