
"Ah baiklah nona Kim,terima kasih atas semua nasehat mu"
Kimmy tersenyum kepada Jian Lee dan pada akhirnya dengan kursi roda yang didorong oleh Edward mereka meninggalkan ruangan tersebut.
Jian Lee menatap kepergian Edward dan Kimmy dan detik ini Jian Lee baru menyadari mengapa banyak sekali musuh Chandradinata yang menginginkan istri dari Edward yaitu Kimmy Valerie mati.
Nona Kim,kau sungguh luar biasa,kini aku bisa mengerti mengapa semua orang yang bermusuhan dengan Chandradinata menginginkan kematian mu,dan mengapa Edward sampai harus memberikan penjagaan berlapis -lapis jika itu semua menyangkut tentang dirimu,karena kau wanita berharga, Chandradinata bisa hancur jika engkau tidak ada,aku salut padamu Edward,kau harus menjaga nona Kim dengan baik.
Jian Lee tersenyum,kini dengan mantap Jian Lee akan lebih serius untuk menyakinkan Fanny agar dia mau untuk segera menikah dengan dirinya.
Sementara itu Edward dan Kimmy sedang berada di taman Rumah Sakit, Kimmy tiba -tiba melihat Liyana yang sedang duduk termenung seorang diri di bangku taman.
"Edward,itu nona Liyana"
"Ya betul,ada apa?"
"Wajahnya nampak murung,apa hari ini dia tidak bertugas?bukankah dia termasuk dalam tim dari Fanny?"
"Ah entahlah sayang,aku tidak tau semua ini kan di pimpin oleh nona Fanny,kau harus bertanya langsung kepada nona Fanny"
"Kau benar Edward,ayo kita ke sana"
"Baiklah"
Edward segera mengarahkan kursi roda tersebut untuk mendekati Fanny.
"Selamat pagi nona Liyana"
Kimmy tersenyum dan mencoba menegur Liyana.
"Ah nona"
"Sedang apa nona disini?nona sedang tidak bertugas?"
"Tidak nona Kim,hari ini aku sudah izin kepada Dokter Fanny untuk minta digantikan dengan perawat yang lainnya,aku hanya ingin sejenak beristirahat"
Kimmy melihat disudut mata Liyana ada air mata yang sepertinya sudah tidak kuat untuk dibendung terlalu lama.
"Edward"
"Apa kau bisa meninggalkan aku dan nona Liyana sebentar disini"
"Edward memberikan tatapan tidak setuju kepada Kimmy"
"Kumohon"
Dan pada akhirnya tatapan wajah Kimmy sukses melunakkan hati Edward.
"Hmmm baiklah,baiklah tapi hanya sebentar,Liyana setelah pembicaraan kalian selesai kau antarkan nona Kim menuju ke ruang rawat,aku akan menunggu nona Kim di sana"
"Baik tuan Edward"
"Jangan lama-lama"
Edward mencium pipi Kimmy sambil membisikkan kata -kata itu.
"Aku mengerti my Hero"
Kimmy membalas perkataan Edward, Edward membelai kepala Kimmy dan pada akhirnya meninggalkan mereka berdua di taman tersebut.
"Nona Liyana,kau sudah seperti saudara perempuan ku sendiri,coba ceritakan masalah yang saat ini kau sedang hadapi"
"Nona apakah raut wajah ku betul -betul bisa menunjukkan jika saat ini aku sedang memikirkan sesuatu hal?"
Kimmy tersenyum dengan perkataan dari Liyana.
"Memang tidak semua orang bisa mengetahui,memang tidak semua orang bisa peka,tapi aku mengetahui jika wajah nona sedang ada yang tidak beres"
Dan setelah Kimmy mengatakan hal itu Liyana langsung menangis,Liyana tidak kuat memikul semua masalah ini sendirian.
"Nona Kim,apakah aku masih pantas untuk dicintai?"
pertanyaan pertama yang Liyana tanyakan kepada Kimmy langsung membuat Kimmy bisa mengerti apa yang saat ini sedang Liyana rasakan.
"Nona,ada apa?kau ada masalah dengan Dean? Kenapa aku mengatakan Dean,karena beberapa waktu ini aku sering melihatmu bersama dengan Dean"