Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 30: It Begins!, part 1



HEKIEL diam memandang jalannya bentrokan pertama yang terjadi antara Imperial Army dan Knight Templar. Meskipun ia menyebutnya bentrokan, pertempuran masih belum terjadi. Pasukan Knight Templar tidak keluar dari lorong; mereka menembakkan spell dari dalam. Sementara itu, pasukan Imperial Army tidak menyerbu ke dalam lorong; mereka membalas menembakkan spell dari depan gerbang.


Dua menit telah berlalu, dan keadaan belum berubah. Yang bertambah hanyalah intensitas serangan. Spell yang dilepaskan pasukan Knight Templar semakin banyak dan agresif, membuat jumlah prajurit Imperial Army yang bertugas mengkonter serangan menjadi lebih banyak.


Hekiel tidak tahu jika yang memimpin mereka Saint atau bukan. Namun, yang jelas, dia tidak bodoh untuk langsung memerintah pasukannya menyerbu. Mereka tidak sepenuhnya tahu apa yang menanti di ujung lorong selain para prajurit musuh ‒ bersikap waspada dan mengujinya dengan menembakkan spell adalah solusi yang bagus. Hekiel bisa langsung menjatuhkan mereka ke parit yang sudah dibuat jika mereka bodoh, sayangnya mereka tidak bodoh.


Namun demikian, itu bukan berarti mereka pintar. Memasuki lorong itu adalah kebodohan tersendiri. Apa mereka lupa kalau ia yang membuatnya? Tidakkah mereka berpikir ia bisa kapan saja menghancurkan mereka jika mereka berada dalam lorong buatannya?


Sayangnya, meskipun itu mudah untuk dilakukan, Hekiel tidak akan melakukan itu sekarang. Jika ia menghabisi mereka semua, itu akan membuat sang Saint bergerak dan mengerahkan semua pasukan. Ia tidak tahu kekuatan pemimpin mereka; tidak mustahil jika dia bisa menghancurkan dinding adamantitenya. Bahkan mungkin saja dia telah mengirim pasukan memutari dinding. Karenanya, cara yang efektif dan efisien adalah meladeni mereka.


“Namun, itu bukan berarti aku takkan berpartisipasi.”


Hekiel menciptakan sepuluh tombak tanah sepanjang satu meter di hadapannya. Kemudian tombak-tombak itu ia ubah jadi adamantite. Hekiel mengarahkan mata tombak ke dalam lorong. Dan, bersamaan dengan spell pengkonter serangan yang para prajuritnya lesatkan, Hekiel melesatkan kesepuluh tombak adamantite dengan kecepatan tinggi. Itu meluncur deras dan tak terbendung ke dalam lorong.


Dari tempatnya duduk, Hekiel tak bisa melihat tombak-tombaknya mengenai target atau tidak. Karena itu ia tak berhenti hanya pada sepuluh tombak. Hekiel menciptakan sepuluh lagi setengah menit berselang, dan sepuluh lagi setelah setengah menit, dan seterusnya seperti itu.


“Commander, tidakkah lebih baik jika kita mulai menyerang?” tanya seorang prajurit di samping Hekiel. “Posisi mereka yang di dalam lorong membuat pergerakan mereka terbatas. Jika Commander menciptakan dua jembatan beberapa meter di kanan kiri jalan dan kemudian membuat ruang di tepi dinding, kita bisa menyerang dari kanan dan kiri bibir lorong. Mereka takkan tahu kita di sana lantaran sibuk melepaskan spell. Saya kira ini bagus untuk kita coba.”


Hekiel melesatkan sepuluh tombak adamantitenya yang kesekian, kemudian menoleh pada sang prajurit. “Itu usulan yang bagus,” katanya diiringi senyum lebar. “Aku tak ingin terlalu membebani kalian. Menguras energi musuh dengan meladeni mereka dari sini lebih baik. Namun, jika kalian begitu ingin mengulurkan tangan…. Baiklah. Persiapkan masing-masing sekitar dua ratus prajurit.”


“Siap, Commander!”


Mengangguk, Hekiel langsung mengangkat kedua tangannya ke kanan dan kiri selepas sang prajurit pergi. Dua jembatan tanah tercipta sekitar dua puluh meter di kanan dan kiri jalan yang menghubungkan mulut lorong dan pintu gerbang. Kemudian Hekiel menciptakan teras yang agak luad di depan dinding di antara kedua jembatan. Untuk membuatnya lebih solid, Hekiel mengubahnya menjadi lantai adamantite kasar.


...— — — — — — — — — — —...


Lorong yang menjadi satu-satunya akses lewat tanpa mengambil jalan memutar hanya memiliki lebar tiga meter dan tinggi sepuluh meter, sedang panjang totalnya mencapai delapan setengah meter. Gibral memasukkan 270 prajurit ke dalamnya, kesemuanya adalah Magic Caster yang andal. Tugas utama mereka memprovokasi pasukan musuh untuk keluar dengan melepaskan rentetan spell, pada saat yang bersamaan mereka dituntut mengecek situasi di depan lorong.


Hampir dua puluh menit telah berlalu sejak serangan pertama mereka mulai. Gibral yang menunggu bersama ribuan prajurit lainnya di belakang lorong mendapat laporan kalau musuh memberikan perlawanan sengit. Mereka tak bisa mengambil risiko untuk keluar lebih dekat, apalagi tombak adamantite yang musuh tembakkan telah menewaskan belasan prajurit. Situasi saat ini sangat tak menguntungkan. Meremehkan Imperial Army sungguh sebuah kesalahan.


Gibral, selaku kapten yang dipercaya memimpin tugas penyerangan ini, sangat ingin langsung menerobos masuk dan menyerang secara total. Namun, dengan tiadanya intel tentang kondisi di luar lorong, keputusan itu sangat riskan. Ia tak ingin pasukannya jatuh dalam perangkap musuh. Perlindungan yang pemimpin mereka berikan tak cukup kuat untuk membuat Gibral nekat, kematian belasan prajurit menjadi bukti. Karenanya, Gibral terpaksa menunggu.


Gibral mengutuk keberhati-hatiannya mendengar perkataan sang prajurit. Seperti yang sang prajurit ucapkan, pemimpin mereka takkan senang dengan hal itu. Mereka adalah Knight Templar, dan Knight Templar khawatir akan hal sepele seperti itu? Terobos saja. Hancurkan mereka beserta perangkap-perangkap yang mereka buat. Kira-kira begitulah yang akan Alfonso Alsabnitz serukan jika masalah ini dibawa padanya.


“Baiklah. Kita pakai cara itu. Pilih seratus Magic Knight dan empat Magic Master untuk menyerang. Katakan pada para Magic Caster yang di dalam untuk memusatkan serangan, agar mereka memberi ruang di kanan-kiri untuk para prajurit lewati. Kita bisa manfaatkan hal ini untuk sekaligus mendapatkan intel.”


“Siap, Kapten! Kita perlu menunjukkan pada para pendosa itu kalau trik-trik bodoh mereka takkan mampu menghambat pasukan suci di bawah panji kebesaran Emiliel Holy Kingdom.”


Betapa semangat yang luar biasa dari para prajuritnya. Gibral berharap bisa mengekspresikan semangat yang besar seperti itu. Tentu saja Gibral juga punya semangat yang menggelora, tekad api berlapis berlian. Namun, keberhati-hatian yang ia miliki membuat kedua hal itu tertahan. Ia tahu situasi di depan tak selalu mudah. Knight Templar kuat bukan karena mereka tak terkalahkan, tetapi karena Fie Axellibra yang berdiri di belakang mereka.


“Kalian, pengguna [Earth Magic]!” teriak Gibral, memanggil beberapa prajurit yang ia ingat jelas bisa menggunakan sihir tanah.


Kelima prajurit itu datang serentak. “Ada apa, Kapten?” tanya mereka kompak.


“Bangun anak tangga ke atas,” perintah sang kapten. “Aku ingin anak tangga yang memanjang minimal sepuluh meter. Selanjutnya semua Magic Caster pengguna [Lightning Magic] dan [Fire Magic] akan kutugaskan menyerang dari atas. Ketinggian membuat jangkauan dan daya rusak serangan menjadi sedikit lebih jauh dan kuat.”


“Baik, Kapten. Akan kami lakukan sesuai perintahmu. Ayo, kita bergegas.”


Melihat mereka mulai bekerja, selanjutnya Gibral memerintahkan semua Magic Caster pengguna sihir petir dan api untuk berkumpul di belakangnya. Setelah itu, Gibral memerintahkan para Magic Knight bersiap-siap. Mereka akan menyerbu setelah salah satu dari seratus empat prajurit itu kembali untuk melapor.


...— — — — — — — — — — —...


Hekiel menyipitkan mata melihat serangan para pengguna sihirnya Knight Templar dengan cepat memusat. Hal itu mengejutkan para prajurit yang di depan. Beberapa dari mereka terluka akibat serangan memusat yang sukses memental spell-spell pengonteran prajurit Divisi 6. Tentu saja dengan cepat para prajurit itu diselamatkan, tetapi butuh puluhan detik untuk membuat situasi membaik.


Hekiel berasumsi kalau pihak musuh sudah gerah meladeni perlawanan para Magic Caster Imperial Army. Mereka akan menerobos masuk. Karena itu serangan dipusatkan di tengah, dengan begitu akan terbuka ruang bagi para prajurit untuk lewat.


Dan kebetulan sekali, masing-masing dua ratus prajurit Imperial Army sudah berjalan menyeberangi dua jembatan yang sudah dibuat.


Jika ini sesuai dengan asumsi Hekiel, maka konfrontasi pertama yang sesungguhnya akan dimulai. Namun, melihat dari ruang yang masing-masing pasukan miliki, ini takkan menjadi konfrontasi yang seimbang. Prajurit Divisi 6 akan menghancurkan mereka.