
Dengan gaji minggu ini yang ludes, kehidupan untuk hari-hari selanjutnya akan sulit. Nueva tidak punya pilihan selain menggunakan sebagian uang simpanan—yang ia peruntukkan bagi pengobatan sang ibu—untuk memenuhi kebutuhan. Ia hanya berharap kondisi ibunya tak memburuk secara tiba-tiba—sebagaimana yang terjadi pada empat bulan yang lalu.
Pagi-pagi sekali, sebelum adanya tanda-tanda matahari akan menyingsing, Nueva sudah bangun dan membersihkan diri. Lantas ia ke dapur menyiapkan perapian, memasak bubur gandum dan sup jamur untuk makan pagi mereka. Barulah kemudian ia memasuki kamar sang ibu untuk membangunkannya. Setiap hari selalu begitu.
Kemudian ia membawa ember berisi air untuk membantu ibunya membersihkan diri. Karena luka bakarnya yang parah, mustahil bagi sang ibu membersihkan diri tanpa mengenai luka bakar. Nueva membantu ibunya membersihkan diri dengan telaten. Ia sangat berhati-hati untuk tidak mengenai luka bakar sang ibu yang pasti akan membuatnya meringis.
“Maaf karena ibu jadi beban untukmu, Nak.”
Tangan Nueva refleks terhenti dari membasuh punggung sang ibu. Meskipun ibunya sudah sering mengeluarkan kata-kata itu, Nueva masih tak terbiasa mendengarnya. Ia tidak senang mendengarnya. Padahal ia sudah berulang kali mengatakan kalau sang ibu bukan beban, tetapi ibunya terlalu keras kepala.
Nueva menghela napas dan kembali mengulang kata yang selalu ia ucap saat ibunya mengeluarkan kata-kata itu, kemudian melanjutkan membasuh punggung sang ibu dan membantunya berpakaian.
Barulah kemudian Nueva mengajak sang ibu keluar agar mereka bisa makan bersama. Meskipun hanya makanan ala kadarnya, tetapi yang lebih penting adalah kebersamaan. Bahkan jika hidangan para raja yang ada di depan Nueva, itu akan terasa hambar bila tiada sang ibu di sisinya.
Meskipun kemarin ia harus kehilangan uang, Nueva bisa melihat kebaikan dalam hari ini. Ia akan pergi membeli kebutuhan setelah bersih-bersih. Pulang dari berbelanja ia akan mencari jamur dan kayu bakar. Jika beruntung, ia bisa mendapatkan kelinci atau ayam hutan. Sebelum tengah hari ia akan pulang dan menyiapkan makan siang. Kemudian ia beris—
Jalan pikiran Nueva buyar seketika saat ibunya terbatuk-batuk dan mengeluarkan darah. Tak hanya dari mulut. Darah mulai merembes keluar dari hidungnya saat Nueva membantu mengelap bekas darah di mulut sang ibu.
Sang anak sontak membawa ibunya ke tempat berbaring. Sang ibu berkata dia tidak apa-apa, tapi Nueva tak percaya itu.
Meletakkan dua gelas air dan selembar kain di samping ibunya, Nueva lantas mengambil uang lalu berlari ke luar rumah. Tujuannya adalah rumah tabib desa. Ia harus memastikan kondisi ibunya tidak bertambah parah. Hanya sang tabib yang bisa membuatnya lega.
Hari masih pagi buta saat Nueva mengetuk-ngetuk pintu rumah dan memanggil-manggil sang tabib. Wajar jika sang empunya rumah marah dan kesal. Namun, Nueva berhasil meyakinkannya setelah bercerita panjang lebar. Sayangnya, mereka tak bisa bergegas. Selain karena sang tabib sudah terbilang renta, dia juga perlu menyiapkan ramuan yang diperlukan.
Mereka baru meninggalkan kediaman sang tabib hampir tiga puluh menit kemudian, dan keduanya perlu beberapa menit lagi untuk mencapai kediaman Nueva dan sang ibu.
“Ayo, Tabib, cepat masuk dan sembuhkan i—”
Suara Nueva tertahan. Napasnya tercekat. Matanya melebar tak percaya dan mulai berkaca-kaca. Syok mewarnai dirinya dengan cepat.
“Ada apa, Nak Nueva? Kenapa kau terdi—”
Sang tabib juga ikut terdiam. Dia sama terkejutnya dengan Nueva, tapi tak sampai syok. Dia telah hidup cukup lama untuk ditelan rasa syok.
“Oh, Nueva! Untung saja kau sudah pulang! Apa kau tahu apa yang ibumu pikirkan sampai menggantung dirinya sendiri seperti ini?”
“Kami datang untuk menawarkannya baju bekas, tapi kami justru disambut oleh apa yang kau lihat sekarang.”
“Apa ada hal yang aneh dengan sikap ibumu akhir-akhir ini?”
“Apa kau mengatakan hal yang membuat ibumu sakit hati hingga membuatnya bunuh diri seperti ini?”
Keempat orang dewasa—tiga wanita dan satu pria—itu memasang wajah khawatir dan prihatin, memandang Nueva iba.
Nueva mengenali mereka berempat. Wanita yang paling kiri adalah yang paling aktif mengatakan penyakit ibunya menular. Wanita di sebelahnya pernah adu mulut dengan ibunya akibat tuduhan perselingkuhan. Wanita yang terakhir adalah korban bualan ayahnya sendiri. Dan pria itu adalah orang yang sering ayahnya bawa ke sini saat dia masih hidup dan ibunya masih sehat.
Yang lebih penting dari itu, salah satu dari mereka memegang tali yang sama persis dengan yang menggantung leher ibunya. Salah satu wanita memegang gunting; rambut panjang ibunya telah dipotong-potong secara kasar—kedua telinga ibunya bahkan hampir putus. Wanita yang satunya lagi memegang tusuk besi—dan Nueva dapati kedua tangan dan perut ibunya dipenuhi tusukan. Dan pria itu…dia hanya mengenakan celana pendek saja.
“Kalau begitu kami pergi dulu. Kami akan laporkan hal ini pada kepala desa. Jika ini ulah seseorang, dia harus kita beri balasan. Kau yang sabar, ya, Nueva. Dan kau, Tabib, ayo bantu kami menemui kepala desa.”
Mereka pergi begitu saja. Tabib yang hendak protes mereka tarik paksa. Kurang dari satu menit, hanya Nueva sendiri yang tertinggal. Ia masih tak tergerak dari memandang ibunya yang terbunuh dalam penderitaan—dirudapaksa dan disiksa hingga napasnya habis tak bersisa.
Hampir setengah jam Nueva terdiam tak bergerak. Matanya yang sedari tadi mengeluarkan air telah menggelap. Kedua tangannya mengepal kuat. Gigi-giginya menggemeretak hebat. Tubuhnya bergetar dalam amarah hebat yang tak lagi tertahankan. Jika ada yang bisa mengintip isi kepalanya saat ini, siapa pun itu pasti akan memandang ngeri pada Nueva.
“Empat orang itu….” Nueva bergumam pelan, berdiri perlahan. “….bahkan dewa sekali pun takkan bisa melindungi diri mereka dariku.”
Tidak ada yang lebih Nueva inginkan saat ini selain menyiksa keempat orang itu hidup-hidup. Ia akan bayar orang untuk menyembuhkan mereka, lalu ia siksa lagi. Kemudian mereka disembuhkan lagi, lantas ia siksa lagi. Nueva takkan pernah berhenti, tidak sampai ia sendiri merasa lelah dalam menyiksa.
Nueva melangkah bagai orang mati menghampiri belakang rumah. Ia gali lubang dan di dalamnya ia susun kayu yang tersisa sebagai tempat pembakaran. Lalu ia melepaskan ibunya dari tali yang menggantung dan ia bawa untuk kemudian ia letakkan di atas susunan kayu. Lantas ia tutupi tubuh sang ibu dengan baju dan kain-kain, dan semua benda yang bisa dibakar. Kemudian Nueva memenuhi bagian paling atas dengan bara api.
Nueva, yang bahkan belum genap sebelas tahun, berdiri diam dengan mata kosong memandang nyala api yang membara.
Tiga jam kemudian, Nueva melangkahkan kaki ke luar rumah. Ada banyak orang di sana. Kabar “ibunya bunuh diri” telah tersebar ke seantero desa. Tetapi Nueva mengabaikan mereka semua. Ia terus melangkah dan melangkah, dan terus melangkah hingga jauh dari desa. Nueva berjalan menuju tempat di mana jalan kegelapannya akan bermula.
“Tawaranmu yang kemarin, aku mau menerimanya. Bawa aku pada bosmu, atau jual aku pada adik perempuan bosmu. Terserah. Aku perlu uang dalam jumlah yang besar.”