Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 27: NWO Army, part 1



...—15th January, E643 | Markas Militer NWO, Perbatasan Aliansi Desa Centaur-Warebeast Great Kingdom—...


MINNER menghela napas panjang dan mendudukkan diri di kursi yang ada di ruangan kerjanya. Baru tiga jam yang lalu ia tiba di sini, dan sekarang ia sudah mengkhawatirkan keadaan di Dragonoa. Ia telah menunjuk cucunya, Hyenas, untuk menggantikannya sementara. Minner khawatir bukan karena Hyenas bodoh, tetapi ego dan temperamen anak itu tidak begitu baik. Ia khawatir anak itu menjadi ceroboh karena merasa tersudutkan jika situasi tiba-tiba memburuk.


Minner ingin kembali, sekali lagi ingin mengoceh panjang lebar dengan cucunya. Namun, situasi sedang genting. Empat Ordo Knight Templar sudah berkemah dua kilometer dari sisi utara wilayah Ekralina. Mereka tidak tahu apa sebenarnya yang Holy Kingdom coba lakukan. Yang jelas, mereka tak bisa membiarkan Knight Templar menguasai Ekralina Kingdom. Tetapi New World Order takkan bergerak sebelum kekaisaran bergerak. Karena itu pula mereka harus siap sedia kapan saja.


Setidaknya, ia telah menekankan agar Leostya tak memanjakan Hyenas. Minner bisa memercaya gadis itu untuk tidak melanggar ucapannya. Meskipun situasi buruk tiba-tiba terjadi, Leostya tidak akan membiarkan Hyenas asal bertindak. Jika Leostya juga ragu, gadis itu akan memastikan informasi itu sampai ke telinganya secepat mungkin.


“Commander Minner.” Pria berjubah hitam bertopeng putih dengan sebuah tombak terikat di punggung melangkah memasuki ruangan Minner yang sengaja tak ia tutup pintunya.


Minner tidak mencoba melakukan pencitraan dengan memperbaiki posisi duduknya. Ia hanya menaikkan sebelah alis mata, secara tak langsung menanyakan identitas sang pemuda—yang dari hawa keberadaannya bisa ia duga sebagai vampire.


“Namaku Hecrust. Aku datang melaporkan kalau tiga batalion vampire yang Vampire Kingdom janjikan sudah tiba. Aku, Cainabel, dan Lucard Vladivichna yang memimpin masing-masing batalion.”


“Cainabel dan Lucard Vladivichna seingatku adalah pemegang kursi ketiga dan kedua dalam Moon Temple,” kata Minner—ekspresinya menjadi serius dan matanya fokus memandang Hecrust. “Aku juga ingat pemegang kursi pertama, Crow Lucardia. Dia kuakui sangat kuat. Keberadaannya akan sangat meningkatkan kekuatan tempur kita. Namun, mendengar kau yang akan membersamai Cainabel dan Lucard dalam memimpin tiga divisi itu, apa bisa kuasumsikan kau juga anggota Moon Temple?”


Hecrust mengangguk. “Aku pemegang kursi keempat,” katanya. “Populasi vampire adalah yang terendah dari semua ras. Kami tidak bisa mengirim prajurit lebih banyak lagi. Pun pemegang kursi kelima, keenam, dan ketujuh tidak akan terjun ke medan perang. Mereka akan tetap di kastil. Crow hanya akan berpartisipasi saat Nona Vermyna memerintahkannya. Kemungkinan dia akan bergerak bersamaan dengan digerakkannya Deus Chaperon.”


Minner mengangguk-ngangguk mengerti. Pun ia mendukung keputusan itu. Cainabel kuat. Begitu pula dengan Lucard. New World Order tidak meminta uluran tangan Mermaid Kingdom dan Seaman Kingdom lantaran ini adalah konflik Islan. Tetapi itu tidak akan menjadi masalah. Pasukan Elf Kingdom akan tiba dalam beberapa hari, dan mereka dipimpin langsung oleh Alforalis Grammolia. Pasukan Desert Kingdom dan Caligula Kingdom juga akan tiba dalam beberapa hari.


Jika semua prajurit sudah tiba, total akan ada 93.000 prajurit. Berikut rinciannya: Elf Kingdom mengirim 20.000; Warebeast Great Kingdom mengirim 25.000; Caligula Kingdom mengirim 17.500; Desert Kingdom juga mengirim 17.500; Vladivta hanya menyumbangkan 10.000 prajurit; dan terakhir, Vampire Kingdom mengirim 3000 vampire.


Perbedaannya cukup jauh dari Holy Kingdom ataupun Vermillion Empire. Tetapi sebenarnya bisa lebih besar lagi. Namun, pasukan rekrutan awal New World Order semuanya sudah dikirim ke Pulau Beleth. Dengan Kep. Haikal yang direncanakan menjadi pusat dunia, pasukan itu memang harus ditempatkan di sana. Jika pun mereka semua dikalahkan, semua anggota New World Order bisa dievakuasi ke Kep. Haikal. Dan, sebelum itu, akan ada banyak prajurit yang melindungi masing-masing negeri.


Menyerang sekaligus bertahan, itu strategi utama yang diterapkan New World Order ‒ mereka tak bisa membiarkan adanya risiko salah satu anggota mereka diserang.


“Baiklah,” ucap Minner setelah beberapa lama diam. “Kau bisa per—ah, bagaimana dengan konsumsi pasukanmu? Kami tak bisa menyediakan darah untuk kalian. Tidak ada pemberitahuan kalau aku harus mengatur persedian darah buat kalian.”


Minner tentu saja pernah mendengar tentang “sistem produksi darah” yang dimaksudkan. Tetapi ia tidak tahu bagaimana. Orang luar yang tahu hanya Evana, tetapi Evana sudah lama tewas. Pun Minner tidak ingin tahu prosesnya bagaimana. Ia punya asumsi, dan itu membuat kening mengernyit. Karenanya, lebih baik ia tidak tahu.


“Baiklah, itu saja yang perlu kuketahui. Sekarang kau boleh pergi. Pastikan kalian beristirahat dengan baik.”


Hecrust mengangguk, kemudian berbalik dan meninggalkan ruangan pemegang komando tertinggi pasukan gabungan New World Order.


Minner lantas menolehkan pandangan ke dinding sebelah kiri, menatap lekat-lekat peta Islan yang dilekatkan di dinding, tepatnya pada area kekuasaan Emiliel Holy Kingdom. Dari mana Holy Kingdom lebih mudah diserang dan efeknya juga lebih besar? Pertanyaan itu terpatri jelas di wajah sang Commander.


...—Royal Palace, Cornnas, Provinsi Emeralna—...


Gila. Itu satu-satunya kata yang bisa Alice gunakan untuk menggambarkan interaksi Xavier dengan Artemys yang perutnya sudah agak membesar. Jika Clara sekarang berada di sampingnya, gadis itu pasti akan menangis. Jika itu Nizivia, mungkin gadis itu sudah mengeluarkan kedua belatinya dan melesat menyerang. Lalu Monica….


Alice untuk kesekian kalinya menghela napas. Ia tak habis pikir. Baik Xavier maupun Artemys…keduanya merahasiakan hal ini dari dunia. Hanya beberapa saja yang tahu. Bahkan, penjaga gerbang istana tidak tahu sedikit pun. Di kota ini, tidak ada yang mengetahui kalau Artemys hamil selain orang-orang yang bekerja di istana.


Alice kerap kali tergoda untuk memberitahu Monica dan Kanna. Ia sangat-sangat ingin memberi tahu kedua gadis itu. Namun, pada akhirnya ia tak mampu melakukannya. Ia bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika itu ia lakukan. Meskipun ia enggan mengakuinya, tetapi keputusan Artemys dan Xavier adalah yang terbaik.


Namun, mereka tak bisa menyembunyikan hal itu selamanya. Hanya masalah waktu sampai hal itu tercium oleh orang lain.


Menghela napas sekali lagi, Alice berbalik arah dan beranjak dari posisinya mengintip. Bukan, ia mengintip bukan karena sedikit iri. Sama sekali bukan. Alice bertanggung jawab terhadap keamanan istana, terhadap keselamatan Artemys. Mengintip mereka dari tempat yang tidak mencurigakan adalah hal yang normal untuk dilakukan demi memastikan tugasnya terpenuhi.


Benar sekali. Ia seorang yang profesional. Ia tidak melakukan hal yang salah, tidak melakukan hal yang menimbulkan pertanyaan. Dan membayangkan perutnya mengembung sama sekali tidak pernah ia lakukan.


...#####...


*Mulai hari ini dan seterusnya, update hanya terjadi pada Sabtu, 23.15 WIB. Thanks for all the support.