Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 8: Defeat in Victory, part 1



SITUASI jelas tidak lagi berada dalam kendali. Jika ucapan Valeria—begitu sang vampire memperkenalkan diri—memang benar adanya, Imperial Army berada di jurang kekalahan. Dan seperti yang vampire satunya katakan (dia tidak memperkenalkan diri), tidak ada alasan mengapa harus memperpanjang pertarungan di sini. Ia harus menyelamatkan pasukannya sebelum dibantai habis.


Dan itu adalah apa yang ia lakukan. Ia meninggalkan ketiga wanita itu tanpa kata, melesat cepat menuju medan pertempuran.


Xavier tidak mengekspektasikan Vampire Kingdom akan menawarkan diri untuk menjadi anggota New World Order. Mereka seharusnya adalah musuh. Itu jelas sekali, Elf Kingdom ingin menghancurkan mereka. Pun Xavier tidak mau membiarkan Vermyna hidup lebih lama. Singkat kata, mereka bukan pihak yang bisa disebut sekutu. Namun….


Musuh dari musuhmu adalah temanmu, begitu kata-kata tak bijak menyebut. Untuk menghancurkan dominasi Emiliel Holy Kingdom, melakukan gencatan senjata untuk sementara diperlukan. Dengan begitu, mereka bisa fokus pada melenyapkan musuh bersama. Bahkan, Vermillion Empire tidak akan berpikir dua kali untuk tidak setuju; Emiliel Holy Kingdom adalah musuh yang lebih besar—terlebih mereka punya suplai teknologi berbahaya dari Dwarf Kingdom.


Menyingkirkan musuh terberat terlebih dahulu adalah pengetahuan yang paling dasar.


...* * *...


“Vermyna Hermythys….” Kanna dapat merasakan wanita itu berada dalam levelnya sendiri. “Kukira Elf Kingdom memusuhi Vampire Kingdom.”


Menghadapi Vermyna tidak akan memakan waktu yang singkat. Dan melihat ciri fisik Nizivia terlihat di tubuhnya, Kanna bisa langsung menarik kesimpulan. Artinya, menyerang ratu makhluk penikmat darah itu adalah kesulitan tingkat tinggi. Jika ia menghadapinya, ia takkan bisa membantu para prajurit.


“Vampire Kingdom tidak pernah menganggap Elf Kingdom sebagai musuh. Kedua kerajaan adalah rekan pada rezim diri raja yang lalu, dan diri kami akan menjadi rekan kembali setelah kesalahpahaman dengan diri ratu yang sekarang bisa diatasi.”


Kanna mengabaikan ucapan Vermyna, matanya melirik ke arah meletusnya pertempuran para prajurit. Saat itu ia melihat Xavier dalam balutan aura biru melesat kencang ke sana, itu memberinya sedikit napas lega. Seperti dirinya, Xavier mengerti kalau para pasukannya lebih penting daripada melanjutkan pertarungan yang tak berarti. Menang melawan para musuh akan percuma jika mereka tidak punya prajurit untuk dibawa pulang.


“Baiklah, aku tidak punya pilihan lain.” Kanna mengalirkan mana ke simbol yang terletak agak ke bawah lehernya. “Rune Magic Manifestation: Parallel Mind of Raphael, Heavenly Garden of Gabriel, True Foresight of Sariel.”


Bersamaan dengan ledakan mana yang tubuh Kanna sebabkan, delapan pasang sayap malaikat membentang lebar di punggungnya. Dan pada detik itu juga formasi rumit lingkaran sihir berukuran masif memenuhi Hutan Besar Amarest. Kurang dari sedetik setelah itu, lingkaran sihir teleportasi berukuran super masif juga melapisi dataran.


“Aku akan mengatasi kalian semua sendiri,” gumam Kanna, meneleportasikan semua pemakai seragam Imperial Army kembali ke perkemahan mereka di luar Hutan Besar Amarest—pada saat itu juga semua lingkaran yang dia buat menghilang.


“Hari ini keadilan akan tetap ditegakkan.” Kanna menonaktifkan Heavenly Garden of Gabriel (fungsinya sudah selesai), menggantinya dengan Full Awareness of Uriel.


...* * *...


Xavier tadi baru memijakkan diri di kerumunan prajurit, dan dalam sekejap ia sudah berada di hadapan tenda-tenda. Ia tak sendiri, semua prajurit Imperial Army juga turut terteleportasi—termasuk juga para prajurit yang telah gugur terlebih dahulu sebelum spell masif Kanna menyembuhkan semua luka. Itu artinya, Kanna memutuskan menanganinya sendiri—para prajurit hanya akan menghambatnya.


“Dan itu termasuk aku, huh?”


Sekarang Xavier merasa direndahkan—tunggu dulu, apa Kanna menyadari aku tak sama kuat dengan saat menghadapi Undead Thevetat?


Tentu saja Kanna menyadari jika dia sudah sekuat itu. Atau, Kanna telah lebih kuat daripada dirinya yang utuh—sehingga merasa ia lemah. Yang mana pun, itu tetap sama dengan bentuk perendahan. Setidaknya, itu apabila dilihat dari kacamata negatif—dan Xavier cenderung melihat hal dari sisi negatif.


Namun, apabila ia melihat tindakan Kanna dari sisi positif, maka jelas Kanna menginginkannya memastikan tidak ada musuh yang mengejar—menghindari kemungkinan mereka dijadikan sandara. Tanpa perlu mengkhawatirkan apa yang terjadi dengan para prajurit, Kanna bisa memfokuskan diri mengatasi musuh.


Akan tetapi, bisakah dia mengatasi Vermyna Hellvarossa?


Jelas sudah apa yang harus kulakukan, simpul Xavier sembari menggestur para kapten untuk menghampirinya.


“Aku tak perlu berbasa-basi; kalian sudah tahu situasi yang terjadi seperti apa. Tugas kalian sekarang adalah segera kembali ke Verena. Aku akan membantu Putri Kanna menahan mereka.”


...* * *...


Vermyna membiarkan bibirnya melengkung melihat penampilan Kanna yang bagaikan dewi perang. Ia bisa merasakan mana Edenia mengalir dalam tubuh sang putri, pun begitu dengan hawa keberadaannya. Jika Kanna mengklaim diri sebagai inkarnasi Edenia, lima puluh persen ia akan percaya. Lima puluh persen lagi bagian dari dirinya memercayai kalau Kanna memiliki peran spesial dalam apa pun yang makhluk hina itu rencanakan.


“Dirimu berhak menerima pujian dariku, Kanna el Vermillion.” Vermyna membuat tubuhnya melayang. “Dirimu dulu lemah, sama sekali tidak ada hal yang menarik dari dirimu. Tapi lihatlah sekarang, bahkan diri Fie akan menyanjung dirimu. Dirimu pasti akan bisa membuat dirinya menunjukkan kekuatannya yang sebenarnya.”


“Kuterima pujianmu, Queen Vermyna, tetapi aku tak punya banyak waktu untuk bicara denganmu. Kita selesaikan semuanya sekarang!”


Dalam sekejap mata, Kanna sudah berada di hadapan Vermyna yang sudah melayang belasan meter ke udara. Pedang cahaya sudah melekat di kedua tangan Kanna, dan itu mengayun tajam dengan presisi yang sempurna. Namun, tanpa melakukan apa-apa, kedua pedang cahaya itu menembus tubuh Vermyna seolah dia hanyalah hologram.


“Jangan terlalu terburu-buru, ‘diriku’ ini hanyalah fragmen masa lalu. Dalam segi eksistensi, sejatinya diriku ini tidak ada. Pun begitu dengan lingkungan dirimu yang sekarang. Dirimu berada dalam ruang masa sekarang yang diisi masa lalu. Artinya, hanya dirimu makhluk yang nyata di sini. Untuk membunuh ‘diriku’ ini, dirimu harus mempertemukan masa lalu dan masa ini—yang tentunya mustahil, dua waktu tak bisa ada dalam satu waktu.”


Kanna tidak mengatakan apa pun mendengar ucapan itu. Ia sudah menduganya. Sesaat sebelum Vermyna melayang, ia merasakan perubahan drastis dalam ruang. Tidak, ia tidak merasakan dirinya diteleportasi paksa. Lebih dari itu, seluruh Hutan Besar Amarest seperti dikurung dalam satu ruang, tetapi tidak ada makhluk lain selainnya dalam ruang ini.


“Penjara dimensi waktu?” gumam Kanna, menarik kesimpulan yang paling tepat yang bisa ia pikirkan—pada saat yang bersamaan, Parallel Mind of Raphael mengkonstruksikan Rune dalam skala yang besar.


“Dirimu bisa menyimpulkannya begitu. Tapi, hutan besar ini juga adalah masa lalu. Diriku yang di masa sekarang sedang mempersiapkan arena khusus untuk kita. Dan saat dirimu selesai dengan Rune itu, saat itu juga kemungkinan arena itu akan selesai. Dirimu akan menjadi tes yang bagus bagi diriku di masa sekarang.”


Kanna mendengus, kemampuan Vermyna lebih merepotkan dari yang ia bayangkan. Memanipulasi ruang dan waktu sesuka hati, itu adalah kekuatan dalam level dewa. Kecuali ia dapat menciptakan ruang yang anti-waktu (ruang di mana waktu tidak ada) dan juga anti-ruang (ruang di mana konsep ruang menjadi semu), membunuh Vermyna akan mustahil baginya. Bahkan dengan Full Awareness of Uriel, mengindra melampaui ruang dan waktu bukanlah sesuatu yang bisa ia lakukan.


“Begitu,” respons Kanna, seketika aksara Rune menjalar memenuhi ruang. “Rune Magic: Dimension Eater.”