Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 89. Menolong di dalam kesulitan



Bab 89. Menolong di dalam kesulitan


^^^" Bagai lima belas dengan tiga puluh. Persoalan yang sama besarnya!"^^^


^^^.^^^


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Serafina


Ia meminta waktu kepada Riko malam itu untuk menemui bocah kisaran lima tahun itu bersama ibunya. Riko menyetujui, dan meminta Joni untuk mengawasinya.


" Jangan main-main denganku sayang. Ingat itu!" Ancam Riko kepada Fina usai mencium rambut Fina. Benar-benar crazy!


Riko menyetujui lantaran kebetulan ia harus menemui Zack kembali malam ini. Entah negoisasi apa yang mereka bicarakan.


" Jon, jaga Fina!"


Meski was-was namun Fina benar-benar mengedepankan rasa empatinya kepada sesama wanita saat itu. Entah bagaimana nasibnya nanti.


Joni menunggu diluar. Tak ada pintu maupun jendela di ruangan itu. Membuat Joni sedikit berlega hati


" Mbak mandi dulu ya...biar seger!" Fina menatap sendu kearah Widaninggar. Ia menyerahkan seperangkat peralatan mandi , handuk juga pakaian ganti. Hasil dari mendesak Riko.


Damar terlihat tertidur diatas kasur dengan wajah pucat dan lebam di dahinya. Terlihat lelah seusai menangis. Ya ampun, bocah sekecil itu kini harus menhan derita macam ini.


"Terimakasih mbak. Tapi...kenapa mbak melakukan hal ini?" Widaninggar terlihat tertunduk. Ia malu. Tak enak hati lantaran Fina yang terlampau baik.


Widaninggar menebak, bila Fina jelas merupakan orang dekat Riko. Ia bisa menyimpulkan dari sikap Riko yang posesif. Meski, ia tak bisa menafikkan bila Fina sepertinya terlihat tak menyukai. Begitu pikir Widaninggar


Entah mengapa Fina sangat kasihan melihat wanita itu, dan entah mengapa pula mereka bisa berada di tempat Riko. Dengan keadaan seperti itu pula. Astaga!


" Kita ngobrol nanti ya, mbak mandi dulu saja biar lebih enakan juga. Aku akan jaga anak mbak disini!" Fina tersenyum simpul.


Dan semua sugesti dari Fina tadi, entah mengapa semua dilakukan oleh Widaninggar. Ia merasa, Fina orang baik yang tak patut di curigai. Hati mengenal kepedihannya sendiri bukan?


Mereka kini tengah berada di ruangan yang layak. Meski tak besar, namun kasur kapuk itu jelas membuat Damar bisa lelap dengan nyamannya. Walau pengap lantaran tak ada jendela ataupun pintunya. Hanya sebuah ventilasi udara seukuran kardus ponsel baru sebanyak tiga buah.


Benar-benar ruang penyekapan.


Fina tersenyum menatap wajah teduh Damar. Sejenak ia ingat kepada papa dan mamanya, juga Pandu.


Apakah keluarganya saat ini tengah mencemaskan dirinya? Apakah Pandu saat ini juga mengusahakan untuk mencarinya?


Sebulir cairan bening lolos. Mengapa hidupnya saat ini berganti seratus delapan puluh derajat. Kemanakah ketenangan hidup yang selama ini ia miliki?


.


.


Corps Kijang Kencana


" Kau yakin akan melakukan ini?" Andhika bertanya kepada Pandu dengan wajah serius.


Pandu mengangguk " Kita harus pastikan keparat ini untuk tidak berani menipu kita!"


Pria suruhan Raditya yang diketahui bernama Rexa itu, kini terlihat menunduk ketakutan. Bagai makan buah simalakama. Melawan mati, tidak melawan juga mati oleh Radit nanti.


Oh nasibmu busuk sekali kawan!


Tepat pukul 00.00 mereka mulai bergerak bersama Rexa. Team Alpha bergerak lebih dulu, sementara Bayu mengomandoi team Bravo dan team Charlie. Theodor bersama Rendy memantau dari mobil mereka yang kini sudah terparkir di bahu jalan agak jauh dari markas Raditya.


Tekun menatap peralatan yang mirip seperti sebuah radar yang tersambung pada masing-masing personel. Benar-benar terstruktur dengan baik.


" Telpon bosmu!" Andhika mengintimidasi Rexa agar pria itu menghubungi Raditya. Menanyakan dimana keberadaan lelaki keparat itu.


Dengan wajah pias dan tangan bergetar, Rexa kini mencoba melakukan sesuai perintah Andhika yang sudah mengacungkan senjatanya ke kepala Rexa. Sialan!


" Halo, Rexa kau dimana? Mengapa lama sekali?" Sahut Raditya dari ujung telepon.


Andhika, Satya dan Pandu kini saling menatap sembari tekun mendengar suara Raditya di ujung telepon Rexa.


Rexa terlihat mati kutu. Ia benar-benar tak memiliki pilihan.


Rexa melakukan semuanya sesuai dengan perintah Andhika. Kini, ia benar-benar akan menghadapi masalah. Masalah sari Raditya Lebih tepatnya.


" Bagus, naiklah aku di lantai dua. Kemarilah!"


Satya tersenyum penuh arti usai Rexa memungkasi sambungan teleponnya. Pandu juga demikian. Kini, Raditya selangkah lagi sudah dalam genggaman mereka.


" Woy! Siapa itu?'' Suara salah seorang anak buah Radit yang melihat Rexa di piting lehernya oleh Yusuf yang dibawah ancaman Markus.


CLAK


BUG


Dengan langkah cepat, Pandu menarik serta melumpuhkan pergerakan pria itu. Terkahir, Pandu melayangkan pukulan tepat mengenai wajah pria itu. Seketika pria tersebut menjadi tak sadarkan diri. Membuat Rexa menelan ludah dengan mata mendelik.


Jelas kekuatan mereka tak bisa dianggap enteng.


Ia benar-benar masuk ke kadang macan.


" Area dalam clear!" Ucap Andhika melalui sambungan earpiece yang ia kenakan. Menginformasikan update keadaan di tempatnya berada kepada team yang lain.


.


.


Kini, Widaninggar terlihat lebih baik. Meski lebam di wajahnya masih kentara, namun tubuhnya saat ini terlihat lebih segar. Damar masih lelap dalam tidurnya. membuat dua wanita itu kini saling bercerita.


" Suamiku menjual ku kepada Joni karena hutang!" Ucap Widaninggar dengan tatapan menerawang di bawah pendaran cahaya lampu ber-watt rendah.


" Aku salah memilih pria...dan..." Widaninggar terlihat mengusap lembut rambut hitam anaknya yang masih terlelap.


" Pernikahan yang aku impikan menjadi sebuah kebahagiaan, nyatanya hanya fatamorgana semata!" Widaninggar tersenyum sumbang.


" Aku ikut suamiku ke kota, tapi... setelah aku ikut, aku baru tahu tabiat asli suamiku!" Widaninggar tersenyum kecut ke arah Fina.


" Cinta... kebahagiaan... nyatanya hanya sebuah ilusi yang sepertinya, tidak akan pernah kami dapatkan!" Kini pandangan Widaninggar menerawang. Sungguh, hati Fina bak di sayat sembilu.


Nestapa betul nasibnya.


Fina tertegun mendengar sepenggal kisah yang menyayat hati itu. Bagiamana bisa seorang suami tega menjual anak dan istrinya. Kisah yang biasa ia baca dalam novel maupun film itu, kini nyata ia dengar.


" Tapi..gimana bisa mbak?" Fina dengan wajah muram makin penasaran.


Widaninggar tersenyum kecut " Sudah nasib saya mbak..."


Hening beberapa detik.


"Oh ya, kita belum kenalan secara resmi!" Tukas ibu dari Damar itu dengan sedikit senyuman yang membuat wajah bersihnya kian ayu.


Fina juga tersenyum " Saya Fina, nama saya Serafina!"


" Saya Widaninggar. Ini Damar anak saya!"


Widaninggar bahkan kini sudah tak menangis lagi. Jelas menandakan bila nhidup wanita telah diisi dengan kepedihan. Hatinya seperti telah mati.


" Jadi apa rencana mbak selanjutnya?" Tanya Fina yang kini turut menarik selimut untuk Damar.


Widaninggar terlihat memejamkan matanya sejenak. Ia menarik napasnya dalam-dalam.


" Aku ingin kabur dan kembali ke desa. Kamu bisa bantu aku?" Widaninggar menatap Fina dengan tatapan memohon. Entah mengapa, perasaan Fina berkata jika ia harus menolong wanita dengan alis tebal itu.


" Jika suatu saat kita di pertemukan kembali. Aku akan membayar hutang budiku kepadamu Fin!"


Fina mengeraskan rahangnya seraya menahan sesak di hatinya. Bak mendapat Ilham dari langit, Fina memegang tangan Widaninggar dan menganggukkan kepalanya seraya memeluk erat tubuh wanita muda itu.


Malam itu, menjadi titik awal perkenalan dua wanita yang terjebak dalam kondisi tak menguntungkan itu. Fina kini tersenyum senang, setidaknya ia bisa menolong orang lain meski nasibnya sendiri juga tak pasti.


.


.


.


.