Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 5: Invisible Mask, part 4



Luciel menggeleng pelan.


Jika membandingkan dirinya dengan Lucifer, ia adalah yang lebih taat pada Edenia. Namun, karena itu pula sekarang ia menyesal. Lucifer suka membangkang, dan pembangkangannya itu membuat makhluk itu mengetahui sesuatu lebih banyak dari dirinya. Bukan Edenia yang menyembunyikan, tetapi ia yang terlalu bodoh karena pernah taat.


Bagaimanapun, menyesalinya sekarang tidak ada gunanya. Pun terlalu memikirkannya hanya akan membuang-buang waktu. Ia adalah Malaikat Agung. Apa yang ia rasakan saat ini sama sekali tak mencerminkan statusnya. Sebaliknya, saat ini ia tak ubahnya manusia.


Ah, saat ini tubuh ini tubuh mortal….


“Apa yang begitu penting hingga kau menginginkanku ke sini, Luciel?”


Mata Luciel mengerjap, spontan menoleh pada pemilik suara. “Evillia,” katanya, bibirnya spontan melengkung. Meskipun lengkungan di bibir itu lebih luntur dari yang kerap kali nangkring di wajah Xavier, bibir itu meradiasikan lebih sedikit kenaturalan. “Bagus sekali akhirnya kau datang. Apa yang ingin kusampaikan mungkin akan sangat membuatmu marah, tetapi aku harus tetap menyampaikannya.”


“Begitu?” Evillia memutar bola matanya sembari mendudukkan diri tepat di hadapan sang malaikat. “Mari kita dengar, apa itu?”


Luciel menautkan kedua jemari, memandang intens sang ratu elf—wanita yang menobatkan dirinya sendiri sebagai ratu.


“Catherine sudah tiada ‒ Vermyna ‘membunuh’-nya. Em dan En juga menghilang. Lalu, Xavier membawa Monica ke Nevada. Xavier bahkan membuatku tak bisa menghilangkan tubuh ini. Ia berpesan, untuk seterusnya mereka akan berada di sisi kekaisaran. ‘Kekaisaran akan menguasai Islan,’ begitu katanya.”


Luciel mengekspektasikan kekalapan menelan diri Evillia. Ia mengantisipasikan amarah meledak-ledak dari dalam diri sang ratu. Luciel sudah berasumsi ia akan melihat ledakan mana yang besar dan liar.


Namun, tidak ada dari ketiga hal itu yang terjadi.


“Oh, begitu.”


Hanya itu. Tak kurang, tak pula lebih. Tidak ada respons lain yang Evillia berikan. Pun tak ada setitik pun kemarahan di wajahnya. Ekspresinya masih sama seperti sebelum ia melemparkan informasi itu. Bahkan, Evillia tak menunjukkan sedikit pun raut keterkejutan.


Luciel mengerjap. “Responsmu hanya itu?” tanyanya heran. “Apa kau sudah mengekspektasikan hal ini sebelumnya?”


“Tidak, aku tidak mengekspektasikannya.” Evillia menyangkal. “Aku tidak sedang dalam mood untuk merespons berlebihan. Alstroemeria sudah melarikan diri ‒ pengkhianat, penjilat kaki vampire. Aku sudah mengirim beberapa orang untuk menghabisinya, tetapi batang hidungnya tak ditemukan. Menez kemungkinan sudah dia atasi juga.”


Bibir Luciel spontan melengkung mendengar pengakuan itu. “Pikiranmu lelah? Ingin melampiaskan emosi dengan sparing?”


...—dalam bulan—...


“Lama tak bertemu, Menez.”


Menez yang sebelumnya kebingungan, sekarang dipenuhi keterkejutan. Meskipun mata merah berpupil vertikal itu bukan apa yang ia ingat, tetapi wajah dan suara itu tak salah lagi adalah milik Heckart.


“Kau sudah tumbuh menjadi kuat, lebih kuat dariku yang telah menjadi vampire. Setidaknya, dalam penggunaan sihir. Jika hanya fisik, kau masih belum melampauiku. Bagaimanapun, senang melihatmu lagi, Menez.”


Menez mengerjap satu, dua, tiga kali, sebelum kemudian spontan mengeksplor pandangannya ke segala arah.


“Sebelumnya kupikir untuk membawamu ke Veria, kemudian kita bisa hidup bersama dengan senang di sana, Menez. Namun, situasi telah berubah. Kembali ke sisi Nona Vermyna adalah pilihan yang terbaik.”


“Dia terlalu banyak tanya,” ketus Lumeira, mengaktifkan rangkaian rune untuk mengekang tubuh sekaligus mana Menez. “Alstroemeria, cepat selesaikan urusanmu. Setelahnya kita akan menyatu kembali ‒ aku sudah lelah dengan kondisi lemah ini.”


“Aku akan menemuimu lagi setelah Alstroemeria selesai menjelaskan, Menez.”


Menez tidak bisa mengatakan apa-apa. Jangankan itu, mengangguk saja ia tak bisa. Matanya hanya bisa melihat diam kepergian Heckart dan Third Commander. Menez tidak mengerti. Apa yang sebenarnya terjadi?


“Ah, dari mana harus kumulai menjelaskan?” tanya Alstroemeria pada dirinya sendiri, matanya memandang ramah pada Menez sambil tangan memegang dagu. “Dari mana kau ingin kujelaskan, Menez? Dari awal sekali? Atau dari ketika kau terlelap dalam lullaby ilusiku?”


...* * *...


“Apa kau senang…karena tak harus menghabisi teman-temanmu sendiri?” tanya Lumeira begitu mereka keluar dari salah satu ruangan luas dalam kastil, matanya sekilas melirik sang pemuda.


“Aku sudah mempersiapkan diriku untuk itu, tetapi aku tak bisa berbohong kalau mengetahui Nona Vermyna mengubah niatnya membuatku merasa lega. Terima kasih untukmu karena telah memberitahuku dan Cainabel, Third Commander.”


Lumeira mendengus mendengar hal itu. “Peranku sebagai Third Commander sudah berakhir. Pun begitu dengan peran Alstroemeria sebagai elf. Secara teknis saat ini aku masih Lumeira, tetapi panggil aku Lumestroemeria. Itu namaku yang sebenarnya.”


“Ini sedikit membingungkan. Aku tahu Xavier menggunakan [Division Magic] untuk memisahkan dirinya dengan Luciel. Bagaimana denganmu, Lumestroemeria? Bagaimana bisa kalian menjadi dua individu dengan tubuh dan personalitas yang berbeda?”


“Itu bukan urusanmu. Kau tak perlu tahu. Yang lebih penting, kau bisa membawa dua temanmu yang lainnya ke sini jika kau mau. Valeria bisa mengubah mereka menjadi vampire. Aku yakin Nona Vermyna takkan mempermasalahkan.”


“Elena dan Jose tidak perlu terlibat dalam hal sebesar ini. Dari laporanmu, Jose sudah hidup bahagia di sana. Tidak perlu merusaknya. Sedang Elena…dia masih memiliki keluarga. Setelah Menez bisa kita yakinkan untuk melayani Nona Vermyna, aku akan memintanya untuk mengembalikan Elena ke keluarganya di Etharna.”


“Itu keputusan yang bagus. Meskipun mereka menjadi vampire, mereka takkan begitu berguna.”


“Itu terlalu kasar, …tetapi aku tak bisa menyangkalmu.”


“Hmph, kirim salamku pada Cainabel. Katakan padanya, aku menantangnya bertarung setelah aku dan Alstroemeria menyatu.”


Lumeira tak menunggu respons Hecrust, kakinya melayang dan kemudian ia menghilang begitu saja dari samping sang pemuda.


Heckart—atau yang sekarang lebih suka jika dipanggil Hecrust—memandang beberapa lama ke tempat di mana Lumeira menghilang, sebelum kemudian ia berbelok ke lorong kastil yang satunya. Heckart melangkah cepat, tujuannya adalah anak tangga yang akan membawanya ke salah satu tower kastil: tempat favorit Cainabel selain permukaan bulan.


...* * *...


“… Begitulah ceritanya mengapa kau menemukan dirimu berada di sini, Menez,” jelas Alstroemeria mengakhiri ceritanya. “Kau boleh marah, kesal, berteriak, atau apa saja. Namun, Menez, aku hanya ingin kau selalu di sisiku. Kau harus memercayai itu. Kebersamaan kita…itu sama sekali bukan kebohongan.”


Alstroemeria berlutut di hadapan Menez yang dalam keadaan terduduk dengan kedua tangan dan kaki yang terikat. Kedua tangannya bergerak pelan, membingkai wajah Menez dengan lembut. Pandangannya begitu teduh, penuh cinta, sangat menenangkan.


“Aku mencintaimu Menez. Aku ingin kau berada di sisiku selalu.”