
—24th June, E642 | Imperial Palace, Nevada, Vermillion Empire—
KETIKA Xavier tiba di ruangan kerja Kanna, sudah ada Emily dan Annabel di sana. Xavier tahu Emily akan menjadi Eleventh Commander, tak mengherankan dia di sana. Namun, Annabel? Apa yang Kapten Chiron Army-nya Achilles lakukan di sini? Apa dia yang akan mengisi posisi Third Commander? Xavier sulit memercayai itu; kemampuan Annabel tak cocok untuk memimpin divisi multifungsi itu.
“Lama tak bertemu, Kap—ah, Commander!”
“Annabel, …jangan bilang kalau Achilles melepasmu dari Chiron Army.” Xavier tak menyembunyikan keheranannya, melangkah menghampiri mereka. Tidak ada kursi lain di sana, dan sofa terletak agak jauh dari meja Kanna, karenanya Xavier terpaksa berdiri.
“Tentu saja tidak, dan aku pun tak tertarik untuk keluar dari Chiron Army. Kami adalah yang terelite dari yang terelite; tidak mungkin aku mau melepas posisi kapten. Selain karena lebih bebas, bonus yang lebih besar, tanggung jawabku tak sebesar commander.” Annabel tertawa lebar, kemudian ekspresinya mendadak serius. “Aku di sini untuk keperluan pribadi, hanya ingin mengonfirmasi.”
Xavier tidak perlu berkomentar lebih lanjut setelah mendengar pengakuan itu. Ia hanya bergumam “oh”, sebelum kemudian memfokuskan pandangan pada Kanna. Ia ingin menanyakan kehadiran pengganti Third Commander, tetapi Annabel tiba-tiba berdiri dari kursinya.
“Urusanku sudah selesai di sini, terima kasih konfirmasinya, Yang Mulia.” Kemudian Annabel memandang Xavier intens. “Tentang Commander Nizivia…Chiron Army akan selalu mengingat namanya, Commander Xavier. Dia takkan dilupakan. Kami akan membuat epigraf untuknya di desa kelahiran wakil kapten kami.”
Annabel menepuk pelan pundak Xavier, sebelum kemudian melangkah berlalu, tapi tidak sebelum berbisik pelan, “Kalian berdua akan selalu menjadi kapten dan wakil kapten kami.”
Keheningan mengisi ruang kerja Kanna selama beberapa saat, sebelum kemudian absennya suara diisi oleh Meyrin yang baru datang dengan tiga gelas kopi.
Xavier mengerjap, mendudukkan diri di kursi yang telah kosong. “Terima kasih, Meyrin,” katanya (yang hanya dibalas dengan anggukan), menyeruput cairan hitam itu dua tegukan.
Meletakkan gelas berisi kopi di meja, Xavier memandang asistennya. “Selamat atas promosimu menjadi Eleventh Commander, Emily, terima kasih untuk bantuanmu selama ini.”
Emily mengangguk pelan mendengarnya.
“Lantas, siapa yang mengisi posisi Third Commander?” tanya Xavier, mengalihkan pandangan pada sang putri.
“Edelweiss von Adhelphina.”
Edelweiss…dia wakilnya Nizivia. Xavier tidak bisa mengatakan mereka dekat, tetapi ia memastikan diri mengenal wanita itu karena perannya untuk Nizivia. Karenanya, ia tidak ragu jika dia bisa memimpin Divisi 3 dengan baik. Terlebih lagi, sebelumnya dia juga salah satu kapten dari Divisi 3. Namun begitu….
“Bagaimana dengan wakil dari Lumeira? Bukankah dia lebih pantas menjadi pengganti pengkhianat itu?”
“Tewas. Paman Edward membunuhnya; dia terbukti jelas sebagai pengikut Lumeira yang taat. Bahkan, banyak dokumen rahasia penting yang telah dihancurkannya. Jika Paman Edward tak bertindak cepat, markas Divisi 3 sudah pasti hancur.”
Xavier mengangguk mengerti. Jika diketahui ada seorang pengkhianat dalam suatu organisasi, tentu hal utama yang harus dilakukan adalah menemukan pengikutnya. Jika mereka tidak ditumpas, itu akan sangat berbahaya. Masalah yang mereka timbulkan akan lebih sulit diatasi jika tidak ditindak lebih awal.
“Lalu, mengapa Edelweiss belum ke sini? His Majesty mengatakan ini akan menjadi kerja sama antara Divisi 12, Divisi 11, dan Divisi 3. Apa insiden itu membuat keberpartisipasian Divisi 3 dibatalkan?”
“Benar katamu, Xavier. Divisi 3 sedang dalam masalah, struktur internal mereka harus segera dibenahi. Edelweiss memiliki perkerjaan rumah yang banyak; ia bahkan sudah meninggalkan perkemahan para prajurit Divisi 11 tadi malam. Karenanya, Emily, setelah aku melantikmu setelah ini, kau harus langsung ke sana.”
Xavier mengangguk mendengar penjelasan Kanna, dan Emily menganggak mendengar instruksi sang putri.
“Jika tidak ada yang perlu dibasa-basikan lagi, kita langsung saja pada topik utama mengapa kita bertemu sekarang.”
Kelembutan dalam ekspresi Kanna sekonyong-konyong menghilang, Xavier tersenyum dalam hati melihatnya—sulit untuk tidak “tidak menyukai” wanita ini. Dia adalah wanita ideal yang seorang wanita bisa angankan, tak heran Nueva memfavori—eh, apa yang baru saja kupikirkan?
Xavier mengerjap. “Tentu saja,” responsnya secara refleks. “Aku tidak sedang melamun. Silakan, lanjutkan.”
Kanna mengernyit sesaat, sebelum kemudian membuka mulut melanjutkan penjelasannya. “Kita akan menyerang….”
...—Evrillia, Elf Kingdom—...
Reinhart sama sekali tak terkejut saat dirinya dipersilakan langsung ke Royal Tree, padahal ia baru menunggu kurang dari setengah jam. Namun, situasi sedang genting; Reinhart baru akan terkejut jika ia diminta menunggu hingga siang tiba. Dan Reinhart akan merasa prihatin jika ia diminta menunggu sampai besok.
“Silakan ke sini, Fourth Commander, Her Majesty sudah menanti.”
Reinhart tidak memberi respons verbal, hanya mengangguk dan mengikuti sang prajurit. Dan tak berselang lama, ruang singgasan akhirnya terlihat. Reinhart berjalan dengan penuh wibawa. Saat ia datang mewakilkan kekaisaran seperti ini, ia tidak bisa selain mengeluarkan semua yang terbaik dari dirinya.
“Silakan masuk, utusan Vermillion Empire.”
Pintu besar itu seketika terbuka, karpet merah membentang panjang hingga ke ujung ruangan. Dan di sana, pandangan Reinhart bertemu pandangan tajam Evillia Evrillia, sang ratu dari Elf Kingdom yang besar.
Menarik napas dalam-dalam, kaki Reinhart melangkah dalam tempo yang sedang dan elegan sekaligus penuh kesigapan. Namun, baru setengah karpet ia langkahi, Reinhart tiba-tiba dikepung oleh tiga orang berseragam hitam: satu di belakang, satu di kiri, dan satu lagi di kanan.
“Fourth Commander Reinhart von Aldebaran, jangan bergerak. Bacakan surat yang kau bawa sekarang juga.”
Reinhart tidak menyembunyikan ketidaksenangannya. “Apa begini cara kalian memperlakukan seorang utusan?” tanyanya tidak suka, Reinhart mengabaikan diri dari menunjukkan kesopanan—tidak perlu sopan pada mereka yang tak sopan.
“Tidak ada penghormatan yang bisa diberikan pada Vermillion Empire. Sekarang, bacakan surat yang kau bawa. Jika tidak, kami terpaksa menganggapmu penyusup dan mengatasimu sekarang juga.”
Reinhart terang-terangan mendengus, tetapi tangannya seketika mengeluarkan gulungan surat dari dalam saku jubah commandernya. Bukan, Reinhart bukan takut pada ancaman mereka. Ia diminta Kanna untuk menyampaikan surat yang ia bawa. Perlakuan dan reaksi mereka tidak penting.
“Baiklah, ini surat yang ditulis sendiri oleh Her Highness Kanna el Vermillion. Aku takkan mengulanginya. Jadi, simak baik-baik.”
Reinhart membuka gulungan surat dan mengangkatnya ke depan setinggi dada, kemudian membuka mulut membacakannya:
“Kepada, Her Majesty Evillia Evrillia sang penguasa Elf Kingdom yang berjaya. Dari, pelaksana tugas His Majesty Emperor Nueva el Vermillion, Kanna el Vermillion. Dengan penuh penghormatan, dan sekaligus penyesalan, surat yang tak seharusnya saya tulis ini terpaksa saya tuliskan.
“New World Order telah—tidak sekali, atau dua kali, tetapi lebih dari itu—secara terang-terangan menyerang kedaulatan, kebebasan, dan kedamaian Vermillion Empire. Dimulai dari penyerangan terhadap Kapal Padoru-Padoru yang membawa misi penting bagi perekonomian kekaisaran, hingga aksi terakhir yang hampir menewaskan dua commander kebanggaan kekaisaran. Padahal Islan mendengar mereka menyeru perdamaian, tetapi mereka justru membawa kemungkaran.
“Oleh sebab itu, Vermillion Empire dengan ini menyatakan perang terhadap New World Order. Karena Elf Kingdom adalah ‘tetangga’ baik Vermillion Empire, kami mengharapkan kalian meninggalkan organisasi penebar benih peperangan itu dan marilah kita bekerja sama membangun Islan yang lebih baik. Kami sangat menghormati Elf Kingdom yang berjaya, karena itu sangat kami harapkan permintaan ini dipenuhi.
“Kemudian, Vermillion Empire mengekspektasikan Elf Kingdom untuk menyerahkan semua anggota Deus Chaperon, terutama El yang (berdasarkan intel kami) bersembunyi di Elf Kingdom. Jika tidak bisa, kami menginginkan semua informasi tentang mereka. Jika menolak memenuhi ekspektasi kami, itu artinya permintaan baik yang kekaisaran ajukan tidak diindahkan.
“Jika begitu, tidak ada jalan lain bagi Vermillion Empire selain menghancurkan New World Order sendiri. Imperial Army akan membawa keadilan dan memberantas segala hal yang berhubungan dengan New World Order di Elf Kingdom. Karena Elf Kingdom merupakan anggota pengusung New World Order, kami takkan segan-segan menyelamatkan kalian dari mereka.
“Benar, kami tidak mencari pembenaran untuk menyerang Elf Kingdom. Kami hanya menginginkan keadilan bagi Vermillion Empire. Tinggalkan New World Order, serahkan El. Atau, bersiaplah menyambut Imperial Army yang perkasa. Kita semua membenci perang; dengan sungguh hati kami harapkan Imperial Army tidak perlu menghunuskan pedang.
“Saya yang melaksanakan tugas yang diamanahkan His Majesty Emperor, Kanna el Vermillion, berharap penuh akan respons yang positif dari Her Majesty Evillia Evrillia. Namun, jika keinginan ini tak disambut indah, besok pagi Imperial Army akan memacu kaki ke Hutan Besar Amarest. Keadilan harus ditegakkan. Salam, Kanna el Vermillion.”