Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 10: Hidden Hand, part 5



...—Kota Pelabuhan Rhevada—...


Menez tidak memberi respons apa pun terhadap ucapan tidak penting Kurumi. Ia tak tertarik untuk terlibat dalam hal apa pun dengannya. Veria secara historis adalah musuh Islan—sejarah peperangan di antara keduanya bisa ditemukan di setiap perpustakaan yang ada di Islan. Sisi positifnya, Islan pernah memiliki kesatuan dan rasa persatuan yang tinggi ‒ adanya musuh bersama tidak membuat mereka memusuhi satu sama lain. Namun hal buruknya, pandangan publik terhadap Veria masihlah negatif.


“Ara, kau tidak tertarik berbasa-basi?” Kurumi mengisi dua gelas kecil dengan cairan berwarna hijau, meletakkannya di depan dirinya dan Menez. “Yah, Shiva sudah mengatakan kau bukan tipikal yang bisa diajak berbasa-basi atau bercanda.” Kurumi menggeleng pelan, menunjukkan sedikit kekecewaan. “Kalau begitu ayo minum, setelahnya kita bisa bicara serius.”


Menez tidak akan membiarkan dirinya ditipu dua kali. Terakhir kali ia benar-benar memercayai seorang wanita, wanita itu menjebaknya dalam bongkahan es. Memang, Alstroemeria tidak melukai fisiknya, tetapi dia telah menodai kepercayaannya. Siapa yang bisa memastikan wanita ini tidak menaruh apa pun dalam teh itu. Jika bukan teh, bisa gelasnya yang bermasalah. Terlebih lagi, wanita ini bukan sekadar orang Veria—dia seorang penguasa dari Veria. Karenanya, Menez takkan menyentuh tehnya.


“Normalnya, ini bisa disebut penghinaan berat yang pantas dijatuhi hukuman. Seseorang tak pantas menolak minuman yang sudah repot-repot seorang pengusaha tuangkan untuknya. Namun, ini bukan Veria ‒ dan jelas ini bukan Mikazuki Empire.” Kurumi meneguk habis tehnya, kemudian turut menghabiskan teh yang dia peruntukkan bagi Menez. “Menez Helberth. Dalam satu tahun, kau akan mati—dan itu terjadi sebelum kita bisa saling membunuh dalam perebutan Land of Dream.”


Itu…Itu jelas bukan apa yang Menez ekspektasikan untuk dengar ‒ Menez benar-benar dikejutkan.


“Seseorang yang berharga bagimu mati di hadapanmu—kau gagal melindunginya. Dan kau kembali gagal dalam membalaskan kematian orang itu. Kau mati tanpa pernah mencapai potensi tertinggimu.” Kurumi menjeda, matanya menusuk tajam ke dalam mata Menez. “Aku datang karena ingin mengusahakan agar kau tidak mati. Jika mendengarkan perkataanku ini dan tidak berjalan di takdir yang membawamu pada kematian, kita akan bertarung memperebutkan Land of Dream dalam dua tahun.”


Wanita ini…apa yang baru saja dikatakannya? Takdir katanya? Bagaimana dia bisa me—


—Mata Menez tiba-tiba melebar. Bukan, ia bukan terkejut tak percaya pada apa pun yang baru saja dia katakan atau apa yang melintas dalam kepalanya sendiri. Sama sekali bukan. Menez terkejut bukan main karena ia tiba-tiba menemukan dirinya dalam keadaan berdiri—dan Kurumi juga dalam keadaan berdiri di hadapannya.


“Ba-Bagaimana bisa?” Menez sungguh tak bisa memercayainya ‒ ternyata mereka masih belum beranjak dari tempatnya berdiri saat Kurumi datang. “Bagaimana bisa kau memasukkanku dalam ilusi tanpa kusadari?” Kewaspadaan Menez seketika melejit ke tingkatnya yang tertinggi.


“Ini adalah perbedaan kekuatan di antara kita.” Kurumi kemudian membelakangi Menez, sebuah distorsi ruang tercipta dengan lebih cepat dari yang sebelumnya. “Edward Penumbra, atau lebih tepatnya orang yang memparadekan diri sebagai dirinya, berhati-hatilah padanya. Dia memasang dua topeng, dan dia sangat merepotkan—bahkan Shiva tak bisa melihat masa lalu dan masa depannya dengan sempurna. Itu tentu saja jika kau memang tak ingin mati.”


Dan wanita itu menghilang dari hadapan Menez. Distorsi itu lenyap tak berjejak. Hanya Menez sendiri dengan ekspresi beratnya yang tertinggal.


...—Royal Palace, Cornnas, Provinsi Emeralna—...


Sejatinya, kehadiran Kurumi di hadapan Menez bukan satu-satunya alasan mengapa ia berada di benua pilihan dewa ini. Ada tujuan lain yang tidak terlalu penting baginya, tetapi sangat penting bagi sekutunya. Artemys el Vermillion. Kurumi tidak terlalu tahu mengapa Shiva menginginkannya. Namun, perjanjian adalah perjanjian. Ia tetap harus melakukannya meskipun tak suka.


Kurumi—yang menyembunyikan diri aslinya dalam ilusi sehingga terlihat seperti manusia biasa—memasukkan semua penghuni istana dalam ilusi, dan dengan ilusi itu ia mematikan mereka. Semuanya selain dua, dan kedua orang itu berada di ruang rahasia di dalam perpustakaan yang ada di istana ini. Kurumi tidak bisa memasukkan ilusinya ke dalam ruangan itu; sebuah barier melindungi mereka. Kurumi tidak punya pilihan selain ke sana.


Barier yang melindungi ruangan itu Kurumi bakar dengan api ungunya, dan dengan santai ia memasuki ruangan tersembunyi itu.


Dua orang wanita, satu adalah targetnya, tampak terkejut. Dan wanita berpakaian pelayan itu dengan cepat berdiri di hadapan targetnya penuh perlindungan. Tetapi Kurumi tidak memedulikan mereka. Matanya telah tertarik oleh api hitam tak biasa yang menyala di tengah-tengah ruangan.


Kurumi bisa melempar tanya pada kedua wanita ini perihal api itu (Shiva tidak mau mengatakan detailnya), tetapi ia abaikan. Tangan kanannya terangkat ke arah api itu, dan seketika api yang menyala tenang itu bergoyang…lalu memudar…dan menghilang. Api itu menjadi tidak pernah ada; hanya ilusi.


Barulah kemudian Kurumi memfokuskan pandangannya pada wanita jelita berambut hijau memesona. “Halo, Artemys el Vermillion, aku datang untuk mengajakmu pergi. Sejujurnya aku tidak suka melakukan ini, tetapi aku tak punya pilihan. Memang, aku diberi opsi lain. Namun, dibandingkan mencuri Air Etherealnya Nueva el Vermillion dan membawamu, jelas aku akan mengambil opsi membawamu. Jadi, apa kau mau pergi secara sukarela? Atau, kau ingin dipaksa?”


...—Etharna, Favilifna Kingdom—...


Xavier yang sudah berada di salah satu menara istana kerajaan tiba-tiba menegang saat koneksinya dengan api yang ada di tempat rahasia di istana Artemys menghilang. Kepanikan sedikit merasuk ke dalam diri Xavier. Dan tanpa pikir panjang, Xavier langsung berteleportasi menuju Cornnas.


…Ia sama sekali tak menemukan hal yang mengganjal saat memasuki istana, tetapi itu berubah saat Xavier mendapati ketidaknormalan dalam aktivitas para pelayan. Mereka seolah ilu—Xavier dengan cepat memerintahkan [Reverse Law] menghilangkan semua efek sihir yang ada.


Dan seketika ia terdiam tak terkira saat mendapati tubuh-tubuh tak bernyawa yang tak memiliki luka.


Xavier dengan cepat menghilangkan keterkejutannya, dan bagaikan orang kesurupan ia melesat menuju tempat rahasia itu.


…Hanya untuk menemukan sebuah ruangan kosong tanpa ada isi apa-apa…selain sebuah gambar bendera Emiliel Holy Kingdom yang diukir dengan darah di tempat di mana seharusnya api hitam itu berada.


Suhu udara tiba-tiba mendingin, padahal api berwarna-warni sudah menyala memenuhi ruangan. Tubuh Xavier bergetar hebat, amarah dalam dirinya benar-benar tak terkira. Amarah itu sampai membuat api yang seharusnya panas menjadi dingin—itu seolah [Reverse Law] telah menerjemahkan suasana hati Xavier. Dan Xavier tidak menyadarinya saat itu, tetapi di antara api yang berwarna-warni itu…ada warna putih susu yang hilang timbul.


Dan Xavier juga tidak menyadarinya…kalau mata yang dulu pernah menatapinya saat hampir dikalahkan Zorex sekarang menatap dirinya dari tempat yang tak bisa dijangkau makhluk fana—selain oleh dirinya.


Xavier terlalu marah sampai ia tidak menyadari itu semua. Dan jika bukan karena tulisan yang tiba-tiba muncul di udara, tentu istana tersebut sudah dipenuhi kobaran api dengan warna yang silih berganti. Xavier mengerti itu perbuatan Artemys. Dia meninggalkan pesan sehingga ia tidak berbuat yang tidak-tidak.


“Aku PASTI akan kembali bersama anak kita dan Jenny dalam keadaan hidup dalam dua tahun. Aku tidak tahu siapa orang ini, tetapi dia ahli ilusi. Ia menyembunyikan wujud aslinya dengan ilusi. Emiliel Holy Kingdom bukanlah pelaku yang sebenarnya.”


…Begitu tulisan tersebut berkata.


...»»»»» End of Chapter 10 «««««...


#Di volume sebelumnya, Xavier yang bertemu Vermyna di masa lalu memberitahu kita kalau dia sudah bertemu Phoenix. Jadi, kalian bisa menginterpretasikan sendiri mengapa Phoenix melihat Xavier dari jauh.