
KANNA tak menemukan kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan makhluk di hadapannya?
Tentu saja ia tahu kenapa ia begitu marah. Sejak awal, Xavier adalah pengkhianat. Anak itu telah berbohong dalam berbagai hal. Bahkan, ada banyak kesempatan di mana Kanna (jika ia sedikit paranoid) bisa mengungkap kebohongan-kebohongan itu. Kenyataan kalau anak itu membenci ayahnya sudah lebih dari cukup untuk membuatnya sadar, belum lagi insiden di mana topeng El hancur. Semuanya telah begitu jelas di mata Kanna.
Namun, daripada memercayai insting dan akalnya, Kanna justru memercayai ucapan penipu dan pengkhianat itu. Tentu saja ia marah. Baik itu pada diri sendiri karena telah buta, maupun pada Xavier yang telah mengkhianati pertemanan mereka. Tapi, lebih dari itu, ia marah mengetahui Vermyna tak berbohong saat mengatakan hubungannya dengan El—dengan Xavier. Anak itu sungguh telah mengkhianatinya dalam segala hal.
“Dirimu tak mau menjawab?” Vermyna tak memalsukan raut terhiburnya. “Dirimu tak perlu menjawab. Jawabannya sangat jelas bagi diri siapa pun. Tapi, sudah cukup bicaranya. Mari selesaikan ini. Diriku sudah membunuh satu boneka Edenia, membunuh satu boneka yang lain bukanlah hal yang mustahil.”
Kanna langsung menciptakan barier yang mengurung mereka berdua. Barier tersebut mencakup seper tiga dari total luas Benua Es Gheata. Selain demi membatasi kehancuran yang akan mereka sebabkan, barier itu juga untuk memastikan takkan ada yang menginterupsi. Kanna tak bercanda; ia akan menghabisi Vermyna di tempat ini sekarang juga. Kematiannya akan memastikan posisinya sebagai yang terkuat – ia akan bisa mendikte bagaimana peperangan harus berakhir.
“Diriku akan mempertebal barier dirimu dengan barier dimensi diriku. Seperti dirimu yang ingin membunuh diriku tanpa gangguan, diriku pun ingin membunuh dirimu tanpa halangan. Hanya satu dari diri kita yang akan kembali hidup-hidup.”
Kanna membiarkan Vermyna melakukan apa yang mau dia lakukan. Pada saat yang bersamaan, sebuah bilah pedang keluar dari telapak tangan kanannya yang terbuka. Salju dan es di sekitarnya mencair lalu menguap dengan cepat; tubuhnya melepaskan gelombang panas yang tak mampu dirivali oleh api mana pun. Kurang dari satu menit, tak ada lagi salju dan es yang berada di dalam barier.
“Apa ini cara dirimu mengatakan sudah siap?” Vermyna memunculkan belati merah di masing-masing tangan, murni terbuat dari darahnya sendiri. “Kalau begitu, diriku maju. Diriku takkan menahan diri.”
Sebelum mata Kanna sempat mengerjap, Vermyna sudah berada di hadapannya dengan tubuh berbalutkan petir merah kehitaman dan aura abu-abu keputihan. Mantan vampire ini sungguh serius dengan ucapannya – dia berada di hadapan Kanna dengan hasrat membunuh yang luar biasa besar. Kedua belatinya mengayun cepat dan tajam.
Kanna menggerakkan pedang tanpa gagangnya, memblok tebasan belati sang lawan. Begitu juga dengan tebasan belati yang lain. Gerakannya yang cepat, luwes dan efisien membuat Kanna bisa mengimbangi rentetan tebasan belati Vermyna. Ia sedikit terkejut dengan kekuatannya sendiri, apalagi Parallel Mind of Raphael (yang kekuatannya telah menjelma melampaui apa yang bisa Kanna bayangkan) telah bekerja dengan cepat menganalisis kekuatan Vermyna.
Namun begitu, Kanna belum bisa meladeni semua serangan Vermyna dengan kedua kaki berdiam di tempat. Momentum serangan sang ratu terlalu besar untuk ia terima dengan kedua kaki mengakar di tanah. Kanna menangkis setiap sabetan Vermyna sembari bergerak mundur. Bukan saja itu berguna untuk mengurangi momentun serangan lawan, itu juga membuatnya bisa mene—
—Suara yang secara tiba-tiba memenuhi kepalanya itu membuat Kanna kehilangan fokus, pedangnya gagal meladeni kedua sabetan belati. Dan, Vermyna tak menyia-nyiakan kesempatan. Kedua belatinya langsung melepaskan teknik assassinnya, Grand Advance Far End, dalam jarak hampir nol.
Perfect Shield of Michael memastikan Kanna tak bisa dilukai, baik fisik maupun dengan sihir. Namun, energi kehidupan adalah pengecualian dalam segala hal.
Pertahanan sempurna Kanna tertembus. Jika bukan karena tubuhnya sudah sekeras Kurtalægon, ia pasti sudah terpotong dua. Namun, meski gagal meninggalkan luka pada tubuh Kanna, tenaga yang dilepaskan teknik Vermyna membuat sang putri terhempas hingga menghantam bukit kecil yang sebelumnya adalah gunung es—lenyapnya es dan salju membuat bentuk aslinya terlihat. Ia terdorong puluhan meter ke dalam badan bukit.
Vermyna tak berhenti begitu saja. Ia langsung melepaskan laser ungu kehitaman yang berlapiskan energi abu-abu keputihan pada tempat terhempasnya Kanna. Laser energi itu tidak satu, tetapi puluhan. Vermyna sama sekali tak berminat memberi kesempatan bagi Kanna untuk bernapas lega—jika dia masih perlu bernapa.
Absolute Prison of Haniel membantu Perfect Shield of Michael untuk membawa pertahanan tak tertembus Kanna ke level yang lebih tinggi. Namun, sama seperti serangan tadi, serangan Vermyna kali ini juga menembus pertahanan Kanna bagaikan pisau panas di atas keju. Laser-laser itu melaju tak terbendung. Bukit itu hancur, Kanna terkena hantaman kesemua laser dengan telak, membuatnya terpental hingga menabrak dinding barier.
Namun demikian, Kanna tak terluka sama sekali. Tubuh bagian dalamnya memang bisa terluka, berbeda dengan tubuh bagian luar yang sekeras Kurtalægon. Namun, Heavenly Garden of Gabriel memastikan Kanna akan langsung disembuhkan sebelum rasa sakit yang sebuah serangan berikan mencapai otaknya. Pada titik ini, kecuali Kanna bisa dilenyapkan secara instan, membuat Kanna terluka adalah hal yang mustahil.
Tak ingin membiarkan Vermyna terus menyerang, Kanna langsung mengarahkan Parallel Mind of Raphael untuk berganti dari bertahan menjadi menyerang. Invisible Swords of Selaphiel dan Sky Blessing of Barachiel langsung dikerahkan. Vermyna yang secara beringas menembakkan laser berbahayanya langsung disibukkan oleh petir yang memenuhi udara dan pedang tak terlihat yang tersebar di segala penjuru. Kanna tak perlu mengontrol semuanya, Parallel Mind of Raphael yang melakukan itu untuknya.
Hal ini memberi Kanna waktu untuk memusatkan perhatian pada suara yang tadi memenuhi kepalanya. Ia langsung melakukan hal yang paling dasar: bertanya langsung.
Siapa kau?