
Alfonso mengernyitkan kening melihat bongkahan tanah memenuhi langit-langit. Bongkahan-bongkahan tanah seukuran rumah itu terus bertambah dan bertambah, saling menumpuk terhadap satu sama lain. Tanah-tanah dengan cepat berubah menjadi adamantite. Dan, sebelum Alfonso sempat berbuat sesuatu, tidak ada lagi sumber cahaya yang masuk. Hekiel von Vanguarta telah mengurungnya. Satu-satunya sumber cahaya adalah pendar biru yang barier prisma hasilkan.
Alfonso spontan menarik semua pedang tak terlihat mengelilinginya, sejurus kemudian melesatkannya kembali dengan kekuatan penuh.
Suara tubrukan terjadi secara beruntun. Pedang tak terlihatnya spesial. Itu pedang-pedang yang dimiliki Seraph Selaphiel yang terkenal akan pedangnya yang luar biasa. Dikatakan, Selaphiel pernah menghabisi ribuan iblis hanya dengan menghujani mereka dengan pedang tak terlihat. Alfonso levelnya belum sampai ke sana, tetapi pedang tak terlihat yang ia produksi sama kuatnya dengan pedang yang Selaphiel produksi.
Namun, setelah tak melihat celah cahaya sesudah pedang-pedang itu memborbardir dinding adamantite yang sudah mengelilingi dari segala arah selain bawah, Alfonso menyadari kalau dinding itu terlalu tebal untuk ditembus pedang-pedangnya dengan jumlah yang sekarang. Ia pun langsung menggandakan jumlah pedangnya. Namun, bersamaan dengan itu, dinding-dinding adamantite telah menghimpitnya.
Alfonso cukup cepat untuk menggunakan semua pedang menahan himpitan dinding, memberinya kesempatan yang cukup untuk memperkuat perisai prismanya. Dan, saat kesemua pedang menusuk ke dalam dinding yang lantas membuat dinding membentur perisai, perisai berbentuk prisma yang melindungi sudah sangat kuat. Tak ada sedikit pun keretakan yang tekanan himpitan dinding sebabkan.
Untuk memastikan dirinya tetap terlindungi, Alfonso menciptakan barier lain di atas barier prismanya. Barier tersebut ia perluas, berusaha melawan dinding-dinding yang tak berhenti menghimpit.
...— — — — — — — — — — —...
Setelah berhasil mengurung sang saint, Hekiel keluar dari bola adamantite dan memfokuskan pandangannya ke atas. Barier transparan yang menghalanginya ke atas masih ada, dan itu cukup kuat. Hekiel memfokuskan diri menghancurkan barier untuk keluar dari lubang. Ia ingin mengubur sang saint hidup-hidup ‒ pertama-tama sekali ia harus keluar dari sini.
Hekiel baru berhasil menghancurkan barier transparan yang menghalanginya ke atas setelah memfokuskan serangan pada satu titik.
Sang commander lantas melesat ke atas dengan menciptakan bongkahan-bongkahan tanah di udara sebagai pijakan. Hanya kurang dari dua menit, ia sudah tiba di permukaan lubang. Dan, tanpa menunda-nunda barang sedetik, ia langsung menyatukan kedua telapak tangan dan menciptakan bongkahan batu raksasa untuk ia jatuhkan.
Suara tubrukan yang terdengar cukup keras, dan Hekiel terus menjatuhkan bongkahan batu sampai lubang penuh. Kemudian ia menyelimuti semuanya dengan tanah hingga rapat. Lebih dari itu, Hekiel membangun piramida tanah dengan panjang sisi seratus meter di atas permukaan lubang. Dan, sebagai sentuhan terahir, Hekiel mengubah semuanya menjadi adamantite.
Ia bukan tipe petarung yang tepat untuk mengalahkan Alfonso dalam pertarungan jarak dekat. Ia mungkin bisa menang dalam pertarungan tangan kosong, tetapi pedang-pedang tak terlihat itu sungguh mengganggu. Maka dari itu, Hekiel merumuskan cara menang yang berbeda. Dan apa yang ia lakukan sekarang adalah cara terbaik dan paling efektif.
Fokus dengan urusannya, Hekiel sama sekali tak memerhatikan sekelilingnya. Barulah saat selesai mengubur Saint Alfonso hidup-hidup ia mendapati dirinya dikepung belasan ribu prajurit.
Akan bagus untuk menghabisi mereka semua, tetapi Hekiel telah mengeluarkan lumayan banyak mana hari ini. Dengan banyaknya pasukan Knight Templar yang ada di perkemahan, tak baik membuat dirinya sampai lelah dan kehabisan mana. Maka dari itu, Hekiel menghentakkan kaki dan melontarkan tubuhnya ke udara. Ia melesat menuju dinding adamantite untuk beristirahat. Prajurit Knight Templar coba menghentikannya, tetapi Hekiel tiba di atas dinding tanpa mereka bisa berbuat banyak.
“Jika dia tidak mati dengan tekanan besar yang dia terima, dia akan mati karena menipisnya udara.”
Hekiel berdiri dan hendak melesat ke kiri kota, tetapi langkahnya langsung terhenti sebelum sempat mengambil langkah kedua. Gelegaran petir hitam mengisi langit Carolina. Kemudian kumpulan petir itu terbagi menjadi dua: satu menyambar ke kanan, satunya lagi ke kiri. Kedua sambaran petir itu menyasar kedua rombongan pasukan Knight Templar.
Hekiel tidak bisa melihat sebanyak apa kedua sambaran petir menelan korban. Pun itu sama sekali tak penting. Niatnya melesat ke kiri kota juga langsung ia batalkan. Kemunculan petir itu artinya Dermyus sudah tiba—pasukan bantuan yang dikirim untuk menghadapi mereka sudah tiba. Dengan kehadiran mereka, waktu bagi Imperial Army untuk melakukan ofensif sudah tiba.
Hekiel menjatuhkan tubuhnya ke bawah, menjadikan bongkahan tanah sebagai pijakan sebelum kemudian mendarat di tengah-tengah pertempuran di samping mulut lorong. “Ikuti aku!” serunya lantang. “Kita mulai aksi ofensif sekarang!”
...— — — — — — — — — — —...
Jez, yang dipercaya Gibral untuk mengambil alih komando, telah membawa lebih dari lima belas ribu prajurit untuk mundur begitu sosok yang telah membenamkan pemimpin mereka ke dalam tanah berhasil kabur.
Ia sempat berpikir untuk menyusul dan membalaskan kematian sang saint, tetapi kemunculan petir hitam itu langsung membuatnya berubah pikiran. Dengan teriakan yang lantang, ia menyeru lebih dari lima belas ribu prajurit untuk kembali ke perkemahan. Situasi benar-benar berubah drastis. Jika kematian Alfonso tak cukup, kehadiran petir hitam itu melengkapi alasn untuk mengembalikan mereka ke perkemahan.
Pasukan bantuan musuh sudah tiba. Pemilik petir hitam itu tak salah lagi Seventh Commander Dermyus von Haneth. Artinya, Divisi 7 Imperial Army—divisi yang terkenal akan kekuatan ofensif mereka—sudah bergabung dengan Divisi 6 Imperial Army. Mungkin tidak mustahil bagi mereka semua menyudutkan musuh meski tanpa Saint Alfonso. Namun,dengan adanya dua Commander dan dua divisi, ini beda lagi ceritanya. Mereka harus mundur dan melaporkan apa yang terjadi ke perkemahan.
Jez sendiri tidak ikut kembali ke perkemahan. Ia melesat ke arah mulut lorong, mencoba kembali bergabung dengan pasukan yang coba menerobos masuk. Namun, bersamaan dengan dirinya yang melesat ke sana, pasukan yang di sana bergerak menjauh dari lorong dan berlari ke arahnya. Melihat mereka membuat Jez langsung berhenti.
Mereka meneriakkan kalau indvidu kuat, yang kemungkinannya commander Divisi 6, telah memimpin Imperial Army untuk balik menyerang. Ada juga teriakan yang menginformasikan kalau Gibral sudah tewas dan agar mereka semua mundur ke tempat Saint Alfonso.
“Saint Alfonso telah dikalahkan!” seru Jez. “Kembalilah setengah dari kalian ke perkemahan, yang lain ikut aku. Kita akan memberi waktu bagi mereka untuk kembali ke perkemahan dan mengurangi jumlah musuh sebanyak mungkin.”
Jez tentu saja tahu ia mengajak setengah dari mereka untuk mati bersama, tetapi memang benar-benar tak ada opsi lain. Hanya ada dua pilihan di sini, mereka semua tewas, atau sebagian dari mereka mengorbankan diri agar sebagian yang lain bisa kembali ke perkemahan. Satu-satunya harapan bagi Jez dan sebagian pasukan yang tinggal adalah kehadiran dua saint yang lain.
Namun begitu, harapan itu tak lebih dari sekadar harapan. Pada detik ini, sangat tak mungkin mereka akan ke sini. Jika pun ke sini, itu akan memerlukan waktu sekitar satu jam. Pada saat itu, Jez tidak bisa membayangkan apa-apa selain raga mereka yang telah terbunuh.
“Serang!” teriak Jez dengan suara yang paling keras yang pernah ia suarakan. “Habisi mereka semua!”
...»»» End of Chapter 30 «««...