Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 7: Blood in the Forest, part 5



Luciel hanya bisa memandang mengernyit pada individu di hadapannya. Dia sedang tidak menggunakan kekuatan seraphim, tetapi dia lebih kuat dari waktu itu. [Reverse Law]-nya tidak bekerja pada tubuh gadis itu. Jangankan menghentikan mobilisasinya, mengubah arahnya saja ia tak bisa. Dan yang paling jelas, hawa Edenia dalam diri Kanna lebih kental terasa dibandingkan saat dia menggunakan kekuatan seraphim.


“Apa kau diberkahi Edenia secara langsung?” Luciel akhirnya memaksakan diri bertanya. “Atau, kau sudah pernah bertemu Edenia?”


“Kau memercayai keberadaan Edenia.”


Itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan. Dan Kanna tidak memberinya jawaban, dia hanya mengatakan kenyataan kalau ia memercayai eksistensi Edenia. Mengatakan dalam kata yang tak berbasa-basi, Kanna mengabaikan pertanyaannya. Hal itu otomatis memberinya kesimpulan.


“Kau tidak menyukaiku?”


“Itu pertanyaan bodoh.” Kanna dengan kedua tangan yang memipih menjadi bilah pedang kembali menyerang. “Kau akan mempertanggungjawabkan kesalahanmu.”


Luciel tak berminat melakukan kesalahan lagi. Tangan kosong Kanna saja sudah sakit, ia tak ingin mencoba memblok bilah tajam itu. Jadi, ia berteleportasi. Pada saat yang bersamaan, petir dalam intensitas tinggi berkumpul di tangan kanan Luciel. Petir itu kemudian menembak ke langit, dan seketika awan gelap berkumpul di atas sana.


“Ini agak memalukan menggunakan spell Mariel, tapi apa boleh buat. Mariel Judgment!”


Dalam satu raungan, awan gelap itu memuntahkan petir dalam intensitas yang begitu besar. Itu begitu masif, dan begitu cepat—hampir mendekati cahaya. Itu spell yang mustahil bisa dihindari jika tak punya kecepatan reaktif yang mengesankan. Itu spell yang pasti mendebukan mereka yang terkena.


Namun, semua petir yang terkumpul menjadi satu sambaran yang membahana itu terserap oleh ujung bilah pedang Kanna. Dan sebelum Luciel sempat menanyakan apa yang dia lakukan, bilah pedang Kanna yang satunya menembakkan petir yang diserapnya dalam kuantitas yang dua kali lebih besar.


Hanya pengalaman yang membuat Luciel dapat menghilangkan petir itu dengan [Reverse Law]. Jika ia tak punya pengalaman, ia sudah pasti akan terlambat dalam mengatasi serangan itu. Tangannya bahkan sedikit berasap akibat tersentuh ujung petir itu untuk beberapa puluh mikro detik.


Dan Luciel tidak memiliki kesempatan untuk melakukan apa pun; tepat saat petir menghilang, Kanna sudah mengarahkan kedua telapak tangannya ke depan. Temperatur menurun begitu drastis sampai molekul udara tak mampu bergerak. Tubuh Luciel tidak bisa ia gerakkan—dan ia bisa merasakan tubuhnya mengeras hingga mendekati titik musnahnya. Ia tidak bisa meraih mana untuk menggunakan [Reverse Law]. Dan ia tahu saat spell Kanna selesai ia akan—


“Full Release: Eternal Zero.”


—Luciel membelalak penuh keterkejutan saat tubuhnya tiba-tiba kembali normal. Ia sudah berpikir tubuh kreasi [Division Magic] ini akan sirna dan ia akan kembali ke tubuh Xavier. Namun, ia masih berada di tubuh ini, seolah tidak pernah terkena efek [Eternal Zero]. Dan yang paling menyita perhatian, dunia tempatnya berada didominasi warna ungu kehitaman.


“Dirimu berhutang besar pada diriku, Luciel.”


Suara itu datang tepat dari belakang Luciel, membuatnya spontan menoleh. Dan matanya seketika berhadap-hadapan dengan individu yang tidak ia ekspektasikan.


“Vermyna…Hellvarossa?”


Vermyna secara instan berada di samping Luciel, matanya memandang intens Kanna yang berada di luar dimensinya.


“Melihat dirinya bisa menggunakan kekuatan [Eternal Zero], itu artinya dirinya sudah memaksa diri Nueva untuk serius. Mengesankan. Dan lebih mengesankan lagi, dirinya bisa menggunakan Kurtalægon dengan sempurna. Pedang itu akan menyimpan spell sihir apa pun yang diserapnya, dan dirinya selalu bisa menggunakannya dengan Fungsi Release yang ada pada Kurtalægon.” Vermyna menjeda, melirik Luciel yang terdiam. “Dirimu akan mati jika meremehkan Kurtalægon, Luciel. Bahkan diriku tidak tahu seperti apa kekuatan Kurtalægon yang sudah disempurnakan.”


“Kurtalægon?” Luciel belum pernah mendengarnya. Ia baru berada di permukaan dunia ini sejak Xavier lahir. Dan itu lebih dari seribu tahun setelah pertarungan terakhirnya dengan Lucifer.


“Hernandez awalnya membuat pedang itu sebagai senjata terkuat di semesta, tetapi kemudian dirinya mencoba menjadikan pedang itu sebagai kunci untuk menginvasi Throne of Heaven. Artinya, pedang itu bisa mengakses Throne of Heaven, dan dia bisa mengontrolnya tanpa perlu merebutnya dari Edenia. Mengubah takdir. Menulis ulang dunia. Membuka gerbang surga. Membuka gerbang neraka. Kurtalægon adalah masterpiece. Dirimu tentu mengerti, semesta adalah rajutan hukum. Dan hukum bisa dengan mudah diintervensi.”


“Hernandez sang legenda Blacksmith, huh?” Luciel tidak mengekspektasikan ada manusia yang bisa melakukan itu. Hernandez, dia pantas mendapat respeknya. “Mengesampingkan hal itu (dan juga penyelamatan atasku), ada apa kau ke sini?”


“Untuk bergabung dengan New World Order, tentu saja. Diri kita memiliki musuh yang sama; Fie Axellibra lebih kuat dari yang kubayangkan. Dan diriku juga ingin menghabisi diri Edenia yang hina.”


...—bersama para prajurit—...


Elven Army tersudutkan. Imperial Army sekali lagi menunjukkan keperkasaan mereka. Black Shadow merepotkan, tetapi para kapten setiap batalion benar-benar memperlihatkan mengapa mereka dipilih sebagai kapten. Pandangan mereka tajam; mereka mengerti bagaimana mengontrol para prajurit di medan perang ‒ mereka paham kalau mengatasi setiap kapten Black Shadow akan membuat moral Elven Army turun. Skuad 9 Black Shadow terbukti yang paling merepotkan, tetapi bahkan mereka pada akhirnya bisa dipukul mundur.


Seperti halnya Elven Army, Menez dan Atland pun menjumpai jalan buntu. Menez tak bisa mengalahkan klon Kanna spesialis kombat. Ilusinya tak bekerja; musuhnya seolah imun akan ilusi. Sementara itu, meskipun tiga klon Kanna itu bukan spesialis kombat, kerja sama mereka membuat Atland terjepit. Hanya masalah waktu sampai mereka dikalahkan. Hanya masalah waktu sampai Elven Army ditaklukkan.


Setidaknya, hal itu takkan terelakkan seandainya Vermyna dan rombongannya tidak secara tiba-tiba hadir di tengah-tengah medan pertempuran.


...—bersama Kanna—...


Sejak ia merasakan kehadiran El menghilang secara tiba-tiba, sejak itu pula Kanna merasakan firasat buruk. Dan itu terbukti benar saat keempat klonnya menghilang—ia merasakan koneksinya dan mereka menghilang. Ia tidak tahu apa yang terjadi, tetapi jelas para prajuritnya sedang menghadapi situasi yang berbahaya. Pun ia mendapati Xavier tidak hanya menghadapi Evillia, tetapi juga dua orang vampire.


“Vampire Kingdom membantu Elf Kingdom?” Kanna mengernyit, tetapi kernyitannya menghilang mengingat Lumeira sudah mengkhianati kekaisaran. “Mereka memusuhi kekaisarannya juga….”


“Itu seperti yang dirimu asumsikan, Kanna el Vermillian.”


Suara itu datang dari portal ruang yang tercipta secara instan di tempat sebelumnya El berada. Dari dalamnya keluar sosok El dan seorang wanita…yang memiliki sedikit kemiripan dengan Nizivia.


“Hari ini, Vampire Kingdom menggabungkan diri ke dalam New World Order. Sebagai bukti kesungguhan, diri kami akan membantu Elf Kingdom menghancurkan pasukan kekaisaran yang mencoba menginvasi negeri sekutu kami.”


...«««End of Chapter 7»»»...