
...—16th May, D204 | Centaur’s Villages Alliance—...
Aliansi Desa Centaur terletak di antara Warebeast Great Kingdom dan Emiliel Holy Kingdom. Kendati mereka berbatasan langsung dengan dua negeri besar itu, tak sekali pun terjadi konflik antara mereka. Karena, walaupun para centaur itu suka bertarung, mereka semua memiliki jiwa kesatria dan sangat suka kedamaian. Bahkan, jika seluruh Islan disurvey, pecinta perdamaian nomor satu sudah pasti diduduki oleh para centaur.
Berbeda dengan kerajaan-kerajaan ataupun kota-kota independen lainnya, Aliansi Desa Centaur dipimpin oleh keenam kepala dari keenama desa yang ada ‒ bersama-sama mereka disebut Dewan Enam. Dan sebagai ras yang menjunjung tinggi nilai kekesatriaan, Dewan Enam bagi mereka semua bersifat absolut. Apa pun perintah dan keputusan mereka, semua centaur mematuhinya tanpa terkecuali.
Namun demikian, Dewan Enam tidak diisi oleh para petarung terbaik Aliansi Desa Centaur. Sebaliknya, Dewan Enam sama sekali tak bisa diandalkan dalam sebuah pertarungan. Mereka adalah orang-orang tertua dari para centaur; semua anggota Dewan Enam adalah sesepuh tiap-tiap desa centaur. Mereka menduduki posisi itu bukan berdasarkan tingkat kekuatan, melainkan berdasarkan kebijaksaan yang dimiliki. Karenanya, dalam sejarah berdirinya Aliansi Desa Centaur, tak seorang pemuda/pemudi pun yang pernah mengisi posisi Dewan Enam.
Hal yang paling terkenal dari para centaur adalah status mereka sebagai vegetarian.
Memakan daging binatang apa pun bagi centaur adalah sesuatu yang tabu. Selain karena sulit dicerna, daging akan mempengaruhi kesensitivitasan mereka terhadap [mana]. Lebih dari itu, leluhur mereka melarang memakan daging apa pun—terkecuali daging yang menjadi bahan persembahan, itu pun dalam kadar yang bisa diterima.
Pelanggaran terhadap ketabuan itu bisa berujung pada hukuman mati. Bagi jiwa kesatria mereka, melanggar aturan yang paling tabu tanpa alasan yang bisa diterima sama saja dengan mengkhianati leluhur mereka. Tidak ada hukuman yang paling pantas bagi seorang pengkhianat selain kematian.
Hal unik lainnya tentang para centaur adalah angka natalitas mereka yang rendah.
Dalam setahun, per desa rata-rata hanya memiliki tiga anak yang dilahirkan. Karenanya, meski mereka telah ada sejak lama, populasi mereka kalah jauh dibandingkan manusia yang angka natalitasnya paling tinggi. Hal itu dikarenakan sulitnya para wanita untuk mengandung. Tidak peduli berapa banyak mereka berusaha untuk mengandung, peluang seorang wanita dari kalangan centaur untuk mengandung itu sama dengan peluang menembakkan anak panah tepat pada sasaran.
Selain itu, rata-rata wanita centaur hanya tertarik dengan pria pertama yang bisa mengalahkan mereka—tak mengherankan kalau banyak dari perempuan centaur yang telah dewasa masih belum berkeluarga.
Di salah satu arena dari sekian banyak arena yang berada di kompleks Aliansi Desa Centaur, di dekat balai utama yang menjadi pusat dari keenam desa yang mengililinginya, dua orang centaur berbeda gender sedang berdiri berhadap-hadapan. Mereka adalah salah dua peserta yang berpartisipasi dalam turnamen memikat pasangan bulan ini. Dan seperti kebanyakan peserta, “penantang” dari pertarungan itu adalah yang laki-laki, sedang yang perempuan bestatus sebagai yang “ditantang”.
Sang penantang itu adalah centaur pria terkuat di sentero desa. Dia memiliki rambut coklat panjang yang diikat dengan model ekor kuda. Wajahnya rupawan, tubuhnya kekar, dan irisnya sama warnanya dengan rambutnya. Pria dengan rahang yang kuat itu bernama Elemetra, dia adalah salah satu anggota dari Deus Guardian yang tersohor.
Di hadapan Elemetra, centaur wanita terkuat di seantero desa berdiri dengan ekspresi superior. Wanita berambut violet panjang yang digerai itu juga memiliki paras yang di atas rata-rata, irisnya yang sewarna dengan daun muda itu menambah keindahan dari rupanya. Nama centaur tersebut adalah Diatra. Sama dengan Elemetra, dia juga adalah anggota Deus Guardian yang tersohor.
Segera setelah wasit meneriakkan kata “mulai”, keempat kaki kedua individu itu langsung melaju mendekati satu sama lain. Dan dalam sekejap, kedua kaki depan mereka saling terangkat dan menghantam satu sama lain. Pertemuan keempat kaki itu menimbulkan suara benturan yang keras, tanah tempat mereka berpijak bahkan telah sedikit retak. Kendati bertarung tanpa menggunakan [mana], kekuatan fisik kedua centaur itu sama sekali tak bisa diremehkan.
“Diatra, kali ini aku pasti mengalahkanmu! Kau akan menjadi istriku hari ini juga!”
Diatra mengembangkan senyum mengejeknya. “Kau sudah mengatakan itu ratusan kali, Elemetra, tetapi tak sekali pun kau bisa mewujudkannya!”
“Kali ini akan berbe—!” Ucapan Elemetra dipaksa terputus kala tiba-tiba Diatra melompat hanya dengan mengandalkan kedua kaki belakangnya, membuat Elemetra hampir saja terjatuh, tetapi pengalamannya yang tinggi membuat sang centaur dapat mempertahankan posisi berdirinya.
Akan tetapi, Diatra yang telah mendarat dengan keras telah menyongsong maju sekali lagi.
Tak ingin dirugikan, Elemetra memutar tubuhnya dengan cepat, dan itu bertepatan dengan Diatra yang melayangkan tendangan kaki depannya ke dada Elemetra. Itu tidak akan baik bagi Elemetra jika membiarkan tendangan itu mengenainya.
Menjadikan kaki depannya sebagai tumpuan, Elemetra dengan segenap tenaga memutar tubuh belakangnya menghantam sisi kiri tubuh bawah Diatra—yang lantas membuat wanita itu terlempar ke kanan.
Untungnya bagi Diatra, dan tak beruntung bagi Elemetra, Diatra mampu menghentikan tubuhnya sebelum melewati garis tepi arena.
“Tak buruk, Elemetra, sama sekali tak buruk! Namun, akan kutunjukkan padamu kalau kau masih terlalu dini untuk mengalahkanku!”
...* * *...
“…Tuan Elemetra dikalahkan Nona Diatra, huh?”
Hernandez tersenyum tipis mendengar ucapan keterkejutan yang keluar dari mulut Kanna. “Itu bukan kali pertama Elemetra dikalahkan Diatra,” ucapnya. “Kau akan terkejut jika mengetahui berapa kali Elemetra sudah dikalahkan oleh Diatra.”
“Berapa kali rupanya?” tanya Retsu penasaran.
“Ratusan.”
Respons itu tidak datang dari Hernandez, melainkan dari Diatra yang sudah mengubah tubuhnya menjadi seperti ras berkaki dua lainnya. Wanita berambut violet panjang itu sudah berada beberapa langkah dari tempat Hernandez dan Retsu duduk di barisan penonton. Di belakang Diatra, Elemetra berjalan mengikuti Diatra sambil menggerutu kesal atas kekalahannya.
“Ah, Nona Diatra….”
“Retsu, sepertinya ini adalah pertama kalinya kau ke sini. Hernandez, seharusnya kau mengajaknya ke tempat-tempat yang bagus daripada menonton pertarungan membosankan itu.”
Retsu mengangguk setuju dengan ucapan Hernandez. “Aku juga baru tahu kalau pertarungan seperti itu ada di tanah tempat tinggal para centaur ini,” tambahnya.
“Ya, informasi itu cukup asing bagi dunia luar,” ucap Elemetra yang sudah berdiri di samping Diatra. “Ck, jika saja mereka membolehkan menggunakan [mana]….”
“Tidak akan adil kalau penggunaan [mana] diperbolehkan,” respons Diatra cepat, menggeleng pelan, kemudian kembali memfokuskan pandangannya pada Hernandez dan Retsu. “Jadi, ada keperluan apa kalian di sini?”
“Pope Gramiel menyuruh kami mengantarkan sebuah gulungan kepada Dewan Enam,” jelas Kanna. “Katanya tugas yang akan diberikan pada kami tertera dalam gulungan itu. Saat ini Dewan Enam sedang membahas gulungan itu, kami diminta untuk menunggu sampai mereka selesai.”
“Kurang lebih seperti itu,” ucap Hernandez membenarkan ucapan Kanna.
“Ah, itu pasti tentang Vegasus!” seru Diatra sambil meninju telapak kanan kirinya. “Akhirnya orang-orang tua itu setuju untuk mengeluarkan Vegasus dari dalam danau bawah tanah!”
“Aku seperti pernah mendengar nama itu,” gumam Hernandez dengan ekspresi setengah berpikir.
“Tentu saja kau pernah!” tegas Elemetra tiba-tiba. “Vegasus adalah kapal tercanggih sepanjang masa, itu adalah peninggalan pendahulu kami sejak ribuan tahun lalu.”
“Hanya saja,” sambung Diatra, “tidak ada lagi yang bisa mengaktifkannya sejak dua ribu tahun lalu. Kapal canggih itu terbengkalai di danau bawah tanah kami. Selain berbahanbakarkan api, kapal tersebut dipenuhi rune yang sangat kompleks. Jadi, jika Hernandez dan Retsu diminta ke sini, itu pasti untuk mencoba memanfaatkan kapal itu dalam upaya menghadapi invasi orang-orang Veria. Pasalnya, kapal itu memiliki….”
Tak lama setelah mendengarkan Elemetra dan Diatra bercerita tentang Kapal Vegasus, Hernandez dan Retsu dengan ditemani kedua centaur tersebut pergi ke balai utama desa—seorang prajurit desa baru saja menyampaikan pesan kalau para dewan menginginkan kehadiran mereka.
Itu adalah bangunan satu lantai yang sederhana. Lebih sederhana dibandingkan semua bangunan yang ada dalam lingkup Aliansi Desa Centaur. Bangunan tersebut berbentuk setengah bola dengan jari-jari sepanjang dua puluh meter. Di atas puncaknya, sebuah tiang platinum berdiri tegak. Di ujung tiang tersebut melekat bendera berukuran sedang yang melambangkan Aliansi Desa Centaur. Dinding-dinding tersebut berlapiskan jerami yang dipintal, tetapi tiang-tiang rangkanya semuanya terbuat dari platinum.
Seperti halnya eksterior bangunan tersebut yang terlampau sederhana, bagian interiornya pun demikian. Lantainya terbuat dari papan yang setengah bagiannya dilapisi karpet. Jika dinding luarnya berlapiskan jerami, dinding dalamnya berlapiskan kain wol yang warnanya didominasi abu-abu. Empat jendela yang masing-masing berada di arah mata angin terbuka lebar, membuat sirkulasi udara di tempat ini berjalan lancar.
Hernandez menemukan diri mereka duduk dalam posisi kaki terlipat di hadapan keenam dewan desa—Elemetra dan Diatra masing-masing ikut duduk di samping dirinya dan Retsu.
“Pope Gramiel telah memuji kemampuan kalian berdua dan mendesak kami untuk setidaknya mengizinkan kalian untuk mencoba mengoperasikan Kapal Vegasus,” ucap seorang dewan, membawa pembicaraan langsung pada inti tujuan mereka berada di balai utama desa.
“Melihat Elemetra dan Diatra bersama kalian, itu mengartikan kalau mereka sudah memberitahu kalian berdua tentang Kapal Vegasus?” tanya anggota dewan enam yang lain.
Hernandez dan Retsu mengangguk serentak.
Keenam dewan desa saling menoleh memandang satu sama lain, sebelum kemudian mereka semua saling mengangguk. Lantas, salah seorang dari mereka berdiri—dia centaur pria dengan rambut abu-abu kusam yang wajahnya dihiasi beberapa kerutan yang sangat kentara. “Ayo, kita akan pergi ke danau bawah tanah,” ajaknya dengan nada ramah, kakinya melangkah melewati Hernandez dan yang lainnya.
Hernandez, Retsu, Elemetra, dan Diatra serentak menundukkan kepala kepada kelima anggota dewan, kemudian keempatnya berdiri dan mengikuti centaur tua yang sudah mendahului mereka.
“Tetua Ramatra, aku pikir sebaiknya kami saja yang memandu mereka ke sana.” Elemetra berkata dengan ekspresi wajah yang menyiratkan sedikit kekhawatiran.
Diatra mengangguk menyetujui. Hernandez dapat mengerti keduanya. Centaur bernama Ramatra itu sudah sangat tua, berjalan agak jauh akan membuat kesehatannya terganggu. Terlebih lagi, dari caranya berjalan Hernandez dapat menebak kalau sang tetua memiliki masalah dengan kaki kirinya. Adalah hal yang bagus untuk tak membuatnya berjalan kaki dalam waktu yang lama.
“Tidak perlu khawatir, Elemetra. Sejak awal menjadi anggota dewan, aku selalu menantikan datangnya hari ini. Kau tak ingin meminta pria tua ini untuk tidak melakukan apa yang selalu ingin dia lakukan, kan?”
“Baiklah kalau begitu, tetapi tolong beritahu kami kalau Anda butuh beristirahat.”
“Tentu saja.”
Danau bawah tanah terletak beberapa kilometer ke arah tenggara desa. Hernandez memang belum pernah masuk, tetapi Elemetra dan Diatra sudah memberitahunya kedua akses untuk masuk ke gua bawah tanah yang sangat luas itu. Akses yang pertama terletak tepat di mulut gua yang berjarak beberapa kilometer dari desa tersebut, sedang akses kedua tersembunyi di dalam salah satu gudang desa.
Melalui akses yang kedua itu, mereka akan melewati sebuah terowongan buatan yang mengarah langsung ke danau tersebut. Jarak yang ditempuh pun lebih pendek melalui terowongan itu—tak sampai setengah perjalanan akses pertama. Dan melihat ke mana Tetua Ramatra itu berjalan, sudah jelas kalau mereka akan melewati terowongan itu.
Terowongan itu sama sekali tidak gelap. Dinding-dindingnya dipenuhi oleh kristal yang berpendar, membuat terowongan dengan jari-jari satu meter itu sedikit temaram. Tetua Ramatra memimpin jalan mereka, dia berjalan sambil sesekali bercerita tentang sejarah pembuatan terowongan rahasia tersebut.
Setelah beberapa lama berjalan, ujung terowongan itu terlihat jelas. Dan di ujung terowongan itu, sebuah danau yang indah seketika memanjakan mata Hernandez dan yang lainnya. Begitu berada di pinggir danau tersebut, Hernandez mendapati air danau yang lebih kecil dari Danau Deus itu sangatlah jernih. Dan dengan banyaknya kristal berpendar yang memenuhi lantai dan dinding-dinding, mereka sama sekali tak membutuhkan sinar mentari di dalamnya.
“Kita berada dua ratus meter di bawah permukaan tanah,” ucap Tetua Ramatra sambil menggestur mereka untuk beranjak ke sisi lain danau, yang lantas dipenuhi Hernandez dan yang lainnya tanpa banyak tanya.
Kala mereka melewati pilar-pilar penopang langit-langit gua yang tadi menghalangi pandangan, ekspresi terkesima seketika mewarnai wajah Hernandez. Hal yan sama pun terjadi pada Retsu. Mereka sama sekali tak mampu menyembunyikan keterkesimaan mereka.