
"Jadi tengah malam nanti,sudah bisa dipastikan kita akan berangkat?"
"Ya itu sudah pasti"
"Baiklah,kalau begitu aku akan bersiap -siap"
"Tidak perlu "
"Hah,kenapa begitu?"
"Karena aku sudah meminta orang lain untuk menyiapkan semua keperluan mu"
"Sejak kapan?"
"Sejak kau duduk di atas pangkuanku,haha,sayang wajahmu tidak perlu bingung seperti itu,tenang saja semua akan aman"
Fanny masih belum mengerti apa yang saat ini sedang dikatakan oleh Jian Lee, namun dirinya berusaha untuk mengerti dan tidak banyak berkata -kata lagi.
"Jadi apa yang harus aku lakukan sekarang? pekerjaan ku sudah selesai jika memang seperti itu,pasti kau juga sudah menyusun keberangkatan nona Clarissa juga kan?"
"Tepat sekali, sekarang kau hanya perlu menemaniku saja"
"Haruskah?"
"Harus,karena aku akan memperkenalkan pada keluarga ku ketika kita sampai di Negara H nanti"
Deg
Ucapan Jian Lee sukses membuat hati Fanny menjadi bergetar tak karuan.
"Secepat itukah?"
"Ya,aku akan mengatakan kepada orang tuaku jika kau adalah calon istri untuk ku,aku ingin memiliki anak yang lucu seperti Edward dan nona Kim dan aku hanya mau membuat anak dan memiliki anak tersebut dengan wanita yang aku cintai"
"Pikiran mu kotor"
"Ini tidak kotor, ini impian ku"
"Issshh, terserah kau saja"
"Sekarang aku akan bertemu dengan Dokter Carla untuk mempersiapkan perpindahan nona Clarissa ke Rumah Sakit di Negara H,kau disini sebentar,setelah itu aku akan mengajakmu pergi"
Jian Lee mencium pipi Fanny dan segera beranjak dari ruang kerja Fanny.
"Sungguh,kau laki -laki yang penuh dengan banyak kejutan"
Fanny kini duduk di kursinya dan mulai memikirkan hal apa yang pertama kali akan dilakukan jika nanti bertemu dengan keluarga dari Jian Lee.
Sementara itu kini Dean sudah kembali ke ruangan nya,Dean sudah mendapatkan kabar jika tengah malam nanti tim Dokter akan berangkat ke Negar H untuk persiapan penawar racun tahap ke dua,Dean duduk di ruang kerjanya dan dirinya mendapati Liyana yang sedang termenung sendirian.
Ingin sekali Dean menghampiri Liyana,namun kakinya kini terasa berat untuk dilangkahkan ke tempat Liyana berada.
Dean sudah kembali,dan dirinya dalam keadaan baik -baik saja,syukurlah
liyana melirik ruang kerja Dean dan Liyana begitu senang saat mendapati orang yang dicintai sudah ada di dalam ruangan yang kini hanya bersekat pembatas saja.
Apa yang nona Kim katakan kepada ku itu benar,kini saatnya aku yang akan memperjuangkan cintaku.
Liyana mengatakan hal tersebut di dalam hatinya dan tak beberapa lama Liyana bangkit dari tempat duduknya menuju ke ruang kerja Dean.
"Minumlah"
Liyana memberikan satu butir vitamin untuk Dean minum,Dean seakan - seakan dibuat tak percaya kini Liyana yang menghampiri dirinya.
"Kau tak marah padaku?"
"Dean ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan kepada mu,tapi sebelum itu minumlah agar kau tidak sakit"
Dean dengan segera meminum vitamin yang diberikan oleh Liyana.
"Sudah sekarang cepat katakan apa yang hendak kau bicarakan kepadaku?"
Liyana yang masih berdiri segera duduk di hadapan Dean.
"Apa yang sudah engkau lakukan terhadap ku?"
"Maksudmu?"
"Saat aku bangun dan aku mendapatkan dirimu tidur di samping ku"
Kini Dean mulai mengerti tentang inti permasalahan dari Liyana.
"Liyana,pada saat itu aku hanya mengantikan baju mu yang basah,dan setelah itu aku tertidur karena aku begitu lelah"
"Jadi hanya itu"
"Tentu saja,aku berani bersumpah jika aku hanya melakukan hal itu kepada mu tidak lebih,apa ini yang membuatmu marah kepadaku?jika hal ini yang pada akhirnya membuat mu marah aku minta maaf,lain kali kau haru berbicara apa kesalahan aku agar aku bisa tau apa yang sudah terjadi"
"Baiklah aku percaya kepada mu, sebenarnya bukan hal ini saja yang membuat aku ingin menjauh darimu"
"Hal apa? perbedaan?"
"Ya,hal itu yang membuat aku ingin pergi darimu"
"Sayang,apakah aku kurang menyakinkan dihadapan mu,ketika aku mengatakan hal itu?"
"Dean"
"Sssshhh,aku yakin dan sangat yakin kau mencintaiku,jadi aku mohon berikan aku kesempatan agar aku bisa berjuang bersama denganmu"
Liyana terdiam dengan semua hal yang telah dikatakan oleh Dean,dan pada akhirnya Liyana hanya menganggukkan wajahnya.
"Jadi kau mau untuk memperjuangkan hubungan ini"
"Ya Dean"
"Terima kasih sayang,aku berjanji tidak akan mengecewakan mu"
Dean memeluk tubuh Liyana,seakan tidak mau untuk melepaskannya kembali.
Sementara itu kini Richard sudah kembali berada di dalam kamar Clarissa dan Richard begitu bahagia ketika dia masuk ke dalam kamar melihat Clarissa tersenyum kepada nya.
"Sayang, bagaimana keadaan Laboratorium Farmasi Chandradinata"
Clarissa yang menanyakan hal tersebut langsung disambut ciuman yang hangat dari Richard .
"Semua keadaan bisa kita kendalikan,namun aku ada satu kabar untuk mu"
"Untuk ku?"
"Ya untuk mu"
"Apa itu"
"Tengah malam nanti kau harus dipindahkan ke Negara H"
"Untuk apa?"
Lalu setelah Clarissa mengatakan hal tersebut Richard menjelaskan segala sesuatu hal yang sudah terjadi.
"Apa kau sanggup untuk sementara berjauhan denganku?aku tidak mungkin untuk ikut ke Negara H dalam waktu yang lama,karena aku harus mengurus Winata Corp"
Richard mengatakan hal tersebut sambil mencium Kembali Clarissa.
"Richard,tak masalah dengan ku jika harus berjauhan jika memang itu diperlukan, meskipun secara fisik kita jauh,namun hati kita akan tetap selalu dekat"
"Aku suka akan ucapan mu calon istriku,maaf berarti kita harus menunda pernikahan kita"
Clarissa tersenyum dengan apa yang telah Richard ucapkan kepada dirinya.
"Tak masalah,yang penting kau tidak lari dari hadapan ku"
"Tidak akan mungkin"
"Richard,sebelum kita pergi apa aku dapat menemui Michelle?"
"Tentu saja,ayo"
Richard segera menggendong Clarissa dari atas tempat tidurnya dan mendudukkan dia di atas kursi roda.
"Apa kau tidak lelah Richard ?"
"Semua lelah ku akan terbayarkan jika kau merasakan bahagia"
Dan pada akhirnya Richard membawa Clarissa keluar dari ruang rawatnya menuju ke kamar rawat Michelle.
Sementara itu di Chandradinata Corp Edward sibuk mempersiapkan keberangkatan nya menuju ke Negara H.
"Don, bagaimana dengan semua dokumen apakah sudah selesai dengan baik?"
"Semua dokumen sudah aman"
"Satu jam lagi kita akan berangkat ke Bandara"
"Baik tuan Edward"
Setelah mengatakan demikian Doni keluar dari dalam ruangan Edward dan tepat di saat yang sama Edward mendapatkan telepon dari rekan bisnis Chandradinata.
"Baiklah terima kasih tuan atas informasinya"
Setelah selesai panggilan tersebut segera ditutup dan kini Edward dibuat kembali berpikir.
"Xiao Mei,atau Rena berada di Negara B"