
...VOLUME 6...
...»»»»» Emperor’s Dream and Mastermind «««««...
...⸸\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=—xxxxxxx—\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=⸸...
...—2th April, D173 | Kota Kecil Eden, Emiliel Holy Kingdom—...
DUNIA adalah tempat yang kejam. Nueva memahami itu sebaik ia memahami beda api dan air. Usianya memang baru sepuluh, hampir sebelas, tetapi Nueva menganggap dirinya lebih dewasa daripada mayoritas orang dewasa. Hidup dalam kepayahan memang memiliki efek mendewasakan seseorang, dan rasa sakit membuat orang-orang menjadi lebih kuat.
Pemahaman Nueva akan dunia yang busuk ini terutama karena apa yang ia lihat di seantero Kota Kecil Eden. Pencurian. Perampasan. Premanisme. Korupsi. Pemerkosaan. Peredaran produk ilegal. Perbudakan terselubung. Prostitusi terang-terangan di siang bolong. Kesewenag-wenangan. Tidak adanya keadilan selain bagi mereka yang kaya dan punya kuasa. Pikirkan sebuah kejahatan, dan Nueva yakin itu bisa ditemukan di Kota Kecil Eden.
Memang, ia tidak tinggal di kota ini. Nueva hidup berdua dengan ibunya di Desa Ceassa, desa terdekat dengan kota. Namun, selain hari ketujuh setiap minggunya, Nueva selalu berada di kota dari mulai matahari terbit sampai matahari terbenam sejak berusia delapan tahun. Ia lebih dari pantas untuk menilai dan menyimpulkan. Apalagi ia melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau kepala prajurit menerima suap dari walikota untuk berada di pihaknya.
Dan penilaian Nueva, dunia ini adalah tempat yang busuk—tak berbeda dengan kota tempatnya bekerja.
“Nueva!”
Nueva—yang sibuk mengutuk kebusukan dunia sembari membuat garis-garis abstrak di tanah—langsung berdiri dan bergegas menghampiri pemilik suara.
“Ini bayaranmu minggu ini,” ucap pemilik peternakan seraya menyerahkan sekantung kecil koin. “Kerjamu bagus, Nueva. Pertahankan. Kau lebih baik dari para pekerja dewasa. Jika terus seperti ini, dalam dua atau tiga tahun aku bisa menjadikanmu asistenku.”
“Terima kasih, Bos.” Nueva menerima kantung uang dengan senang hati. “Saya akan terus berusaha menjadi lebih baik.”
Pemilik peternakan mengangguk dan menepuk pelan pundak Nueva. “Sekarang bergegaslah pulang, jangan buat ibumu khawatir.”
Berterima kasih sekali lagi, Nueva langsung pamit pergi. Ia berlari cepat meninggalkan area kerja. Keluar-masuk kita mengharuskan membayar dua keping tembaga bagi yang bukan penduduk tetap kota. Nueva tak terkecuali. Walaupun ia tiap hari masuk dan keluar kota, penjaga gerbang tetap menarik uang darinya, dan Nueva tak punya pilihan.
Jarak desa tempatnya tinggal dengan kota hanya sekitar dua kilometer. Dengan berlari ringan, Nueva mampuh menempuh jarak tersebut kurang dari dua puluh menit. Namun, karena hari ini ia menerima upah, Nueva berlari dengan kecepatan penuh. Ia ingin segera menyerahkan uang pada sang ibu.
Hanya dalam delapan menit, Nueva tiba di desa tempatnya tinggal ‒ sebuah desa kecil yang hanya memiliki total 71 rumah. Nueva berlari ke rumahnya dengan senyum sumringah.
Namun, senyuman itu langsung luntur saat melihat tiga pria berdiri di hadapan rumahnya.
“Bagus sekali kau sudah pulang,” kata salah satu dari mereka. “Kami baru saja mau masuk dan memaksa ibumu membayar. Walaupun dia buta dan berpenyakitan, dia masih bisa dijual sebagai budak. Sekarang, bayar hutang ayahmu. Pria bedebah itu memang menyusahkan, kau pasti jijik memilikinya sebagai ayah, kan? Beruntung kau karena dia sudah mati.”
“…Minggu lalu sudah kubayar, harusnya kalian datang minggu depan.” Nueva berusaha keras untung tetap tenang. “Sekarang kami tak punya uang untuk menyicil, tolong tagih minggu depan.”
“Bocah,” tegas pria lainnya. “Selama ini kami sudah baik, tapi sekarang situasi kami juga genting. Jika kau tak mau membayar, kami akan bawa ibumu. Jika dia tak bisa dijadikan pekerja prostitusi setelah mendapatkan perawatan, kami akan jual dia sebagai budak atau bahkan membunuhnya lalu menjual organnya kepada para penyihir nekromansi.”
Nueva mengutuk ayahnya dalam hati. Pria sialan itu adalah racun baginya dan sang ibu. Ia tidak mengerti bagaimana ibunya bisa berakhir dengan pria bedebah tukang mabuk, tukang main wanita, dan tukang utang itu. Jika dia masih hidup, Nueva sendiri yang akan menggorok lehernya saat dia tidur. Untung saja dia sudah mati, jadi ia tak perlu mengotori tangan.
Nueva juga mengutuk ketiga pria di hadapannya. Ia mengerti kalau mereka hanya pesuruh; mereka melakukan apa yang diperintahkan bos mereka. Namun, Nueva tak bisa memaafkan ketiganya karena telah mengancam ibunya. Jika ia punya kekuatan, Nueva akan membunuh mereka sekarang juga. Sayangnya, Nueva tidak punya uang untuk membayar orang agar mengajarinya sihir. Ia tak punya kekuatan.
Pun Nueva tak bisa berharap pertolongan pada penduduk desa. Mayoritas dari mereka membenci ayahnya, sebagian dari mereka beranggapan kalau ibunya pembawa kutukan lantaran penyakitnya; adalah keajaiban jika mereka mau membantu. Nueva dan ibunya masih diizinkan tinggal di desa karena kepala desa adalah kerabat jauh ibunya. Jika tidak begitu, Nueva tidak tahu akan bagaimana jadinya.
“Bocah, aku masih berbaik hati karena aku punya anak seumuranmu. Berikan semua uang yang kau miliki, dan kau akan baik-baik saja.”
Nueva menggemeretakkan gigi-giginya, melemparkan kantung uang yang ia dapatkan dari jerih payahnya memerah susu domba selama enam hari ini. “Sekarang enyah dari sini,” desisnya dengan tubuh yang bergetaran akibat menahan marah.
“Kau anak yang luar biasa, sayang sekali kau harus terlahir dari kedua orangtua yang tak berguna. Ketika ibumu mati, datanglah temui kami. Bos akan dengan senang hati mempekerjakanmu. Adik perempuan bos memiliki ketertarikan pada anak laki-laki, aku yakin jika dia melihatmu dia akan langsung menjadikanmu pelayan khususnya.”
Dengan pesan terakhir itu, ketiga pria penagih utang langsung melangkah pergi. Salah satu dari mereka menepuk pelan pundaknya, tetapi Nueva dengan cepat menepis tangan itu. Ia benci mereka bertiga, Nueva dengan senang hati membuat mereka memahami itu.
Anak berambut pirang ini tak langsung memasuki rumah setelah ketiga penagih utang sepenuhnya lenyap. Ia berdiri di tempat selama beberapa menit, berusaha keras untuk menekan kemarahannya dan membuat tubuhnya rileks. Ibunya memang buta, tapi dia sangat peka. Nueva khawatir ibunya akan tahu jika ia tidak menekan amarahnya sebaik mungkin.
Barulah setelah tenang kembali Nueva melangkah menghampiri pintu. “Ibu, Nueva pulang!” serunya sembari mengetuk-ngetuk pintu.
Pintu terbuka sepuluh detik kemudian. Senyum menawan di wajah lemah ibunya adalah apa yang menyambut Nueva. Ibunya memang buta, tapi dia hapal seluk-beluk rumah. Tubuh ibunya memang lemah, tetapi dia juga perlu bergerak agar tubuhnya tidak kaku. Luka bakar pada wajah dan bagian kiri tubuhnya memang menakutkan dan menjijikkan di mata orang lain. Namun—
“Nueva pulang, Ibu.”
—Nueva tak sedikit pun ragu memeluk ibunya. Ia bahkan tak memedulikan jika penyakit paru-paru ibunya bisa menular padanya sebagaimana yang diklaim sebagian penduduk. Nueva benar-benar tidak peduli. Hanya ibunya seorang yang ia miliki. Ia akan merawatnya, menjaganya, melindunginya. Tempatnya hanya di sisi ibunya. Tak ada arti lain dalam hidup Nueva.
“Apa tadi ada orang di luar?”
“Oh, itu tadi hanya orang lewat menanyakan alamat. Ibu tak perlu khawatir. Sekarang lebih baik kita masuk.”
...*******...
#Eh, yang “THE END” di part sebelumnya itu akhir buat ilusinya. Di awal kan ada gambar sepasang “sharingan”. Masak nggak ngeh? Ini cerita baru berakhir setelah ada epilog.
Oh, Volume 6 akan fokus pada Nueva dan Lucifer. Flashback di Ch. 41 itu dari part 1 sampai part 4, part 5 balik ke timeline normal. Itu flashback bagian Nueva; nanti ada lagi flashback untuk Lucifer.
Pertarungan Fie vs Vermyna akan ditunjukkan di Volume 7. Peperangan juga akan kembali ditampilkan di Volume 7. Volume 6 ini latarnya fokus di Pegunungan Amerlesia.