
Fanny menarik pintu mobil dan bersiap berpindah ke kursi kemudi mobil,namun tubuhnya telah lebih dahulu di tarik oleh Jian Lee ke dalam pelukannya.
"Aku ingin seperti ini sebentar saja"
Jian Lee mendekap Fanny dan Fanny pada akhirnya hanya terdiam dengan semua hal yang dilakukan oleh Jian Lee kepada dirinya.
"Hei,apa kau sudah puas dalam memeluk ku?boleh kau lepaskan aku sekarang"
Fanny yang sedari tadi hanya diam saja kini sudah mulai bersuara Kembali.
"Jika aku tidak mau melepaskan mu bagaimana?kau akan tetap berteriak seperti biasanya?"
Jian Lee menciumi puncak kepala Fanny dan Fanny tenggelam dalam kasih sayang dari Jian Lee.
"Kau mau tau mau apa yang akan aku lakukan?"
"Ya"
Dan seketika saja Fanny menghadapkan wajahnya ke arah Jian Lee dan memberikan ciuman singkatnya kepada Jian Lee.
"Itu yang akan lakukan"
"Waw,sungguh luar biasa,baiklah aku akan. memelukmu lagi,agar aku mendapatkan hal itu lagi"
Dan tiba - tiba ketika Jian Lee hendak melancarkan aksinya, Richard mengetuk -ngetuk kaca mobil Fanny dari luar,Fanny segera membuka kaca mobil tersebut dan mendapati Edward dan Richard memandang tajam ke arah mereka berdua.
"Apa yang kalian lakukan di dalam mobil?"
"Ah masa kau tidak tau"
Jian Lee mengatakan hal tersebut sambil membetulkan kancing kemejanya yang masih terbuka.
"Astaga kau sempat sekali melakukan itu Jian Lee!!"
"Tunggu,jangan tuan Richard salah paham aku dan Jian Lee sama sekali tidak melakukan apapun di dalam mobil"
Fanny berusaha untuk meluruskan perkataan dari Jian Lee kepada Edward dan Richard .
"Tidak melakukan hal apapun kecuali berciuman"
Jian Lee menyahut perkataan Fanny yang langsung disambut pukulan pada pundak Jian Lee.
Jian Lee merasa kesakitan dengan pukulan dari Fanny.
"Sudah,sudah aku mengerti jika saat ini kalian sedang jatuh cinta,tapi perlu diingat Papa Adrian memanggil kita semua ke asrama untuk membicarakan hal penting,nanti setelah rapat selesai kalian bisa melanjutkan nya lagi,saran dariku jangan sampai di luar batas,agar pada saat pernikahan di malam pertama kalian masih bisa merasakan keindahan nya"
Perkataan dari Edward sukses membuat raut wajah Fanny menjadi merah padam.
"Hahaha,kau luar biasa Edward,Jian Lee ayo cepat Papa Adrian menunggu kita"
"Iya,tunggu kenapa kalian ada disini?bukannya kalian tadi memang berada di asrama?"
Kini Jian Lee baru sadar jika Edward dan Richard yang sedari tadi di asrama tiba -tiba kini sudah keluar.
"Nanti saja kita akan menceritakan di ruang rapat apa yang sudah kita berdua lakukan di luar,ayo cepat "
Setelah mengatakan hal tersebut Richard dan juga Edward perlahan mulai berjalan ke arah asrama meninggalkan Jian Lee dan Fanny di dalam mobil.
"Puas kau melihat aku dipermalukan oleh mereka"
"Hei kau sedang tidak dipermalukan,untuk laki -laki itu semua adalah sebuah dukungan"
"Terserah kau saja"
"Ayolah kau jangan marah"
Jian Lee mulai merajuk kepada Fanny agar Fanny tidak marah kepadanya,Fanny pada akhirnya menarik nafasnya dalam -dalam melihat wajah Jian Lee.
"Baiklah,tunggu sebentar"
Fanny mengambil bekal makan siangnya.
"Ini,makanlah agar kau tidak kembali pingsan"
"Aku tidak akan makan dari tanganku "
"Lalu apa maumu ha?"
"Gunakan tangan mu untuk memberikan aku makan,jika tidak aku tidak akan makan"