I LOVE MY CEO

I LOVE MY CEO
ALAT PELACAK TERPASANG



"Fanny, sebelum kau mati di tangan ku aku ingin terlebih dahulu menikmati semua anggota tubuhmu, agar aku setidaknya bisa mendapatkan hal itu dari mu sebelum aku membunuh mu"


Dan pada akhirnya Joseph kembali meneguk alkohol dan terus membayangkan tubuh Fanny sampai pada akhirnya Joseph terlelap dengan segala pikiran - pikiran kotornya tentang Fanny.


Malam hari ini semua beristirahat dengan permasalahan nya masing - masing, namun semua itu tidak berlaku untuk Richard dan juga Jian Lee yang malam ini masih belum tidur karena sedang mengerjakan alat pelacak untuk Fanny.


"Jian Lee, katakan padaku dengan jujur kenapa kau begitu menginginkan alat pelacak ini terpasang pada tubuh dari nona Fanny, kau pasti akan meletakkan alat pelacak ini tanpa sepengetahuan dirinya kan? "


" Richard beberapa kali aku harus memberitahukan bahwa ini untuk keamanan dari pemimpin tim Dokter "


"Baiklah jika kau masih belum mau jujur, aku bisa menghargainya, namun jika benar kau mencintai nona Fanny dan dia sudah memiliki kekasih, kau yang harus berjuang untuk mendapatkan nya"


Jian Lee terdiam dengan semua ucapan dari Richard, hatinya masih terlalu angkuh untuk mengakui bahwa perasan cinta mulai perlahan masuk ke dalam hatinya saat ini.


"Ini alat pelacak sudah selesai, tempelkan pada bagian yang tidak mencurigakan "


Richard pada akhirnya berhasil menyelesaikan pembuatan alat pelacak tersebut untuk Fanny.


" Terima kasih, kau memang sahabat ku yang paling baik "


" Ya, aku memang sahabat terbaik mu, sampai urusan cinta mu aku harus ikut terlibat, baiklah karena hari sudah menjelang hampir pagi ada baiknya kita istirahat sebentar sebelum kita kembali pada aktivitas kita masing - masing "


Dan pada akhirnya dua laki-laki itu langsung terlelap di kamar Richard, hari yang menjelang pagi pada akhirnya membuat Jian Lee lebih memilih menginap di tempat Richard.


Pagi ini di rumah utama nyonya Tiara dan Ibunda dari Kimmy terlihat sangat sibuk karena mereka sedang menyiapkan kamar untuk kehadiran calon cucu mereka, Kimmy dan Edward sepakat anak mereka akan mereka tempatkan satu kamar agar mereka bisa mengasuh nya dengan mudah, dan hasilnya pagi ini dekorasi kamar Edward dan Kimmy mulai dirubah oleh ke dua nyonya tersebut.


"Anak ku maafkan kami harus mengganggu romantis kalian pagi - pagi, tapi kami hanya ingin membuat kamar ini menjadi lebih hidup dengan dekorasi anak - anak"


Kimmy tersenyum melihat tingkah ke dua orang tua yang begitu dia cintai.


"Ma, Ibu lakukanlah sesuka kalian untuk hari ini aku akan istirahat di kamar tamu, bagaimana Edward? "


" Apa yang membuatmu bahagia aku pasti akan menyetujui nya sayang "


Edward mendaratkan ciuman mesra di puncak kepala Kimmy dihadapan orang tua mereka.


" Baiklah kami akan bersiap - siap"


"Ma, Ibu aku akan mengantarkan Edward kedepan "


"Pergi lah sayang"


Dan pada akhirnya Kimmy dan Edward keluar dari kamar mereka dan Kimmy mengantarkan Edward hingga ke depan mobil yang akan membawa Edward dan tuan Adrian ke kantor.


"Aku berdoa agar suamiku bisa menjadi pemimpin yang baik dan bisa adil dalam segala hal"


Kimmy mengatakan hal tersebut sambil mencium kening Edward, rutinitas kasih sayang yang dilakukan Kimmy untuk orang yang dia cintai.


"Sayang jaga diri mu"


Edward mengusap kepala Kimmy dan segera masuk ke dalam mobil, sedangkan tuan Adrian hanya tersenyum melihat kemesraan menantu dan anak nya tersebut dan pada akhirnya mobil keluar dari pintu gerbang dan melaju ke arah Chandradinata Corp.


Sementara itu di Rumah Sakit, hari ini Dean dan Liyana nampak selalu bersama, Liyana sering sekali membagikan kisah - kisah lucu kepada Dean sehingga perlahan pada akhirnya membuat Dean mulai sedikit demi sedikit merelakan Kimmy.


"Liyana "


" Ya Dokter? "


" Terima kasih "


" Terima kasih untuk apa? "


" Kini aku mengerti tentang arti sebuah kasih sayang"


"Malam nanti aku akan menjemput mu, aku ingin mengucapkan terima kasih tersebut dalam bentuk makan malam apa kau bersedia?"


Deg


Liyana seperti ingin melompat - lompat karena bahagia mendengarkan ajakan dari Dean, namun semua itu harus Liyana tahan dan pada akhirnya malah membuat nya menjadi diam.


"Hei, Liyana kau mendengarkan semua perkataan ku kan? "


" Ah iya, baiklah Dokter "


Dan pada akhirnya mereka kembali dengan canda tawa mereka di ruang kerja Dean.


Sementara itu kini Fanny masuk ke dalam ruangan kerja nya di temani oleh Liu Yen.


" Dokter Fanny berikut laporan kesehatan nona Clarissa "


" Terima kasih Liu Yen, kapan penawar tahap pertama akan datang ke Rumah Sakit ini? "


" Informasi terakhir dari tuan Richard penawar itu akan siap lusa Dokter "


" Baiklah segera siapkan hal - hal yang dibutuhkan oleh para Dokter dan para ahli Farmasi untuk hal ini"


Dan pada akhirnya Fanny membaca semua berkas dan meminta Liu Yen untuk membantu nya menyiapkan segalanya.


"Nona, aku akan ke ruangan Dokter Dean untuk menyampaikan semuanya ini"


"Lakukanlah Liu Yen"


Dan pada akhirnya Liu Yen keluar dari ruangan Fanny, kini tinggal Fanny seorang diri di dalam ruangan tersebut, hati dan pikirannya masih tertuju pada permintaan Joseph.


"Malam ini, ya malam ini aku akan kehilangan sesuatu hal yang selama ini selalu aku jaga "


Fanny pada akhirnya menyandarkan dirinya pada kursi dan membawa pikirannya terbang ke awan - awan, namun tak beberapa lama semua Lamunan itu segera selesai ketika Fanny mendengar ada seseorang membuka pintu ruang kerjanya.


" Selamat pagi Dokter Fanny"


"Tuan Jian Lee"


"Ya, aku datang kembali kesini "


" Ada urusan apakah anda kemari tuan Jian Lee "


Dan tiba - tiba Jian Lee mengulurkan tangannya kepada Fanny, Fanny menyambut uluran tangan tersebut dengan wajah heran.


"Maafkan aku jika kemarin aku sudah membuat mu kesal, apakah sekarang kita bisa menjadi teman?"


Fanny tersenyum dengan maksud uluran tangan dari Jian Lee tersebut.


"Tentu saja tuan, aku tidak pernah menolak jika ada seseorang yang ingin berteman denganku"


"Bagus,lalu bagaimana keadaan nona Clarissa saat ini? "


" Duduklah, aku akan menjelaskan semuanya kepada tuan Jian Lee "


Dan pada akhirnya Jian Lee duduk di hadapan Fanny dan mulai mendengarkan Fanny berbicara.


Dalam hati Jian Lee tersenyum karena lewat sentuhan tangan dirinya dengan Fanny membuat alat pelacak tersebut kini sudah melekat pada Fanny.


Jian Lee terus mendengarkan apa yang Fanny katakan, meskipun sebenarnya Jian Lee sudah tau semua keadaan Clarissa dari Richard.


Kali ini kau tidak akan pernah lolos dari ku, semua aktivitas mu,dengan siapa kau akan pergi dan di manapun keberadaan mu aku akan dapat mengetahui nya, sungguh menyenangkan bermain - main dengan gadis seperti mu, gadis yang dengan berani melawan ku akan mendapatkan akibatnya, aku akan memantau setiap detik aktivitas mu.