
"Liyana tunggu"
Dean mencoba untuk mengejar Liyana yang sudah keluar dari gerbang Rumah Sakit dengan berteriak dari dalam mobilnya,namun alih -alih Liyana berhenti,Liyana malah menambah kecepatan nya.
Liyana terus berjalan dan kini sudah mulai setengah berlari untuk menghindari Dean dan Dean yang merasa tidak efektif untuk mengejar Liyana dengan mobil, segera menepikan mobil tersebut dan berlari untuk bisa lebih cepat dalam menggapai Liyana, kondisi jalan raya saat itu sangat ramai sekali,menggunakan mobil akan membuat Dean malah akan terjebak macet di tengah -tengah jalan raya.
"Tak seharusnya aku memiliki perasan terhadap laki -laki itu,aku yang salah,aku membiarkan perasaan ini tumbuh dengan subur tanpa bisa mengendalikan hatiku,Lilyana kau harus terus menghindar darinya"
Liyana mengatakan hal itu sambil terus berjalan dan Liyana berharap Dean tidak berusaha untuk mengejarnya,namun harapan Liyana sepertinya salah,karena kini Liyana sudah melihat Dean berlari ke arahnya.
"Liyana tunggu!!"
Dean berteriak kencang sehingga setiap orang yang berada disekitar Dean ikut mendengarkan nama Liyana itu disebut,Liyana tetap berlari dan pada akhirnya Liyana menyebrang jalan tanpa memperdulikan lagi ramainya kendaraan pada malam hari tersebut,dan saat Liyana menyebrang satu kendaraan besar tepat hampir menabrak Liyana.
"Hei!!dasar gadis bodoh kau sudah bosan hidup ha,pakai matamu jika kau akan menyebrang jalan,kecuali kau punya sembilan nyawa!!!!!"
Satu supir kendaraan itu berteriak kepada Liyana,kini Liyana terduduk sambil menangis ditengah jalan raya dan semua orang melihat kearah dirinya serta mulai meneriaki dia dengan sebutan wanita gila.
"Iya,aku memang wanita gila,wanita yang berani mencintai laki -laki terhormat"
Tangisan Liyana semakin meledak dengan semua orang yang kini mulai berteriak kepadanya dengan sebutan wanita gila.
"Pak kenapa bapak tidak tabrak aku saja ?kenapa bapak malah berhenti!!!"
"Dasar wanita gila!!!"
"Pak tabrak aku saja pak,tabrak!!"
Liyana dengan posisi masih terduduk memohon kepada sang supir untuk melakukan hal yang di luar hati nurani manusia.
"Hei wanita,alangkah lebih baik kau segera pergi ke Rumah Sakit jiwa,agaknya jiwa mu sudah mulai terganggu"
Sang supir mengatakan hal tersebut sambil berlalu dari hadapan Liyana dan kembali masuk ke dalam kendaraan nya dan pada akhirnya berlalu dari hadapan Liyana,kini Liyana masih terduduk di jalan sambil menangis
"Akh,kakiku sakit"
Liyana yang mencoba untuk berdiri tiba -tiba merasakan kesakitan pada tumit kakinya sehingga pada akhirnya dia tetap tidak bisa untuk berdiri,hujan pun mulai turun dan di sana tidak ada satupun orang yang berani menolong Liyana karena orang -orang tersebut beranggapan bahwa Liyana memiliki penyakit mental sampai pada akhirnya ada dua tangan yang mengangkat dirinya.
"Apa yang kau lakukan disini,aku mencarimu kemana -mana"
Dengan sigap Dean segera menggendong Liyana,begitu Dean melihat Liyana sedang terduduk di jalan dalam keadaan basah.
Liyana yang pada akhirnya begitu lelah,lelah karena berlari,lelah karena menangis dan lelah menahan rasa sakit pada kakinya hanya sekilas melihat wajah Dean dan pada akhirnya menutup matanya,Liyana pingsan di dalam pelukan Dean.
Dean yang menyadari hal tersebut dengan susah payah dan menerobos hujan yang deras segera membawa Liyana masuk ke dalam mobilnya.