
" Tuan Jian Lee ada baiknya anda memeriksakan ingatan anda ke Dokter Psikiater, tuan lihat sekarang pukul berapa? waktu sudah menunjukkan jam kerja telah selesai, jadi jangan bertindak bodoh"
"Minggir!!
" Jika aku tidak mau"
"Jangan salahkan aku jika aku berlaku kasar pada mu"
"Hahaha, kau tidak akan mungkin menang melawanku nona Fanny "
" Apa perlu aku buktikan padamu tuan Jian Lee yang terhormat "
"Lakukan, jika memang kau bisa"
Dan tiba - tiba tanpa penuh keraguan Fanny menendang bagian sensitif dari Jian Lee dan segera berlari keluar dari dalam ruangan nya.
"Hei kau kembali, dasar wanita sialan!!! aw sakit, kurang ajar tidak akan pernah akan memaafkan mu!!!"
Jian Lee berteriak kepada Fanny dan masing memegang bagian sensitif nya yang kini terasa sakit.
Sedangkan sepanjang perjalanan Fanny tertawa tanpa henti membayangkan wajah Jian Lee yang kini pasti kesakitan.
"Rasakan, dasar tuan muda sombong, angkuh, kau belum tau siapa Fanny"
Dan pada akhirnya Fanny masuk ke dalam mobil dengan sang sopir pribadi.
"Jalan tuan "
" Kita akan pergi kemana nona? "
" Kita ke restoran yang berada di pusat kota, aku ada keperluan di sana"
"Baiklah nona Fanny "
Dan pada akhirnya mobil Fanny keluar dari halaman Rumah Sakit dan terus melaju ke arah pusat kota, hari ini Fanny rindu sekali ingin bertemu dengan Joseph, karena sudah lama sekali Fanny dan Joseph menjalin hubungan jarak jauh.
Sementara itu di Rumah Sakit di dalam ruangan Clarissa, nampak Richard duduk termenung di samping tempat tidur Clarissa,Richard melihat banyak sekali peralatan medis yang masih melekat erat pada hampir semua tubuh Clarissa.
"Sayang, aku merindukanmu, aku ingin kau segera sadar, aku ingin kau segera kembali membuka mata mu, sayang begitu penawar racun tahap pertama selesai dan kau bisa segera sadar, aku akan menikahi mu, sayang kumohon tetaplah bertahan demi Michelle, demi aku, demi orang - orang yang sangat mencintai mu"
Richard membisikan banyak sekali kata - kata mesra di telinga Clarissa, Richard berharap Clarissa bisa mendengarkan semua perkataan nya,air mata Richard akan selalu jatuh jika dia menatap orang yang paling dia cintai itu masih berbaring seperti ini.
Dan pada akhirnya Richard memilih untuk tetap berada di dalam ruangan itu sampai beberapa lama.
Sementara itu kini mobil Fanny sudah sampai di sebuah restoran mewah di pusat kota, Fanny segera turun dari dalam restoran dan menuju ke ruangan yang sudah di pesan oleh Joseph.
Dengan langkah bahagia Fanny masuk ke dalam restoran tersebut dan menuju ke ruangan itu, begitu Fanny sampai di dalam ruangan terlihat Joseph sedang duduk termenung memandang ponselnya.
"Sayang, apakah kau sudah lama menunggu kedatangan ku"
Fanny menghampiri Joseph dan langsung memeluk kekasih nya itu.
"Fan, aku akan selalu menunggu kedatangan mu meskipun itu harus berjam - jam dan berlari - hari, sekarang duduk lah"
Fanny yang masih memeluk Joseph dari belakang kini mulai duduk di hadapan Joseph.
"Jo,katakan apa yang membuatmu menemui ku secepat ini setelah aku memberitahukan mu keberadaan ku di Negara W? "
" Fan, aku rindu padamu itu lah yang membuat ku ingin segera bertemu dengan mu disini, sekarang makan lah terlebih dahulu, aku sudah memesankan banyak makanan kesukaan mu"
Dan pada akhirnya para pelayan datang dan menaruh semua pesanan Joseph di atas meja, dan mereka berdua makan dengan sangat lahap.
"Sayang, kemarilah pemandangan Negara W pada malam hari itu sangat indah jika kita melihat nya dari sini"
Dan Joseph mengajak Fanny untuk menuju ke arah balkon restoran tersebut, Joseph sengaja memesan tempat makan yang memiliki balkon yang langsung menghadap ke pusat kota, Fanny mengikuti arah langkah Joseph untuk menuju ke sana.
"Ah kau benar Joseph, indah sekali "
Kini Fanny memegang lengan Joseph dan Fanny begitu menikmati setiap pemandangan Negara W pada malam hari ini.
" Fan"
"Ya"
"Pejamkan mata mu"
Kini posisi Fanny dan juga Joseph sudah saling berhadapan.
"Untuk apa? "
" Aku merindukan mu"
Dan pada akhirnya Fanny memejamkan matanya,dan di saat yang bersamaan Joseph menyambar bibir Fanny dengan sentuhan, Joseph mulai mencium Fanny, ciuman yang pada awalnya manis kini perlahan berubah menjadi ciuman yang sangat mengairahkan yang terjadi antara Joseph dan Fanny sampai pada satu titik.
"Huft, hentikan Joseph "
Fanny menjauhkan tubuhnya dari Joseph dan memilih untuk kembali menatap pemandangan Negara W, wajah Fanny merah padam karena hasrat nya yang sudah mulai memuncak dan Joseph yang tau apa yang sedang di alami oleh Fanny malah semakin mendekatkan tubuhnya.
"Kenapa Fan? kita menjalin hubungan sudah cukup lama, apa kau tidak bisa memberikan apa yang aku butuhkan? sebenarnya apa kau betul - betul mencintaiku? "
"Jo, bukan seperti itu maksud ku, aku hanya ingin menyerahkan mahkota ini di saat yang tepat dengan ikatan pernikahan yang sakral, aku hanya ingin menyerahkan itu semua untuk mu dan di waktu yang tepat, tapi tidak saat ini"
"Fan, kau tau aku begitu mencintai mu, aku tidak pernah meninggalkan mu apapun keadaan mu, apakah masih kurang kau mempercayai ku? kau menyerahkan sekarang dan kau menyerahkan nya nanti semua itu sama saja karena kau akan menyerahkan nya kepada orang yang sama"
"Aku hanya ingin kau membuktikan perasaan cintai mu itu kepada ku, itu saja"
"Jadi kau tidak yakin dengan perasaan ku pada mu Jo?"
"Ya untuk saat ini aku tidak yakin kecuali kau mau menyerahkan hal itu "
Kini Fanny terdiam dengan semua ucapan dari Joseph, dari hatinya yang paling terdalam dia ingin menyerahkan kesucian nya pada saat sudah ada nya ikatan pernikahan namun kini orang yang dia cintai telah meragukan dirinya.
" Baiklah, jika memang itu yang kau butuhkan, aku akan memberikan hal itu untuk mu, namun tidak saat ini, besok malam kau jemput lah aku"
"Baiklah sayang aku akan menyediakan tempat yang sangat romantis untuk mu agar kau sangat nyaman "
Kini Joseph kembali menyambar bibir Fanny dan kembali melahap nya, hati Joseph sangat senang karena rencananya sebentar lagi akan berhasil.
Besok adalah hari terakhir mu hidup di dunia Dokter Fanny.
Joseph mengatakan hal itu di dalam hatinya sambil terus melahap bibir Fanny yang berada dihadapan nya.
Sementara itu di Rumah Sakit kini Jian Lee masih duduk di ruangan Fanny dan masih terus mengumpat dengan segala sesuatu yang sudah di lakukan Fanny kepada nya.
Tiba - tiba Richard masuk kembali ke ruangan tersebut.
"Jian Lee dimana Dokter Fanny? "
" Entahlah wanita gila itu pergi kemana "