
Pagi datang dengan ledakan udara dinginnya yang menyegarkan, membuat orang-orang yang terbuai kehangatan selimut untuk bangun dan beraktivitas. Di mana pun itu—entah di desa kecil atau di kota besar—tidak terlalu banyak perbedaannya. Pagi selalu adalah garis awal aktivitas dalam kehidupan rata-rata, dan malam adalah garis akhirnya. Dan siklus itu akan terus berulang.
Elmira tak terkecuali ‒ siklus itu mengendalikan hidupnya. Ia bangkit dari ranjang empuknya, melakukan ritual paginya, sarapan dengan tenang bersama ibu dan kakaknya, dan kemudian langsung memulai tugasnya. Ia duduk di singgasana dan mendengarkan ajudannya—yang juga seorang pelayannya yang setia—membacakan jadwalnya hari ini.
Seperti kemarin, hari ini pun tidak ada yang spesial. Ia hanya harus menunggu di sini menanti orang-orang yang telah dijadwalkan bertemu dengannya. Tidak ada masalah; ia hanya perlu melanjutkan memeriksa lembar dokumen yang belum selesai ia putuskan. Semuanya hanyalah hal biasa yang sudah tak lagi merepotkan.
“Kosongkan jadwalku untuk siang ini,” kata Elmira. “Sedang untuk pagi, undur pertemuan itu dua jam dari sekarang—dan percepat durasi waktu mereka. Sekarang, aku ingin kau mengirimkan utusan ke gereja dan katakan pada mereka aku akan datang dalam belasan menit setelah utusan itu pergi. Aku akan ke sana dengan Xavier dan Commander Lilithia.”
“Sesuai keinginanmu, Yang Mulia.”
Elmira mengangguk dan mengizinkan pengikut setianya pergi.
Bersamaan dengan perginya sang asisten, Hebranest yang sudah membaluti tubuhnya dengan jubah rantai adamantite memasuki ruang singgasana. Dia melaporkan kalau para prajurit siap berangkat, dan dia juga menegaskan telah menginstruksikan Basvona untuk bertanggung jawab penuh atas keamanan ibukota.
“Hebranest, fokuskan saja pada perbatasan kita dengan Ekralina. Negeri penjilat itu terlalu senyap. Aku takkan terkejut jika mereka sudah mempersiapkan teleportasi masal bagi Knight Templar untuk tiba.”
“Hamba juga berpikir seperti itu, Yang Mulia. Knight Templar takkan mencoba untuk mengambil jalur lurus melewati wilayah kekaisaran. Belum lama ini kekaisaran sudah sangat waspada. Tentu saja Emiliel Holy Kingdom, selaras dengan keangkuhan mereka, percaya diri bisa mengatasi Imperial Army. Namun, seperti yang kita saksikan tempo hari, mereka juga mewaspadai pelaku penyerangan ke Axellibra.”
“Kalau begitu kupercayakan semuanya padamu, dan pastikan kau langsung memberi kabar ke sini begitu Knight Templar menampakkan diri di wilayah Ekralina.”
...—Perkemahan Knight Templar—...
Marcus menggeram dalam kekesalan. Bukan saja tadi malam semua meriam sihirnya berhasil dihancurkan, pagi ini ia langsung mendengar kabar dari prajurit pengamatnya kalau Lembah Terlarang Ed telah berada dalam kontrol Eternity. Ada lebih dari seratus ribu undead di sana. Dan hal itu juga menjawab pertanyaan akan pelaku penghancuran Ilamia City States Union.
“Ini sama sekali tidak mengejutkan Eternity berada di balik kehancuran Ilamia City States Union; asumsi Pendeta Agung dan kami semua juga begitu. Namun, mendengar mereka menguasai tanah suci itu….”
Marcus langsung meraih pedang besar bermata dua miliknya dan menyarungkannya di punggung. “Kita berangkat sekarang,” katanya sembari keluar tenda, tetapi kemudian ia diam sebentar dan menoleh ke belakang. “Hiraukan perhatian kita pada Imperial Army. Sampaikan pada yang lain untuk mengirim sisa lima ribu pasukan mengikuti komando Rossia. Mereka bisa fokus pada pengambil alihan Favilifna Kingdom melalui Ekralina Kingdom. Sedang sisa lima ribu, sampaikan pada mereka untuk menyusul kami.”
Sang prajurit pengamat mengangguk patuh, langsung pergi melaksanakan tugas yang diberikan.
Marcus lantas lanjut berjalan. Seringaian kecil berkembang di bibirnya. Eternity adalah parasit kecil yang menganggu, dan Knight Templar juga sudah cukup menghimpun kekuatan. Dengan lenyapnya parasit itu, Emiliel Holy Kingdom bisa fokus pada menjalankan tujuan mutlak mereka: menjadikan Islan utuh di bawah naungan Gereja Agung Luciel. Semua negeri akan diwajibkan tunduk pada gereja, barulah kehidupan ideal bisa dijalankan.
“Dan, Islan takkan lagi menjadi tanah sucinya Edenia, melainkan milik Nona Fie yang mulia.”
...—Etharna, Favilifna Kingdom—...
Xavier berjalan beriringan dengan Lilithia keluar dari penginapan tempat mereka bermalam. Tentu saja Xavier dan Lilithia berlainan kamar. Sekarang Xavier terikat dengan Artemys; apa pun itu alasannya, ia tidak boleh sampai berduaan dengan wanita lain dalam satu bilik yang sama. Hal yang tak diduga bisa terjadi kapan saja. Xavier tidak ingin mempermainkan perempuan seperti apa yang Reinhart lakukan—meskipun akhir-akhir ini ia dengar laki-laki itu sudah bertaubat.
Memang, seperti halnya Evillia, Artemys tidak mempermasalahkannya memiliki lebih dari satu istri. Pasalnya, Artemys mengerti kalau ada waktunya dia tak bisa mengajaknya bersenang-senang: wanita memiliki halangan-halangan. Dan ada pula masalah keturunan. Karena itulah, memiliki lebih dari satu istri adalah hal yang wajar. Setidaknya, itu budaya di kalangan orang-orang mampu di benua ini (Xavier mendengar dari Heisuke kalau di Mikazuki Empire, seorang pria hanya boleh punya satu istri).
Namun begitu, Xavier tidak yakin dirinya bisa memperlakukan istri-istri dengan adil. Ayahnya saja kerepotan menghadapi ibunya; Xavier tak bisa membayangkan omelan-omelan yang akan ia dengar jika cenderung berpihak pada salah satu. Karenanya, jika pun pada akhirnya ia beristri lebih dari satu, paling banyak ia hanya akan menikahi tiga wanita saja. Ia sudah punya Artemys, hanya dua lagi yang masih membingungkan. Dan dari kandidat itu, tak ada nama Lilithia di dalamnya.
Oleh sebab itu, Xavier tidak lagi membiarkan dirinya terlalu dekat dengan Lilithia. Ia tidak lagi lemah seperti dulu; ia tidak perlu mengkhawatirkan jika Lilithia mencoba memaksa kehendaknya. Lilithia sepertinya telah menyadari kalau ia sengaja memasang jarak. Dan itu menjelaskan mengapa dia bersikap dingin. Hal itu dimulai saat Xavier mengabaikan kesenangan Lilithia dengan kembali ke Verada kemarin.
“Twelfth Commander, First Commander!” panggil tiba-tiba seorang prajurit berseragamkan Favilfna Kingdom. “Kami sudah menunggu kalian keluar. Yang Mulia Elmira ingin kalian menemaninya ke gereja. Beliau berpesan kalau itu akan menjadi acara pembersihan.”
Pembersihan?
Itu kata yang bagus untuk memperindah tindakan yang akan dilakukannya. Well, meskipun Elmira memasang wajah mulia dan dielukan sebagai “Holy Queen”, Xavier tahu tak sepenuhnya dia begitu. Dan tidak menutup kemungkinan pula kalau “Holy Queen” hanyalah topeng. Tentu saja itu hanya asumsi liar dan tak berdasar miliknya. Berbeda dengan apa yang dulu terjadi dalam kekuasan Karen mel Matepola, penduduk Etharna benar-benar tulus memuji Elmira. Mungkin “Holy Queen” bukan hanya sekadar kata.
“Baiklah,” ucap Xavier disertai anggukan—ia tahu Lilithia takkan menanggapi ucapan prajurit itu. “Pimpin jalan, kami akan mengikutimu.”
“Tidak,” sanggah Lilithia. “Kau pergi dengannya; aku punya urusan yang harus kulakukan.” Dan Lilithia menghilang ditelan cermin sihirnya.
“Masalah percintaan?” tanya prajurit itu dengan senyum sok mengerti.
Xavier yang sebelumnya belum berkedip setelah mendengar ucapan yang tak ia ekspektasikan dari Lilithia, kali ini langsung mengerjap tiga kali saat mendengar pertanyaan itu terucap.
“Menjadi pria yang populer memang sulit; saya pernah berada di posisi itu. Para wanita berusaha merayu dengan kata-kata manis mereka, tetapi pada akhirnya saya adalah lelaki yang setia. Kita tidak bisa mengatakan kita mencintai satu orang saat hati kita dengan mudahnya tertambat pada wanita yang lain. Cinta itu milik satu sama lain, bukan satu milik bersama.”
…Sekali lagi mata Xavier mengerjap.
“Ayo, Twelfth Commander, saya tidak ingin disalahkan atasan saya karena membuat Yang Mulia Elmira menunggu lama.”