Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 28: Sheer Stupidity, part 4



...—Perkemahan Imperial Army, 20 km di selatan Ekralina Kingdom—...


Hekiel yang lagi asyik berkaca di dalam tendanya tersentak saat tiba-tiba seorang prajurit masuk tanpa permisi.


Commander yang tak berkompeten akan marah dan mencela sang prajurit yang masuk tiba-tiba seperti itu tanpa mau mendengar alasan. Commander seperti itu baru akan membuka telinga untuk mendengarkan setelah memberi hukuman.


Namun, Hekiel berbeda. Ia berkompeten, dan para prajurit sangat menghormatinya. Ia dikenal sebagai Commander teramah di Imperial Army. Karenanya, meskipun sang prajurit baru saja melanggar protokol militer, Hekiel tak menyikapinya berlebihan.


“Berita darurat apa yang kau bawa sampai berlari tergesa dan ngos-ngosan seperti itu?” tanya Hekiel seraya meletakkan cermin—ia tadi bercermin bukan karena sedang merenungkan alasan dibalik kejombloannya, sama sekali bukan.


“Tim pengintai baru saja mengirim pesan kalau Knight Templar telah bergerak,” lapor sang prajurit dengan wajah serius. “Diperkirakan, total prajurit yang dikerahkan mencapai seratus ribu.”


“…Seratus ribu?” beo Hekiel tak percaya, memandang sang prajurit dengan harapan dia keliru berucap.


“Benar, Sir!” tegas sang prajurit. “Siapa yang memimpin pergerakan mereka belum diketahui, tetapi tak salah lagi jumlahnya di kisaran segitu.”


Hekiel terdiam. Seratus ribu…itu terlalu banyak. Knight Templar hanya perlu mengirim seper lima dari jumlah itu untuk menaklukkan Ekralina Kingdom. Hekiel merasa semua Saint memahami itu. Lantas, mengapa mereka mengirim begitu banyak pasukan hanya untuk mengambil kontrol atas kerajaan tersebut?


“Apa mereka telah mengendus keberadaan kita?” tanya Hekiel.


“Kami tidak bisa mengonfirmasi hal itu, Sir.”


“Tentu saja kalian tak tahu,” gumam sang commander, mengangguk-anggukkan kepala penuh pengertian. “Baiklah, kau bisa kembali ke tempatmu.”


Sang prajurit mengangguk, memberi hormat, dan lantas berlalu keluar dari tenda. Hekiel yang tinggal sendiri spontan mengernyitkan keningnya berpikir keras.


Ia sejak awal telah diberi tahu perkiraan jumlah prajurit Knight Templar yang di atas dua ratus ribu. Namun, Hekiel mengasumsikan jumlah sebanyak itu untuk mempersiapkan pertempuran dengan Vermillion Empire dan New World Order. Dalam asumsi Hekiel, maksimal hanya dua puluh lima ribu yang akan dikerahkan untuk menduduki Ekralina Kingdom. Sebab itu pula Hekiel hanya membawa dua puluh lima ribu prajurit.


“Aku mungkin bisa menyapu setengah dari mereka jika mengerahkan semuanya, tapi tentu saja Saint yang memimpin mereka takkan membiarkan. Jika satu lawan satu, aku bisa mengalahkan mereka dengan cukup cepat. Masalahnya…bagaimana jika ada dua dan bahkan tiga?”


Hekiel berdiri dan menghela napas, beranjak meraih kertas dan pena beserta botol tinta. “Tidak ada pilihan lain,” gumamnya dan mulai menulis.


Hekiel tidak punya pilihan lain selain mengirim surat ke istana meminta dikirimkan pasukan tambahan. Menghadapi seratus ribu Knight Templar dengan hanya dua puluh lima ribu Imperial Army? Tidak ada kata lain untuk menyimpulkan hasilnya selain “pembantaian”.


Setelah menulis surat, Hekiel keluar tenda dan menyuruh seorang prajurit untuk mengantarnya ke tim Divisi 3 Imperial Army yang turut berkemah bersama mereka agar bisa diteruskan dengan cepat ke Nevada.


Kemudian Hekiel langsung mengumpulkan para kaptennya dan meminta mereka mempersiapkan pasukan untuk berangkat.


Prioritas mereka sudah bukan lagi mencegah Ekralina Kingdom dikuasai Knight Templar. Dengan jumlah pasukan sebanyak itu, dan dengan Imperial Army yang merespons dengan pasukan besar, tak terelakkan ini akan menjadi pembukaan perang yang sebenarnya.


Minner berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada di atas puncak bangunan besar Markas Militer NWO, mata memandang intens pada total lima puluh ribu prajurit yang mulai berangkat menuju Ekralina Kingdom. Cainabel kemarin sore baru saja melaporkan ultimatum Knight Templar kepada Ekralina Kingdom pada Millner, dan mengirim pasukan gabungan dari berbagai negara yang dikomandoi oleh Alforalis Grammolia adalah responsnya.


Dengan kepergian mereka, total pasukan yang tersisa adalah empat puluh tiga ribu. Sisa pasukan itu adalah apa yang nantinya akan Minner pimpin untuk menyerang Dwarf Kingdom. Semakin cepat mereka melumpuhkan para dwarf, semakin leluasa mereka bisa melaju memasuki wilayah Emiliel Holy Kingdom. Vampire bertugas membuka serangan, dan Minner sendiri yang akan menangani rekan lamanya yang telah menyesatkan diri.


“Sudah seberapa kuat dia?” tanya Minner tidak pada siapa pun, memorinya menyelam jauh ke masa lalu saat Deus Guardian masih berjaya.


...—Lembah Terlarang Ed—...


Total prajurit Ordo 1 Knight Templar yang telah tiba di tanah yang dijanjikan ini sudah ada empat puluh ribuan. Bila menghitung serta jumlah staf dan para juru masak dan pekerja lainnya, total mencapai empat puluh lima ribu.


Merlin sementara ini memegang kendali di sini. Sudah 20 hari berlalu sejak ia meninggalkan Eden dan fokus mempersiapkan tempat ini. Ketika enam puluh ribu prajurit lain tiba, mereka sudah langsung bisa memulai penyerangan.


Semua jadwal yang Merlin buat berjalan dengan sempurna sebagaimana biasanya, semuanya tertata sebagaimana seharusnya.


Setidaknya, kesempurnaan jadwal yang Merlin susun itu benar kesempurnaannya sampai sebelum matahari terbit.


Namun, sejak Merlin menerima laporan mendadak dari staf informasi di perkemahan pasukan yang dikirim untuk menundukkan Ekralina, kesempurnaan jadwal yang Merlin buat menjadi kacau. Ia bahkan sudah memerintahkan staf informasi untuk menyampaikan ke Eden agar keenam puluh ribu prajurit tersisa segera berangkat.


“Jika aku bertemu Alfonso Alsabnitz sialan itu, akan kubenamkan dia ke dasar lautan karena telah berani merusak kesempurnaan dalam sentuhan tanganku.”


Alasan Merlin kesal hanya itu saja; perkara lain ia tak memedulikan. Ia tidak tahu pemicu Alfonso sampai memobilisasi pasukan dalam jumlah besar. Pun Merlin tak ingin tahu. Pope Genea telah mengirim Alfonso dan ketiga Saint lain dengan jumlah pasukan yang besar; meski alasan Alfonso tidak sama dengan alasan yang seharusnya, tetapi tak mustahil jika itu sesuai dengan keinginan Pope Genea.


“Nona Merlin.” Seorang wanita berambut biru pendek memasuki ruang kerja Merlin seraya membawa selembar gulungan. “Ada surat dari Sir Arthur.”


“Bacakan,” ucap Merlin singkat, tangannya masih sibuk menggerakkan pena di atas lembaran kertas.


“Jangan memaksakan diri, tidak perlu mengikuti perubahan yang tiba-tiba. Kita takkan bergerak sebelum Pope Genea memberi instruksi. Untuk saat ini, biarkan Alfonso dan yang lainnya menjadi bintang. Saint Petra dan 60 ribu pasukannya sudah tiba di selatan Dwarf Kingdom. Pope Genea mengatakan, ‘Jika Vermillion Empire dan New World Order menganggap aksi Alfonso dan yang lainnya sebagai deklarasi perang dan mengirim pasukan, kita anggap upaya mereka itu sebagai pendeklarasian perang juga.’ Dan, aku akan tiba di sana dalam tiga hari.”


Merlin menghentikan gerakan penanya dan mendengus. “Aku tidak merencanakan untuk bergerak,” gumamnya. “Aku hanya ingin memastikan pasukan sudah siap saat tiba-tiba diminta untuk digerakkan.”


“Apa saya perlu membalasnya, Nona?”


Merlin menggeleng. “Kau bisa kembali,” katanya. “Dan katakan juga pada yang lain untuk tetap tenang seperti biasa. Untuk pasukan yang sudah berangkat berpatroli ke area luar, kirim seseorang untuk meminta mereka kembali.”


Melihat sang wanita mengangguk, Merlin melanjutkan kegiatan menulisnya. Ada banyak instruksi detail yang perlu ia buat untuk memastikan tidak terjadinya miskomunikasi.