
XAVIER sama sekali tak menggerakkan kaki meski hanya seinci, dengan sabar menunggu sang saint menyerang. Tentu saja ia masih ingat pembicaraannya dengan Heisuke. Namun, ia tak bisa menyelesaikan urusan di sini dengan cepat dan menyusul mereka. Meskipun Gallahad musuh, tapi dia adalah panutan. Bagi siapa pun yang ingin memiliki istri lebih dari satu, Gallahad adalah orang yang perlu diminta sarannya.
Xavier tentu saja, jika bisa memilih, tak mau memiliki wanita lain selain Artemys. Selain kekuatan dan kekuasaan, Artemys memiliki semua yang bisa seorang pria harapkan dari seorang wanita. Namun, Xavier sulit menolak wanita yang berjasa besar dan sudah akrab dengannya. Mereka akan tersakiti jika ditolak. Itu juga adalah bagaimana Artemys menyusupkan diri ke dalam hidup sang co—
—jalan pikiran Xavier spontan terputus saat akhirnya Gallahad menyongsong maju, zirah angin tebal menyelimuti tubuh dan pedang besarnya.
Sebelum mata Xavier mengerjap, Gallahad sudah berada di hadapannya dengan pedang yang siap menebas. Namun, Xavier hanya mengambil satu langkah ke kiri untuk tipis menghindari tebasan. Pada saat yang bersamaan, tangan kanannya sudah menarik keluar pedang adamantite bergagang hitam dari sarungnya. Pedang itu langsung berselimutkan api hitam dan mengayun dengan cepat.
Gallahad tentu saja agak terkejut serangan cepatnya bisa dihindari hanya dengan bergeser ke kiri selangkah, tetapi insting bertarungnya yang sudah sangat terasah membuatnya sempat memblok ayunan pedang berlapiskan api hitam Xavier. Hanya saja, Gallahad gagal menghindari tendangan kaki kanan Xavier yang telah bersarang ke sisi kiri perutnya. Sontak saja dia terhempas, tetapi Gallahad masih bisa mendarat dengan kedua kakinya.
Mengabaikan api hitam yang berusaha menelan selubung angin yang membaluti pedangnya, Gallahad kembali melesat maju. “Wind Sword Art: Invisible End!”
Xavier merespons teknik pedang Gallahad dengan menebas pedangnya sekali secara horizontal, dan seketika gelombang api hitam melesat dalam kecepatan tinggi dan terus membesar dengan cepat. Gelombang api itu menelan segala yang di hadapannya, tersemasuk juga tebasan angin tak terlihat yang Gallahad lesatkan.
Besarnya gelombang api menghalangi pandangan Xavier dari sang saint. Gallahad memanfaatkan hal itu dengan melesat ke belakang Xavier dan menebaskan pedangnya dengan keras. Namun, tanpa berbalik atau melihat ke belakang, pedang Xavier telah terlebih dahulu bergerak ke belakang. Benturan kedua bilah metal pun kembali terjadi.
Gallahad tidak berhenti pada satu ayunan pedang; ia mengayunkannya berkali-kali, lagi dan lagi.
Namun, masih dalam keadaan tak melihat ke belakang, Xavier dapat memblok semua ayunan pedang tanpa bergeser dari tempatnya berdiri meski hanya seinci. Itu seperti dia memiliki mata di belakang kepala dan kekuatan fisik super.
Tetapi sejatinya tidak begitu. Xavier hanya mengoptimalkan [Sensory Magic] dan memanfaatkan [Reverse Law]. Tidak peduli sekuat apa tenaga yang Gallahad salurkan pada ayunan pedangnya, pedang Xavier akan menerima tenaga yang lemah. [Reverse Law] membalikkan kenyataan. Xavier tidak mencoba menikmati pertarungan; ia memanfaatkan [Reverse Law] sebagaimana seharusnya.
“Lightning Explosion,” bisik Xavier, dan seketika sang saint terhempas, tetapi dia masih dapat mendarat dengan kedua kaki.
“Tidak seperti saat sparing dengan Commander Hekiel, Dermyus, dan Reinhart, aku tidak menahan diri. Jadi, sangat wajar kau tak bisa mengimbangiku.” Xavier memutar badan menghadap Gallahad yang telah ia hempaskan. “Namun, kau tak buruk, Gallahad. Fisikmu sekuat Commander Gilbert. Kecepatanmu bisa mengimbangi Reinhart dan Commander Dermyus. Penguasaanmu terhadap sihir angin menyamai Wakil Commander Elizabeth. Tak mengherankan kau termasuk satu dari enam saint terkuat.”
“Kuterima itu sebagai pujian. Tapi kau memang sangat kuat, padahal masih cukup muda. Walaupun semua mengakui kau adalah masalah besar—bersama Commander Lilithia, Commander Zenith, Putri Kanna, Edward Penumbra, dan Emperor Nueva—setelah mendengar kau mengalahkan Undead Thevetat, tapi merasakannya sendiri masih tetap mengejutkan.”
“Bagus kalau kau mengakui. Itu artinya kau mengerti hasil akhir dari pertempuran ini. Tidakkah kau mau menyerah?”
“Heh, sepertinya aku memang tidak punya pilihan lain,” Gallahad menancapkan pedang besarnya (yang sebagian telah dihinggapi api hitam) di tanah, “Meleburlah dalam kegelapan yang tiada bertepi, Infinity Darkness. Berilah kuasa pada pemegang tahta, Room of the Ruler.”
Xavier menaikkan sebelah alis begitu mendapati dirinya berada dalam kegelapan total. Ia tak bisa melihat apa pun. [Sensory Magic]-nya juga tidak dapat merasakan apa-apa. Bahkan saat Xavier memanifestasikan api biru sebagai penerang, api itu kehilangan warnanya. Tidak ada sedikit pun cahaya yang terpancarkan. Kegelapan hakiki.
“Tak ada cahaya yang bisa menerangi dalam kegelapan tak terbatas ini, sama seperti ketidakbergunaan sihir sensorik di dalam sini.”
“Tidak buruk,” puji Xavier seraya memblok pukulan Gallahad dengan telapak tangan kirinya.
“Ba-Bagaimana bisa? Kau harusnya tak bisa melihatku! Kau harusnya tak bisa merasakanku. Kau juga hanya bisa mendengar apa yang kuizinkan untuk kau dengar.”
“Kebetulan aku bisa melihat yang tak bisa dilihat. Mendengar yang tak bisa didengar. Merasa yang tak bisa dirasa. Kau harus me—!”
Xavier seketika terdiam, matanya sedikit melebar. Ia menemukan dirinya tak bisa bergerak. Dan, untuk pertama kali sejak pertarungan dimulai, sebuah pukulan menghantam ulu hati Xavier dengan keras, membuatnya terhempas.
“Kebetulan juga aku yang menciptakan peraturan dalam ruang ini,” jelas Gallahad. “Jika kau tak kuizinkan bergerak, kau takkan bisa bergerak. Apa kau masih berpikir bisa menang? Apa kau masih berpikir aku tak bisa mengimbangimu?”
“Menarik,” balas Xavier setelah kedua kakinya berhenti terseret. “Katakan, apa sihirmu?” tanya balik sang commander.
“Tidak ada yang tahu aku memiliki sihir ini. Dan aku juga takkan memberi tahumu. Aku hanya menggunakan sihir ini saat kemenangan tak bisa kujangkau. Saat aku me—kau! Bagaimana kau bisa bergerak? Aku tak mengizinkanmu bergerak!”
“Kebetulan sekali aku tak suka menuruti peraturan. Dan barusan kau bertanya apa aku masih berpikir bisa menang? Apa aku masih berpikir kau tak bisa mengimbangiku?” Xavier tak menanti konfirmasi. “Jawabannya, tentu saja. Kau mengenaiku tadi karena aku terkejut. Rupanya begitu sensasi saat seseorang yang mau bergerak tapi tak bisa bergerak.”
“…Apa maksudmu?”
“Maksudku, mari kita inversikan aturan dalam tempat ini. Aku yang jadi pembuat aturan, dan kau yang harus mematuhinya.”
“Menginversikan aturan? Yang benar saja! Ini m domainku. Akulah yang—”
“Diam.”
“—meme…!”
“Bagus. Sampai kuizinkan bicara, kau tak bisa bicara. Aturan selanjutnya, kegelapan ini sirna.”
Dan seketika, kegelapan hakiki lenyap tak berjejak; mereka sekarang berada dalam ruangan serba putih yang seolah tak berbatas.
Gallahad yang berdiri belasan meter dari Xavier melebarkan mata penuh keterkejutan. Bibirnya bergerak-gerak, tetapi dia tak kuasa membuka mulut untuk bicara.
“Sihirmu ini cukup menarik. Mengesampingkan caraku, salah satu cara untuk membebaskan diri dari sini adalah dengan ilusi. Ah, Menez akan keluar dari sini sebelum kau menyadarinya. Nah, sekarang, bagaimana kau mau dikalahkan? Apa kau siap menerima kematian, atau mau bernegosiasi untuk tetap hidup? Aku yakin kau tak mau istri-istrimu dinikahi pria lain setelah kau mati, kan?”