
Clown tidak bisa menjelaskan betapa senangnya ia. Akhirnya, di kota bodoh ini ada orang yang tidak mengenalnya, ada orang yang menyadari betapa normal dirinya. Di kota yang tingkat kebodohannya sudah kelewat batas, akhirnya ada pria normal yang menyadari betapa tak bergunanya diri Clown. Ia super duper lemah. Keselek batu maka ia akan mati. Mengubah naga menjadi abu? Mematahkan batang besi tebal saja ia tak mampu!
“Lalu, saat aku….” Clown melanjutkan ceritanya dengan lancar, melampiaskan tekanan mental yang harus ia tahan selama ini. Namun, tentu saja, Clown meninggalkan fakta kalau ia adalah Jendral Clown. Pemuda di sampingnya ini masih normal, tidak boleh dia menjadi bodoh bin idiot sebagaimana rata-rata orang. Lagipula, dia juga akan kembali ke desanya, dia takkan mungkin berpikir kalau ia Jendral Clown.
“Paman….” Pemuda bernama Er di sampingnya ini berkata sembari memegang bahunya. Dia menghala napas panjang, sebelum kemudian melanjutkan, “Mungkin aku sudah menjadi gila karena frustasi jika berada di posisi Paman. Tapi, Paman, sungguh, aku tidak bisa mengatakan Paman harus memuji dewa atau mengutuknya karena keberuntungan absurd yang diberikan untuk Paman. Namun, mengapa Paman tidak melakukan segala cara untuk menjelaskan kalau Paman tidak seperti yang dipikirkan orang-orang?”
Clown spontan memijat keningnya. “Orang yang mempekerjakanku itu orang penting istana. Jika mereka mengetahui tentangku yang sebenarnya, aku pasti akan dihukum mati. Aku ini agak pengecut, aku takut mati. Melakukan hal yang membahayakan nyawa itu terlalu ugh…aku tak bisa menemukan kata yang tepat. Yang jelas, aku seperti berada di antara jurang dan binatang buas.”
Orang-orang mungkin membenci Clown karena ia membiarkan kesalahpahaman terjadi berlarut-larut hingga tak bisa lagi dikontrol. Namun, orang seperti itu adalah orang yang terlalu sok dengan dirinya hingga dia tak mampu memahami orang lain dengan baik. Jika orang seperti itu berada di posisinya, dia pasti akan gila karena frustrasi. Kematian setiap detik menghantui diri Clown. Maju kena, mundur kena. Tidak ada jalan keluar baginya selain kematian, dan Clown tidak mau mati.
Tentu saja orang seperti itu tidak ada di dunia ini, orang yang seperti itu hanya mungkin muncul jika dia tahu tentang diri Clown yang sebenarnya. Namun, melihat pemuda di sampingnya ini mengerti betapa menderitanya Clown karena tindakan seenak udel sang dewa, mungkin orang lain juga akan mengerti situasinya. Clown tidak pernah ingin terjebak dalam situasi ini, tetapi apalah daya dirinya yang lemah dan tak bisa apa-apa?
“Paman…apa Paman pernah mengutuk atau menghina dewa? Mungkin saja sang dewa membuat Paman tersiksa secara mental karena kutukan atau hinaan itu?”
Clown terdiam sesaat mendengar pertanyaan itu, sebelum kemudian ia mengedikkan bahu. “Aku tidak ingat pernah melakukannya atau tidak. Namun, mengingat kalau dulu aku ini cukup bejat, mungkin saja aku pernah melakukannya. Apa kau berpikir kalau sang dewa sengaja menghukumku seperti ini untuk menghibur dirinya?”
“Mungkin saja. Mengapa Paman tidak mengetesnya dengan berkunjung ke tempat pendeta? Atau, Paman bisa langsung ke tempat seorang necromancer. Jika itu kutukan dewa, energi negatif mungkin mampu membebaskan Paman.”
“Kau…kau mungkin ada benarnya,” berkata Clown sembari berdiri, ekspresi wajahnya sedikit tercerahkan. “Aku akan langsung menemui pendeta sekarang juga. Terima kasih atas saranmu ini, Er. Dan kuharapkan juga agar kau bisa segera menemukan pamanmu.”
Clown langsung berlari meninggalkan bangku setelah menerima respons anak berambut merah itu. Meski ia saat ini tidak melihat ekspresi dirinya, tetapi Clown tahu kalau ia sedikit antuasis. Namun, tentu saja, ada peluang jika usahanya akan gagal. Karenanya, Clown tidak ingin berharap penuh, tetapi hanya sedikit saja.
...—————...
“Orang itu…aku tidak berpikir ada cara untuk membuat seseorang menderita seperti itu,” gumam Xavier sembari menggeleng-gelengkan kepala. “Menderita dalam kemewahan. Edenia…mungkin aku juga harus semakin berhati-hati terhadapnya. Tak bisa kubayangkan jika aku dibuatnya bernasib seperti pria botak itu.”
Menghela napas, Xavier berdiri dari bangku dan kembali melangkah pergi. Ia lupa untuk memastikan jika pria itu mata-matanya Clown, tetapi itu tidak penting lagi. Kanna tentu akan mengerti, terlebih dia sudah pernah bertemu Jendral Clown.
Xavier tak lagi keluar melewati gerbang seperti yang sudah ia rencanakan sebelumnya. Xavier berteleportasi ke desa yang beberapa hari lalu ia singgahi, kemudian sekali lagi berteleportasi ke Etharna. Dari Etharna, Xavier berteleportasi ke tempat pertarungannya dengan Rossia, barulah kemudian ia melesat ke arah berdirinya Warebeast Great Empire.
...—Royal Palace, Avarecia, Kazarsia Kingdom—...
“Belum, Yang Mulia,” respons sang kapten penuh sesal. “Bahkan tim yang Jendral Clown utus tak menemukan keberadaannya. Namun, kemungkinan besar dia sudah meninggalkan kota. Jendral Clown memang memuji kemampuan penyusup itu, tetapi penyusup itu pasti menyadari kalau dia akan tertangkap jika Jendral Clown terus mencari.”
“Apa Clown sudah mengatakan kalau penyusup itu telah meninggalkan kota?”
“Belum, Yang Mulia. Jendral Clown sendiri masih belum kembali dari pencariannya. Tapi jika penyusup itu memang sudah pergi, pasti Jendral Clown akan segera menyuruh pencarian dihentikan dan mengirim tim investigasi untuk menyelidikinya keluar kota.”
Krassia mengangguk mengerti pada penjelasan sang kapten. “Terus lakukan pencarian sampai Clown menyuruh kalian berhenti. Besok Putri Kanna el Vermillion akan tiba, pastikan tidak ada hal yang tidak kita inginkan terjadi.”
“Baik, Yang Mulia. Kalau begitu hamba mohon undur diri.”
Krassia membiarkan sang kapten pergi, kemudian tangannya bertaut dengan pikirin yang dipenuhi berbagai asumsi. Siapa yang mengirim penyusup ke ibukotanya, ke tanah tercintanya? Pertanyaan itu mendominasi kepala Krassia.
...* * *...
Xavier tidak langsung menuju Warebeast Great Kingdom. Vladivta Kingdom adalah pemberhentian sementara dirinya. Warebeast Great Kingdom dan Vladivta Kingdom adalah sekutu. Untuk bisa bertindak lebih leluasa di tanah para warebeast, Xavier memutuskan untuk memakai pakaian khas Vladivta. Tak lupa pula Xavier membeli topeng yang lebih bagus dari topeng yang dibelinya di Avarecia.
Xavier menghabiskan beberapa jam di Kota Vlad. Ia memakan beberapa makanan khas kota tersebut. Ia turut pula memfamilierkan tubuhnya dengan udara kota. Warebeast ada banyak ragamnya, bisa saja salah satu dari mereka memiliki indra penciuman yang sangat amat sensitif. Karenanya, memakan makanan kota dan menghabiskan waktu dengan membaur di antara mereka perlu ia lakukan.
Tentu saja Xavier masih akan tetap mengandalkan [Reverse Law]-nya. Namun, jika situasi menuntutnya memperlihatkan diri, apa yang ia lakukan sekarang akan berguna.
Xavier baru meninggalkan Vlad setelah merasa persiapannya cukup.
Entah ia lagi hoki atau bagaimana, Xavier juga mendapati rombongan pedagang yang juga sedang meninggalkan Vlad menuju Warebeast Kingdom. Xavier tak segan meminta tumpangan mereka. Namun, para pedagang kali ini tak seramah dengan yang sebelumnya. Mereka meminta bayaran.
Mengerti kalau di dunia ini tidak ada yang gratis, Xavier memberi mereka satu keping emas dan menaiki kereta kuda yang paling bagus.
Jika ia harus membayar, mengapa pula ia memilih gerobak tak beratap seperti waktu itu?