Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 11: Unholy Holy Queen, part 5



Orang-orang akan mudah digantikan, tetapi bangunan bertahan lama—baru akan berubah saat kebutuhan akan renovasi atau bahkan pembangunan ulang menjerit tak terkira. Begitulah kalimat yang tepat untuk menerangkan apa yang mata Elmira lihat saat menginjakkan kaki di dalam gereja—untuk yang kesekian kalinya. Tidak ada yang berubah, kecuali beberapa wajah baru yang baru kali ini ia lihat.


“Terima kasih banyak untuk penyambutannya,” kata Elmira sembari mendudukkan diri di kursi yang sudah disediakan—Xavier ia gestur agar duduk di sampingnya. “Aku ingin berbicara panjang lebar dengan kalian, mendengar bagaimana keadaan gereja ini secara langsung. Namun, waktu tak memungkinkan. Kalian tentu sudah mendengar tentang keberangkatan para prajurit, bukan begitu?”


Kepala Pendeta Gallan mengangguk. Ia duduk di depan Elmira, posisinya di tengah-tengah anatara dirinya dan Xavier—dan sang pendeta diapit dua orang suster di kanan dan kirinya. Elmira tidak perlu bertanya untuk tahu; satu dari suster itu pastilah bendahara gereja, sedang suster yang satunya pasti sekretaris.


“Tentu saja kami mengerti kedatangan Yang Mulia pagi-pagi begini tak mungkin hanya sekadar kunjungan semata,” kata Gallan dengan penuh pengertian. “Dan benar saya sudah mendengar tentang keberangkatan para prajurit. Apa situasi kerajaan baik-baik saja?”


Elmira tersenyum, berkata, “Saat ini kerajaan baik-baik saja, tidak ada masalah; sama sekali tidak ada hal yang mengancamnya. Namun,” ekspresi Elmira berubah drastis, “hal itu akan berubah saat Emiliel Holy Kingdom mengirim Knight Templar mereka ke sini. Apa Gereja Agung Luciel tidak memberi kalian kabar?”


Gallan dan kedua suster di kanan-kirinya saling berpandangan, kemudian dia mengembalikan pandangan pada Elmira sembari menggeleng pelan. “Kami belum mendengar kabar apa pun. Belum ada perintah satu pun yang diberikan untuk kami. Bagaimana Yang Mulia bisa yakin Knight Templar akan ke sini? Mengingat hubungan gereja dengan kerajaan sangat baik, saya tidak mengerti mengapa mereka ke sini.”


“Ah, ini sama sekali tak mengejutkan; gereja tak ingin tindakan mereka sampai bocor lebih awal. Yah, tapi tidak masalah, ini justru bagus.” Elmira menghela napas panjang, kemudian memandang intens lawan bicara. “Kepala Pendeta Gallan, aku ingin gereja ini berdiri secara independen.”


Gallan spontan melebarkan mata, kedua sustar di sampingnya memasang ekspresi tidak mengerti.


“Aku menemukan cerita tentang Deus Holy Church,” lanjut Elmira. “Jika kau pernah menelisik catatan sejarah yang tidak dimanipulasi Gereja Agung Luciel, kau tentu mengerti kalau Deus Holy Church dan Gereja Agung Luciel berbeda. Deus Holy Church adalah gereja yang benar-benar diperuntukkan sebagai pusat pemujaan terhadap dewa; mereka menerima siapa pun, bahkan vampire dan demihuman sekalipun. Musuh satu-satunya dunia ini di mata Deus Holy Church hanyalah iblis.”


“…Yang Mulia ingin mengatakan kalau Gereja Agung Luciel telah sesat? Mereka menyimpang dari ajaran yang sebenarnya? Mereka bukan pewaris Deus Holy Church? Mereka bukan berkah baru dari sang dewa?”


“Itu adalah apa yang kumaksudkan, dan dari namanya pun sudah jelas. Deus Holy Church: Gereja Suci Dewa.” Elmira memasang ekspresi keyakinan total. “Aku sudah melihat isi kitab utama yang Gereja Agung Luciel gunakan. Apa kau tahu kalau ada satu pasal di mana dituliskan bahwa Edenia bukanlah dewa yang sempurna? Dan apa kau tahu kalau Pendeta Agung pertama hingga Pendeta Agung yang sekarang adalah individu yang sama?”


Elmira tak menanti respons sang pendeta. “Aku sangat tahu kau seorang yang beriman,” katanya dengan senyum hangat penuh kebaikan. “Kau memuja Edenia, bukan Fie Axellibra, apalagi Pendeta Agung. Aku tahu kau ingin menghambakan diri sepenuhnya, mengajarkan hanya ajaran dewa. Dan karenanya, Kepala Pendeta Gallan, aku ingin kau meninggalkan jalan kesesatan; aku ingin kau memeluk jalan kebenaran; aku ingin kau membuat gereja ini melanjutkan ajaran Deus Holy Church yang telah diselewengkan. Jadilah pendeta yang mewakili dewa!”


...—Lembah Terlarang Ed—...


Mobilitas Knight Templar sangat pantas dipuji, dan kedisiplinan mereka benar-benar menonjol. Mary dapat melihat belasan ribu prajurit memasuki wilayah Lembah Terlarang Ed yang dipenuhi bongkahan-bongkahan kristal biru yang indah berkilauan. Padahal, pagi sama sekali belum menua, dan siang masih lama dari terlahir. Knight Templar tampaknya benar-benar ingin menghapus keberadaan Eternity.


Tapi itu tidak berarti apa-apa untukku, batin Mary sembari memberi sinyal pada Miera yang berada tak jauh darinya. Mary berada di belakang seratus ribu undeadnya (undead lemah, hanya terdiri dari zombie dan skeleton), sedang Miera berada di depan dua ratus anggota Eternity. Mereka bertugas menyambut serangan Knight Templar.


Miera mengangguk padanya dan meninggalkan komando pasukan pada yang lain, kemudian bergegas pergi menemui Shiftor.


Mary langsung pergi berlawanan arah dengan Miera beberapa puluh detik setelah Miera pergi. Mary melesat dalam kecepatan penuh. Ia sudah memberi perintah pada para zombienya; kehadirannya sama sekali tak diperlukan. Mary akan mengorbankan Shiftor untuk memanggil Grim Reaper—makhluk yang kekuatan dan penampilannya seperti gabungan Overlord dengan bagian kecil Thanatos.


Beberapa menit kemudian, Mary berhenti di tempat yang tersembunyi dari pengawasan Crow dan Neix yang sudah bertambah kuat secara signifikan. Dan tak lama setelahnya, Miera datang bersama Shiftor.


Mary sama sekali tidak mengangguk; wajah stoiknya tetap menggantung di sana seperti biasa. “Aku perlu bantuanmu,” katanya. “Mendekatlah. Aku akan menyembunyikan penampilanmu sehingga kau takkan dikenali sebagai orang asing di mata mereka.”


“Oh, kau bisa melakukan hal itu?” tanya Shiftor dengan cengiran tertarik, berdiri di depan Mary tanpa curiga.


“Ya. Ini akan membuatmu untuk tidak dicurigai sebagai anggota Eternity,” lanjut Mary sembari meletakkan telapak tangannya di dada sang pria. “Posesnya akan akan mengejutkanmu, tetapi kau harus tetap diam supaya tidak sakit.”


“Oi, oi, aku jadi khawatir, nih! Kau tak sedang mencoba mengubahku menjadi undead, kan?”


Pertanyaan itu Mary jawab dengan melompat menjauh. Pun Miera langsung menjaga jarak. Dan pada saat yang bersamaan, aura hitam mulai menyelubungi tubuh Shiftor.


“Oi, Mary, jangan bilang kalau kau benar-benar mau mengu—”


“Shiftor,” potong Mary, “kau akan menjadi korban untuk kugunakan memanggil undead kuat.” Lingkaran sihir hitam kelam seketika menyelimuti tubuh Shiftor yang diselimuti miasma. “Eclipse Summoning: Grim Reaper!”


“Mary, kau—!”


Wajah terkhianati yang ditelan penuh oleh aura hitam itu tidak menganggu Mary.


Sejak awal, ia tiada pernah setia pada siapa pun. Ia tidak pernah mengatakan setia pada Neix. Pun ia tidak pernah mengatakan berada di pihak Eternity. Neix hanya meminta Mary untuk membantunya mewujudkan tujuannya, sebagai gantinya ia tidak perlu pergi dari satu tempat ke tempat lain tanpa tempat menetap yang pasti. Mary tidak pernah mengatakan ya, ia hanya mengikuti Neix seperti yang dia minta saja.


…Hubungan antara dirinya dan Eternity tak lebih dari sekadar manfaat-memanfaatkan semata.


...—Etharna, Favilifna Kingdom—...


“—Pada akhirnya, julukan ‘Unholy Holy Queen’ lebih cocok untukmu,” kata Xavier saat mereka keluar dari gereja—di belakang mereka berjalan tiga pengurus gereja dengan kedua tangan terikat (tiga prajurit masing-masing berada di kanan, kiri, dan belakang mereka). “Bukan karena kau memutuskan menahan ketiga orang yang tak mau mengkhianati Gereja Agung Luciel, melainkan karena caramu adalah apa yang seorang manipulator lakukan. Itu ‘Unholy’.”


“Itu…aku menyukainya!” Elmira benar-benar gembira. “Miera memanggilku ‘Unholy Queen’, rakyat menyebutku ‘Holy Queen’, tetapi hanya kau saja yang benar-benar mengerti! Seperti yang diharapkan dari Commander Xavier. Kita sangat serasi, dan kita bisa dengan cepat saling mengerti. Oh, apa kau berpikir ini berkah dewa karena aku telah meluruskan mereka yang telah menyimpang?”


“Tidak dalam seribu tahun,” respons Xavier cepat, kemudian menggeleng pelan. “Dengan kristal komunikasi gereja dihancurkan, kita tidak perlu mengkhawatirkan kalau-kalau ada dari mereka yang mencoba menginfokan ke Axellibra—atau sebaliknya. Lantas, apa yang akan kau lakukan dengan ketiga orang itu?”


“Seperti kataku tadi pada Pendeta Gallan, sebagai imbalan untuknya yang akan menjelaskan semuanya kepada pengikut gereja sehingga tidak timbol ketegangan, aku takkan memberi mereka sanksi berat. Untuk saat ini mereka akan dipenjara, dan mereka akan dibiarkan kembali ke Axellibra setelah kita mengatasi Knight Templar.”


...»»»»» End of Chapter 11 «««««...