Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 10: Hidden Hand, part 3



Dan, begitulah bagaimana Xavier bisa berjalan berdua dengan Lilithia keluar dari Imperial Palace. Mereka dalam balutan seragam Imperial Army lengkap dengan jubah commander masing-masing. Dua pedang adamantite dengan gagang beda warna tersemat di pinggang kiri Xavier. Sementara, Lilithia yang berjalan di kanan sang commander tidak membawa senjata apa-apa.


“Aku seniormu, dan karenanya kau harus mengikutiku dalam tugas kita kali ini.” Lilithia berkata dengan suara yang hidup. Langkah kakinya juga sedikit berwarna. Ia tak terlihat berbeda dengan murid akademi yang lagi berwarna hatinya. “Dan hal yang pertama harus kita lakukan adalah ke rumahku—aku perlu menyirami bunga-bunga milikku. Kita pergi ke Etharna saat senja tiba.”


“Aku sama sekali tak masalah mengikutimu dalam tugas ini, Commander Lilithia, tetapi pertama sekali aku harus kembali ke Verada untuk mengurus urusan penting. Aku akan langsung ke kediamanmu sebelum senja tiba.” Xavier langsung melesat tinggi ke udara tanpa menanti respons sang commander, dan dia seketika melesat dalam kecepatan penuh ke arah barat—arah kota tersebut berada.


…Jika Xavier melirik sejenak saja ke bawah sana, ke tempat di mana ia baru saja meninggalkan sang First Commander, sang commander tiada lagi di tempatnya—posisinya telah diganti oleh sebuah bola hitam seukuran kerikil yang melengkungkan ruang dan waktu di sekitarnya. Beruntung bagi tempat itu, bola itu terlebih dahulu menghilang sebelum gravitasinya yang masif menarik semua materi untuk menjadi bagian darinya.


Lilithia keluar dari cermin yang ada di ruang bawah tanah di kediamannya, sebuah arena besar rahasia yang khusus Nueva berikan padanya dulu saat ia pertama kali tiba di Nevada—saat ia masih berusia tiga belas tahun. Namun, destinasi sebenarnya Lilithia bukanlah arena, melainkan cermin yang ada di salah satu sudut arena.


Itu bukanlah cermin yang dibuat manual, melainkan produk hasil olahan mana oleh [True Mirror] miliknya (sihir yang sangat merepotkan, lebih merepotkan daripada [Absolute Gravity] miliknya; Lilithia bisa mengambil alih dunia hanya dengan sihir itu). Ia telah menangkap wujud banyak orang kuat dengan cerminnya. Kanna, Nueva, Edward, Xavier, dan bahkan Undead Thevetat ada wujudnya dalam cerminnya. Jika ia berhasil disudutkan, ia bisa mengeluarkan replika mereka sebagai prajuritnya.


Satu-satunya individu yang ia coba tangkap wujudnya tetapi tidak bisa hanyalah Fie Axellibra. Ia telah mencobanya sekali dari jarak yang sangat jauh, tetapi tetap sosoknya tak tertangkap cermin. Anti-Sihir yang berdiam kuat dalam diri Fie memblok kekuatan cerminnya untuk menangkap sosoknya.


Begitu Lilithia melewati cermin itu, ia langsung berada dalam dunia yang di dalamnya waktu tidak berjalan. Dunia itu dipenuhi cermin demi cermin yang tak terhingga jumlahnya. Namun, ada satu yang ukurannya begitu besar—sengaja dibuat masif. Dan ke sanalah Lilithia melangkah, ke hadapan yang di dalamnya terbaring tubuh tak bernyawa seseorang—tubuh seorang anak berusia sebelas tahun.


Lilithia mendudukkan dirinya dalam posisi lotus, matanya memejam, dan ia bermeditasi.


Ketika Lilithia teramat sangat marah hingga ia ingin menjadikan dunia ini sebagai singularitas, ke sinilah ia pergi dan inilah yang dilakukannya. Lilithia baru akan keluar dari dunia cermin ini saat amarahnya menurun ke tingkat di mana ia bisa mengontrolnya. Jika tidak begitu, ia tak tahu apa yang akan dilakukannya; ia tak tahu akan ada berapa orang yang merosot massanya menjadi debu—dan bahkan partikel.


...—Verada—...


Ketika Xavier tiba di ruangannya, ia mendapati Monica duduk di belakang meja mengerjakan tugasnya. Para staf rutin memberikan banyak laporan setiap harinya. Ada laporan sesederhana sebuah senjata hancur dan perlu dana untuk menggantinya, ada pula laporan sekrusial terjadi penyerangan atau kematian prajurit yang mencurigakan. Yang jelas, tiada hari tanpa ada lembar dokumen baru di meja Monica.


“Tidak ada yang berubah dengan memandangi saya seperti itu, Commander Xavier.”


Kernyitan di kening tak malu tampil di wajah Xavier. Monica telah memulai memainkan peran “ajudan profesional” dalam hubungan mereka. Pemicunya jelas: Monica takkan memulainya jika ia tak mengatakan apa yang tadi ia katakan. Ia sendiri yang harus disalahkan, memang, tetapi lama-lama akan menyebalkan. Akan lebih baik jika Monica berterus-terang layaknya seorang pemberani.


Well, bukankah ia sendiri juga tak berani berterus terang? Well, …sebuah ironi.


Kekesalan terpampang jelas di wajah Monica. Bibirnya bergerak ingin membuka diri melontarkan kata-kata, tetapi tiba-tiba diam dengan sedikit ekspresi kelupaan. Heh, Xavier yakin kekesalan barusan membuat Monica melupakan kalau dia sedang berlagak menjadi “ajudan profesional”.


“Seperti keinginanmu, Sir!” seru Monica, berdiri dengan ekspresi serius.


Xavier ingin menggoda Monica dengan menyuruh melakukan berbagai hal yang akan membuatnya kesal, tetapi itu tak jadi ia lakukan karena ia tak punya banyak waktu di sini. Ia harus segera kembali ke Nevada dan kemudian berangkat ke Etharna bersama Lilithia.


“Aku masih berhutang padamu beberapa permintaan,” kata Xavier dengan serius—dan dengan ekspresi yang sedikit melembut. “Kanna menyuruhku pergi ke Etharna, tidak tahu berapa lama sampai aku kembali. Karenanya, pikirkanlah permintaanmu itu. Apa pun itu, aku akan mengabulkannya saat kembali.” Dan Xavier langsung menghilang dari ruangan tersebut tepat setelah kata “kembali” sempurna keluar.


Xavier tidak tahu apakah usahanya berhasil, tetapi berharap itu berhasil.


Xavier tidak khawatirkan meninggalkan Monica di sini. Ia sudah mengatakan jauh-jauh hari jika saat ia tak bersamanya Monica berada dalam bahaya, dia harus segera meneleportasikan diri ke tempat Kanna. Di dunia ini, Xavier percaya hanya Kanna yang bisa melindungi Monica saat ia tak bersamanya. Menez tentu saja kuat, tetapi Kanna berada dalam kelas yang berbeda. Dan Kanna lebih mudah dijangkau; Menez sudah bergabung dengan Chiron Army, tidak jelas dia berada di mana pada waktu kapan.


Xavier berteleportasi dari ruang kerjanya ke luar Verada, dan sekarang ia membuat lingkaran sihir untuk berteleportasi ke dekat Nevada—sebelum kemudian terbang menuju kota tersebut.


...—Lembah Terlarang Ed—...


Lebih dari dua jam telah berlalu, dan Neix masih begitu terpaku pada seberapa hebat dirinya sekarang ‒ ia bahkan sampai merasa kalau dirinya berada dalam mimpi.


Alasan utama Neix mengagumi dirinya yang menjelma dewa ini adalah hancurnya barier yang melindungi reruntuhan Kota Heavenly Crystal—barier terkenal kreasi sang Legenda Blacksmith, barier yang tak bisa ditembus bahkan oleh Fie Axellibra.


“Aku bisa menghabiskan seharian mengagumi diriku, dan aku tahu aku tidak akan merasa bosan.”


Neix terkekeh. Oh, betapa narsistik jadinya ia! Kekuatan mutlak memang mutlak korup, itu merayu pemiliknya menjadi luar biasa arogan, batinnya terhibur.


Neix melepas rasa terhiburnya dan melesat ke tengah-tengah kota, ke titik di mana dulunya pusat Danau Deus berada.