
Bab 99. Naluri seorang Ibu
^^^" Turutkan rasa, binasa. Turutkan hati, mati."^^^
^^^( Seseorang yang hancur karena menuruti hawa nafsunya)^^^
.
.
.
Hartadi Wijaya
Ia memukul setirnya seusai membanting pintu mobilnya dengan kasar. Mengusap wajahnya gusar dan hatinya mendadak mencelos.
" Anak saya tidak mencintai anak anda. Jadi jika anak saya tidak berkenan, maka saya bisa apa?"
" Seharusnya anda tahu, Riko itu pria seperti apa. Apa dengan anda membantunya seperti ini bisa membuat saya memaksa Fina? Anda salah besar!"
" Jaman sudah berubah. Fina bukan seperti saya yang harus mengikuti kemauan orang tua jaman dahulu untuk ini itu. Tapi saya yang menurut ke dia, karena mereka yang menjalani. Bukan saya!"
" Dengan anda berada di sini untuk memaksa kami, sama saja anda telah kehilangan harga diri anda. Kalau memang Riko orang yang pantas buat Fina, harusnya anda mendidiknya dengan baik. Bukan malah selalu membelanya seperti ini!"
" Anda dan istri anda adalah orang terhormat bukan? Sebagai orang terpandang anda mustinya tahu apa maksud saya!"
Kalimat-kalimat yang terlontar dari bibir istri Guntoro itu benar-benar mengoyak dirinya. Menampar kesadarannya. Gemerlap dunia yang melenakan tak serta merta membuatnya berhasil mendidik Riko dengan baik.
Ia pulang tanpa membawa hasil. Buat hati ingin berbicara baik-baik serata berdiplomasi perihal harta, nyatanya tak membuat keteguhan hati Lidia Guntoro goyah. Sial!
Ia lantas melajukan mobilnya kembali. Melesat menuju ke kediamannya. Sesampainya di rumah besarnya, Ia sempat curiga lantaran mengapa gerbangnya tidak tertutup, dan dimana semua penjaga?
Tanpa berpikir panjang, ia lantas melajukan mobilnya. Sejurus kemudian turun dengan hati yang mendadak merasa tak enak.
Matanya membulat kala melihat rumahnya berantakan akibat perkelahian yang terjadi disana. Ada apa sebenarnya?
" Apa-apaan ini!" Ucapnya saat melihat para penjaga rumahnya yang terlibat perkelahian dengan orang yang tidak ia membuat beberapa orang mengehentikan aksi gelut mereka.
Ia juga sangat terkejut kala melihat wajah babak belur Raditya yang terkulai tak berdaya. Apa yang terjadi dengan pria itu.
" Selamat datang di rumah anda Tuan Hartadi Wijaya yang terhormat!" Pandu berucap seraya menatap tajam ke arah Hartadi. Tersenyum licik.
" Kurang ajar!" Ucapnya geram.
.
.
Hartadi menatap tajam Pandu yang sebenarnya tak asing baginya. Tapi, dimana dia pernah bertemu.
" Kemana saja anda, hingga tak mengetahui jika kediaman anda yang mewah ini telah porak poranda!" Pandu makin gencar menyerang pria itu dengan ucapan verbal yang menyakitkan.
" Bos!" Ucap salah seorang dengan pakaian rapi yang mengomandoi puluhan pria bertubuh tinggi tegap. Membuat mata Pandu, Fina, Kadek dan Willy membulat.
Ya, Riko rupanya memanfaatkan keadaan mamanya yang pingsan tadi agar bisa lari dari situasi genting disana. Dan dari kamar mamanya itu pula , ia terlihat menghubungi bala bantuan yang lain. Benar-benar licik.
" Siapa kau berani membuat kekacauan?!" Hartadi membentak Pandu yang kini terlihat terkejut karena dalam sekejap, keadaan mereka terancam.
" Dia adalah pria miskin yang seharusnya papa lenyapkan juga waktu itu!"
Riko tiba-tiba muncul dan berjalan santai dari arah belakang. Tangannya ia masukkan kedalam saku celananya. Tersenyum licik menatap Pandu yang terkejut.
Hartadi Wijaya masih diam seribu bahasa, mimik wajahnya tak terbaca. Menyiratkan hal terselubung.
" Sini kamu!" Riko menarik kasar lengan Fina.
" Hey singkirkan tanganmu!" Pandu geram kala melihat Fina di perlakukan kasar oleh Riko.
KLAK KLEK
Para anak buah Riko menodongkan senjatanya ke arah Pandu. Kadek dan Willy kini bahkan dalam ancaman anak buah Riko yang lain. Benar-benar sialan!
Radit yang bersimpuh di bawah kaki Pandu masih bernapas, meski yang ia rasakan hanya sakit yang kian menjalar ke seluruh tubuhnya. Apalagi, dua proyektil yang bersarang di dua betisnya itu, makin terasa pedih dan berdenyut.
" Sadarlah pria miskin. Kau dan aku...jelas berbeda takdir. Hahahaha!" Riko mencibir Pandu. Tertawa terbahak penuh kemenangan. Tangan Pandu terkepal, namun sorot mata Kadek menginstruksikan dirinya untuk tenang dan tidak tersulut emosi.
" Lepas Riko!" Fina memberontak.
.
.
Ambarwati
Mobil yang di kemudikan oleh Ajisaka, kini mengikuti mobil Aksa yang melaju kencang bersama Theodor. Kecemasan nampak tersirat di wajahnya tatkala mengingat penjelasan Aksa.
"Pandu saat ini disinyalir berada di kediaman Hartadi Wijaya!"
Seketika matanya mendelik kala mendengar penuturan salah satu guard di tempat itu.
" Hartadi Wijaya?"
" Kami tengah melakukan misi penyelamatan dari anak client kami yang di culik, kebetulan Pandu juga memiliki urusan dengan pelaku!"
Air mata Ambarwati benar-benar tak bisa ia bendung. Entah mengapa takdir seolah membuat diri dan anak-anaknya berada dalam ancaman bahaya. Karma apa sebenarnya yang tengah ia jalani?
" Tenang Buk, semua pasti baik-baik saja!" Sakti mengusap lembut punggungnya. Pemuda itu terlihat tulus menenangkan dirinya yang terlihat cemas, tegang, gusar dan gelisah.
" Bagiamana kau bisa tenang Sak. Pandu bahkan belum pernah menghadapi orang-orang yang membawa senjata?" Isak tangis mengiringi Ambarwati saat berucap dengan suara yang bergetar.
Membuat Sakti memasang wajah muram. Ajisaka lebih terlihat diam. Pria itu sedari tadi hanya bisa menahan kesesakan dalam hatinya. Mereka semua bahkan belum tidur ataupun beristirahat dengan benar sejak dari Kalianyar.
Insting dan naluri seorang ibu benar-benar tidak boleh diragukan. Kini, Ajisaka paham mengapa ibu dari Pandu itu keukeuh untuk menyusul anaknya.
" Aku tidak menyangka Pandu akan terlibat hal seperti ini!" Sebenarnya Yudha kagum, tapi di sisi lain ia begitu mencemaskan sahabatnya itu.
" Siapkan diri kalian. Kita bantu Pandu sebisa dan semampu kita!"
Tangan Ambarwati semakin dingin. Ia sama sekali tak bisa tenang. Jelas sesuatu tengah mengusik pikirannya.
.
.
Tiga puluh menit kemudian, ia sampai di depan sebuah rumah. Rumah yang membuat tubuhnya kini bergetar.
" Buk, ibuk ga apa-apa?" Ajisaka menanyainya dengan wajah penuh kecemasan sesaat setelah mereka turun dari mobil.
Kini, mereka semua melihat rumah besar dengan banyak sekali mobil yang berada di depan area rumah itu.
Ia mengangguk " Ibuk gak apa-apa nak!" Ambarwati mengusap lembut punggung tangan Ajisaka.
Sejurus kemudian, mereka diam dan melihat Aksa yang mendatangi seorang pria yang berusia matang dan berpenampilan rapih.
" Pak, ijin. Ibu dari Pandu tengah ingin bertemu. Mereka datang jauh-jauh dari Kalianyar!" Aksa melapor kepada Bayu yang rupanya sampai hampir bersamaan di kediaman Wijaya.
Mata Bayu menatap wajah ayu Ambarwati yang terlihat sendu. Sepertinya Pandu lebih banyak mendapat gen wajah dari ibunya. Mirip sekali dengan Pandu.
" Pak!"
" Pak!"
Aksa kini mencoba memanggil Bayu yang nanar menatap wajah Ambarwati. Bayu malah melamun saat memandang wajah Ambarwati.
Membuat Ajisaka, Yudha dan Sakti saling memandang.
" Ini Pak Bayu Arsyanendra. Direktur kami!" Theodor yang menyusul dari arah belakang memperkenalkan pria gagah yang berusia matang dan berwajah rupawan kepada meraka semua.
" Saya Bayu!" Ucap Bayu mengatungkan tangannya kepada Ambarwati.
" Saya...!"
DOR
DOR
DOR
Belum sempat Ambarwati menjabat tangan Bayu, mereka semua di kejutkan dengan suara letusan dari sebuah pistol.
Oh tidak!