Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 21: The Flow of Wind, part 3



...—Royal Palace, Avarecia, Kazarsia Kingdom—...


Krassia mengetuk-ngetuk tepi meja dengan jari telunjuknya mendengar diskusi sengit antara keenam menterinya. Mereka telah sibuk berargumen lebih dari setengah jam yang lalu, tetapi sampai sekarang masih belum mencapai kesepakatan. Masing-masing menteri memiliki argumen yang solid. Namun, hanya satu solusi yang diperlukan. Keenam menteri itu menganggap ide masing-masing merekalah yang terbaik, argumen demi argumen mereka layangkan untuk mengglorifikasikan ide mereka.


Mendengar mereka berusaha saling mematahkan argumen menyebalkan, terlebih waktu yang tersita tak bisa dibilang sedikit. Namun begitu, Krassia tidak bisa begitu saja menyuruh mereka diam dan mengenyahkan diri. Alasan pertama, dirinyalah yang memanggil mereka berenam untuk meminta pendapat. Alasan kedua, mereka berenam adalah teman baik Krassia—satu dari mereka bahkaan telah menjadi mertuanya tepat seminggu yang lalu. Karena itu Krassia hanya mengetuk-ngetukkan jari di meja dengan mata memandang bosan.


Yang menjadi topik perdebatan keenam menteri? Itu tentang kota baru yang akan dibangun dan untuk apa kota tersebut dimanfaatkan.


Dibandingkan semua anggota Aliansi Kerajaan Kecil (yang sekarang sudah tidak ada lagi), Kazarsia Kingdom bisa dibilang kerajaan yang terbesar secara teritorial dan jumlah kota. Namun, populasi mereka tidak cukup banyak untuk menaikkan status mereka. Bagi Kazarsia Kingdom untuk membawa status mereka keluar dari sebutan “kerajaan kecil”, paling tidak mereka harus menggandakan populasi.


Untuk tujuan itu, kota baru perlu didirikan. Dan, untuk menyokong agenda penambahan populasi, sejumlah aturan dibuat.


Seorang pria berusia 25 tahun minimal harus sudah memiliki tiga istri (jika sang pria miskin, kerajaan akan menanggung biaya hidup pernikahannya dan mencarikannya pekerjaan). Setiap kelahiran akan diberi hadiah 250 keping emas. Jika ada wanita yang menolak dinikahi tanpa ada alasan yang bisa dibenarkan, dia akan didenda atau dipenjara. Jika ada wanita yang menolak suaminya memiliki lebih dari satu istri, dia juga akan didenda atau dipenjara.


Aturan-aturan baru itu sudah akan dilaksanakan pada awal September. Bersamaan dengan penerapan aturan itu, informasi tentang pendirian kota baru akan disebarkan. Karenanya, hasil diskusi para menterinya sangatlah penting. Lebih cepat mereka bisa merumuskan kota yang ingin dibangun, lebih cepat pula kota itu bisa didirikan. Lebih cepat kota itu berdiri, semakin cepat juga Krassia bisa duduk tenang dan membiarkan Clown menduduki singgasana—yang kemudian akan diwariskan pada cucunya, putra Clown dengan putri Krassia.


“Maaf menginterupsi, Yang Mulia.”


Krassia yang jari telunjuknya masif aktif mengetuk-ngetuk tepi meja spontan berhenti saat sepenggal kalimat itu menginvasi indra pendengarannya. Seorang wanita berusia awal tiga puluhan telah berdiri di sampingnya dengan menyodorkan sebuah amlop surat yang memiliki simbol Vermillion Empire di atasnya.


“Surat ini baru saja tiba setengan jam yang lalu. Apa perlu saya bacakan, Yang Mulia?”


“Lanjutkan diskusi kalian,” titah Krassia pada keenam menteri yang tiba-tiba terdiam, kemudian mengangguk pada sang wanita. “Bacakan dengan pelan,” tambahnya.


Sang wanita mengangguk, membuka amplop, dan membacakan isi surat dengan volume pelan. Krassia mendengarnya dengan saksama.


Intinya, pelaksana tugas emperor, Kanna el Vermillion, mengatakan kalau dia akan datang berkunjung ke Avarecia. Tujuan utama kedatangannya adalah membuka kerja sama antara kekaisaran dengan Kazarsia dalam bidang ekonomi. Ada juga sang putri menyinggung tenta insiden penyerangan Aliansia Kerajaan Kecil dulu terhadap kekaisaran. Dan, yang terakhir adalah pertanyaan akan kenetralan Kazarsia Kingdom terhadap konflik besar Emiliel Holy Kingdom-Vermillion Empire-New World Order.


“Pastikan wisma tamu dalam keadaan terbaiknya,” perintah Krassia. Ia tidak memberi komentar apa-apa lagi, pandangannya sudah kembali berlabuh pada keenam menterinya.


...* * *...


Sejatinya ia ingin meninggalkan desa lebih awal, tetapi saat ia berkeliling desa tadi, ia mendengar ada satu kelompok pedagang yang akan kembali ke ibukota. Memanfaatkan informasi itu, Xavier mengikutkan diri dalam kelompok pedagang itu. Mereka menuju Avarecia dengan menaiki gerobak besar yang ditarik tiga ekor kudar.


“Ngomong-ngomong, Anak Muda, aku tidak ingat pernah melihatmu di desa itu.” Seorang pria bertubuh kekar yang wajahnya terlihat berusia tiga puluhan bertanya, mata tajamnya memandang Xavier penuh selidik. “Apa kau baru di desa itu? Atau, kau tidak pernah keluar rumah?”


“Aku baru di desa itu, Paman,” respons Xavier seramah yang ia bisa. Di sini ia menumpang bersama mereka. Pun ia akan memanfaatkan mereka untuk memuluskan aksinya. “Aku berasal dari utara, tak jauh dari perbatasan antara kerajaan ini dengan Dwarf Kingdom. Aku ke desa itu hendak menemui saudara, tetapi katanya mereka sudah pindah ke ibukota.”


“Oh, sayang sekali. Mungkin jika kau datang lebih cepat, kau akan bertemu mereka sebelum mereka pergi. Jadi, itu alasanmu ke ibukota?”


Xavier mengangguk. “Begitulah, Paman. Bagaimanapun juga, aku harus bertemu mereka. Ada pesan dari mendiang keluarga kami yang harus kusampaikan pada mereka.”


“Ah…pesan dari anggota keluarga yang meninggal….” Pria tua tersebut tampak larut dalam pikirannya, kemungkinan teringat akan keluarganya yang juga sudah tiada. “Paman sangat mengerti itu,” katanya beberapa saat kemudian. “Pesan seperti itu sangatlah penting, harus disampaikan bagaimanapun juga.”


“Benar, Paman.” Xavier menengadahkan wajah dengan mata menyipit. “Harus kusampaikan.”


“Ngomong-ngomong,” lanjut sang pria seraya menepuk pelan pundak Xavier. “Kulihat kau punya tubuh yang kuat, dan pembawaan dirimu pun seperti seseorang yang jago berkelahi. Apa kau punya niat bergabung dengan Royal Army? Jendral Clown akan sangat terbantu jika anak sepertimu mau mengabdikan diri pada kerajaan.”


“Ah, Jendral Clown! Aku pernah mendengar tentang Jendral Clown yang perkasa itu, Paman!” Xavier menunjukkan antusiasmenya. “Kudengar dia dapat menghabisi seekor naga dewasa dengan mudah, mengubahnya menjadi abu hanya dengan delikan mata. Apa rumor itu benar, Paman?”


“Ho-ho-ho, kau menggemarinya, eh?”


“Tentu saja, Paman! Setiap anak yang pernah mendengar tentang sepak terjang Jendral Clown pasti akan terkagum-kagum. Bagi seseorang untuk disetarakan dengan Fie Axellibra…dia tentulah sangat kuat. Jendral Clown berasal dari kalangan rakyat biasa, dia menjadi kuat tanpa bantuan siapa pun. Jika aku berkata aku tak ingin menjadi sepertinya, itu sudah pasti dusta, Paman.”


“Hahahahaha. Kau ini anak muda yang mengesankan.” Pria tua yang namanya masih tak Xavier ketahui itu kembali menepuk-nepuk pundak Xavier. “Siapa pun yang mengerta betapa agung dan menakjubkannya Jendral Clown pastilah hebat. Dan kau masih muda, kehebatan pasti berada di tingkat yang luar biasa.”


“Ha-ha-ha, Paman ini terlalu berlebihan.” Xavier membalas menepuk-nepuk bahu sang pria tua, sebelum kemudian ekspresinya menjadi serius kembali. “Jadi, apa rumor itu benar? Jendral Clown dapat mengubah naga dewasa menjadi abu hanya dengan delikan mata?”


“Rumor itu tidak salah, Anak Muda.” Pria tua tersebut melipat kedua tangan di dada. “Jendral Clown dapat melakukan itu. Dia dapat mengalahkan musuh-musuhnya hanya dengan menatap mereka saja. Bukan itu saja. Masih banyak lagi kehebatan Jendral Clown. Kecemerlangan pikirannya pun tak terivalkan. Jendral Clown sangat bijaksana. Dia dapat merencanakan rencana jangka panjang. Sepintar apa pun lawannya dalam membuat rencana, Jendral Clown akan selalu beberapa langkah di depan. Ada juga yang mengatakan….”


Pria tua itu terus bermonolog, mengglorifikasikan sang jendral yang namanya telah menggema ke seantero penjuru kerajaan, dan lebih.