
Bab 53. Butuh restumu Bu!
^^^" Tertungging bagi kodok dalam lubang ( seseorang yang menderita berbagai kesukaran)"^^^
.
.
.
...πππ...
Jumat sore
Keputusan Tuan Guntoro untuk membawa Fina pulang agaknya memang sudah bulat. Pria itu ingin membawa anaknya kembali saja dari pada tak bisa memonitor pergerakan Fina.
Untuk saat ini lebih baik begitu. Entah esok hari, entah lusa nanti. Mengingat sifat manusia yang mudah berubah.
Tuan Guntoro merasa kini perlu melindungi anaknya dari Riko. Apalagi, Tuan Guntoro paham dengan Hartadi dan Rengganis, yang notabene adalah orang tua Riko.
Mereka adalah orang-orang yang sangat berpengaruh.
Fina tak bisa berbuat banyak. Bagiamanapun juga ia tetaplah anak. Dan masalahnya kini adalah, Riko pasti masih mengincar Fina.
" Gue pulang Sabtu besok Dit. Sory gak bisa pamit langsung ke tempat elu!"
" Ya udahlah Fin, elu turutin aja bokap elu. Yang penting elu aman!"
Ia bahkan juga akan sendiri di kota. Mengingat Dita baru saja menjalankan tugasnya di puskesmas desa itu.
Fina sore itu mengantar Bu asmah ke tempat mamak Mariana. Tentu saja untuk urusan produk kedelai yang akan dibawa pulang ke kota. Tahu buatan orang tua Yudhasoka itu benar-benar beda.
Terkenal dan memiliki citarasa yang lembut. Mirip tahu buatan orang Lombok yang terkenal seantero Nusa Tenggara Barat.
" Aduh Ibuk, kenapa harus kemari. Tak perlu susah-susah sebetulnya. Makin tak enak pula aku sama ibuk ini!" ucap mamak Mariana sungkan sewaktu kedatangan orang sekelas Bu Asmah.
Fina meninggalkan dua orang tua yang saling bercuap- cuap itu dengan berjalan berkeliling ke sekitar rumah Yudha. Rupanya sahabat dari Pandu itu tengah sibuk dengan palu dan paku.
Seperti tengah sibuk membuat kandang untuk hewan peliharaan.
" Ehem!" Fina berdehem membuat pria dengan sikap cuek itu menoleh.
Menatap Fina dengan tatapan bingung.
" Boleh bicara sebentar!" ucap Fina tersenyum. Ini adalah kali pertamanya Fina berbicara dengan Yudha.
Yudhasoka mengernyitkan dahi, apa yang mau dibicarakan oleh wanita itu. Sejurus kemudian ia mengangguk.
"Ya, silahkan!"
" Cih, cuek sekali!"
Fina menatap Yudha serius. " Boleh aku minta nomer ponsel Pandu!"
.
.
Pandu
Ia kini tengah berbicara serius dengan ibunya. Lebih tepatnya meminta restu untuk pergi mencari tahu orang yang telah mencelakai adiknya.
Pikirannya benar-benar terbagi. Entah mengapa dalam otaknya kini bersemayam wajah Fina yang merajuk usai ia cium kemarin. Di sisi lain, pikirannya tertuju pada kalung yang di temukan oleh kang Jono.
" Ibuk cuma punya kamu sekarang Ndu. Kalau kamu pergi, ibuk sama siapa?" Ambarwati nelangsa. Sungguh permintaan Pandu ini benar-benar menggerus keikhlasannya.
" Sudahlah nak, kita terima saja kepergian adikmu!"
Keadaan yang pas-pasan membuat Ambarwati tak memiliki daya lebih.
Pandu memegang tangan halus ibunya. Mengusapnya perlahan dengan kelembutan.
" Tolong restui Pandu Buk! Pandu janji bakal pulang dengan selamat. Ini janji Pandu ke Ibuk!"
" Pandu harus bisa bikin orang yang nusuk Ayuk merasakan hal yang setimpal buk. Dengan tangan Pandu sendiri!"
Pandu meletakkan tangan kanan ibunya keatas kepalanya. Berbicara dengan tatapan memohon.
Mata Ambarwati memanas. Ia hendak meluncurkan cairan bening dari kedua netranya.
" Barangsiapa menggali lubang, akan terperosok sendiri!"
Membuat Pandu tertegun.
" Siapa yang membuat kesusahan orang lain, dia sendiri yang akan mendapatkan kesusahan?"Ambarwati meraih tangan putranya lalu menggenggamnya. Mengusap wajah Pandu penuh kasih sayang.
Adat tua menanggung ragam ( makin tua makin menanggung cobaan hidup). Ungkapan itu agaknya relevan untuk mewakili hidup Ambarwati. Kenestapaan yang tiada berkesudahan. Datang silih berganti menerpa hidupnya.
" Air tenang kadang berbuaya!" sahut Pandu menatap ibunya. Ia masih bersikeras memberi pengertian kepada Ibu.
" Jangan dikira orang yang diam itu tak bisa berbuat jahat buk!" imbuhnya kemudian. Dengan mata yang sudah mengkristal.
" Pandu lelah untuk terus mengalah. Lelah untuk diam. Semakin kita diam, semakin banyak orang yang meludah diatas tubuh kita buk!"
Pandu mengeraskan rahangnya demi mengingat semua yang terjadi dalam hidupnya. Hidup yang kerap di pandang sebelah mata oleh orang.
" Ayah mati tertembak, Pandu diam. Menerima dengan balasan sebuah piagam yang sama sekali tak berguna!" Pandu dengan wajah memerah menunjuk piagam milik Sulaksono yang terpanjang di di dinding dengan amarah.
" Ibu lihat?"
" Ayuk tertabrak hingga buta, Pandu juga diam buk. Terlalu bodoh selama ini!"
"Benar kita miskin..... itu benar..!" Pandu berbicara dengan napas memburu. Tak mampu lagi menahan kesesakan di hatinya.
" Dan sekarang Ayuk mati konyol, apakah Pandu juga harus diam? Apa Pandu harus diam sampai semua yang Pandu miliki habis tak bersisa?"
Ambarwati terisak demi mendengar serentetan kisah hidup yang begitu kelam. Kesukarsulitan yang tiada pernah berhenti.
" Enggak Buk. Maaf, tapi kali ini Pandu gak bisa untuk diam!"
" Tolong untuk kali ini biarkan Pandu mencari keadilan untuk adik Pandu buk. Pandu gak peduli sehebat apa musuh Pandu yang musti Pandu hadapi. Kita ini orang miskin Buk. Yang tersisa dari kita hanyalah harga diri....!"
...πππ...
Pandu tak bisa memejamkan matanya barang sejenak pun. Pikirannya sewaktu berada di gubuk bersama Fina benar-benar mengusik pikirannya.
Apalagi rasa bibir Fina.
Sialan!
" CK, Brengsek!" ia kini terbangun. Meraih ponselnya dan menggilir benda pipih itu demi memburu rasa konyolnya.
" Tadi Fina minta nomermu. Aku kasih. Sory tadi gak bilang ke kamu dulu!
Pesan dari Yudha membuat Pandu tertegun. Meminta nomor?
" Duitmu bakal cair tiga hari lagi. Tapi apa kamu yakin Ndu bakal ke kota beneran?"
Dua pesan dari Yudha sama sekali tidak ia balas. Ia kini mengusap wajahnya kasar. Skenario terkait dirinya yang akan mencari dalang dibalik penyerangan keluarganya itu masih belum tersusun.
Dan kini mendadak ia merindukan Fina.
.
.
.