Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 51: Other Battlefields, part 2



Tak ada yang bisa lari dari kematian saat hal abstrak itu datang. Dan ketika kepalanya terasa remuk nol koma sekian nanodetik sebelum ledakan terjadi, Hekiel tahu kalau sekarang gilirannya yang dihampiri kematian. Tak ada yang bisa ia lakukan untuk melarikan diri. Riwayatnya tamat. Ia bahkan takkan punya kesempatan untuk merasakan sakit saat tubuhnya menghantam lantai.


Setidaknya, begitulah yang seharusnya terjadi. Namun, Hekiel tidak mati. Kepalanya tidak hancur dalam ledakan yang menelannya. Ia tak terluka sama sekali. Rasa sakit di punggung saat menghantam lantai jelas terasa. Hekiel masih hidup. Kepalanya masih utuh; terasa sakit pun tidak. Riwayatnya belum tamat. Tapi, bagaimana?


“…Kau berhutang nyawa padaku, Hekiel.”


Suasana seketika menjadi hening saat sepenggal kalimat itu menyerang. Segalanya kelihatan berhenti. Akar-akar berduri berlumuran racun yang menyerang Dermyus dan Hekiel juga dalam keadaan tak bergerak. Bedivere berdiri diam dengan mata tak berkedip. Jika Hekiel tidak tahu kalau Xavier tidak memiliki [Time Magic], ia akan menduga kalau waktu telah dihentikan.


Xavier—yang berdiri sekitar dua meter di hadapan Hekiel—menjentikkan jari tangan kiri, dan seketika akar-akar itu musnah menjadi debu. Waktu (walaupun ia tahu sedang tidak dalam keadaan berhenti) seolah berjalan kembali. Wajah cantik Bedivere yang diwarnai keangkuhan kini telah berbalutkan keterkejutan. Hal yang sama bisa dikatakan terhadap Dermyus dan Alforalis.


“Peperangan ini tak perlu lagi dilanjutkan,” ucap Xavier sembari sekali lagi menjentikkan jari.


Hekiel tidak punya waktu untuk mempertanyakan apa maksud dari kalimat itu. Xavier dan Bedivere tiba-tiba lenyap dari hadapannya. Setidaknya, itu apa yang ia asumsikan sebelum ia sadar kalau lingkungan tempatnya berada telah berubah. Bukan Xavier dan Bedivere yang menghilang dari hadapannya, melainkan dirinyalah yang menghilang dari hadapan mereka.


Dan, bukan dirinya saja yang telah diteleportasikan secara paksa. Dermyus juga. …Elizabeth juga. Reinhart juga. Seluruh pasukan Imperial Army (baik yang masih hidup atau yang telah terbunuh) juga mengalami hal yang sama. Mereka semua telah diteleportasikan secara paksa.


“Apa yang terja—Reinhart! Kau, tanganmu….”


“Tak perlu khawatir, Elizabeth, aku baik-baik saja. Yang lebih penting, apa yang terjadi? Kenapa kita berada di barat Nevada? Siapa yang meneleportasi kita secara paksa? Edelweiss? Apa dia bisa melakukan hal seperti ini? Atau, Nona Kanna?”


“…Kukira ini ulah Commander Xavier.”


Jawaban itu bukan keluar dari mulut Hekiel, melainkan Dermyus. Hekiel masih dalam keadaan berbaring; ia baru mulai mendudukkan diri saat Dermyus beropini.


“Xavier…kau tak sedang bercanda?”


Dermyus mengabaikan pertanyaan Reinhart dan menghampiri Hekiel, membuat Elizabeth dan Reinhart turut menghampiri sang Sixth Comander. “Aku senang kau tak mati, Hekiel,” ucapnya pelan—Hekiel tidak bisa menilai jika sang commander benar-benar senang. “Apa Xavier ada bilang sesuatu?”


“Hm…selain ucapan kalau aku berhutang nyawa padanya, dia bilang kalau peperangan ini tak perlu lagi dilanjutkan.”


“Perang tak perlu dilanjutkan? Apa maksudnya itu? Apa yang se—”


“Aku tak berpikir kalian akan dibawa ke sini dalam waktu yang singkat.”


Suara yang memotong ucapan Dermyus adalah milik Edelweiss. Dia baru saja muncul beberapa langkah di belakang Hekiel.


“Wakil Commander Elizabeth,” lanjut Edelweiss tanpa memberikan kesempatan bagi yang lain untuk bersuara. “Perintahkan agar para prajurit mengumpulkan mayat-mayat rekan mereka yang telah gugur. Bagi para prajurit yang terluka, silakan bawa mereka semua ke markas Divisi 3.”


Mata Edelweiss lantas berpindah pada Reinhart dengan cepat. “Commander Reinhart, kita obati dirimu nanti. Untuk sekarang ada pertemuan commander yang harus kita hadiri. Yang Mulia Ratu Verissinia sudah menanti kita semua di ruang pertemuan.” Edelweiss langsung merangkai formula lingkaran sihir di antara para commander.


“Yang Mulia Ratu…Verissinia. Apa maksudmu, Edelweiss?”


“Nona Verissinia mengkudeta emperor?!” tanya Reinhart setengah syok. “Ini gila!”


“Edelweiss, …kau tak loyal pada Nona Kanna? Apa yang terjadi? Bagaimana bisa Achilles membiarkan hal ini terjadi?”


…Tak ada yang mempersiapkan diri untuk berita tersebut. Bahkan Dermyus (yang biasanya minim ekspresi) dibuat terkejut tak terkira.


“…Di mana Emperor Nueva?” Pertanyaan Elizabeth itu sukses mengembalikan semuanya dari keterkejutan mereka.


“Emperor Nueva telah terbunuh di tangan Emperor Xavier. Sudah cukup penjelasannya, kita pergi sekarang juga. Yang Mulia Verissinia akan menjelaskan lebih detail.”


Para commander menghilang dari hadapan Elizabeth sebelum ia sempat mengatakan apa-apa lagi.


...* * *...


Alforalis hanya terdiam dengan mulut sedikit terbuka saat tiba-tiba menemukan diri berada di depan gerbang Kota Evrillia yang sangat familier. Ia tahu dirinya tak sendiri; di belakangnya banyak terdengar suara keterkejutan yang para elf keluarkan. Alforalis dan pasukan elf yang ia bawa (entah bagaimana) telah diteleportasikan kembali ke negeri asal mereka.


...* * *...


Bedivere tidak mengatakan apa pun saat ketiga lawannya menghilang secara tiba-tiba. Ia juga tak bersuara saat arena miliknya hancur dan sirna menjadi debu. Pun ia tak berkata-kata saat menyadari tak ada siapa-siapa lagi di sejauh mata memandang selain pemuda yang telah melindungi Hekiel dari kematian. Bahkan mayat prajurit (baik prajuritnya maupun prajurit musuh) turut sirna dari tempat mereka terbunuh.


Bukan karena apa-apa, tapi karena Bedivere tahu individu di hadapannya hanyalah klon. Ia memang tak bisa merasakan apa-apa darinya, tapi Kramuel bisa merasakan setiap jiwa yang ada di dekatnya. Dan, pemuda itu tak memiliki jiwa di dalamnya. Seratus persen dia dalah klon. Dame Bedivere tidak meladeni klon mana pun, tidak peduli walau sang klon telah melakukan hal yang sangat menyebalkan.


“…Kau wanita tercantik dan paling memesona ketiga dari semua wanita yang pernah kulihat. Akan sangat disayangkan jika kau harus mati, apalagi kekuatanmu akan berguna bagi Islan.”


Tetapi pernyataan itu sukses membuat Bedivere mengesampingkan pendiriannya. Klon atau bukan, pada saat ini itu tak lagi penting. Dia telah mengatakan hal yang paling ofensif yang ada dalam kamus hidup Bedivere. Untuk alasan itu dia tak bisa dimaafkan. Bagaimana bisa dia mengimplikasikan ada wanita yang melibihinya dari segi kecantikan dan pesona? Itu benar-benar tak bisa dimaafkan.


“Dame Bedivere tak peduli lagi, Klon! Kau akan lenyap dari hadapan Dame Bedivere sekarang juga!”


Bedivere menghapus jarak di antara mereka dengan cepat. Namun, ayunan cambuk duri yang ia lepaskan ditangkap begitu saja oleh sang commander. Lebih dari itu, klon telah merantai kedua tangan dan kakinya tanpa ia sadari—ia dikalahkan sebelum ia menyadarinya.


“Membunuh wanita cantik dan memesona sepertimu adalah dosa, jadi kau takkan kubunuh. Tapi, pastikan kau merahasiakan ini di antara kita berdua, oke?”


Bedivere tak diberikan kesempatan mengatakan apa pun. Ia secara tiba-tiba sudah berada tak jauh dari gerbang selatan Axellibra – rantai yang membelenggunya telah menghilang tak berbekas. Dan, ia tak sendiri. Para prajuritnya dan prajurit yang tersisa dari ordo lain telah terlebih dahulu diteleportasi ke sini.


...* * *...


Xavier, lebih tepatnya sang klon, menghela napas panjang seraya menyisir rambut merah gelapnya dengan jari-jari. Ia baru saja melakukan hal yang tak baik. Namun, tak ada yang bisa ia lakukan untuk mengubah apa yang telah terjadi. Bedivere terlalu memesona sampai ia sedikit terbius sampai memuji; dia lebih mengingatkannya akan Nizivia dibandingkan siapa pun.


Untuk seterusnya Xavier akan berhati-hati untuk tak bertemu lagi dengan wanita itu. Ia khawatir ia akan menggerakkan tangannya jika sampai ada interaksi lain di antara mereka. Ini seperti saat ia pertama kali bertemu Vermyna. Bedanya, alasan utama ia mendekati sang vampire karena dia adalah wanita pertama yang ia temui. Namun, Bedivere berbeda. Xavier murni tertarik, dan itu berbahaya.


Setelah perang selesai ia perlu berbicara mengenai hal ini dengan Artemys. Mungkin ini tak adil bagi Monica dan Vermyna, tapi benar-benar tak ada yang dapat menyuruhnya melakukan hal yang tak ia mau selain Artemys. Perasaannya pada Artemys lebih kaya daripada perasaannya pada Monica dan yang lainnya. Tidak salah jika mengatakan Artemys sudah berhasil menguasainya.


Menghela napas sekali lagi, Xavier langsung berteleportasi ke Carolina. Dalam sekejap ia menerobos masuk ke dalam istana. Tidak ada waktu bagi klon sepertinya memikirkan hal itu lebih jauh; ia akan serahkan hal itu pada Xavier original. Sekarang tugasnya berbicara dengan sang raja dan memutuskan apakah dia harus dipenjara atau dimanfaatkan.


Xavier akan mengusai seantero Islan sebelum malam datang, dan takkan ada yang bisa menghentikannya – ia takkan biarkan ada yang menghentikannya.