
Jika sebelumnya aksinyalah yang membuat musuh mengernyit, kini Crow mengernyit memandang Neix yang berdiri seolah tanpa beban. Makhluk itu sekarang luar biasa kuat, Crow mengakui itu. Bahkan, meskipun sekarang ia bertarung mati-matian, Crow tahu ia takkan menang. Selain kapasitas mananya yang membuat kening mengerut, kecepatan dan kontrol diri Neix berada dalam level yang berbeda.
“Kau adalah tumbal terakhir,” kata Neix sembari menciptakan sebuah klon solid. “Aku tidak peduli apa sebenarnya yang ingin kau lakukan dengan menyembunyikan kekuatanmu yang sebenarnya padaku. Klonku akan menghabisimu, sedang aku sendiri akan memulai ritual yang diperlukan.”
Crow tidak punya kesempatan merespons ucapan Neix, klonnya sudah berada di hadapan sang vampire dengan tangan kanan (yang sudah memanjang membentuk pedang) menusuk ke depan.
Crow tak mencoba memblok pedang itu dengan kedua tangannya. Benar kalau pedangnya Marcus tak mampu menembus kulitnya. Namun, itu murni karena pedang Marcus agak tumpul. Marcus adalah pemain pedang yang menitikberatkan permainannya pada kekuatan, berbeda dengan rata-rata pemain pedang yang fokus pada teknik. Karenanya, Crow tak ragu memblok pedang Marcus. Namun, Neix berbeda. Jika ia nekat mencobanya, tentu tangannya sudah tertusuk.
Karenanya pula Crow langsung melompat mundur sembari mengeluarkan rantai-rantai hitamnya. Meskipun itu hanya klon, ia tahu itu bukan klon biasa. Karenanya, Crow langsung menggunakan gaya bertarung terkuatnya. Total ada sepuluh lingkaran sihir hitam di kanan kirinya, dan semua rantai itu menyerang klon Neix dengan tajam.
...—...
Tanpa sedikit pun memerhatikan klonnya yang menghadapi Crow, Neix menyayat pergelangan tangan kiri dan mulai membentuk lingkaran sihir yang dulu sekali sudah Vermyna beritahukan padanya. Itu lingkaran sihir yang sudah Neix hapal luar dalam. Karena ia menggunakan darahnya, lingkaran sihir yang ia buat hanya berdiameter satu meter. Neix sebagai pencipta lingkaran tersebut kemudian berdiri tepat di tengah-tengah lingkaran.
Neix lantas mengeluarkan botol kecil yang berisikan darahnya Vermyna, kemudian menuangkan darah itu tepat di antara kedua kakinya. Lantas Neit menyatukan kedua telapak tangannya, dan seketika lingkaran sihir yang dibuat dengan media darah itu berpendar terang.
Bibir Neix melengkung membentuk seringaian; ia merasakan semua jiwa yang terbunuh melesat ke tempat ia berdiri. Lingkaran sihir yang ia buat dari darah perlahan membesar seiring bertambahnya jiwa yang diserap. Dan saat semua jiwa yang mengumpul di tanah terlarang ini terserap (minus Crow yang masih bertarung dengan klonnya), lingkaran sihir merah darah itu sudah berdiameter seratus meter.
“Terbukalah,” ucap Neix sembari meningkatkan pengeluaran mananya, dan seketika ruang di hadapannya seolah terpotong secara vertikal: Neix dapat melihat celah kegelapan yang memancarkan hawa gelap di ruang yang terkoyak itu.
Perlahan tapi pasti, ruang yang tersayat itu melebar dan menampakkan rantai-rantai hitam berukuran besar yang membelenggu dua buah gagang gerbang. Neix tidak bisa melihat pastinya sebesar apa gerbang itu; ruang yang terkoyak itu melebar dengan sangat perlahan. Yang jelas, ia tahu gerbang di hadapannya ini sangat besar dari gagangnya saja.
Neix sontak mengernyit, kemudian matanya menoleh memandang klonnya: dia masih belum bisa menghabisi Crow.
“Cih, anggap saja dirimu sedang beruntung, Crow.” Dengan itu, Neix mengorbankan klonnya untuk mempercepat pelebaran koyakan dimensi yang memunculkan gerbang neraka.
...—...
Crow tidak mengatakan apa pun saat tiba-tiba klonnya Neix menghilang dalam hamburan mana, tetapi pandangannya dengan cepat terfokus pada pemilik klon, kemudian matanya menajam memandang gerbang yang memancarkan hawa mencekam itu—tepatnya pada rantai hitam raksasa yang membelenggu gerbang.
“…Jadi, itu wujud asli [Hellish Chain]….”
Crow menggeleng pelan. Ia tertarik untuk mendekati dan menyentuhnya, tetapi saat ini perannya sudah selesai. Neix sudah melakukan ritual yang Vermyna suruh lakukan. Sekarang tinggal sang Legenda Blacksmith yang menyelesaikan semuanya. Jika ia nekat tetap di sini, Sataniciela akan menjadikan dirinya sebagai sasaran pelampiasan amarah seperti yang Vermyna katakan.
“Ini perpisahan kita, Neix, dan kurasa aku bisa menganggapmu sebagai teman. Pasalnya, keloyalitasanmu pada Nona Vermyna melampaui segala rasionalitas; kau bahkan tak menanyakan detail dari ritual yang kau lakukan.”
Dengan itu, Crow menghilang dalam kilatan merah kehitaman, meninggalkan pemimpin Eternity seorang diri.
...—...
Tawa Neix semakin menjadi-jadi saat rantai-rantai raksasa itu mulai bergerak dan melepaskan belenggunya. Namun, tawa itu dengan cepat berhenti saat rantai itu berhenti bergerak saat setengah belenggu berhasil dilepas. Kebingungan mulai melanda diri Neix. Apa yang salah? Begitu pertanyaan dalam kepala Neix berbunyi.
...—Edenia’s Cave—...
Bahkan meski dirinya hanyalah ingatan yang eksistensinya dipertahankan mana dan [Rune Magic], Hernandez dapat merasakan hawa kelam yang gerbang neraka berikan. Tak ragu kalau Lucifer dan Fie Axellibra telah menyadari hal itu. Pun begitu dengan Vermyna. Akan menarik melihat bagaimana situasi Islan setelah ini. Sayangnya, waktu Hernandez telah berakhir. Kecuali Kanna melakukan apa yang ia minta agar dia lakukan, dirinya tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi.
Benar. Hernandez ingin hidup kembali bersama Retsu, menjalani kehidupan yang tak dunia izinkan untuk mereka jalani. Namun, jauh di dalam dirinya, Hernandez tahu Retsu tidak menginginkan hal itu. Retsu tidak ingin kehidupannya kembali terulang; masa mereka sudah selesai, tidak perlu ada penyesalan. Mereka bisa bersama di alam kematian.
Apa yang diriku pikirkan saat ini di alam kematian?
Ingatan Hernandez membiarkan dirinya tertawa kecil. Jika di alam kematian dirinya memang bertemu Retsu, tentu jelas kalau dirinya tidak ingin diganggu. Namun, jika hal itu tidak terjadi, dia pasti ingin hidup kembali. Dia ingin kembali bertemu Retsu.
“…Aku tidak tahu,” ucap Hernandez yang sebagian tubuhnya mulai memudar. “Dan karena itu,” tambahnya sembari menyatukan kedua telapak tangan, “kuserahkan semuanya padamu, Kanna. Aku akan memercayai keputusanmu, sebagaimana aku yakin pemilik ingatan ini akan memercayaimu. Dan, kuharapkan kehidupanmu tidak berakhir sepertiku. ...Grand Summoning: Sataniciela.”
...—Bersama Neix—...
Neix yang masih diliputi kebingungan tiba-tiba tersentak saat ia merasakan tubuhnya menegang, tak bisa ia kendalikan. Hal itu dengan cepat berubah menjadi kepanikan saat sel-sel dalam tubuhnya menggelembung—membuat tubuhnya terlihat seperti dipenuhi udara di segala tempat.
Bersamaan dengan itu, rantai-rantai hitam itu kembali bergerak dengan kecepatan yang beberapa kali lebih cepat dari sebelumnya. Bukan, rantai-rantai itu bukannya membuka belenggu, melainkan kembali membelenggu gerbang neraka. Dan dengan cepat pula ruang dimensi yang menampakkan gerbang neraka itu menutup hingga kemudian lenyap tak berjejak.
Neix tidak bisa mengkomprehensikan apa yang terjadi. Kepanikan yang melanda dirinya berganti ketakutan. Kontrolnya atas tubuhnya sepenuhnya lenyap. Ia bahkan tak lagi bisa bicara. Wujudnya bahkan tak bisa lagi dikenali. Dan sebelum ia menyadarinya, Neix telah menemukan dirinya dalam kegelapan. Kemudian kegelapan itu sirna, hingga Neix sepenuhnya lenyap dari alam keberadaan.
Seluruh tubuh Neix telah menjelma menjadi bola hitam pekat berdiameter satu meter. Bola tersebut mengambang diam selama beberapa puluh detik, sebelum kemudian bergetar hebat yang lantas menyebabkan timbulnya keretakan.
Dan dalam sekejap, retakan itu menyebar dan sejurus kemudian bola hitam itu pecah berkeping-keping.
Seorang wanita berambut violet setinggi satu setengah meter terlihat melayang di titik hancurnya bola hitam tadi. Parasnya sungguh memperdaya mata; proporsi tubuh dan wajahnya sempurna. Kulitnya seputih susu. Dan gaun hitam terusan sebetis dengan renda-renda merahnya sangat menyempurnakan penampilan wanita tersebut.
Sayangnya, mata abu-abu berpupil vertikalnya tidak memancarkan keramahan; hanya kekosongan yang dalam—seperti seseorang yang baru bangun dari tidur super panjangnya.
Dialah Sataniciela, iblis terkuat sekaligus penguasa neraka sebelum Lucifer datang dan merampas tahtanya.
...»»»»» End of Chapter 12 «««««...