Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 23: The Laugh of the King, part 5



...—Royal Palace—...


“Selamat datang, Tuan Azet, silakan ikuti saya. Yang Mulia Minner sudah menunggu, beliau sudah di sana lebih dari lima belas menit yang lalu.”


Xavier mengangguk dan mengikuti tuntunan sang wanita berseragam maid. Ia dibawanya melewati lorong samping istana. Itu lorong yang terbuka, berbeda dengan lorong yang ada di Imperial Palace apalagi di Royal Tree. Pun bila dibandingkan dengan kedua istana itu, istana penguasa warebeast kalah jelas dalam hal artistiknya. Impresi pertama yang seseorang miliki saat melihat istana Warebeast Great Kingdom ini tak jauh berbeda dengan saat seseorang berkunjung ke sebuah benteng.


Tak lama, Xavier diarahkan memasuki ruangan luas yang di ujungnya terdapat belasan rak buku. Di antara dua buah rak buku itu, terdapat pintu berdaun dua yang setengah terbuka.


“Silakan Tuan Azet memasuki ruangan tersebut, Yang Mulia sudah berada di dalam. Sekarang saya mohon undur diri.”


Ketika Xavier memasuki ruangan yang ternyata tempat latihan itu, Minner sudah duduk di atas tembikar dengan kedua kaki bersila. Mata sang raja memejam, dia tampak duduk dengan sangat tenang. Entah dia bermeditasi sembari menunggunya entah tidak, tetapi ketenangan terpancar jelas dari tubuh tak bergeraknya.


Sebuah meja setinggi tiga puluh centi berbentuk oval sudah berada di hadapan sang raja. Di atas meja itu sudah terdapat makanan dan minuman yang lezat. Makanan hanya terbagi atas buah dan daging, sedang minuman ada air putih dan anggur fermentasi. Aroma dari semua makanan yang ada benar-benar menggoda selera.


Apa dia ingin melihat apakah dirinya akan membuka topeng dan menerima jamuannya?


Itu pertanyaan normal yang muncul di kepala saat seorang bertopeng dihadapkan dalam keadaan seperti ini.


“Tidak mengejutkan kau mengenaliku, Minner Ertharossa.” Berkata Xavier sembari mendudukkan diri berlawanan arah dengan Minner—ia duduk tanpa disuruh, tidak memedulikan jika ia sedang di hadapan seorang raja. “Jadi, apa yang kau inginkan?”


“Oh, kau tak ingin berkilah dan membuat alasan kalau kau bukan El?” Minner membuka mata, satu kakinya berubah posisi menjadi berdiri dalam posisi menekuk. “Tidak bisa kubilang kalau aku terkejut. Mengapa kita tidak menikmati hidangan ini sebelum kukatakan yang kuinginkan?”


“Heh,” terhibur Xavier. “Kau juga penasaran identitasku yang sebenarnya?” Xavier tak menunggu respons Minner. “Vermyna telah mengalahkanku,” katanya dengan suara yang ia beratkan. “Dia ingin mengambil alih New World Order dan agar aku menjadi bawahannya. Aku menolak. Kami bertarung, dan dia luar biasa kuat. Dia musuh alami sihir andalanku. Karenanya aku meninggalkan New World Order. Apa ini menjawab kepenasarananmu?”


“Dari semua asumsiku…jawabanmu asumsi yang terakhir,” respons Minner disertai helaan napas.


“Aku tak pernah membayangkan kalau Vermyna Hermythys bukanlah diri Vermyna yang sebenarnya,” jujur Xavier sembari meraih segelas anggur dengan tangan kanan, sedang tangan kiri sedikit meninggikan posisi topengnya hingga memperlihatkan mulut dan sedikit hidung. “Aku berpikir aku kuat, tapi wanita itu benar-benar sesuatu yang lain.” Xavier meneguk cairan ungu itu dengan elegan.


“Vermyna Hellvarossa…aku bahkan tak bisa mengkomprehensikan sekuat apa dia.” Minner menggelengkan kepala pelan ‒ ia yang notabenenya telah lama mengenal Vermyna bahkan tidak tahu kalau Vermyna Hellvarossa adalah jati diri sebenarnya dari Vermyna Hermythys.


“Ngomong-ngomong,” lanjut Minner bersamaan dengan Xavier yang meletakkan gelas berisi anggur ungu, “Qibtya menolak memercayai klaim Vermyna kalau kau dihabisi Twelfth Commander. Dia sempat menolak kepemimpinan Vermyna, bahkan sampai mengancam mengeluarkan Desert Kingdom dari New World Order. Jika bukan karena bujukan Evillia, mungkin sekarang Desert Kingdom sudah bukan lagi anggota NWO.”


Ah, Qibtya, gadis itu….


Meskipun dia cerdas, sifatnya berkebalikan dengan Artemys. Dia lebih energik daripada Monica saat masih kecil dulu. Qibtya terlalu aktif. Berurusan dengannya membuat diri lelah: dia selalu punya hal untuk dikatakan, selalu punya topik untuk dibicarakan, dan dia selalu memanfaatkan kesempatan untuk melukis realitas kalau mereka ada untuk satu sama lain. Gadis itu bahkan sampai mengklaim kalau dia istrinya.


“Sepertinya dia merasa sangat kehilangan oleh menghilangnya dirimu; sebaiknya kau menemuinya. Jika kau berani membuatnya menyukaimu, sudah sepantasnya kau bertanggung jawab membalas perasaan itu.” Minner meraih gelas berisi anggur, meneguknya dengan kasar. “Aku tidak tahu setua apa kau, tetapi aku sudah sangat tua. Melihat Qibtya seperti melihat seorang cucu yang bertalenta. Dia tidak kuat, tetapi sebagai individu dia menarik.”


“Sepertinya itu tak mungkin, Minner Ertharossa.” Xavier melepaskan topengnya sebelum Minner sempat bertanya mengapa tak mungkin. “Mengetahui wajah ini sudah cukup populer setelah semua sepak terjangnya, kuasumsimkan kau mengenal wajah ini, apa aku salah?”


Tawa sang raja memenuhi ruangan yang sama luasnya dengan lantai arena tempatnya tadi bertarung dengan Alice.


“Katakan, Commander Xavier, apa Evillia dan Vermyna mengetahui hal ini? Moni, Zie, dan Menez…apa mereka juga tahu?”


Xavier mengangguk, tangannya bergerak mengambil apel merah darah yang ada. “Mereka semua tahu. Sebab itu pula Menez dan Moni keluar dari Deus Chaperon. Mereka mengikutiku ke kekaisaran.”


“Jadi, itu alasan mengapa Vermyna mengatakan kalau El telah tewas di tangan Twelfth Commander, kalau Evillia menolak memberikan jawaban yang jelas saat kutanya.” Minner mengangguk mengerti. “Lantas, bagaimana dengan Zie? Aku tahu kalau Zie sudah tewas; semua anggota Deus Guardian tahu saat anggota lain terbunuh. Apa yang terjadi sebenarnya?”


“Tanyakan itu pada Vermyna. Itu pun jika dia mau menjawabnya.” Xavier mengedikkan bahu dan mengambil apel yang lain. “Kau punya pertanyaan lain?”


Minner kembali mengubah posisi duduknya. Kakinya kembali dalam keadaan bersila, sedang kedua lengan telah terlipat di dada. “Jika Vermyna menyembunyikan statusmu sebagai El meski kekaisaran menginginkan kematian El, bisa kuasumsikan kau berencana menghancurkan kekaisaran dari da—ah, dari aksimu sebagai Twelfth Commander sejauh ini, apa kau ingin mengambil alih kekaisaran?”


“Itu hal yang menarik untuk dilakukan. Setelah kehilangan New World Order ke tangan Vermyna, menjadikan kekaisaran sebagai pion untuk kugerakkan adalah ide yang bagus.” Xavier membiarkan dirinya tersenyum, sebelum kemudian melanjutkan, “Sayangnya tidak begitu. Aku tidak tahu ke arah mana Vermyna akan membawa NWO, tetapi kupercaya kau dan Evillia takkan diam saja jika arah NWO melenceng jauh dari arah yang kutentukan. Aku hanya akan melihat ke arah mana Islan akan melangkah dari posisiku sebagai commander.


“Dengan peperangan yang akan terjadi, kemungkinan Vermyna dan Fie akan saling membunuh satu sama lain. Dengan matinya mereka berdua, pusat kekuatan akan kembali ke tanganku. Saat itu barulah bisa kutentukan: Apakah aku akan melanjutkan New World Order, atau justru membantu Kanna el Vermillion membawa Islan ke bawah bendera kekaisaran. Yang jelas, keinginanku untuk menjadikan Islan sebagai tempat yang dipenuhi kedamaian masih belum sirna.”


Minner memejamkan mata, terlihat berpikir dengan begitu serius. Xavier tak berminat berasumsi tentang apa yang memenuhi kepala sang raja, tangannya kembali meraih apel merah darah yang lezat itu. Ia memuaskan diri dengan makanan yang disediakan.


“Begitu rupanya. Aku mengerti. Aku ingin bertanya mengapa Vermyna tidak menghabisimu mengetahui dia bisa menebak rencanamu, tetapi kurasa itu akan lebih baik jika kutanyakan langsung padanya.” Minner mengangguk pada dirinya sendiri, kemudian matanya memandang intens Xavier. “Pertanyaan terakhir,” pintanya.


“Silakan,” respons Xavier—tangannya mengambil tiga apel, dua ia masukkan ke dalam saku jubah. “Akan kuhibur kau dengan menjawab pertanyaan apa pun itu.”


“Mengapa kau membuka identitasmu di hadapanku? Bagaimana jika kuberitahukan hal ini pada Nueva?”


Kali ini Xavier yang tertawa. Ia bahkan sampai sedikit tersedak. Dan setelah meneguk anggur ungu yang lezat, barulah ia memberi jawaban: “Nueva juga mengetahui identitasku sebagai El. Dan mengapa kuperlihatkan wajah ini padamu? Hal ini supaya nanti saat aku datang membawa bendera kekaisaran ke sini, kau tidak terkejut. Terima kasih untuk makanannya, Minner Ertharossa, kita mungkin akan bertemu lagi di medan perang.”


Dan Xavier menghilang dari tempat duduknya begitu saja, hawa keberadaannya lenyap tak berjejak.


Minner mengernyitkan kening. Hal yang sebelumnya tak mungkin ia pikirkan, sekarang memasuki kepalanya: Apa mungkin kalau sebenarnya Nueva yang memberi perintah pada El untuk mendirikan NWO? Apa mungkin Nueva telah mempermainkan semuanya di dalam telapak tangannya?


Atau barangkali, Xavier hanya menggertak kalau Nueva mengetahui identitasnya sebagai El?


Yang menjadi pertanyaan utamanya, apa benar hanya itu alasan yang membuat El menunjukkan wajah Xavier von Hernandez padanya?


“Kalau begitu aku harus memastikan Warebeast Great Kingdom tidak mengirim banyak pasukan ke medan perang,” gumam Minner pada akhirnya. “Pertempuran yang akan datang bukanlah final, tetapi pertempuran setelahnyalah yang akan menjadi penentu akan ke mana Islan ini melangkah. Ah…bukankah aku sudah terlalu tua untuk mengurusi hal ini?”


...»»» End of Chapter 23 «««...