
"Baiklah jika itu sudah menjadi keputusan Papa, namun saat Papa sudah menemukan siapa Raja yang memberikan dukungan terhadap tuan Lauren, ada baiknya Papa tetap memberitahukan kepada kita"
" Pasti Adrian"
"Baiklah jika seperti itu, kita akan merencanakan penyerangan ke dalam markas terbesar di dalam keluarga Louis"
"Don, kau hubungo aparat di kota Barcelona, karena bagaimana pun juga kejadian ini berada di dalam wilayah mereka, bawa tanda pengenal milik Chandradinata saat kau akan menghubungi aparat disana"
"Baiklah tuan Adrian "
" Pah, apa saja yang telah Papa siapkan untuk penyerangan ini? "
" Edward, Papa tau ini adalah baru untuk mu, dimana kita harus berhadapan dengan musuh dan mungkin akan terjadi baku hantam atau tembak menembak, apakah kau siap? "
" Pah, aku siap"
"Bagus, selama ini Richard membuatkan baju anti peluru yang dia desain sendiri khusus untuk keluarga Chandradinata, dimana baju tersebut akan langsung berhubungan dengan senjata yang akan kita pakai nanti"
"Adrian, perlu kau ingat markas keluarga besar Louis terletak di pinggiran kota Barcelona dan jika kita berangkat esok hari, maka kita akan bertepatan dengan satu festival di kota tersebut, jadi lakukan pendaratan terdekat dengan lokasi markas keluarga Louis "
" Baiklah ini adalah tempat markas keluarga Louis, mari kita mengambil tempat masing - masing "
Pada akhirnya tuan Adrian menyalakan sebuah peta di salah satu layar raksasa yang berada di dalam ruangan rapat tersebut, tuan Adrian mulai membahas strategi dalam melakukan penyerangan, sementara para laki - laki masih berdiskusi, nyonya Tiara mengajak Kimmy dan Clarissa keluar dari ruang rapat tersebut, ini untuk pertama kalinya ke dua wanita itu mendengar banyak rencana penyerangan, berbeda dengan nyonya Tiara yang di masa lalu pernah terlibat langsung bersama dengan tuan Adrian.
Nyonya Tiara mengajak Kimmy dan juga Clarissa untuk duduk di taman bunga di dalam kediaman tersebut.
"Ma, aku takut "
Satu kata yang pada akhirnya keluar dari mulut Kimmy, sambil membelai perutnya yang sudah membesar.
" Sayang Mama sangat mengerti jika kau miliki rasa takut itu, tapi mau tidak mau kita harus belajar untuk bisa menghadapi nya"
"Saat ini sebenarnya yang memiliki rasa takut bukan hanya kita, tapi mereka yang masih berada di ruang rapat, dan tugas kita adalah memberikan ketenangan kepada mereka malam hari ini, agar esok hari saat mereka pergi, mereka sudah memiliki kekuatan "
" Iya Ma"
Dan pada akhirnya rapat pun selesai semua nya keluar dari ruang rapat menuju kamar nya masing - masing.
"Tiara sudah lama sekali aku tidak membuka lemari ini"
Terdengar suara tuan Adrian yang membuka lemari koleksi pistolnya itu.
"Ya, terakhir kau memakai nya saat kau menyelamatkan aku dari bahaya"
"Dan kini aku akan kembali menggunakan alat - alat ini"
"Adrian sayang, aku melihat ketakutan di wajah Kimmy menantu kita, dan hal tersebut tampak berbeda dengan Clarissa yang terlihat lebih kuat"
Nyonya Tiara memeluk suami nya, sambil mencium puncak kepala tuan Adrian berkali-kali.
"Tiara itu wajar, hati Kimmy lebih lembut daripada Clarissa, Kimmy dibesarkan dalam kasih sayang yang lengkap berbeda dengan Clarissa yang sejak kecil sudah menderita dan sudah banyak mengalami masalah "
" Jadi kau mau bilang mental Clarissa lebih kuat dalam hal ini? "
" Ya sayang itu yang akan aku bilang"
"Dan aku setuju dengan perkataan mu, sekarang tidurlah esok hari kau akan menjalani masa - masa yang terdahulu yang kini kembali terjadi, dimana akan adanya pembebasan tawanan, untuk membuat mu lebih nyaman apa yang bisa aku lakukan kepada mu Adrian katakanlah"
"Tiara peluk aku seperti ini sampai pagi, aku bisa memiliki kekuatan jika bersama dengan mu"
Nyonya Tiara tersenyum dan melakukan apa yang diminta oleh tuan Adrian.
Sementara itu di kamar tuan Jaya, nampak tuan Jaya sedang memandang foto mendiang nyonya Carlote istrinya.
"Sayang, maafkan aku yang dulu gagal menyelamatkan mu, tapi kini aku berjanji akan menjaga anak dan cucu - cucu kita dalam melawan keluarga Louis "
Tuan Jaya menangis dengan memeluk foto dari mendiang nyonya Carlote.