
Bab 213. Berita mengejutkan
.
.
.
...πππ...
Pagi itu Pandu melepas kepergian rombongan para manusia bujang itu ke Kalianyar. Para orang tua berada di mobil satunya dan sudah berangkat lebih dulu bersama Sukron dan Dino yang menjadi tour guide perjalanan mereka. Sedangkan Ajisaka, Yudha , Wida dan Damar berada dalam satu mobil.
" Semoga bahagia selalu dan cepat isi ya Fin!" Wida memeluk Fina seraya mengusap punggung wanita itu dengan lembut dan penuh rasa sayang. Fina merasa seperti memiliki seorang kakak perempuan yang selama ini tak pernah ia dapatkan, dari istri Rama dulu.
" Ahh...jadi meloow kan. Makasih banget ya Mbak, aku udah di tungguin Sampek acaranya selesai" Fina yang pagi itu mengenakan dress putih selutut tanpa lengan terlihat berona cerah.
Tentu saja cerah, sebab semalam suntuk Pandu berhasil mengantarnya berulang kali menggapai rembulan.
" Damar maksih ya, udah datang kesini. Ini...Tante kasih hadiah!" Fina memberikan sebuah kotak yang dalamnya berisikan mainan Avengers keluaran terbaru.
" Buat Damar? Makasih banyak Tante!" Mata bocah itu berbinar senang. Menatap harta barunya yang ia dapatkan dari wanita yang sangat murah hati itu.
Fina mengangguk, wanita itu sudah menyiapkan hal itu bahkan sebelum acara itu di gelar. " Ngomong-ngomong, masih marah sama om Aji enggak nih?" Fina melirik Aji yang pagi itu sudah keren dengan sepatu boots favoritnya.
Damar menggeleng namun dengan wajah malu, sebab sebenarnya ia memang sudah tidak marah dengan pria keren itu. Membuat semua yang disana tertawa. Bahkan Yudha.
" Ya udah, kita pamit ya. Salam Buat Pak Bayu sama Bu Ambar. Hah!( Aji mengembuskan napasnya panjang) gak nyangka, satu demi satu udah mulai punya kehidupan sendiri- sendiri!" Ucap Aji dengan tatapan menerawang jauh.
" Udah enggak usah mellow, abis ini elu juga ninggalin aku sama Sak..."
Yudha tertegun dan tak meneruskan ucapannya demi menyadari jika manusia yang ia bicarakan tidak ada diantara mereka.
Membuat Fina dan Wida menatap murung.
.
.
Ngomong-ngomong masalah Sakti, pria itu kini tengah berada di dalam kereta api kelas bisnis. Ibunya sangat ingin naik kereta karena sudah lama tidak menggunakan moda transportasi, yang dulunya berbahan bakar batu bara itu.
Ia menutupi kepalanya dengan Hoodie berwarna hitam, dan menyumpal telinganya menggunakan headset. Menenggelamkan dirinya dalam raungan suara Adam Levine yang menyanyikan lagu Never gonna leave this bed.
Ia menggeleng sewaktu Ibu dan bapaknya menawarinya berbagai jenis kudapan maupun minuman lezat, yang barusaja di sajikan oleh pramugari kereta eksekutif class yang ia naiki.
Kereta itu melaju dengan cepat, membawa serta seluruh haru dalam hati Sakti yang sebentar lagi akan meninggalkan para sahabatnya. Kilasan ingatannya mendadak kembali saat ia berpamitan dengan Pandu kemarin sore.
" Selamat Ndu, sory akhir-akhir ini aku sibuk banget. Yang jelas aku turut bahagia!" Ia memeluk erat Pandu dan mungkin waktu itu adalah waktu terakhir kalinya Pandu melihatnya sebelum ia pergi.
" Apa semua baik-baik saja?" Tanya Pandu serius saat ia memegang kedua lengan Sakti yang terlihat lebih kurus. Menatap lekat manik mata Sakti yang terlihat menyimpan sesuatu.
Ia mengangguk. " Ayolah, kau ini seperti tidak kenal denganku saja!" Jawabnya biasa agar membuat Pandu tak berpikir macam-macam.
Dan dari kesemua itu, membuatnya memejamkan mata. Ia tahu, segala sesuatunya telah berubah saat ini. Sama seperti dirinya yang merasa harus merubah nasibnya sendiri.
.
.
Yudha mendengus tiada henti demi melihat Ajisaka yang saat ini duduk di belakang bersama Wida. Damar sudah tertidur sejak mereka memasuki kilometer 47 tol jalan raya itu.
Aji bahkan sengaja membeli keranjang khusus anak-anak agar Damar bisa tidur dengan nyaman di mobil. Kini, pria itu sedari tadi tiada henti meremas tangan Wida.
" Mas!" Bisik Wida yang merasa tak enak hati dengan Yudha yang sibuk menyetir.
" Udah biarin aja. Dia cuek kok, dah biasa begini!" Ucap Aji yang kini menidurkan kepalanya keatas paha Wida tanpa permisi. Membuat mata Wida membulat seketika.
" Aku capek banget Wid, aku mau tidur dulu!"
Bisa-bisanya Ajisaka menjadikan paha Wida yang terbungkus celana katun panjang yang lembut itu, sebagai batal kepalanya. Dasar!
Aji meraih tangan lembut Wida dan meletakkannya di pipinya. Pria itu tidur betulan rupanya. " Bentar aja, nanti gantian!" Ucap Aji dengan mata yang sudah terpejam.
Wida menatap lekat wajah Aji yang kini sudah lelap. Kelopak mata yang ciut, hidung yang tidak terlalu besar, alis tebal serta bibir yang diatasnya mulai di tumbuhi bulu-bulu halus.
Aji ganteng.
Tanpa terasa, senyum lebar mengembang dari bibir Wida. Wanita itu mengusap lembut pipi Aji yang sedikit kasar seperti parut sebab memang tidak niat mencukur bulu di area rahangnya.
" Aku mau tumbuhkan kumis Wid, biar aura kebapakanku muncul!" Ucap itu beberapa waktu lalu saat mereka berbicara melalui sambungan telepon.
Tak hanya kepada dirinya, bahkan pria itu sangat perhatian kepada Damar. Yudha yang melihat Wida tersenyum dari rear vission mirror di depannya, turut menyuguhkan senyum.
Dalam hatinya limpah dengan syukur, sahabatnya telah menemukan wanita sederhana yang memang pas untuk Aji. Pria pemarah, yang sedari kecil tiada mendapatkan kasih sayang seperti yang lain.
Definisi dari dandang ketemu tutupnya.
.
.
...πππ...
Kalianyar
***
Yudhasoka
Sehari setelah mereka tiba dari acara pernikahan Fina dan Pandu, pria itu kini kembali ke aktivitasnya. Setelah kenyang dengan raungan mamaknya yang senantiasa menabuh genderang perang bersama Arju, ia kini meraih tas dan kunci mobil dan berniat meluncur ke Agung Wilis.
Ia terlihat bersiul dan menyugar rambutnya penuh percaya diri, mengabaikan suara-suara berisik yang masih saja gaduh di dapur ,saat Sukron datang dengan tergopoh-gopoh menggunakan motor dua tak yang memekakkan telinganya.
" Yud, udah dapat kabar?" Ucap Sukron yang menjagang motornya dengan ngawur.
" Kabar apaan?"
.
.
Ia tercenung dengan pikiran tak percaya bersama Ajisaka saat menghadap ke arah Ibu Sakti yang saat ini menangis sembari memegang sebuah surat.
Benar-benar membuat Yudha syok bukan main.
Teruntuk Ibu,
Ibu, jika ibu membaca ini mungkin aku sudah tidak berada di desa lagi. Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja.
Berjanjilah untuk tidak mudah marah kepada Bapak. Dan jaga kesehatan kalian selama aku tidak ada.
Sampaikan permohonan maafku kepada Pandu, Aji terlebih Yudha. Apapun yang terjadi percayalah aku sangat menyayangi kalian.
Doakan apa yang menjadi harapanku terwujud. Aku cuma ingin membuat Ibu bangga dengan usahaku.
Aku ingin Ibu juga bisa membicarakan namaku dengan bangga saat berada di acara-acara besar, bersama teman-teman Ibu, seperti orang tua para sahabatku yang membicarakan anak mereka penuh dengan rasa kebanggaan.
Doakan aku Bu.
Putramu yang selalu mencintaimu.
^^^Sakti Buana.^^^
Yudha menjambak rambutnya frustasi. Ia menyesali dirinya yang tak tahu soal Sakti yang rupanya berbeban berat karena keresahan pria itu yang belum juga menemukan jati diri. Mata Yudha berkaca-kaca. " Elu nganggap gue ini apa Sak?" Gumam Yudha dengan suara bergetar.
Baru saja ia merasakan bahagia dengan pernikahan Pandu, juga dengan rencana Ajisaka yang akan menyusul mereka. Tapi kini, kepergian Sakti yang mendadak jelas membuat banyak sekali pertanyaan yang bersarang di otaknya.
Kenapa pria itu beberapa hari ini menghindar?
Kenapa Sakti seolah membuat segala sesuatunya baik-baik saja padahal pria itu tengah dirundung keresahan?
Aji turut mengusap wajahnya kasar. Sama sekali tak menyangka jika pria yang selama ini ceria itu, nyatanya memiliki keminderan kepada mereka bertiga.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa like dan komentar ya, sumpah komentar se sedikit apapun membuat author sumringah gaesπ€π€π€