
“ Selamat pagi Helen”.
Satu wanita dengan senyumannya yang lembut menyapa
putri kecilnya yang baru saja turun dari lantai dua.
“ Pagi mama Kiara.”
Dengan penuh kasih sayang Helen datang dan langsung
memeluk sang ibunda tercinta.
“ Bagaimana, apakah semuanya sudah siap? Hari ini
pertama kali kamu kembali ke sekolah setelah libur panjang”.
Dengan penuh perhatian sang ibunda mengatakan hal
tersebut sambil memeluk erat putri kecil semata wayang yang paling dia cintai.
“ Semuanya sudah siap ma, hari ini Helen sudah kelas
dua SMP, Helen senang sekali.”
Ada satu kebahagian yang terpancar dari sang gadis
kecil saat mengatakan hal tersebut kepada ibunda tercinta.
“ Mama juga senang sayang, mama semakin melihat
bahwa putri mama ini sudah tumbuh menjadi seorang gadis.”
Kiara sang ibunda tercinta mengatakan hal itu sambil
melihat dengan ke dua matanya yang penuh dengan cinta.
“ Helen mandi dulu ya ma, setelah ini kita sarapan
bersama, hari ini mama yang akan mengantar Helen kan ke sekolah?”
Dengan cepat Kiara langsung menganggukan kepalanya.
“ Pasti mama sendiri yang akan mengantarkan putri
cantiknya mama ini ke sekolah.”
“ Terima kasih ma.”
Helen mengatakan hal itu sambil mencium pipi sang
ibunda lalu kembali ke dalam kamarnya yang ada di lantai dua untuk bersiap –
siap.
“Sayang kau sudah semakin besar, aku akan bertambah
ekstra untuk menjaga mu nanti.”
Kiara mengatakan hal tersebut sambil tersenyum,
Kiara sangat menyadari Helen dengan perlahan tumbuh menjadi gadis yang cantik,
rambutnya yang hitam panjang, kulitnya yang putih serta lesung pipit yang
menghiasi pipinya ketika tersenyum membuat sang gadis tersebut terlihat semakin
cantik.
“Ah aku harus segera bersiap – siao, sebentar lagi
toko buka.”
Kiara mengatakan hal tersebut lalu meletakkan
secangkir kopi di meja dan langsung beranjak ke dalam kamar mandi.
Kiara adalah seorang novelis yang sudah menulis
puluhan novel terkenal, selain sebagai seorang novelis, Kiara juga memiliki
usaha toko huku di salah satu ruko di dekat tempat tinggalnya, satu kota kecil
di area Jawa Timur dengan udara yang dingin menyeruak hati.
Hari itu seperti biasa Kiara mengantarkan Helen
untuk berangkat sekolah.
“Ma, boleh Helen cerita?”
Di dalam mobil Helen memberanikan diri untuk
mengatakan hal itu kepada sang ibunda.
“ Ada apa sayang?”
Kiara dengan santai dan ke dua mata tetap tertuju
kepada jalan raya menangapi apa yang ingin di ceritakan oleh putri semata
wayangnya tersebut.
“ Lusa ada pertemuan orang tua.”
“ Ya mama tau itu nak.”
“Dan pasti hanya Helen yang tidak memiliki papa.”
Deg
Seketika seperti batu besar yang menghantam hati
Kiara saat sang putri tercinta pada akhirnya berani mengatakan hal itu kepadanya.
Dengan cepat Kiara menghentikan mobilnya di pinggir
jalan dan langsung menatap tajam kearah sang putri tercinta.
“Mama pasti mau marah kepada ku bukan?”
Helen yang mengetahui Kiara akan selalu marah ketika
dirinya menyebutkan tak punya papa kini sudah siap untuk mendapatkan kemarahan
itu dari Kiara.
– ulang Helen.”
“ Kenapa ma? Kenapa Helen tidak boleh bertanya cerita
papa kandung Helen sendiri?”
“Papa mu sudah meninggal Helen!”
“Jika papa sudah meninggal dimana makam papa ma? mengapa
seolah – olah mama menyembunyikan semua ini dari Helen? ma Helen itu bukan anak
kecil lagi yang bisa langsung percaya dengan semua perkataan orang, Helen
butuh bukti ma, Helen butuh bukti dimana
makam papa jika memang papa sudah meninggal, ma Helen ingin bertemu dengan papa.”
Pagi ini untuk kesekian kalinya air mata Helen
kembali mengalir dengan deras, Helen akan selalu berujung menangis ketika
membahas tentang sosok sang ayah yang sampai saat ini bagi Helen ada sesuatu
hal yang masih di tutupi oleh Kiara.
“Sudahlah, jangan menangis, sebentar lagi kita
sampai di sekolah, malu jika teman – teman mu melihat kamu cengeng begini.”
Kiara mengatakan hal itu sambil mengusap air mata
Helen dengan sapu tanganya, sedangkan tidak ada satu kata – kata pun yang Helen
ucapkan selain pandangan mata yang begitu tajam ke arah Kiara yang sebenarnya
enggan sekali untuk Kiara melihatnya.
Dengan mengalihkan ke dua pandangannya ke arah jalan
raya Kiara kembali melajukan mobilnya, seketika itu juga suasana mobil menjadi
sangat sunyi, ya sunyi seperti hati ke dua wanita yang saat ini sedang bergumul
dengan permasalahannya masing – masing,
ke dua wanita dengan dua generasi yang berbeda namun memiliki luka hati yang sama.
“ Hati – hati sayang.”
Kiara mengatakan hal itu sambil berteriak dari dalam
mobil, namun Helen sama sekali tidak membalasa perkataan Kiara,Helen tetap
berjalan lurus masuk ke dalam halaman sekolahnyat tanpa membalikan badan untuk
mengucapkan sesuatu hal lagi kepada Kiara, dan Kiara yang sedang mengerti
kondisi hati sang putri tercinta pada akhirnya hanya bisa menerima dan kembali
menutup kaca mobil.
Sejenak Kiara terdiam dan membiarkan mobil tersebut
tetap pada tempatnya.
“ Sampai kapan, ya sampai kapan aku harus
menyembunyikan semua hal ini dari Helen?’
Air mata Kiara mengalir dengan deras saat dirinya
mengatakan hal itu, ke dua tangannya menggengam erat kemudi mobil seakan – akan
mencari kekuatan dari cengkramannya sendiri.
“ Mas anak mu sudah tumbuh besar, saat ini kau ada
dimana mas?”
Hancur sudah hati Kiara ketika perkataan tersebut
pada akhirnya keluar dari dalam mulutnya.
“Mas Adrian, apakah tidak ada sedikitpun keinginan
dari mu untuk mencari ku dan menanyakan keadaan ku? Mas apakah semua kabar yang
telah aku kirimkan kepada mu kala itu hanya kau anggap angin lalu?’
Sesak sekali dada Kiara ketika dirinya mengatakan
hal itu, perkataan yang hampir setiap hari dia tanyakan untuk satu orang laki –
laki di masa lalu yang hingga kini masih belum dapat dia temui, pertanyaan demi
pertanyaan yang hingga kini belum mendapatkan jawaban dari laki – laki di masa
lalunya.
“Ah kau bodoh sekali Kiara, mana mungkin dia
mengingatmu, mana mungkin laki – laki sepertinya mengingat semua hal yang
pernah terjadi, apalagi, apalagi kau adalah mantan narapidana wanita.”
Setelah mengatakan hal itu Kiara menenggelamkan
wajahnya di dalam ke dua tangannya sendiri.
“ Helen apa yang akan kau lakukan jika kau
mengetahui bahwa mama adalah mantan narapidana?”
Dan pada akhirnya hanya suara tangisan yang sangat
sedih terdengar pelan dari sesaknya dada Kiara, setiap Helen menanyakan tentang
dimana sebenarnya sang ayah, di saat yang sama pasti Kiara akan seperti ini ya
meratapi masa lalu dan kembali tenggelam di dalam masa lalunya yang gelap.
Namun pada akhirnya untuk kesekian kali Kiara harus meredam kesedihannya sendiri tanpa dia berani menceritakan semua hal yang pernah dialaminya di masa lalu tersebut