
Kimmy terus menangis menahan rasa sakit secara fisik dan rasa sakit dengan hatinya, berkali-kali dia menangis histeris di dalam kamar, Kimmy begitu kecewa terhadap Edward karena sebagai seorang suami dia tidak percaya akan kesetiaan istrinya
Rasa sesak di dalam dadanya sangat besar sudah berjam - jam Kimmy menangis, Kimmy berdoa kepada Tuhan dan menceritakan kepadaNYA bahwa dia sudah tidak kuat lagi menghadapi semuanya.
Kimmy hanyalah seorang wanita biasa yang tetap membutuhkan kasih sayang dan tetap ingin diperlakukan dengan baik oleh laki-laki yang dicintainya
"Tuhan kenapa aku seperti ini hiks,hiks,hiks, apakah aku salah sudah mempertahankan pernikahan ini? apakah aku salah jika aku memutuskan berjuang untuk suamiku?, apakah aku jatuh cinta pada laki-laki yang salah hiks, hiks, hiks lalu Tuhan kenapa Engkau mengizinkan aku untuk memenangkan kompetisi ajang pencarian menantu ketika pada waktu itu aku sudah berdoa kepadamu dan meminta aku tidak ingin menang, apakah aku begitu kuat Tuhan sehingga Engkau memilih diriku untuk berhadapan dengan laki-laki yang bernama Edward?
Tuhan aku hanya ingin dicintai, aku ingin dipercaya, aku hanya ingin diperlakukan seperti wanita pada umumnya, Tuhan kau dengar aku tidak sih hiks, hiks, hiks, hiks kenapa seolah Kau diam saat aku berdoa kepadamu hiks, hiks, hiks aku tidak kuat lagi Tuhan, aku tidak kuat "
Kimmy menceritakan segala kesedihan yang di alami nya di dalam sebuah doa, saat ini Kimmy merasa berada di dalam titik terendah di dalam hidupnya, Kimmy yang mencoba terus berdoa dan percaya bahwa harapan itu masih ada meskipun sampai saat ini dia masih diperlakukan kasar oleh suaminya,detik ini Kimmy mulai meragukan sebenarnya apakah harapan itu ada? apakah Edward betul - betul bisa disembuhkan?
Perasaan Kimmy yang sedang tidak stabil membuat dirinya memiliki pemikiran yang tidak - tidak,Kimmy yang menyadari akan hal tersebut kembali berteriak di dalam doa nya.
"Tuhan maafkan aku yang meragukan mu, Tuhan aku hanya ingin suamiku sembuh, Tuhan aku tau Kau akan membantu dan tidak akan pernah meninggalkan ku, aku tidak mau bercerai hiks, aku mau memenangkan masalah ini hiks, hiks, hiks"
Kimmy yang sedari tadi menjerit dan menangis pada akhirnya tidur karena kekalahan, tidur dalam keadaan terluka dan rasa cinta yang begitu dalam.
Sementara Edward melajukan mobil nya dengan kencang dan kini dia sudah sampai dikamar hotel milik Chandradinata Corp.
"Buka penutup mata dan ikatan gadis tersebut"
Edward memerintahkan para pengawal yang sudah berhasil menangkap Liyana untuk melepas ikatan yang melekat pada tubuhnya
Liyana yang berhasil di temukan oleh para pengawal Edward diculik dengan paksa dan saat ini dibawa ke dalam kamar hotel tersebut, Liyana begitu ketakutan ketika para pengawal membuka penutup mata dan dia melihat sosok Edward memandang dirinya dengan tajam.
"Tinggalkan kami berdua dan kalian tetap berjaga di depan pintu kamar hotel ini, Don kau juga harus berada di depan pintu kamar hotel
"Baik tuan Edward saya akan berjaga di depan"
Setelah semua pengawal pergi tinggalah Liyana dan Edward didalam kamar.
Sosok Liyana mengingat kan Edward akan istri yang dicintainya nya, rasa lapar akan gairah yang belum tertuntaskan akibat amarah yang dirasakan dirinya saat dia mencumbu Kimmy, membuat Edward ingin kembali melakukan permainan gila nya kembali.
Edward mendekati gadis tersebut dan mencengkram tangannya
"Tuan lepaskan aku,saat ini aku bukanlah seorang nona malam yang bisa tuan tiduri se enaknya lagi, aku hanya gadis biasa yang sudah di tembus oleh seseorang yang berbaik hati padaku, jadi kumohon tuan lepaskan aku, lepaskan aku"
Liyana mencoba untuk kembali memohon kepada Edward agar dirinya dilepaskan, namun Edward sama sekali tidak mendengarkan suara Liyana yang mulai menangis ketakutan
Mata Edward masih merah karena amarah dan dirinya masih dikuasai oleh amarah tersebut.
Dengan kasar Edward mulai menarik baju Liyana dan dalam hitungan beberapa detik semua kancing baju Liyana berhamburan di lantai
Edward melucuti baju yang dikenakan Liyana dengan paksa, Liyana mencoba untuk melawan namun kekuatan gadis itu terlalu kecil untuk Edward
Liyana terus mencoba untuk melawan dengan sekuat tenaga dan Edward mulai cukup kewalahan dalam menghadapi gadis tersebut
Liyana terus memberontak meskipun Edward mencoba untuk terus menamparnya berkali-kali, Edward masih terus berusaha untuk mengikat ke dua tangan Liyana namun karena Liyana terus memberontak usaha Edward belum membuahkan hasil.
"Brak!! Liyana berhasil mendorong Edward beberapa langkah dari dirinya, kepala Edward terbentur oleh tembok sehingga membuatnya sedikit oleng
Kesempatan itu digunakan Liyana untuk bangkit dari tempat tidur dan mengambil pakaian nya dia berlari menuju pintu kamar, namun belum sempat dia menyentuh pintu kamar Edward kembali meraih nya dan melemparkan Liyana ke tempat tidur, Edward mencoba mencumbu nya dengan kasar namun Liyana berusaha keras untuk tetap berontak, Edward tidak hilang akal dia menindih Liyana dan mencoba untuk memegang ke dua tangan nya.
"Diamlah ini hanya sebentar setelah ini aku akan melepaskan mu dan kau kuberikan imbalan yang sangat besar"
"Tidak tuan aku tidak mau!! "Liyana menjerit, meronta-ronta, tangannya berusaha untuk mengapai apa yang bisa di gapai nya saat ini, sampai pada satu titik tangan Liyana berhasil meraih satu vas bunga yang berada di meja sebelah tempat tidur tersebut dan tanpa ragu Liyana segera memukulkan vas bunga tersebut ke kepala Edward
Seketika Edward berhenti melakukan permainan gila nya, darah mulai mengalir dari kepala dan ada rasa sakit di sekitar kepala akibat pukulan vas bunga yang diberikan oleh Liyana, Edward mulai terhuyung mundur mencari-cari sesuatu untuk menghentikan perdarahan nya.
Sementara itu liyana segera bangkit dari tempat tidur, kembali membawa pakaiannya dan menuju ke pintu kamar tersebut, namun saat dia mencoba untuk membuka nya, pintu tersebut terkunci dengan rapat oleh kata sandi yang hanya di mengerti oleh Edward.
"Tolong buka pintu nya, tolong buka, aku tidak mau berada disini, tolong"
Liyana mengedor - gedor pintu tersebut dalam waktu yang cukup lama, sementara Edward yang sibuk mencari obat untuk menghentikan perdarahan nya tiba-tiba menjadi sangat marah melihat kelakuan Liyana.
"Hei gadis bodoh diam, diam!!! "
Liyana sama sekali tidak mendengarkan perkataan Edward sampai pada akhirnya
Dor, dor, dor
Terdengar bunyi suara tembakan yang dilakukan Edward ke arah Liyana, ya Edward menembak ke dua kaki Liyana untuk memintanya diam
" Ttttuaaan, tttuaan""
Liyana yang menyadari bahwa kakinya tertembak segera jatuh ke lantai dan syok melihat banyak darah yang keluar dari dirinya.
"Ttttuaaan, Tttuan anda kejam"
Karena kaget Liyana langsung tak sadarkan diri sementara itu Edward langsung memanggil Doni dan para pengawal masuk ke dalam kamar.
"Don kau urus gadis itu, jika ada cacat pada ke dua kaki nya berikan imbalan yang besar"
Doni sangat terkaget dengan peristiwa yang di lihat nya saat dia memasuki ruangan, baru kali ini Edward menggunakan senjata api untuk seorang gadis, Doni melihat gadis tersebut sudah pingsan dengan mengeluarkan banyak darah, segera Doni meminta para pengawal untuk membawanya ke Rumah Sakit
"Tuan anda terluka, apakah saya perlu memanggil dokter untuk tuan?
"Tidak perlu aku bisa mengobati nya sendiri, kau urus saja gadis itu pastikan tidak ada media yang memberitakan kejadian ini"