
Hatinya telah mati. Paling tidak, itu adalah apa yang Nueva yakini. Hatinya telah mati sejak ia menjadi mainan seorang wanita sadis yang sudah ia bunuh. Ah, lebih tepatnya, hati Nueva mati saat api yang membakar jasad ibunya padam. Sejak saat itu, tak sekali pun ia hidup dengan hatinya.
Namun, sepertinya ia telah salah. Di usianya yang ke-21 tahun ini, Nueva merasakan kembali kehidupan dalam hatinya. Seperti air yang membawa kehidupan di tanah yang tandus, cinta membawa cahaya ke dalam hati yang gelap. Benar. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Nueva merasakan yang namanya jatuh cinta.
Retsumei Hirari. Wanita berkacamata asal Veria yang berpetualang ke Islan. Berusia 23 tahun, dua tahun lebih tua dari Nueva. Dan yang paling menarik hati Nueva adalah senyum indahnya yang sebelas dua belas dengan senyum sang ibu. Nueva tak bisa mengelak kalau ia jatuh cinta pada wanita itu.
Meluluhkan hati Retsumei tidak mudah, tetapi Nueva pantang menyerang. Di ulang tahun Retsumei yang ke-25, akhirnya Nueva berhasil mencengkeram hati wanita itu. Pernikahan megah pun dilangsungkan. Nueva bahagia tak terkira. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Nueva benar-benar berterima kasih pada dewa.
Tetapi rasa terima kasih itu seketika berubah menjadi kutukan pada sang dewa saat Retsumei meninggal setelah melahirkan putri mereka: Retsu. Rupanya istri Nueva terkena sihir kutukan ibunya sendiri. Retsumei akan mati setelah melahirkan anak pertama—sebuah kutukan yang benar-benar kejam. Kebahagian Nueva sirna bagai angin lewat.
Namun begitu, Nueva berusaha tak menyerah. Ia beroptimis kalau istrinya akan hidup kembali jika kutukan itu dihilangkan. Nueva bahkan sampai meminta pertolongan ke Axellibra, berharap agar sang nephilim mau menghilangkan kutukan pada tubuh sang istri.
Sayangnya, permohonan Nueva tak digubris pengurus istana. Harapan Nueva seketika lenyap tak bersisa. Dan untuk kali kedua, Nueva memandang api melahap habis tubuh manusia paling berharga baginya dengan mata kosong. Dan kali ini, hati Nueva tidak saja menjadi gelap, tetapi juga sampai retak.
“…Edenia….”
Mulut Nueva membisikkan nama satu-satunya dewa yang diyakini benar-benar nyata. Tentu saja ucapan itu bukan dengan nada ketulusan, melainkan kebencian. Katanya takdir manusia telah digariskan bahkan sebelum mereka lahir. Artinya, semua penderitaannya murni ulah sang dewa.
Ah, bukan penderitaannya saja. Penderitaan ibunya, istrinya, dan orang-orang lain yang menderita. Kejahatan yang merajalela juga adalah ulah Edenia. Dunia busuk ini juga, semuanya karena Edenia. Entah itu karena sang dewa suka melihat kesengsaraan atau kekacauan, entah pula karena dia malas dan enggan memenuhi tugasnya sebagai dewa. Yang jelas, dunia akan menjadi lebih baik apabila makhluk itu ia lengserkan dari tahtanya. Jika ia menjadi dewa…maka dunia busuk ini akan bisa aku jadikan surga.
…Pada titik ini, ambisi Nueva menjadi dewa pun dimulai. Ia mengerahkan apa yang bisa dikerahkan untuk mengumpulkan informasi yang bisa membuatnya menjadi dewa. Tentu saja ia tetap bertanggung jawab dalam mendidik dan membesarkan Retsu, tetapi itu hanya sekedar tanggung jawab saja. Tak ada lagi cinta yang tersisa dalam hati Nueva.
Dewa tidak memiliki cinta. Begitulah ia berkata pada dirinya sendiri.
Usaha Nueva sangat keras. Ia bahkan sampai berkunjung ke Veria beberapa kali. Begitu juga dengan Medea dan Kepulauan Haikal. Namun, tak ada hasil yang positif. Tentu saja ada rumor atau catatan klasik yang ia dapatkan tentang cara menjadi dewa, tetapi Nueva tak bisa membuktikan semua itu benar. Itu terlalu mengada-ngada untuk menjadi kebenaran.
Walau begitu, Nueva tidak pernah menyerah. Tahun demi tahun ia terus mencari. Ia bahkan sampai melakukan ritual-ritual gelap. Namun, tak ada hasil apa-apa. Bahkan informasi yang disimpan di Deus Holy Church juga tak berguna. Benar-benar nihil.
Ketika Nueva hendak memutuskan untuk menyerah, tiba-tiba ia mendengar kabar kalau Danau Deus telah lenyap. Airnya menghilang tak berjejak. Yang ada di tengah-tengah Kota Heavenly Crystal hanyalah kawah yang seolah habis terbakar hebat. Nueva pun menghentikan segala aktivitasnya dan mendatangi apa yang tersisa dari Danau Deus.
“…Kau pasti Nueva Vermillion, manusia terkaya di seantero Islan, orang yang berada di balik Kota Taman Surga, Eden.”
Tubuh Nueva menegang mendengar suara tersebut. Ia benar-benar tak merasakan kehadiran pemilik suara. Jika dia tidak bersuara, ia takkan menyadari jika ada orang di belakangnya.
“Apa kau berminat menjadi dewa?”
Jika ucapan sebelumnya tak mampu membuat Nueva spontan berbalik, pertanyaan itu sukses membuat Nueva memutar badan.
“Namaku Edward Penumbra. Utusan dari neraka. Jika kau berminat menjadi dewa, silakan ikuti aku. Aku juga bisa menjawab mengapa Danau Deus lenyap.”
Tanpa menunggu respons Nueva, pria berambut hitam itu langsung berbalik dan melangkah pergi.
Nueva tahu ini mencurigakan. Bagaimana dia bisa tahu ia punya hasrat menjadi dewa? Sangat mencurigakan. Bisa-bisa ini adalah perangkap untuk menjebaknya. Walau begitu, Nueva menemukan kedua kakinya melangkah mengikuti pria itu.
“Danau Deus adalah penghubung fisik antara surga, neraka, dan dunia ini.” Edward mulai berbicara begitu mereka tiba di sebuah gua. “Itu adalah wujud fisik dari dimensi kosong yang memisahkan surga dan neraka. Karena dimensi itu hancur akibat pertempuran Luciel dan para malaikat dengan Lucifer dan para iblis, Danau Deus lenyap.”
“Kau mungkin ragu,” lanjut Edward seraya berbalik, “tetapi aku tidak berdusta. Nama asliku Mammon, aku adalah salah satu dari enam Jendral Iblis.”
Edward, demi membuktikan ucapannya, seketika menunjukkan wujud iblisnya dalam segala kemegahannya.
“Aku diutus Tuan Lucifer untuk mencari orang yang tepat demi mewariskan tujuannya. Tuan Lucifer ingin menjadi dewa, membunuh Edenia, lalu menata ulang dunia menjadi tempat yang dipenuhi kedamaian. Kota Eden yang kau kembangkan sangat dekat dengan gambaran dunia yang Tuan Lucifer inginkan. Namun, akibat luka parah yang ia terima dari Luciel, dia tak bisa lagi mewujudkan impian itu.
“Karena itu aku dikirim ke sini. Jika kau memang ingin menjadi dewa dan mau menghabisi Edenia, mulai dari sekarang dan seterusnya aku akan melayanimu sebagaimana aku melayani Tuan Lucifer. Aku akan membantumu mendapatkan semua Supreme Magic dan kemudian merebut singgasana dewa dari Edenia. Hanya dengan memiliki Throne of Heaven seseorang bisa menjadi dewa.”
Mammon menjeda sebentar. Matanya memandang intens Nueva. Kemudian tangan kirinya terulur ke depan. “Bagaimana, Nueva Vermillion, apa kau mau menjadi dewa yang baru dan memperbaiki dunia yang busuk ini?”