
“Provinsi Emeralna belum memiliki pasukan independennya. Saat ini keamanan provinsi ini berada di tangan Divisi 8 yang Commander Zenith pimpin. Pun Nona Artemys merasa enggan membentuk pasukan independen sekarang. Meskipun kondisi Emeralna sudah sepenuhnya stabil dari beberapa bulan yang lalu, Nona Artemys akan menunda pembentukan pasukan itu sampai kota baru selesai didirikan.”
“Pasukan independen berpelung memantik api pemberontakan. Aku mengerti mengapa Yang Mulia memutuskan menunda pembentukan pasukan itu. Lantas bagaimana dengan kota baru tersebut? Kapan itu selesai?”
“Kota itu rencananya akan mulai dibangun akhir tahun ini, dan diperkirakan selesai dalam satu setengah tahun. Namun, peperangan yang telah muncul di ujung horizon membuat Nona Artemys mengubah keputusan tersebut. Nona Artemys ingin fokus menjaga keutuhan kota ini dan mengusahakannya agar terhindar dari efek perang. Kapan kota itu selesai? Aku tak punya jawaban untuk itu.”
“Itu artinya tidak akan ada pasukan independen untuk jangka waktu yang cukup lama,” simpul Alice, mengikuti Jenny menaiki anak tangga ke lantai dua istana. “Mengesampingkan skuad yang Commander Zenith tugaskan menjaga keamanan istana, artinya hanya aku dan kau yang akan menjaga keselamatan Yang Mulia?”
“Tidak.” Jenny menggeleng. “Aku sudah merekrut tiga gadis lokal untuk menjadi pengaman tambahan istana. Mereka semua bertalenta, masing-masing berusia 14, 15, dan 16 tahun. Mereka akan tiba di istana dalam empat hari. Kemampuan mereka memang masih kurang, tetapi aku berencana mengajarkan mereka seni assassin, dan aku juga ingin kau mengajari mereka apa yang bisa kau ajarkan. Mereka akan menjadi timmu, dan mereka juga akan tinggal di istana.”
“Aku tak masalah dengan itu. Memiliki tim akan lebih baik bagi keamanan istana.”
“Aku senang mendengarnya. Nah, silakan cek semua kamar yang ada di sini. Jika sudah, pilihlah satu yang kau suka. Aku akan menunggu di sini, setelahnya kita kembali ke ruangan Nona Artemys untuk membicarakan bayaranmu.”
...* * *...
Di perpustakaan rahasia istana yang kini sudah disulap sedemikian rupa sehingga lebih terkesan mirip ruang tamu bertema perpustakan, Xavier duduk di salah satu sofa yang mengitari meja kaca rendah berkualitas tinggi. Matanya memandang intens pada mata Artemys yang memutuskan duduk di pahanya.
“1 August,” kata Artemys dengan kedua tangan melingkari leher Xavier. “Pernikahan kita akan dilakukan tepat saat matahari setinggi tombak pada hari itu. Sebab itu kau akan bermalam di sini pada akhir July. Aku memberitahumu sekarang karena kau harus memastikan tidak melewatkan kedua hari itu. Jika Kanna/Emperor mengirimmu ke tempat lain pada hari itu, aku ingin kau menolaknya.”
“Kau masih belum memberitahuku detail pembicaraanmu dengan Monica, dan aku tak bisa membawa diri bertanya padanya. Tapi yang jelas, Monica seakan memasang dinding tak kasatmata antara kami. Dia tak mau bicara selain hal yang berhubungan dengan Divisi 12 dan Imperial Army secara umum.”
“Kau tidak boleh memberitahunya tentang pernikahan kita, apalagi tentang anak kita. Mungkin ini hanya perasaanku saja, tetapi Monica sepertinya telah mengekang emosi negatifnya terlalu lama. Jika dia sampai tahu, aku khawatir emosi itu akan tumpah dan dia akan berakhir dengan melakukan hal yang tidak kita inginkan. Ketika dengannya, jangan sedikit pun bicarakan tentangku. Cobalah buat dia senang, secara perlahan kikis emosi negatif yang menumpuk itu.”
Kening Xavier mengernyit, tetapi kemudian mengangguk. “Akan kucoba untuk berbicara lagi dengannya. Aku tidak terlalu suka dengan hal ini, tetapi tidak ada pilihan lain. Aku tidak ingin kalian sampai bermusuhan.”
“Kalau kau ingin memiliki lebih dari satu wanita, kau harus mengerti kalau kau tak bisa membuat semuanya senang. Jika kau membiarka egomu berkembang, kau justru akan kehilangan yang lain. Tapi tenang saja, apa pun yang terjadi, aku selalu ada untukmu. Bahkan jika kau memutuskan menjadi musuh dunia, hidup sembunyi-sembunyi tidak buruk juga.”
“Kau yakin dengan ucapanmu? Bagaimana jika aku menjadi pembunuh orangtuamu, adikmu? Apa kau akan tetap bersamaku, hm?”
“Hm…itu situasi yang sulit. Jika itu Emperor Nueva yang terbunuh, aku akan tetap bersamamu. Dia kuat. Dia bisa melindungi dirinya sendiri. Jika dia terbunuh di tenganmu, itu artinya dia memang ingin mati. Pasalnya, Emperor Nueva cukup kuat untuk bisa menyelamatkan diri. Tidak akan ada yang berubah di antara kita jika dia mati. Namun,” jeda Artemys sembari membawa tangannya menyentuh bibir Xavier. “Jika kau membunuh ibu dan adikmu, akan kusegel manamu dan kurantai kedua tangan serta kakimu.
“Kau akan kuperlakukan seperti budak yang kucintai. Kau akan menjadi properti di kamarku. Kau takkan kuberi pakaian. Kau tidur dengan kedinginan. Aku akan melukai dan menyiksamu setiap hari, kemudian akan kuobati. Kumandikan kau dengan air dingin. Kadang aku akan berbaik hati menyulangimu makan, kadang pula akan kubuat kau makan seperti binatang ternak. Satu-satunya momen di mana kau akan merasakan kehangatan adalah saat aku memerlukanmu di ranjangku. Intinya, aku akan tetap bersamamu. Aku takkan pernah meninggalkanmu.”
Jika Xavier berkata tidak merasakan tulangnya ngilu karena merasa ngeri, itu murni dusta. Apa yang digambarkan oleh kata-kata Artemys terlalu mengerikan untuk ia bayangkan. Itu terlalu sadis. Kata-kata normal jika Nizivia yang mengucapkannya, tetapi Artemys? Xavier menelan ludah, jantungnya sedikit berpacu.
“Tentu saja aku hanya bercanda,” kata Artemys sembari mendaratkan bibirnya pada pipi Xavier. “Aku yakin Nizivia akan memberi jawaban seperti itu saat kau memberinya pertanyaan yang barusan kau beri padaku. Aku bukan Nizivia. Aku tidak melakukan hal yang seperti itu. Kau membunuh seseorang tidak mungkin asal bunuh, kau punya alasan yang kuat. Aku tidak percaya Xavierku akan menjadi pembunuh yang asal bunuh.” Senyum menawan berkembang di bibir Artemys. “Jika ada hal yang menyulitkanmu, bicaralah padaku. Di dunia ini, hanya aku tempat terbaikmu untuk bersandar. Di dunia ini, hanya aku wanita yang akan menerimamu dengan utuh. Jangan pernah lupakan ini, Xavier.”
Xavier tidak memberikan sata patah kata pun sebagai balasan. Tangannya bergerak memeluk Artemys, wajahnya terbenam di leher kanan sang putri. Memeluk Artemys selalu memberikan aroma damai yang menenangkan. Bahkan jika mereka hidup abadi, Xavier tahu ia takkan pernah merasa bosan. Ia akan selalu merasa ketagihan. Artemys adalah candu dalam hidupnya. Wanita ini begitu sempurna di mata Xavier.
“Jadi, mengapa kau ingin membunuh Emperor Nueva?” Suara merdu Artemys sekali lagi menyusup ke dalam telinga Xavier, belaian tangannya terasa sempurna di belakang kepala xavier. “Itu akan menyakitkan ketika anak kita bertanya di mana kakeknya. Namun, kau tentu punya alasan mengapa sampai membencinya, bukan begitu? Tidak apa-apa, katakanlah.”