
Ketika pintu ruangannya dibuka dan dua orang wanita menginjakkan kaki ke dalam, pandangan Kanna tidak mengarah pada Elmira, tetapi pada wanita yang postur tubuhnya sebelas dua belas dengan Nizivia. Bedanya, wanita itu menaikkan sinyal bahaya. Pun kulit wanita itu sama pucatnya dengan para vampire. Jika matanya berwarna merah dengan pupil vertikal, tentu Kanna sudah langsung merestriksi dan menginterogasi wanita itu.
“Silakan duduk, Queen Elmira.” Kanna berdiri sembari tangan menggestur agar wanita berambut violet itu duduk di kursi di depan meja kerjanya. “Maaf karena tak bisa memandumu langsung ke sini; ini masih cukup pagi untuk menyambut tamu yang datang dengan tiba-tiba.”
“Tentu saja, tentu saja.” Elmira mengibaskan tangannya dan menduduki kursi yang sudah disediakan. “Aku ingin protes terkait tindakan tak pantas yang telah diberlakukan padaku, tapi rasanya aku tak berhak memberi komplain saat kau bilang begitu.”
“Seperti yang Queen Elmira katakan,” respons Kanna sembari menyamankan diri di kursi. “Sebelum kita mulai memulai pertemuan ini, kau tak ingin memperkenalkan wanita di sampingmu padaku?”
“Oh, apa temanku ini menarik perhatianmu?” Elmira tak menanti jawaban. “Namanya Mary Anna, teman terbaikku. Meskipun posturnya begini, dia individu terkuat di negeriku—tentu saja itu setelah lenyapnya Neix dan Eternity-nya. Dia ahli sihir nekromansi.”
Ekspresi Kanna sedikit mendatar saat mendengat kata nekromansi yang keluar dari mulut Elmira. Ia masih belum melupakan penyerangan para undead atas Kota Avada. Pun insiden binasanya Ilamia City States Union masih membekas dalam ingatan. Kanna tidak ingin asal menuduh, tetapi wanita bertubuh mungil bermata datar tanpa emosi ini memiliki kesan “berbeda” pada dirinya. Dia…kuat. Tentu saja tidak berada dalam levelnya apalagi Vermyna, tetapi jika dia nekromansi waktu itu….
“Hei, jangan memandang Mary seperti itu!” tukas Elmira dengan ekspresi tak senang di wajah. “Asal kau tahu saja, Mary adalah korban kebengisannya Neix. Dia dan belasan pengguna sihir nekromansi lainnya dikontrol oleh pria itu. Mereka tak punya kebebasan untuk bertindak. Jika bukan karena mental Mary kuat, tentu dia sudah mati seperti para necromancer lain yang dipaksa bekerja terus menerus oleh Neix.”
Mata Kanna mengerjap, spontan pandangannya kembali berlabuh pada sang ratu. “Aku tak bermaksud buruk,” jelas Kanna dengan cepat, tak ingin menyinggung siapa pun. “Hanya saja, mendengar kata nekromansi memberi sinyal ‘khusus’ di kepala penduduk kekaisaran—terutama penduduk Avada. Apa yang terjadi pada malam tempo dulu sama sekali tak bisa dilupakan.”
“Hal itu aku bisa mengerti.” Elmira berbagi rasa. “Favilifna juga tidak bisa melupakan apa yang terjadi pada malam final Grand Tournament dulu. Meskipun necromancernya sudah dibunuh dan Black Skull juga sudah lenyap, kerusakan dan kematian yang mereka sebabkan sama sekali tak bisa dimaafkan.”
“Namun,” lanjut Elmira, “Mary sama sekali tidak salah dalam insiden yang berhubungan dengan undead mana pun. Black Skull bertanggung jawab dalam kekacauan di Etharna dulu; Eternity bersalah atas penyerangan Avada dan kehancuran Ilamia City States Union. Seperti para korban dalam peristiwa-peristiwa itu, Mary pun sama. Malahan, dia lebih buruk lagi. Kedua orangtuanya dibunuh Neix di depan mata Mary, dan kemudian ia dipaksa menggunakan sihirnya untuk keburukan. Rasa bersalah yang timbul dalam dirinya hingga mematikan emosi Mary. Tidakkah itu menyedihkan? Bukankah itu menyakitkan?”
Kanna menahan diri dari mengernyitkan kening. Elmira…dia…Kanna tidak bisa mengatakan jika dia mengarang cerita atau jujur. Artefak sihir pendeteksi kebohongan yang terletak di meja tidak memberi sinyal apa pun. Secara tatap mata jelas itu kejujuran, tetapi insting Kanna meragukan. Impresi sosok Mary terlalu “berbeda” dalam sudut pandangnya.
Jika dia memang benar mengarang cerita, Kanna rasa tidak ada aktris yang lebih baik darinya. Tak terlihat sedikit pun dusa di wajahna; tak terpancar meski sedikit kebohongan di matanya. Mayoritas orang akan sepenuhnya percaya. Bagaimana bisa mereka tidak, sedang Elmira berbicara dengan penuh penghayatan seperti itu sampai-sampai artefak sihir tak mampu menilainya?
Namun begitu, untuk saat ini ia akan mengikuti permainan Elmira—jika itu memang benar permainan. Seperti yang telah mereka lakukan pada Karen, permainan Elmira juga akan berakhir dengan kekalahannya sendiri. Akan sangat bagus jika ratu berambut violet ini bersungguh-sungguh dalam niatnya menjalin persekutuan dengan kekaisaran. Namun, jika tidak, dia hanya harus diberi pilihan yang sepadan.
“Aku mengerti,” kata Kanna pada akhirnya, kemudian pandangannya kembali berpindah pada sepasang mata tanpa emosi itu. “Maaf karena telah memandangmu penuh kecurigaan seperti tadi, Mary Anna.”
“…Tidak masalah.”
Kanna memberikan senyum kecil untuk gadis itu, sebelum kemudian mendaratkan mata pada Elmira. “Jadi, apa topik dalam pertemuan kita kali ini?” tanyanya dengan ekspresi tiada berkompromi. “Sebelum kau mulai bicara, perlu kutekankan sekali lagi kalau aku menolak permintaanmu. Commander Xavier bukan keluarga kekaisaran; memiliki ikatan dengannya tidak memberikan ikatan apa pun antara kekaisaran dan Favilfna; dirimu menikah dengannya takkan mengintegrasikan kekaisaranku dan kerajaanmu.”
“Ah, lantas, untuk mengintegrasikan kedua negeri, kau ingin menikah dengan kakakku?”
“Jangan memberikan usulan bodoh seperti itu!” Kanna spontan meninggikan suara, sebelum kemudian menghela napas pelan. “Aku sudah memiliki seseorang untuk kunikahi; itu tidak termasuk dalam pilihan. Aku mengusulkan kau menikahi salah satu saudaraku yang lain. Kurasa ini solusi yang lebih tepat.”
“Aku lebih baik mati daripada mengiyakan,” kata Elmira dengan senyum hangat. “Aku dan Xavier sudah ditakdirkan bersama. Aku takkan menikah dengan siapa pun selain dia. Dan kau juga tak bisa melarang terjadinya pernikahan itu. Dunia ini diciptakan sebagai panggung kebahagian kami berdua. Lihat saja Commander Nizivia. Karena dia berdiri di antara kami berdua, dunia melenyapkannya.”
Kanna tidak berpikir hari di mana ia ingin meninju wajah seorang wanita akan tiba, tetapi itu adalah apa yang ia rasakan detik ini. Elmira…wanita ini memiliki ketertarikan yang berlebih terhadap Xavier. Kanna tidak menyukainya, dan ia juga turut prihatin pada Xavier. Elmira…wanita ini tidak normal. Kilatan matanya saat ia mengatakan opini sepihak barusan sangat mengkhawatirkan, itu mengingatkan Kanna dengan saat ia melihat Nizivia memutilasi kelinci hidup-hidup saat masih di akademi dulu.
“Kalau begitu mari kita lupakan pemvasalan Favilifna Kingdom,” lanjut Elmira sebelum Kanna sempat membuka mulut memberi respons. “Karena Favilifna Kingdom sudah berjasa besar dalam keselamatan Favilifna, bagaimana jika hubungan Favilifna Kingdom dengan Vermillion Empire kita buat seperti hubungan Dwarf Kingdom dan Emiliel Holy Kingdom? Kupercaya ini adalah solusi terbaik. Dan, tentu saja, Favilifna Kingdom akan memberikan sepuluh persen pendapatan bersih kerajaan sebagai upeti bagi kekaisaran. Bagaimana?”
“Aku tak bisa menemukan usulan yang lebih baik dari itu,” setuju Kanna, dan kemudian mereka pun melanjutkan bicara dan merumuskan poin-poin kerja sama kedua negeri dengan lebih detail.