Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 34: Chaos in Holy Kingdom, part 4



Terletak di sisi terselatan kerajaan, Kota Ephron lumrahnya dipandang sebagai kota yang paling rentan untuk diserang. Di selatan mereka memang masih ada Dwarf Kingdom yang menjadi tameng hidup bagi Ephron. Namun, akses ruang untuk menyerang sangat terbuka dari kedua sisi yang berbeda; musuh tak harus melewati hadangan Dwarf Kingdom untuk menyerang. Nyatanya, belum ada serangan yang diprediksikan datang ‒ Pope Genea belum mengatakan apa pun perihal penyerangan.


Oleh karena itu, setelah menunggu lebih dari enam jam sejak Ordo 6 menerima surat permintaan bantuan dari Ordo 9, Eighth Saint Maviera Veil Heravastya memutuskan untuk memobilisasikan pasukannya ke Dwarf Kingdom. Tentu saja tidak semua; Maviera hanya membawa setengah dari total jumlah pasukan. Bagaimanapun juga, ia tak bisa membiarkan pertahanan kota kosong. Meskipun Pope Genea belum bilang apa-apa tentang potensi serangan, mereka tetap punya tanggung jawab.


Maka, setelah membagi pasukannya menjadi dua, Maviera langsung memimpin setengah pasukan untuk membantu Saint Petra dan ordonya.


Akan tetapi, keinginan tersebut tak terealisasikan. Belum sempat Maviera dan pasukannya melewati gerbang kota, sebuah portal dimensi muncul tepat di ambang gerbang. Dari dalamnya keluar seorang vampire berambut abu-abu berparas rupawan. Badannya juga tegap dan kekar. Jika dia manusia, Maviera takkan menolak jika pria itu datang melamarnya. Sayangnya, itu hanya jika; pria itu vampire tulen—dan luar biasa kuat.


“Ah, maaf karena telah masuk ke kota ini tanpa izin, tapi aku tak mungkin menolak perintah. Jadi, sebagai bukti permintaan maafku, larilah. Dengan begitu aku jadi tak perlu menghabisi kalian. Aku mau menaklukkan kota ini sedamai mungkin. Semakin sedikit korban, semakin baik.”


Mayoritas orang akan berpikir vampire itu arogan setelah mendengar kata-kata itu—sama seperti yang diserapahkan para prajuritnya.


Namun, Maviera bisa membedakan mana yang arogan dan mana yang bukan. Dan vampire itu tidak arogan sama sekali. Itu bentuk kepercayaan diri yang tinggi. Memang, arogan dan percaya diri agak-agak mirip. Tetapi membedakannya tidaklah sulit.


Arogan adalah meninggikan diri sendiri dan merendahkan orang lain. Percaya diri artinya mengetahui dan meyakini kekuatan diri tanpa merendahkan orang lain.


“…Apa kau vampire bernama Crow Lucardia yang telah membunuh Saint Marcus?” tanya Maviera, berusaha mengonfirmasi kecurigaannya.


“Oh, Genea memberi tahu kalian namaku. Agak mengejutkan. Tapi, ya, aku Crow. Saint Marcus Vehelmi Vandiesell adalah kesatria yang menjunjung tinggi loyalitas. Sayang sekali kami berada di jalan yang berseberangan. Kami mungkin bisa menjadi teman baik jika dia terlahir sebagai vampire. Jadi, apa kalian akan melarikan diri?”


Terkonfirmasi sudah, batin Maviera sembari menggestur salah satu prajuritnya untuk mendekat. “Katakan pada setengah pasukan lain untuk mengevakuasi penduduk ke tempat-tempat aman yang ada di kota,” perintahnya. “Kita memang akan coba memaksanya bertarung di luar kota, tapi kita takkan bisa memastikan kota akan tetap aman.”


“Baik, Dame Maviera, saya laksanakan segera!”


Maviera langsung memasang pelindung kepala dan menarik keluar pedangnya setelah sang prajurit pergi. “Kalian semua!” seru Maviera lantang. “Aku akan menyerangnya. Kalian langsung ikuti aku menghibisinya. Kita lenyapkan dia bersama!”


Teriakan keras melontar memenuhi udara sebagai respons, dan Maviera langsung melesat menyerang sang vampire ‒ armor dan pedangnya telah diselimuti kobaran api biru (dia seolah telah menjadi api biru yang hidup).


Maviera menebaskan pedangnya dengan kekuatan penuh, mencoba yang terbaik untuk menebas sang vampir.


Namun, membelalakkan mata Maviera, Crow menghentikan serangannya dengan mudah. Tebasan kuat dan tajamnya ditahan. Crow menangkap bilah pedang Maviera dengan telunjuk dan ibu jari tangan kanan. Ia melakukan hal yang membuat mata Maviera membelalak itu tanpa terdorong meski hanya seinci. Bahkan api birunya sama sekali tak menyentuh kulit sang vampire.


“Kau takkan bisa menyentuhku dengan serangan seperti ini,” kata Crow seraya mendorong pedang yang ditangkapnya dengan dua jari—yang seketika membuat Maviera melompat mundur.


“Kalian juga sama,” tambah Crow dengan mata melirik ke kiri—kata-kata itu ditujukan pada belasan prajurit yang menyerang bersamaan. “Kalian takkan bisa menyentuhku dengan serangan seperti itu.”


Maviera mengernyitkan keningnya. Crow sama sekali tak menghindar dari tebasan pedang dan tusukan tombak belasan prajurit. Namun, jangankan memberi goresan, menyentuh saja senjata-senjata itu tak mampu. Seolah ada dinding tak kasatmata yang menghalangi laju semua senjata. Yang jelas itu bukan barier ‒ Maviera tak merasakan adanya energi di sekeliling Crow.


“Untuk bisa mengenaiku, kalian harus menggunakan serangan yang bisa menembus dimensi.” Lanjut bicara Crow sembari mengembalikan pandangan pada Maviera. “Ini peringatan terakhir. Larilah, dan kalian akan selamat.”


“…Kalian semua, siapkan serangan terkuat!” perintah Maviera sembari menancapkan pedangnya di jalan berbata—api biru dalam intensitas tinggi meluap-luap ke udara. Hal itu membuat semua prajurit mempersiapkan serangan terkuat mereka. Termasuk juga belasan prajurit yang barusan menyerang. Mereka mundur dengan cepat dan menciptakan lingkaran-lingkaran sihir beda warna. “Jika kita menyerangnya bersama-sama, ada kemungkinan dinding dimensi itu runtuh.”


“Begitu, ya. Kalau begitu apa boleh buat.”


“Musnahlah dalam pijaran api, Ethereal Fire Blaster!”


Ledakan demi ledakan terus terjadi secara berkesinambungan, baru reda setelah tiga menit berlalu.


…Dan, Maviera hanya mengernyit melihat sang vampire masih berdiri tanpa sedikit pun luka ‒ serangan gabungan mereka benar-benar dia buat menjadi tak berguna.


“Kalian semua kesatria yang berani. Meski kita musuh, aku mengakuinya. Maka, matilah dalam penuh kebanggaan. Grand Lightning Emergence.”


Maviera telah bersiap menerima serangan dengan pedang yang terangkat, dinding api juga telah mengelilingi setengah tubuhnya.


Namun, serangan yang datang bukan sesuatu yang Maviera ekspektasikan. Lebih tepatnya, ia tak bisa mengekspektasikan apa pun karena serangan yang datang sama sekali tak terlihat. Mata Maviera hanya bisa membelalak melihat ribuan prajurit hangus menjadi abu. Bukan para prajurit saja. Jalan berbata, gerbang, dan segala yang di sekeliling Crow mengalami nasib yang sama. Dan itu terus meluas melenyapkan lebih banyak prajurit dan benda-benda, sifatnya persis seperti riak air.


“Saint Maviera, mundur!”


Maviera tersentak mendengar teriakan salah seorang prajurit, langsung melompat mundur dengan cepat. Ia juga menyerukan agar yang lain turut mundur. Tetapi kebingungan membuat mereka lambat bereaksi; hanya sedikit saja yang berhasil menjauh.


Efek serangan dari spell yang tak terlihat itu baru berhenti setelah mereka menjauh seratus meter dari Crow Lucardia.


Bersama dengan Maviera, total prajurit yang tersisa tak lebih sepuluh ribu. Lebih dari setengah prajuritnya terbunuh, dan itu masih belum menghitung warga sipil!


“Kau bisa merasakan serangannya?” teriak Maviera pada salah satu prajuritnya, mata memandang sang prajurit menuntut jawaban. “Jika kau bisa merasa—!”


Mata Maviera melebar membelalak. Suaranya tertahan di tenggorokan. Bukan karena ia terlalu terkejut hingga tak mampu menyelesaikan, melainkan karena lehernya sudah berada dalam cengkeraman Crow. Maviera sudah tidak lagi berada di hadapan para prajuritnya; ia tiba-tiba sudah berada di hadapan sang vampire. Dan ia sangat yakin tak ada teleportasi paksa yang mengenai tubuhnya!


“Membunuhmu mungkin akan meyakinkan mereka untuk melarikan diri,” gumam Crow serius, tombak petir sudah tersemat di tangan kirinya yang bebas. “Matilah dengan bangga demi peluang hidup para prajuritmu.”


Maviera mencoba sekuat tenaga untuk melepaskan diri, tetapi tombak petir tersebut mengayun tak terbendung. Mata Maviera hanya bisa melebar ngeri di balik pelindung kepalanya, dan—


“…”


—Maviera tiba-tiba menemukan diri belasan meter di hadapan Crow. Ia telah jatuh terduduk. Dan di belakangnya ada kehadiran seseorang yang familier.


“Kerja bagus karena berhasil tetap hidup, Saint Maviera. Sekarang kembalilah pada prajuritmu dan ungsikan para warga. Crow Lucardia…biar aku sendiri yang menanganinya.”


Pemilik suara itu melangkah secara elegan melewati Maviera yang jatuh terduduk. Ia hanya bisa memandang punggungnya yang berbalutkan jubah putih.


“…Pope Genea…lama tidak bertemu. Aku baru berpikiran kau sudah takut mati dan mengabaikan kehadiranku di sini.”


“Crow, pertarungan kita kali ini akan berakhir berbeda. Akan kupastikan kali ini aku menghancurkanmu hingga tak bersisa. Kekalahan-kekalahanku yang lalu telah memberiku cara untuk mengatasi sihirmu yang menjengkelkan itu. Ayo pergi keluar; kita tak ingin mereka semua mati.”


Bibir sang vampire melengkung. “Akan mengecewakan kalau kau kalah dengan cara yang sama lagi,” katanya lalu berbalik dan melangkah pergi. Pope Genea turut melangkah mengikuti sang vampire.


Maviera tak percaya melihatnya, …tapi mereka seperti kawan lama yang saling memusuhi karena berbeda prinsip, idealisme, atau tujuan. Mereka menghormati dan memiliki respek terhadap satu sama lain.


…Apa mungkin sebenarnya Pope Genea tidak membenci vampire?