
Pada akhirnya Kimmy menarik tangan Edward untuk ikut bergabung dengan dirinya dan juga yang lainnya di ruangan tersebut.
Kimmy membuat suasana yang pada awalnya terasa canggih kini berubah menjadi hangat, perlahan Liyana dan Dean mulai bisa berbicara ringan dengan Edward, begitupun sebaliknya.
"Tuan Dean, nona Liyana aku ingin meminta maaf kepada kalian berdua "
Semua menjadi hening kembali ketika Edward tiba-tiba mengatakan hal tersebut di hadapan mereka.
" Ya aku ingin meminta maaf jika perbuatan ku di masa lalu mungkin mendukakan hati kalian berdua, aku sadar bahwa apa yang sudah aku lakukan membuat kalian semua terluka, termasuk juga nona Fanny, maaf aku pernah memindahkan mu dengan sengaja ke desa terpencil agar nona tidak bisa memberitahukan istri ku saat dia masih hilang ingatan, di saat itu aku merasa menjadi laki-laki paling egois di dunia "
Kimmy yang sangat kagum kepada suaminya langsung merangkul lengan suami yang begitu dia cintai sebagai bentuk dukungan yang sangat luar biasa yang kini kimmy lakukan.
" Tuan Edward, jujur pada saat itu aku kesal terhadap anda, namun di satu sisi aku mencoba mengerti posisi anda ketika pada saat itu mungkin ingin melindungi Kimmy atau terlalu takut kehilangan dirinya"
Fanny tersenyum menatap Edward dan Kimmy bergantian.
"Ya dan waktu itu aku pun sempat sangat marah dengan anda tuan Edward, karena sebagai seorang Dokter aku tau bahwa anda melakukan penyiksaan terhadap Kimmy, dan saat itu sebagai laki-laki yang pernah mencintai nya sangat tidak rela jika harus melepaskan Kimmy dengan laki - laki seperti anda, namun semua berubah ketika aku melihat Kimmy betul - betul tulus mencintaimu dan rela banyak berkorban agar kau bisa sembuh, di saat itulah aku memutuskan untuk mundur secara teratur dalam mengambil Kimmy "
" Tuan Edward sebagai sesama laki - laki tentu anda mengerti ucapan ku, tapi kini aku melihat kalian begitu bahagia dan itu cukup membuat aku sangat lega pada akhirnya bisa rela melepaskan dia, wanita bijaksana dan wanita berharga"
Dean tersenyum kepada Edward dan Kimmy secara bergantian dan kini mereka kembali tertawa.
"Liyana, lalu bagaimana dengan mu? "
Kimmy tiba-tiba menggenggam tangan wanita itu karena di antara mereka hanya Liyana yang belum berbicara satu patah kata.
" Nona Kim, dengan melihat anda bahagia, itu sudah cukup membuat ku bahagia, aku memperoleh kehidupan ku yang baru semua karena aku bertemu dengan tuan Edward dan anda, jadi aku sudah memaafkan tuan Edward sejak lama"
"Terima kasih Fanny, Dean, Liyana, aku sebagai istri dari Edward saat ini sangat bahagia sekali karena dia memperlakukan aku seperti ratu dan dia sangat mencintai ku, segala sesuatu yang pernah terjadi di dalam kehidupan kita harus lah kita tutup agar kita memiliki langkah yang ringan untuk melangkah ke depan, dan aku berharap semua nya itu bisa terjadi juga kepada kalian yang saat ini berada bersama dengan dengan ku"
"Siap, nyonya Edward "
Dan pada akhirnya Fanny menjawab semua perkataan dari Kimmy.
" Baiklah jika demikian, aku dan istriku harus undur diri terlebih dahulu karena kami akan menemui Michelle, selama nona Clarissa belum sadarkan diri istriku yang akan bertanggung jawab atas Michelle "
Dan pada akhirnya setelah mereka mengatakan demikian semua orang yang berada di dalam ruangan itu berdiri dari tempat duduk mereka masing - masing.
Edward dan Kimmy meninggalkan ruangan tempat praktek Fanny dan kini ada satu mata yang masih memandang kepergian mereka.
"Dean, aku berharap apa yang kau ucapkan tadi benar, kau sudah merelakan Kimmy bersama dengan Edward, kau tidak perlu memandang nya sampai seperti itu"
Dean yang kini menyadari jika Fanny memperhatikan dirinya segera saja melepaskan pandangan itu.
"Tau apa kau Fan soal ini"
"Lupakan masa lalu Dean dan mulai lah dengan cinta yang baru karena bagaimana pun usaha mu, kau tidak akan pernah bisa lagi merebut Kimmy dari tangan Edward"
Fanny mengatakan hal tersebut kepada Dean dan Dean hanya diam dan keluar dari ruangan Fanny ditemani oleh Liyana.
"Dokter Dean tunggu, kita mau kemana? ruangan dokter sudah terlewati"
Liyana mencoba terus mengikuti Dean yang kini masih setengah berlari dengan perasaannya yang sangat tidak menentu.
"Temani aku ke taman dan duduk di sana sebentar "
" Baiklah Dokter "
Sementara itu kini Edward dan Kimmy sudah sampai di ruang rawat Michelle.
" Papa Ed"
Michelle lansung memeluk Edward begitu tau bahwa Edward datang.
"Hei anak Papa yang paling cantik, bagaimana keadaan mu hari ini sayang? "
" Suster bagaimana keadaan nya? "
" Keadaan nona Michelle baik - baik saja tuan, hanya sesekali menanyakan sedang ada dimana nona Clarissa saat ini"
Kimmy yang mengerti situasi Michelle segera membelai rambut gadis kecil tersebut.
"Michelle kecil, kemarilah "
" Bibi cantik, Michelle rindu "
Michelle kini beralih di pangkuan Kimmy.
" Iya sayang, Bibi juga sangat rindu pada mu"
"Bibi, kenapa perut bibi itu besar sekali"
"Ah kau ingin menyentuh perut bibi? "
Michelle menatap Kimmy dengan wajah yang bersinar dan kini mengangguk-angguk kepalanya .
" Kemarikan tangan mu"
"Bibi perut Bibi keras sekali"
"Hahahaha, iya sayang di dalam perut ini nanti ada adik Michelle "
" Adik? Michelle akan punya adik dan adik itu ada di perut bibi? "
" Iya sayang, jadi Michelle juga harus berdoa agar adik Michelle ini sehat yah sayang "
Kimmy pada akhirnya mencium puncak kepala Michelle dengan penuh kasih sayang dan itu sangat membuat Edward kagum akan kasih sayang istrinya yang begitu besar terhadap Michelle,pada akhirnya mereka menghabiskan waktu bersama di Rumah Sakit itu lebih lama.
Sementara itu kini Dean dan Liyana yang sudah berada di dalam taman hanya duduk tanpa suara, sesekali Dean mengacak - acak rambut nya yang terasa tidak gatal tersebut.
"Dokter apa yang terjadi dengan anda? "
" Katakan padaku, bagaimana caranya agar perasaan cinta itu bisa aku lupakan, karena sudah bertahun - tahun aku mencoba nya namun tidak ada hasil sama sekali, dia tetap berada di dalam pikiran, dan setiap aktivitas yang aku lakukan, aku sadar aku tidak boleh kembali menginginkan nya, namun pikiran dan hati ini masih sangat ingin dia kembali "
Liyana yang kini mulai mengerti permasalahan Dean hanya bisa mendengarkan semua keluh kesah Dean dan belum mau mengatakan sesuatu hal sebelum Dean selesai dengan semua curahan hatinya itu.
" Liyana bagaimana menurut mu? "
Dan pada akhirnya kini Dean bertanya kepada Liyana apa yang harus dia lakukan.
Liyana membalikkan badan nya dan kini menatap Dean dalam - dalam.