Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 40: Predestine Future, part 4



Vermyna duduk bersandar pada salah satu pilar dengan kedua kaki berselonjor. Tubuh Xavier—yang dalam keadaan melayang di udara—ia turunkan secara perlahan hingga kepala sang pemuda sempurna berada di atas pahanya. Tentu Vermyna mengerti kalau pahanya tak seempuk paha Artemys, tubuhnya tak semenggoda sang putri. Tetapi jika dibandingkan tubuhnya saat menjadi Vermyna Hermythys, ia unggul dalam segala aspek.


Tubuh Vermyna yang sekarang (tubuh aslinya) lebih tinggi dari tubuh vampirenya. Lekuk tubuhnya juga lebih dewasa. Ia tak lagi terlihat seperti anak-anak di awal masa remaja; sekarang Vermyna adalah wanita dewasa yang pendek. Ah, tepatnya wanita dewasa bertubuh proporsional. Karenanya, meskipun ia merasa kesal dengan keindahan tubuh Artemys, ia tidak perlu merasa grogi sekarang. Ia telah membulatkan tekadnya.


Tentu saja, Vermyna tak punya pengalaman dalam apa yang hendak ia lakukan. Baik dalam kehidupan awalnya hingga ia dilahirkan kembali sebagai vampire, ia sekali pun belum pernah melakukan apa yang Artemys dan Xavier lakukan di balik tirai gelap jendela kamar. Jangankan itu, ia bahkan belum pernah beradu lidah dengan siapa pun. Satu-satunya pengalaman yang ia punya adalah bermesraan (dan kecupan ringan) dengan Xavier kecil. Tak ada yang lain.


Sataniciela juga sudah bersumpah dia tidak pernah macam-macam dengan tubuhnya. Ia sudah memastikannya dalam memori sang iblis, wanita itu tidak mengerti dengan apa yang Artemys sebut sebagai “kesenangan”.


Namun begitu, kepercayaan diri Vermyna cukup tinggi. Sejak ia mendapatkan ingatannya kembali, ia selalu memonitor Xavier. Karena itu, Vermyna hampir-hampir tak pernah melewatkan menonton langsung permainan Xavier dan Artemys. Ia menonton aksi mereka dari awal sampai akhir dari dimensi lain. Ia bisa melihat mereka, mereka tak bisa melihatnya. Penguntit seja—ah, bukan, tapi pengamat sejati.


Oleh sebab itu, Vermyna telah sepenuhnya siap. Ia mengeluarkan belati Nizivia dari dimensi penyimpanan, kemudian meneteskan racun yang melekat pada bilah belati ke dalam mulut. Vermyna mengurangi efek racun dengan salivanya, barulah kemudian ia masukkan racun tersebut ke mulut sang commander dengan tanpa perantara.


Harusnya itu tak memakan waktu lama. Vermyna hanya perlu memasukkan racun lalu menutup mulut Xavier. Namun, mantan vampire yang masih suka minum darah ini enggan memisahkan mulutnya. Vermyna baru menjauhkan mulutnya dari mulut Xavier hampir sepuluh menit berselang; matanya berkilatan hebat—tak ubahnya predator yang tak sabar menikmati buruannya.


...* * *...


…Ketika Xavier membuka kedua matanya, sepasang mata abu-abu berpupil vertikal tengah memandangnya intens. Ia juga menyadari kalau kepalanya berada di paha pemilik mata tersebut. Ia tidak tahu di mana dirinya berada, tetapi yang jelas ia berada di tempat yang menyamankan.


Xavier memutar otak, mencoba mengingat kembali kejadian yang membuatnya berada di sini. Ia ingat tombak Fie Axellibra menusuk dada kirinya. Ia tersudutkan. Kemudian suara itu berbisik. Xavier tak punya pilihan selain mengalah pada pemilik suara. Dan kemudian…gelap.


Xavier berusaha keras mengingat, tetapi tak ada yang bisa ia ingat setelah tertelan kegelapan.


“Selamat…pagi?”


Mata Xavier mengerjap. Spontan ia mengerahkan tenaganya untuk menggerakkan tubuh, mencoba menjauh dari sang wanita. Namun, ia tak bisa bergerak. Alat geraknya tak bisa ia kendalikan. Begitu pula dengan mana-nya. Xavier tak bisa sedikit pun merasakan mana yang mengalir deras mengiringi darahnya.


“Diriku telah memasukkan racun ke dalam tubuh dirimu. Jadi, dirimu takkan bisa menggunakan tangan dan kaki untuk beberapa lama. Diriku juga telah menyegal mana dirimu; dirimu takkan bisa mengakses mana sampai segel itu diriku hilangkan. Dalam kata lain, dirimu takkan bisa keluar dari sini.”


Bibir Vermyna melengkung lebar, bersemi membentuk senyum yang menakjubkan, penuh arti. Matanya memancarkan sorot pandang yang senada. Ekspresinya memadukan keindahan keduanya mencapai kesempurnaan.


Namun begitu, tak sedikit pun terbesit kelegaan dalam diri Xavier. Sebaliknya, jantung sang commander berpacu kencang. Insting Xavier menjerit-jerit memberinya peringatan.


“Diriku mau menjatuhkan hukuman pada dirimu. Dirimu telah melakukan kejahatan yang sangat besar.” Vermyna menjawab dengan senyum penuh otoritas, tetapi kemudian ekspresinya menjadi serius total. “Xavier,” katanya tanpa menunggu respons Xavier. “Dirimu diriku jatuhi hukuman penjara selama satu tahun dalam dimensi ini.”


“…Aku tak punya waktu untuk bercanda,” ucap Xavier dengan wajah yang sangat serius. “Apa yang terjadi? Apa Fie Axellibra masih di sana? Bukankah kau sendiri yang bilang kau bukan musuhku. Lantas, apa ini? Cepat keluarkan aku.”


“Dirimu benar.” Vermyna mengangguk pelan, tangan kanan mendarat pada pipi Xavier dan membelainya lembut. “Diriku bercanda saat mengatakan dirimu kutahan setahun di sini,” lanjutnya.


“Kalau begitu, cepat le—”


Vermyna menghentikan paksa ucapan Xavier dengan meletakkan ibu jari tangan kanan pada kedua bibirnya. “Dirimu akan diriku penjara selama sepuluh tahun di sini,” tegasnya—dengan senyum absolut yang mengiringi.


“Tapi jangan khawatir,” sambung Vermyna cepat. “Diriku bisa mengontrol waktu dengan sempurna. Dirimu akan menghabiskan waktu sepuluh tahun di sini, tetapi di luar dimensi ini hanya akan berlalu dua menit. Tak berhenti di situ, diriku juga akan memperlambat metabolisme tubuh dirimu dan menyamakannya dengan waktu normal. Artinya, dalam sepuluh tahun yang akan dirimu lalui di sini, dirimu hanya akan bertambah tua dua menit. Bukankah diriku sangat baik dan pengertian?”


…Xavier tidak takut pada apa pun, pada siapa pun—mengecualikan ibunya yang marah. Setidaknya, itulah yang ia yakini dan terus percayai. Namun, emosi itu perlahan menghampiri.


“…Apa yang kau inginkan?” tanya Xavier, pandangannya mendatar. Ia berusaha untuk tak memperlihatkan kekhawatiran sedikit pun, apalagi rasa takut yang mulai menggelitik. “Apa yang kau inginkan dengan menahanku di sini? Dan apa-apaan dengan kau menghukumku? Kaulah yang punya salah di sini. Akulah yang harusnya menghukummu.”


“Ha-ha-ha. Itu lelucun yang lucu.” Vermyna tak terlihat merasa lucu. “Apa yang diriku inginkan dari dirimu?”


“…”


“Pertama sekali,” jawab Vermyna seraya mendekatkan wajahnya pada wajah Xavier, “diriku inginkan darah dirimu.”


Taring putih bersih Vermyna menyembul keluar. Xavier tak bisa melakukan apa pun saat lidah Vermyna membasahi bibirnya. Dan Xavier berusaha tak mengerang saat taring Vermyna menembus bibir atasnya. Hanya berselang sepuluh detik, gantian bibir bawah yang menjadi korban. Rasanya sakit-sakit sedap.


“Lalu,” bisik Vermyna pelan—bibirnya bergerak menuruni wajah Xavier sebelum berhenti di leher sebelah kiri, “diriku inginkan tubuh dirimu.”


Taring yang telah menodai kedua bibir Xavier seketika menembus leher sang commander ‒ ia merasa sekujur tubuhnya ingin didominasi. Dan tubuh Xavier menegang saat kuku-kuku tajam Vermyna membelah pakaiannya. Rasa perih bercampur ekstasi menguasai pikiran sang commander saat jemari halus itu mulai bernari-nari ria menguasainya.


“Setelah tubuh dirimu,” lanjut Vermyna setelah puas menghisap darahnya, “diriku akan kuasai hati milikmu. Dan tak ada yang bisa dirimu lakukan untuk melawan.”