
...—26th January, E643 | Pegunungan Amerlesia—...
Aku masih ingat dengan jelas memori dalam kehidupan sebelumnya, batin Nueva mengusir kepingan memori yang terkilas dalam kepalanya. Kehidupan ini berbeda seratus delapan puluh derajat dengan yang dulu, walaupun kesamaan-kesamaan itu tak terhindarkan.
Nueva—yang sedang duduk bermeditasi di lereng gunung—berhenti berkelana dalam kepalanya saat mendengar langkah kaki yang menghampiri.
Matanya membuka perlahan saat kedua kaki Edward berhenti di sisi kirinya. Meski begitu, ia tidak memandang ke arah sang iblis. Mata merah darah Nueva memandang lurus pada gunung-gunung lain yang juga menjadi bagian dari Pegunungan Amerlesia.
“Apa kau benar-benar berpikir Lilithia bisa membawa Neira ke sini?” tanya sang butler—caranya bicara agak berbeda dengan sebelum-sebelumnya. “Akan lebih aman jika aku turut serta membantunya. Lagipula, persiapan ritual sudah sempurna. Kita hanya perlu menggunakan tubuh Neira untuk memanggil Thevetat.”
“Bagaimana kehidupan di neraka, Edward?” tanya balik Nueva, sepenuhnya menghiraukan pertanyaan dan saran sang iblis.
Mendapati pertanyaan seperti itu, mata Edward spontan menoleh pada sang emperor. “Ada apa dengan pertanyaan itu?” tanyanya sedikit heran.
“Aku belum pernah ke neraka. Aku juga belum pernah bertanya detail padamu tentang neraka. Jadi, karena aku akan ke neraka setelah ini, aku ingin tahu bagaimana kehidupan di sana. Apa yang harus kuekspektasikan saat berada di sana.”
“Begitu, ya. Baiklah, akan kujawab.” Edward menjeda sejenak, turut mendudukkan diri. “Neraka sangat luas, terbagi menjadi neraka dalam dan neraka luar. Iblis dan mayoritas makhluk lainnya hidup di neraka luar. Neraka bagian dalam, atau yang biasa disebut bagian terdalam neraka, adalah wilayah para Thanatos. Para iblis ….”
Nueva mendengar cerita Edward dengan saksama. Tentu saja ia sudah membaca literasi-literasi yang menggambarkan neraka. Namun, mendengarnya langsung dari mulut penghuni neraka lebih kredibel dan lebih detail. Terlebih lagi, Mammon adalah satu dari enam Jendral Iblis. Dia tahu lebih banyak tentang neraka dibandingkan catatan apa pun atau iblis biasa mana pun.
“Berbicara tentang neraka, kapan kau akan menyuruhku membawa Monica ke sini?” tanya sang iblis setelah selesai bercerita. “Dengan lenyapnya Danau Deus, hanya menggunakan darah iblis takkan cukup. Jika pun cukup, itu akan memakan waktu yang lama—bisa berminggu-minggu. Jiwanya perlu dikorbankan, itu akan berperan sebagai kunci.”
“Xavier telah berhati-hati dalam masalah Monica,” lanjut Edward sebelum Nueva merespons. “Dia sengaja menyuruh gadis itu bekerja langsung pada Kanna untuk mewanti-wanti datangnya hari ini. Tapi aku yakin dia tak mengatakan alasan sebenarnya. Takkan sulit membawanya ke sini. Jika pun Kanna menghalangi, itu tetap takkan masalah. Aku bisa membawanya ke sini dengan cepat. Lantas, kenapa kau belum menyuruhku?”
“Bukan bermaksud meragukanmu,” kata Nueva seraya bangkit berdiri. “Tapi, apa kau memang bisa mengelabui Kanna? Ini hanya firasatku saja, tapi kemungkinan besar dia sudah tahu apa yang tak seharusnya dia ketahui. Aku khawatir dia sudah tahu kalau identitasmu sebagai Edward Penumbra adalah palsu. Jika aku menyuruhmu, aku khawatir kau tak akan bisa kembali.”
Mendengar alasan itu, Edward turut berdiri. “Kekuatan Kanna memang tak mungkin disangkal,” katanya dengan kening mengernyit. “Dia telah menjadi sangat kuat. 0 persen peluangku bisa mengalahkannya. Namun, Nueva, aku tidak perlu bertarung dengannya untuk menculik Monica. Kita tak selalu perlu bertarung untuk menang.”
“Bukan itu maksudku,” terang Nueva. “Aku tak khawatir kau bisa mengatasi gangguan dari Kanna tanpa perlu bertarung dengannya. Aku tak pernah meragukan kau bisa diandalkan dalam hal itu. Namun, Edward, kau melupakan satu fakta.”
“Aku melupakan satu fakta? Oh, biarkan aku mendengarnya. Hal apa yang kulupakan hingga kau ragu menyuruhku?”
“Kanna pengguna [Rune Magic]. Tak menutup kemungkinan dia sudah memasang perangkap pada kulit atau pakaian Monica. Kau masih belum lupa bagaimana merepotkannya mengatasi perangkap yang Hernandez buat, kan? Dan Kanna lebih kuat dan lebih kreatif dari Hernandez.
“Tentu saja itu hanya asumsi. Belum tentu Kanna benar-benar telah menyiapkan perangkap. Namun, Edward,” Nueva menjeda sembari meletakkan tangan kirinya pada pundak kanan sang iblis—mata merah darahnya memandang intens sang butler. “Aku tak mau mengambil risiko. Bukankah kau harus melayaniku sebagaimana kau melayani Lucifer? Siapa yang akan melaksanakan perintahku jika kau tak kembali?”
“…Dan karena itu kau tak mau mengirimku membawa Monica ke sini?”
Bibir Nueva melengkung, tangannya yang bebas turut hinggap di pundak Edward yang satunya. “Tak perlu khawatir,” katanya serius. “Setelah aku menjadi dragonoid, kita akan langsung mendatangi Monica. Aku harus mendapatkan [Complete Annihilation] hari ini juga.”
Edward menghela napas. “Aku tak berpikir kau akan menghargaiku lebih dari apa yang ditunjukkan Tuan Lucifer. Aku tak salah telah memilihmu. Baiklah, aku iku—!”
Ucapan Edward tertahan. Kedua matanya melebar. Bagian bawah tubuhnya telah membeku secara instan. Jantungnya berdetak semakin pelan dan pelan. Dan secara perlahan, tubuh bagian atasnya turut membeku.
“Apa maksudnya ini, NUEVA?!”
Nueva menarik kedua tangannya dari kedua pundak sang iblis, menoleh kembali memandang lurus pada gunung-gunung. Pada saat yang bersamaan, semua bagian tubuh Edward membeku total—hanya menyisakan kepalanya saja yang memucat hebat.
“Jelaskan, apa maksudnya ini?!”
“Kau bertanya apa maksudku? Bukankah itu sudah jelas?” Pandangan Nueva kembali pada Edward, dan kali ini wajahnya datar dengan pandangan gelap. “Aku bermaksud menghabisimu. Aku menolak menjadi pionmu.”
“Pion? Kau sudah gila?! Tak sekali pun aku melakukan hal yang berlawanan dengan keinginanmu. Tak sekali pun aku memanfaatkanmu!”
“Kalau begitu, katakan, mengapa kau ingin aku langsung ke neraka setelah menjadi dragonoid?” Nueva tak menanti jawaban Edward. “Kau ingin Lucifer mengambil kekuatanku, bukan begitu? Kau ingin memberikan [Eternal Zero] pada Lucifer. Atau, kau ingin mempersembahkan tubuhku untuk dihuni jiwa Lucifer. Bukankah tubuh Lucifer tak lagi mampu menampung kekuatannya?”
Edward memandang sang emperor tanpa mengerjap. Kemudian dia menghela napas panjang, lelah. “Aku mengerti sekarang. Selama ini kau tak pernah memercayaiku. Saat aku memberimu kesetiaan, kau memandangku sebagai alat yang berguna. Heh, manusia memang lebih mengerikan daripada iblis.”
“Kau keliru, Mammon,” sangkal Nueva. “Aku percayai pada ucapanmu yang akan membantuku menjadi dewa. Sedikit pun aku tak meragukan itu. Yang kuragukan hanya satu: kesetiaanmu. Kau tak menjawab asumsiku, tapi itu tak diperlukan. Itu sudah jelas. Namun begitu, aku tetap mengapresiasi semua jasamu selama ini. Tapi sekarang peranmu telah berakhir. Aku tak lagi memerlukanmu.”
“Terserah jika kau menganggapku pengkhianat,” tegas Nueva seraya mendorong tubuh Edward. “Sejak awal, aku tak percaya siapa pun. Kau hanyalah pion yang sangat berguna. Dan, dewa tak memerlukan siapa pun.”
Sang iblis pun terjatuh dari gunung yang tinggi, dan pada saat itu seluruh kepalanya telah membeku. Namun begitu, pandangan tak percaya tetap memancar dari mata sang iblis. Tetapi Nueva hanya memandang datar tanpa emosi.
“Beristirahatlah dengan tenang, Mammon, peranmu telah berakhir dengan sangat sempurna.”
...»»» End of Chapter 41 «««...