
…Assassin Art: Concentrated Engulfing Silence, batin Vermyna bersamaan dengan datangnya pukulan bertenaga super sang nephalem.
Ia berhasil tipis menghindiri pukulan yang menggetarkan ruang yang Fie layangkan. Namun, Vermyna tak diberi kesempatan untuk memberi serangan balasan. Fie sudah melepaskan pukulan yang lain. Vermyna memiringkan kepalanya menghindari tinju berlapiskan api plasma abu-abu, sedang kakinya dengan cepat menekuk menghindari tendangi membelakangi badan yang sang nephalem layangkan.
Meskipun Vermyna sudah melapisi tubuhnya dengan Concentrated Engulfing Silence, memblok pukulan dan tendangan Fie tetap memberinya rasa sakit yang tak sedikit. Namun, kali ini bukan ia saja yang menerima rasa sakit. Fie juga. Api plasma abu-abunya terkikis saat berbenturan dengan tangan atau kaki Vermyna. Efek Concentrated Engulfing Silence—walau tak secara langsung menyentuh kulit Fie—membuat kulit sang nephalem seperti terbakar.
Tetapi Fie adalah nephalem – dia setengah iblis setengah malaikat. Walau malaikat tak punya kemampuan meregenerasikan diri, iblis punya. Lebih dari itu, [Celestial White Flame] bisa menyembuhkan tubuh pemiliknya dari kondisi terparah sekalipun. Luka yang diterimanya langsung lenyap saat api plasma abu-abu kembali menyelimuti tangan dan kakinya. Dan Fie sama sekali tak memedulikan efek tersebut; dia terus menyerang.
Dia benar-benar beringas seperti singa betina, batin Vermyna sembari menepis tinju yang Fie layangkan. Intensitas serangan sang nephalem tak kunjung menurun bahkan setelah beberapa menit berlalu.
Vermyna sudah mencoba menggunakan aspek Infinity dari [Limit Breaker], tetapi Fie mampu menerobosnya. Pada titik ini, Vermyna mengerti kalau trik-trik kecil seperti itu takkan bisa digunakan lagi pada pertarungan. Sekarang pertarungan hanya berbasiskan pada kekuatan fisik, kecepatan, dan kekuatan non-fisik terkuat mereka. Fie dengan dua Supreme Magic ofensifnya, Vermyna dengan pemanfaatan energi kehidupannya.
Dalam kekuatan fisik, Vermyna tak bisa mengelak kalau Fie lebih unggul. Namun, dalam kekuatan non-fisik, Fie tak bisa memberi perlawanan. Bahkan saat Fie yang mendominasi pertarungan dengan terus memborbardir Vermyna dengan pukulan dan tendangan, sang nephalem jugalah yang menerima lebih banyak luka. Ini seperti seseorang mencoba memukul besi panas, tangannya pasti akan terluka tak peduli sekeras apa dia memukul.
Vermyna mendecih saat pukulan Fie berhasil mendarat di pipi kirinya. Keagresifan sang nephalem benar-benar tak berpawang. Bahkan dia tak memberi peluang bagi Vermyna untuk berhenti sejenak. Tidak peduli ke arah mana Vermyna terpental, Fie mengiringinya bagaikan dua kutub magnet yang selalu ada pada satu magnet yang sama. Dia terus menyerang bagaikan anak kecil yang sedang mengamuk. Mungkin Incell lebih dewasa darinya.
“Mati dan membusuklah!” seru Fie bersamaan dengan kedua gabungan kepalan tangan yang menghantam kepala Vermyna.
Kepala Vermyna seakan berputar-putar setelah menerima hantaman kedua tangan Fie. Rasa sakitnya menyerbu hingga ke dasar kepala. Ia bahkan sampai sedikit mimisan. Untungnya Fie tak melanjutkan serangannya. Dia membiarkan Vermyna terhempas ke bawah hingga menghantam salah satu dari sekian banyak arena yang tersisa.
Fie menghela napas pelan, mata memandang sosok Vermyna yang jatuh menghancurkan sebuah gunung. Kemudian ia mengalihkan pandangan pada kedua tangan yang seperti habis dibakar dan direbus pada saat yang bersamaan. Api putih membungkus kedua tangannya, dan kondisi seperti habis dibakar dan direbus pada saat yang bersamaan pun menghilang. Kedua tangan Fie kembali pulih seperti sedia kala.
“Nenek tua itu…apa yang dia makan sampai tubuhnya tak bisa kuberi luka?”
Jika Fie berkata ia tidak frustrasi, itu dusta. Ia telah melakukan segala yang ia bisa, tetapi efeknya hanya sebatas membuat Vermyna meringis. Bahkan pukulannya di pipi nenek tua itu tak mampu mematahkan tulang pipinya. Pukulannya di kepala tak sanggup meretakkan tulang tengkoraknya. Fie sudah meletakkan tenaga penuh pada kedua pukulan itu, tetapi hasilnya seakan tak berefek.
Jika sudah begini, bagaimana ia akan bisa menghabisi Vermyna? Apa ada cara yang bisa ia lakukan untuk menghancurkan musuhnya? Bagaimana bisa tubuh Vermyna menahan pukulan yang ia layang—
“…!”
Fie terhentak saat tiba-tiba bahu kirinya tersayat dan memuncratkan darah. Lukanya dengan cepat beregenerasi dan darah yang sempat keluar lenyap terbakar. Namun, rasa sakitnya membekas. Ia telah tertebas oleh sesuatu yang tak sempat ia rasakan. Padahal ia diselimuti api plasma abu-abu, tetapi serangan itu tak terbendung.
“Diriku juga terkejut saat pertama kali menerima serangan seperti itu.”
Namun, secara tiba-tiba bahu kanannya terkena tebasan seperti yang sebelumnya terjadi pada bahu kiri.
“Yang dirimu lihat adalah diriku beberapa detik yang lama,” kata Vermyna lain yang muncul tepat dua meter di kiri Vermyna yang berdiri berhadapan dengannya. “Dirimu memfokuskan [Anti Magic] pada radius lima meter darimu. Sebelumnya diriku tak bisa mengambil keuntungan karena tak memiliki serangan jarak jauh. Tetapi sekarang berbeda. Pertarungan ini takkan berlangsung lebih lama lagi.”
Fie tak menunjukkan reaksi atas ucapan Vermyna.
Namun begitu, ia tak mengelak kalau yang ratu vampire katakan itu memang benar. Ia menggabungkan [Anti Magic] dengan api plasma abu-abu, membuat jangkauannya terbatas. Tentu saja ia bisa memperbesar kembali jangkauan [Anti Magic]. Namun, jika itu ia lakukan, kekuatan [Anti Magic] akan melemah. Jika [Anti Magic] melemah, ia akan kembali tak bisa memukul Vermyna seperti sebelumnya.
“Itu tetap tak mengubah apa pun,” tegas Fie sembari melepaskan gelombang api plasma abu-abu ke segala arah. Salah satu Vermyna lenyap, tetapi Vermyna asli tetap terlihat santai seolah hanya diterpa angin malam.
“Hanya kau sendiri yang bisa menggunakan energi kehidupan,” lanjut Fie. “Yang lain tidak bisa. Aku hanya perlu memfokuskan pandangan padamu.”
“Dirimu yakin? Saat diri kita berbicara sekarang, apa dirimu pikir sedang berbicara dengan diriku dalam waktu nyata? Bagaimana jika dirimu sekarang berada di masa lalu, sedang dirimu yang di masa depan sudah babak belur?”
Fie mendengus. [Anti Magic] memastikannya terlindungi dari efek arus waktu dan ruang. Jadi, semua yang dikatakan Vermyna murni omong kosong. Mungkin kalimat keduanya mengandung kebenaran, tetapi selain itu hanya omong besar.
“Terserah,” respons Fie cuek. “Yang jelas, aku akan membunuhmu meski harus mengorbankan nyawa sekalipun. Aku akan menghabisimu walau harus bertarung selama berhari-hari atau berminggu-minggu. Aku akan melenyapkanmu dengan seluruh sel yang tubuhku miliki, Nenek Tua.”
“….”
“Oya, kau kehilangan kata, Nenek Tua? Kau jadi pikun karena telah hidup lebih dari sepuluh ribu tahun? Maafkan ‘Gadis Kecil’ ini, Nenek Tua. Harusnya aku perlu menimbang kalau kau sudah terlalu tua sebelum kuajak bicara panjang lebar.”
…Kapan terakhir Vermyna merasa kesal? Kapan terakhir urat di pelipisnya menegang hingga membentuk perempatan?
“…Dirimu mati,” ucap Vermyna dengan sudut bibir yang sedikit bergetar—darah keluar dari kedua jemarinya dan membentuk dua buah belati merah yang langsung ia genggam erat. “Diriku akan pastikan dirimu mati.”
“Jangan banyak bicara, Nenek Tua!”
Fie kembali melesat maju, dan Vermyna melakukan hal yang sama. Pertarungan panjang di antara keduanya kembali berlanjut.