Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 24: And Then..., part 5



...—20th July, E642 | Imperial Palace, Nevada, Vermillion Empire—...


Sekali lagi para commander duduk bersama melingkari meja bundar di ruang pertemuan yang ada dalam Imperial Palace. Semuanya sudah berada di kursi masing-masing. Kanna juga sudah duduk di kursinya. Masing-masing commander membawa dokumen laporan mereka, tetapi tidak ada yang lebih banyak berkas dokumennya dibandingkan dengan kepunyaan Emily.


“Terima kasih hari ini tidak ada dari kalian yang terlambat,” mulai Kanna selaku pemimpin semua commander. Dia terlihat lebih segar dibandingkan dalam pertemuan-pertemuan yang lalu, kemungkinan kehadiran Monica membuat tugasnya menjadi lebih ringan (selama ini hanya Meyrin yang membantunya). “Namun, sebelum topik pertemuan hari ini kita bahas, perlu kusampaikan hal menarik yang baru tiba di mejaku kemarin.”


Perhatian semua commander tak teralihkan dari pelaksana tugas sang emperor, mata mereka menyiratkan satu hal yang sama: agar sang putri melanjutkan ucapannya.


“Surat yang dikirim perwakilan New World Order sampai padaku kemarin. Surat itu menyatakan mereka takkan menyentuh wilayah kekaisaran sebelum Emiliel Holy Kingdom menyerah dan Axellibra rata dengan tanah. New World Order akan menyerang Emiliel Holy Kingdom begitu mereka mendengar kekaisaran melayangkan serangan. Daripada perang tiga sisi, ini akan menjadi dua lawan satu. New World Order baru akan mendaratkan taringnya pada kekaisaran setelah Emiliel Holy Kingdom berhasil diatasi, itu tentu saja jika kekaisaran juga sepakat untuk tak menyerang satu pun anggota mereka selama waktu itu. Bagaimana menurut kalian?”


“Jika itu benar, ini akan menjadi kabar baik bagi kekaisaran.” Dermyus memberikan opininya. “Membagi pasukan melawan dua musuh berbeda akan terlalu menekan kekaisaran. Jika peperangan berlangsung lama, dan kemungkinan akan lama, beban logistik juga akan besar. Kita tidak tahu pasti jumlah pasukan New World Order, tetapi mereka memiliki Lumeira yang memiliki informasi akan kekuatan Imperial Army. Menurutku, menyepakati mereka adalah keputusan yang bijaksana.”


“Itu mengasumsikan mereka serius dengan surat itu,” timpal Zenith. “Perang sendiri adalah tipu muslihat. Siapa yang bisa menjamin itu bukan cara mereka mengendurkan kewaspadaan kekaisaran? Kekalahan kekaisaran yang lalu menjadi bukti yang jelas kalau kita tak boleh menanggapi New World Order dengan enteng. Kita tak bisa mengambil risiko kalah secara memalukan.”


“Opini Commander Dermyus ada benarnya, tetapi pendapat Commander Zenith tak bisa kita abaikan juga.” Hekiel membawa tangan ke bawah dagu, memasang pose berpikir. “Namun, secara personal aku lebih memilih jika kita menyepakati tawaran New World Order. Emiliel Holy Kingdom di mataku tetaplah lawan yang lebih besar. Fie Axellibra dan Knight Templarnya adalah musuh yang harus dikalahkan bagaimanapun juga.”


“Karena divisiku bertanggung jawab terhadap pertahanan kekaisaran bersama dengan Divisi 2, aku tidak bisa mengabaikan pendapat Zenith.” Cleria memberikan opininya juga. “Kita tidak bisa membiarkan kekaisaran dalam posisi seperti itu. Kita tak bisa fokus bertahan dari pasukan Holy Kingdom. Divisi 2 dan Divisi 5 harus menjalankan program pertahanan kekaisaran sebagaimana seharusnya. Jika ingin sepakat dengan NWO, itu harus dilakukan tanpa mengubah strategi. Pertahanan terbaik adalah menyerang: kita harus menyerang wilayah penting NWO sebelum mereka menyerang.”


“Aku setuju dengan Commander Cleria,” tukas Gilbert. “Malahan itu lebih baik. Dengan kita menyepakati tawaran NWO, pasukan kita tidak harus melawan dua musuh sekaligus. Dan dengan tidak mengubah strategi, kita bisa menyerang NWO kapan saja—ini juga sekaligus berjaga-jaga jika mereka mengingkari tawaran yang mereka beri.”


“Tidak ada dari kalimatku yang mengatakan kita harus mengganti strategi,” ucap Dermys dengan ekspresi tenangnya. “Aku hanya menjelaskan kalau menghadapi satu musuh lebih baik daripada menghadapi dua. Opiniku tidak berlawanan dengan opini Commander Zenith. Aku yakin kalian sejak awal mengerti maksudku, bukan begitu, Commander Reinhart, Commander Xavier?”


“Aku tak berpikir individu sekaliber dirimu akan memberikan opini yang buruk,” jawab Xavier.


Reinhart tertawa mendengar pembelaan diri Dermyus. “Tentu saja, Dermyus, mungkin Commander Zenith kesal karena mendengar kau akan segera menikah dengan Elizabeth? Elizabeth pernah menolaknya dua kali, bukan begitu?”


“Itu seperti yang Commander Dermyus dan Commander Zenith katakan,” ucap Kanna sebelum ketiga commander itu terlebat perdebatan yang lebih jauh. “Kita akan menerima tawaran itu, tetapi kita juga harus mengasumsikan mereka akan melanggar tawaran yang kita buat. Commander Cleria dan Commander Gilbert telah memberikan penjelasan lebih lanjut. Aku akan mengirim surat balasan ke Evrillia. Ada opini tambahan?”


Gelengan kepala serempak merespons ucapan Kanna.


Putri favorit sang emperor pun kembali membuka mulut melanjutkan pertemuan. “Ada isu tentang Veria yang berniat memulai invasi terhadap Islan. Dan berdasarkan laporan Artemys dan Commander Xavier, Veria telah menjadi benua yang utuh. Mereka adalah New World Order-nya Veria. Emperor Shiva Rashta ada di jantung pergerakan mereka. Kita tidak tahu kapan mereka akan menyerang, karenanya kita harus menyelesaikan konflik di Islan ini secepat mungkin.”


“Veria…mereka selalu saja suka mencari gara-gara dengan Islan. Tidak dulu tidak sekarang sama saja. Bahkan setelah Islan kalahkan terus menerus, mereka tak ada jera-jeranya.” Gilbert menggelengkan kepalanya pelan. “Lantas, Tuan Putri ingin mempercepat rencana penyerangan kita?”


Kanna mengangguk. “Kita tidak punya pilihan,” katanya. “Jika Veria menyerang saat kondisi Islan masih terpecah seperti ini, atau saat Islan melemah setelah perang selesai, tidak akan mengejutkan jika kali ini mereka akan berhasil menguasai Islan. Untuk itu pula, program latihan Imperial Army akan kita padatkan menjadi hanya dalam enam bulan. Kita akan mendeklarasikan perang ke Emiliel Holy Kingdom satu bulan setelah itu.”


Para commander mengangguk mengerti. Meskipun persiapan enam bulan singkat, terlebih untuk prajurit rekrutan terbaru, tetapi bukan mereka saja yang tidak diuntungkan. Dengan mempersingkat waktu, itu juga membuat musuh tidak bertambah kuat. Tidak ada seorang pun yang sukarela berperang, tetapi demi kedamaian peperangan itu diperlukan.


“Kalau begitu aku ingin mendengar laporan persiapan kalian sejauh ini. 1 August Imperial Marine akan resmi dibentuk. Latihan pertama divisi ofensif adalah merebut Rhevada dari Imperial Marine, itu akan kita mulai pada pertengahan August. Commander Xavier, silakan mulai darimu, Commander Emily dan yang lainnya akan melaporkan setelahmu.”


Xavier mengangguk, meraih lembaran dokumen yang ia bawa dan kemudian berdiri. “Divisi 12 kehilangan prajurit yang berharga dalam kegagalan penyerangan terhadap Elf Kingdom dulu, tetapi perekrutan prajurit berlangsung baik. Prajurit penerus mereka telah bergabung dengan skuad-skuad yang kekurangan anggota. Untuk skuad khusus yang Yang Mulia instruksikan, maksimal dalam dua minggu skuad itu akan beroperasi….”


...»»» End of Volume 3 «««...


Note: Pernikahan Xavier – Artemys prosesinya rahasia dari karakter-karakter utama lain, jadi itu juga takkan diberitahukan pada pembaca. Silakan imajinasikan sendiri prosesinya.


»»»»»Volume 4: “The Invincible Emiliel Holy Kingdom”