Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 25: The Knight Templar, part 5



...—Eden—...


Area tertutup dengan luas lantai arena 900 meter persegi tersebut tidak terletak di bawah tanah. Arena Latihan Khusus ini berada tepat di belakang Markas Ordo 1 Knight Templar. Tidak ada barier penghalang transparan yang mengitari lantai arena. Itu tak diperlukan. Dinding-dinding yang ada berperan langsung sebagai barier. Beberap pilar yang menopang langit-langit juga dipasangi rune pelindung.


Arthur menemukan Merlin sudah berdiri di tengah-tengah arena seperti yang seorang staf katakan.


Wanita itu berdiri dengan mata terpejam dan kedua telapak tangan menyatu, di belakangnya melayang sepuluh pedang dengan ujungnya yang menusuk ke depan. Kesepuluh pedang berwarna merah berpendar itu berputar berkebalikan arah jarum jam. Secara sekilas, tidak ada yang berbahaya dari pedang itu selain fakta kalau mereka berpendar seperti dibakar. Namun, Arthur tahu betul. Kesepuluh pedang itu bukan hanya hiasan semata.


“Aku sudah menentukan 20 batalion terkuat kita untuk melindungi kota; sisa pasukan akan meninggalkan Eden menuju Lembah Terlarang Ed secara berkala sepuluh batalion per minggu.” Berkata Merlin seraya membuka kelopak mata, pupilnya menusuk tajam memandang sang Saint. “Detailnya sudah kuinstruksikan pada para staf untuk segera mengantarkannya ke mejamu begitu mereka selesai menulisnya.”


“Itu cepat,” komentar Arthur ‒ ia tidak berpikir dirinya bisa menentukan batalion mana saja yang akan tinggal di kota. “Lantas, apa yang kau inginkan sehingga meningalkan pesan agar aku ke sini begitu kembali dari Axellibra?”


“Pertanyaan retorik macam apa itu, Arthur?” Merlin seketika melompat ke belakang sembari melepaskan penyatuan kedua telapak tangannya. “Majulah. Aku ingin mengetes diriku. Terakhir kali kita bertarung, itu dua tahun lalu. Aku ingin tahu sejauh mana aku sudah berkembang.”


Bibir Arthur melengkung, dalam sekelip mata ia sudah berada di lantai arena. “Kau serius? Aku tidak akan menghiburmu jika kau nantinya menangis karena kalah, ya.”


Laser merah panas melesat tajam merespons ledekan Arthur, tipis melewati sisi kiri kepala sang Saint. Laser itu ditembakkan oleh salah satu dari sepuluh pedang yang berputar di belakang Merlin. Energi pada kesembilan pedang lain meningkat, dan sejurus kemudian semuanya melepaskan laser merah menyusul laser yang sebelumnya. Dan sama seperti tadi, semuanya tipis dari mengenai tubuh Arthur.


Laser-laser itu tidak mengenai Arthur bukan karena Arthur menghindar, melainkan karena Merlin memang sengaja untuk tak menyasarnya.


Arthur refleks melirik ke belakang, kesepuluh laser tadi membuat lubang dan lelehan di dinding. Tiga barier turut bolong, tetapi tujuh sisanya bertahan—karena itu pula laser-laser itu tidak tembus keluar. Tepat sedetik kemudian, rune-rune pelindung aktif, dan seketika pemanipulasian waktu terjadi pada dinding sehingga dinding dan barier kembali seperti semula. Barulah kemudian Arthur mengembalikan pandangan pada Merlin.


“Baiklah, Merlin, aku takkan menahan diri seperti keinginanmu.” Dan belum sedetik berlalu setelah kalimat itu keluar dari mulutnya, Arthur sudah berada di hadapan Merlin dengan kepalan tangan kiri yang melayang tajam.


Refleks Merlin tajam. Pukulan Arthur berhasil dia tepis dengan punggung tangan kanan. Pada saat yang bersamaan, kesepuluh pedang merah itu melesat tajam. Arthur spontan melompat menjauh, gelombang petir biru keputihan ia tembakkan dari kedua telapak tangannya. Kesepuluh pedang itu melesatkan gelombang petir merah. Petir Arthur dikalahkan dalam sekejap.


Namun, sebelum gelombang petir merah menyala itu turut menyapu Arthur, sang Saint sudah melontarkan diri belasan meter ke udara dengan kedua telapak tangan mengarah pada Merlin.


“Storming Lightning,” bisik Arthur, dan seketika seribu sambaran petir yang saling bersinergi melesat dalam kecepatan yang membutakan menyasar Merlin.


Sayangny, sesaat sebelum semua petir itu mengenai target, posisi Merlin sudah digantikan oleh salah satu pedang merah—dan percikan petir merah seketika menundukkan semua sambaran petir.


Sementara itu, Merlin yang sudah bertukar tempat dengan salah satu pedangnya langsung menggenggam dua pedang merah dan melontarkan diri ke udara mencoba menyerang sang Saint, sedang tujuh pedang sisanya menyebar ke berbagai sisi arena.


Tombak hitam kelam bak obsidian secara cepat bermaterialisasi di tangan kanan Arthur, dengan timing yang pas menangkis ayunan pedang Merlin.


“Great Lightning Explosion,” bisik Arthur, dan Merlin seketika terhempas ke bawah, tetapi posisinya dengan cepat digantikan oleh sebuah pedang merah.


Saat ia mendarat, Merlin sudah berada di hadapan sang Saint. “Twice Critical Slices!” seru sang wanita bersamaan dengan mengayunnya kedua pedang merah berpendar.


Namun, tepat saat sebelum kedua pedang itu menebas sang target, kedua pedang itu mengecil hingga seukuran jarum. Merlin yang tak terkejut seketika berpindah posisi dengan salah satu pedangnya, membuat pukulan tombak Arthur membentur pedang tersebut. Pedang itu tak terpental, ia bergetar di tempat sembari menguarkan percikan petir.


Menemukan pedang itu menjengkelkan, Arthur seketika mengubahnya menjadi seukuran debu. Bukan pedang itu saja. Semua pedang merah berpendar yang tersisa semuanya mengecil menjadi seukuran debu. Hal yang sama berlaku terhadap gelombang api yang Merlin lesatkan, ukurannya menjadi debu dalam sekejap.


“Apa aku sudah pernah mengatakan kalau sihir [Size Manipulation]-mu itu mengesalkan?” tanya Merlin, seratus pedang merah berpendar sudah mengelilinginya dengan penuh penjagaan.


“Aku bisa mengatakan hal yang sama dengan [Sword Creation] milikmu,” balas Arthur sembari memasang kuda-kuda seriusnya. “Jika itu hanya pedang normal, tentu tak masalah. Tetapi pedang itu bisa menyerang dan bertahan dengan sendirinya. Dan kau bisa bertukar tempat dengan pedangmu itu. Kau tak pantas mengatakan sihirku menjengkelkan disaat sihirmu juga menjengkelkan.”


Merlin merespons ucapan Arthur dengan menembakkan pedang-pedangnya. Arthur melesat maju tanpa memedulikan semua pedang itu. Sihirnya dengan cepat mengubah semua pedang menjadi seukuran debu. Arthur tiba di depan Merlin dalam sekejap, tetapi tombaknya sekali lagi membentur pedang merah—Merlin sudah kembali menghilang.


Mengecilkan pedang itu, Arthur berputar di tempat dengan petir tebal menyelimuti tubuh dan tombaknya. “Lancedragon Art: Longinus,” bisik Arthur dengan tombak menusuk udara kosong di depannya.


Secara instan, segala yang ada di hadapan Arthur lenyap dalam lesatan petir berkonsentrasi tinggi. Petir yang bergerak bak laser itu melesat tajam menargetkan Merlin, tetapi lagi-lagi Merlin sudah berpindah tempat dengan pedangnya. Berbeda dengan sebelum-sebelumnya, pedang merah itu melebur dan lenyap diterpa hantaman petir, dan petir itu terus melaju hingga menghancurkan barier lapis kedelapan.


“Kau ingin membunuhku?!”


Suara Merlin memekik puluhan meter di belakang Arthur, yang lantas membuatnya membalikkan badan.


“…Bukannya kau yang memintaku serius?” Arthur menahan diri dari menampakkan kernyitan di kening. “Aku masih mena—!”


Arthur menggeram saat tiba-tiba pedang merah menusuk menembus bahu kirinya, dan sejurus kemudian ia meringis saat tubuhnya dipenuhi setruman petir merah.


“Pelajaran pertama, Arthur, pertempuran itu termasuk di dalamnya kecurangan.” Senyum kemenangan berkembang di bibir Merlin. “Selalu ingat kalau lawanmu mungkin saja berlaku curang. Bertarung dengan jiwa kesatria tidak diperlukan jika itu bu—”


Ucapan Merlin spontan berhenti saat lantai arena retak akibat tekanan yang tubuh Arthur keluarkan. Pedang merah yang menembus bahunya tak lagi terlihat, pun petir-petir lenyap. Semua pedang yang sudah Merlin sembunyikan di banyak tempat di arena juga turut lenyap menjadi seukuran butiran debu—yang artinya sama saja dengan lenyap. Petir biru keputihan kemudian menggelegar memenuhi ruangan.


Merlin spontan merentangkan kedua tangannya menciptakan pedang merah demi pedang merah, tetapi semuanya lenyap sama cepatnya dengan terciptanya pedang lain. Tidak peduli seberapa cepat Merlin memanifestasikan pedangnya, mereka selalu lenyap dengan sama cepatnya. Bahkan saat ia memanifestasikan lingkaran sihir api destruktifnya, semua lingkaran sihir itu mengecil dan menghilang.


“Duduk bersimpuh, Merlin,” ucap Arthur dengan ekspresi datar—petirnya berubah warna menjadi biru kehitaman. “Kemudian katakan, ‘Aku bersalah. Aku minta maaf. Aku takkan lagi mencurangimu.’ Lakukan itu sebanyak sepuluh kali sembaru menundukkan kepala penuh penyesalan. Dengan begitu, aku takkan menunjukkan padamu bagaimana aku menghancurkan Ulbath Lancedragon tanpa dia bisa berkutik.”


…Pertarungan hari itu berakhir dengan Merlin duduk bersimpuh meminta maaf, tetapi dalam hati Merlin bersumpah ia akan membuat Arthur melakukan apa yang ia lakukan sekarang.


...»»» End of Chapter 25 «««...