Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 158. Trust me!



Bab 158. Trust me!


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Widaninggar


" Le bangun Le!" Ia mengguncang tubuh Damar yang telah tak sadarkan diri. Kakinya lemas, namun sekuat tenaga berupaya menolong anaknya. Diraihnya tubuh Damar dan langsung memangkunya meski seluruh tubuhnya mirip orang menggigil.


Membuat pakaian yang di kenakan Wida kini menyerap darah yang keluar dari kepala Damar.


" Tolong!" Ia bisa mendengar ibu yang berteriak-teriak. Benar-benar tak tahu lagi harus berbuat apa.


" Tolong!" Di sela-sela Isak tangis yang bercampur kebingungan, Ibu masih berupaya berteriak.


" Wida!" Suara bass yang belakangan ini sudah lumayan familiar di telinganya, terdengar secara tiba-tiba. Bersamaan dengan sebuah mobil yang datang.


Wida bahkan sampai tidak mendengar jika ada mobil datang kerumah mereka.


" Buk, ada apa ini?" Ia masih bisa mendengar suara Mas Aji yang panik saat bertanya kepada Ibu.


" Ya Allah mas, bibik'e sampean ngamuk-ngamuk mrene. Iki putuku pie mas?"


( Ya Allah mas, bibinya anda datang marah-marah kemari. Itu cucu saya gimana mas?)


Ia masih bisa mendengar percakapan itu, sebelum akhirnya ia merasa pandangannya samar dan semuanya menjadi gelap.


.


.


Ajisaka


" CK, brengsek!" Ia mengumpat saat tak satupun nomor dari ketiga sahabatnya itu mengangkat panggilan darinya.


Ia sudah meminta Sukron dan Dino untuk mengejar bibinya menggunakan motor yang ada dirumah Wida. Sepertinya bibinya tadi di jemput oleh seseorang.


Kini, ia bersama Ibunya Wida tengah dalam perjalanan membawa dua orang itu menuju ke kerumah sakit.


Nenek dari Damar itu terlihat menangis dan takut saat Aji benar-benar marah. Auranya terasa mencekam. Sejurus kemudian ponsel pria itu terlihat bergetar. Sebuah panggilan masuk kedalam ponselnya.


" Jancok arek Iki!" Ucapnya saat benda persegi panjang itu telah tertempel di pelipisnya.


Ibunya Wida bahkan tersentak kala Aji mengumpat kepada seseorang di seberang teleponnya. Pria itu benar-benar terlihat gusar.


" Aku udah jalan kerumah sakit, bilang sama si Sakti buat bantu Sukron nyari Bik Arning.


" Iya iya, udah pokoknya sekarang. Bawa mobilku yang satunya nanti, kuncinya kamu tanya ke Buk Esi!"


Aji benar-benar di tuntut untuk cepat saat ini. Entah apa yang ada di pikiran calon ibu mertuanya di sampingnya itu, yang mengetahui jika mulutnya kerap rusak jika sudah marah.


.


.


Pandu


Ia baru saja selesai mandi pagi itu dan berniat pergi bersama Fina untuk mengurus pembukaan Pelangi Sari. Namun, ia terkejut saat melihat banyak sekali panggilan tak terjawab dari Ajisaka.


" Aji? Ada apa?" Ia bergumam karena tak biasanya pria itu menelpon sebanyak itu.


Kini, ia membaca pesan yang dikirimkan Aji kepadanya.


" Aku perlu bantuan, anaknya Wida terluka parah. Tolong kamu bantu aku dan bilang sama Yudha Sakti buat bantu Sukron nyari Bik Arning!"


Dalam sepersekian detik, otaknya benar-benar dipaksa untuk mencerna kejadian apa yang sebenarnya terjadi.


Akhirnya ia berinisiatif untuk menghubungi balik sahabatnya itu. Dan dalam beberapa detik saja, panggilan darinya susah dijawab.


Namun, alih-alih ingin bertanya, ia justru mendapat umpatan yang tanpa tedeng aling-aling dari bibir Sakti yang saat ini jelas beraut wajah keruh.


" Jancok arek Iki!"


Ucapan Wellcome yang sangat luar biasa bukan?


" Aku udah jalan kerumah sakit, bilang sama si Sakti buat bantu Sukron nyari Bik Arning."


" Aku nyusul kamu dulu sekarang ke rumah sakit?" Ia memastikan sekali lagi dari pada salah mengambil keputusan.


" Iya iya, udah pokoknya sekarang. Bawa mobilku yang satunya nanti, kuncinya kamu tanya ke Buk Esi!"


" Ada apa Ndu?" Ibu yang menyiapkan sarapan di meja makan rupanya menaruh atensinya pada Pandu.


Pandu terkejut lalu menoleh kepada Ibunya. " Calonnya Aji kena musibah Buk. Anaknya di bawa ke rumah sakit. Pandu juga enggak tahu kenapa, tapi dari suaranya si Aji dia marah banget sama Bik Arning!"


.


.


" Asu asu! Bisa enggak sih jangan mendadak gitu kalau ngabarin hal genting kayak gini!" Sakti menggerutu saat ia berada di bonceng Yudha yang juga turut panik. Rambutnya sudah mirip dengan bejita kala terpaan angin itu membuat rambut lurus Sakti naik ke atas.


" CK, bisa gak sih diem dulu!"


" Aku juga nggak tahu apa-apa. Sama si Pandu disuruh nemuin si Sukron dulu kerumah Aji!"


Yudha sebenarnya masih mumet dengan persolaanya. Namun mendengar jika sahabatnya memerlukan bantuannya, ia langsung tancap gas dan menjemput Sakti.


" Kita kemana ini Yud? Nyari nenek sihir itu kemana?"


Yudha terlihat berpikir.


" Aku tahu!"


.


.


Rumah sakit Graha Medika


***


Ajisaka


Ia benar-benar mengemudi dengan kecepatan maksimal. Ia akan meminta maaf kepada calon ibu mertuanya nanti karena sudah membuat wanita itu mual akibat ulahnya yang ugal-ugalan.


Pandu rupanya tak mengikuti saran Aji untuk membawa mobil. Pria itu membawa motornya dan lebih dulu menginformasikan kepada petugas disana atas rekomendasi dari Dita.


Akan sangat lama jika harus menggunakan mobil.


Tanpa bersuara, Aji terlihat membuka pintu belakang dan langsung membopong tubuh Damar. Terlihat benar-benar panik.


" Tolong kamu minta petugas itu untuk membawa Wida!" Aji terlihat sangat panik dan cemas. Pria itu berlari membawa Damar menuju brankar yang telah di siapkan oleh petugas.


" Tolong pastikan kalian tangani dengan baik!" Aji menatap dua petugas rumah sakit yang telah bersiap itu.


Selang beberapa menit kemudian, ia melihat Pandu yang bersama petugas wanita turut mengiringi Wida yang di dorong diatas brankar.


Pandu merasa iba menatap wajah pucat Wida yang tak sadarkan diri. Ibu Wida menangis. Aji terlihat mengusap punggung wanita sepuh itu.


" Sabar ya Buk, semua akan baik-baik saja!" Aji berusaha menguatkan wanita sepuh itu. Meski ia sendiri sebenarnya tengah gundah gulana.


" Bapaknya Wida belum tahu Mas. Gimana ini?"


Ia menangkap kilat keresahan di mata calon mertuanya itu. Hati Aji turut dirundung rasa kasihan.


" Keluarga pasien? Mohon untuk mengisi data dulu!" Ucap seorang perawat yang membuat mereka bertiga mengalihkan atensi.


" Kamu tunggu Ibunya Wida dulu, aku mau ngurus administrasi dulu!" Ucap Aji kepada Pandu dengan wajah tegang.


" Pembayarannya menggunakan jaminan sosial apa mandiri Pak?"


Aji langsung tersulut demi mendengar pertanyaan petugas itu. Pertanyaan yang mengingatkan dia akan masa lalunya dulu. Kemiskinan kerap membuat kita di sepelekan.


" Kalau pakai jaminan sosial bakal kalian layani dengan baik enggak? Enggak kan? Ya udah saya bayar mandiri aja biar cepat di tangani!" Aji terlihat mengeraskan rahangnya usai mengucapkan hal itu. Benar-benar tersulut emosi.


Mereka pasti melihat tampilan lusuh Ibunya Wida juga pakaian pudar yang di kenakan Damar tadi. Mereka mengira jika Damar dan Wida, adalah golongan orang tak mampu.


" Ba-baik pak!" Petugas itu terlihat menunduk dan ketakutan. Apalagi, tampilan Aji yang mentereng jelas membuat mereka sungkan.


" Silahkan isi data dulu Pak!"


Usai mengurus segala birokrasi njelimet rumah sakit, ia kini kembali ke tempat Pandu berada. Meski dengan kekesalan yang belum berkurang.


" Aman?" Tanya Pandu.


" Hemm!" Sahut Aji yang kehilangan semangat.


Pandu hanya terdiam saat sahabatnya itu dalam mode angry. Akan lebih baik jika ia diam.


" Pasien perempuan sudah sadar, anda bisa masuk sekarang!" Ibu Wida terlihat langsung beranjak dan berjalan maju untuk menemui putrinya, saat seorang perawat memberitahukan kemajuan pasien.


Sementara ia kini tertunduk lemas demi menahan kemarahan kepada bibinya. Membiarkan ibunya Wida untuk menemui anaknya dulu. Aji ingin mengatur emosinya terlebih dahulu.


" Tenang Ji. Kita percaya saja sama Yudha dan Sakti!" Pandu tahu apa yang di pikirkan sahabatnya itu.


" Keserakahan!" Aji tersenyum sumbang. Tak habis pikir akan tindakan impulsif yang dilakukan bibinya.


" Dia memanggilku nak jika aku berguna. Dan memanggilku anak nakal kala aku kerap menyusahkan dirinya dulu dengan sepiring nasi!" Aji menahan sesak di dadanya.


Teringat akan perlakuan buruk bibinya dulu. Kendati sikap Bik Arning memang buruk sedari dulu, namun Mbah Uti-nya memberlakukan dalih jika darah selalu lebih kental dari pada air.


Membuat dia terikat janji untuk tetap menolong wanita berumur yang sudah menjadi janda lebih dari tiga kali itu. Tak bisa memberikan anak kepada semua suaminya, menjadi alasan yang sama kegagalan rumah tangga bik Arning.


" Kalau bukan karena janjiku pada mendiang mbahku Ndu, udah aku tendang dia dari dulu. Rasanya udah cukup di baikin. Sekarang kok malah ngelunjak dia!"


Pandu terdiam. Ia tahu rekam jejak hidup Aji yang susah di masa dulu. Tak heran, meski Aji saat ini sudah kaya, namun ia masih tatap solid kepada teman-temannya yang ada saat ia jatuh dulu. Terutama Bu Ambar yang seperti seorang malaikat bagi dirinya dulu.


" Makanya dia enggak ada di kasih anak sama yang kuasa ya... karena itu. Karena tabiatnya yang buruk!"


Pandu menelan ludahnya saat melihat sahabatnya yang seolah kembali berada di titik rendah. Jakun pria itu nik turun demi merasakan kegundahan yang sama.


.


.


Widaninggar


Ia benar-benar syok dan tidak sanggup melihat Damar yang kondisinya parah seperti itu. Ia tersadar dari pingsannya beberapa menit usai ia berbaring di atas matras rumah sakit itu.


" Ibuk?" Ia melihat wanita tua yang melahirkannya itu telah berasa di sana saat ia baru membuka matanya.


" Damar gimana buk?" Wida terlihat begitu panik.


" Wid tenang dulu. Damar belum sadar. Kamu tenang dulu!"


Ibu mengusap punggungnya perlahan. Sentuhan lembut Ibu benar-benar membuatnya sedikit lebih tenang.


" Damar sudah di tangani. Kita nunggu kabar dari perawat dulu nduk!"


" Gimana keadaan kamu sekarang Nduk? " Ibu menangis. Sungguh ini yang tidak ia sukai. Kembali membaut orang tuanya mengeluarkan air mata.


" Aku udah enggak apa-apa buk!" Wida mencoba membuat ibunya tenang.


" Buk, Kok aku bisa disini?" Dengan masih meringis karena merasakan nyeri di kepalanya, ia mulai beringsut duduk.


" Tadi Pak Ajisaka yang bawa kita kemari Nduk. Tadi juga dia yang ngurus administrasi kamu sama Damar!"


Wida tertegun. Pria itu...kenapa semesta selalu melibatkan pria itu di tiap titian perjalanan hidupnya?


" Apa mas Aji masih disini?" Tanya Wida ragu-ragu.


Ibu mengangguk " Ada..sama temennya di depan!" Ibu menyusut air matanya.


Sepertinya mas Aji panjang umur. Baru saja di omongkan, kini pria jangkung itu terlihat berdiri di ambang kamar bersama Mas Pandu.


Mata Wida menatap wajah pria yang terlihat menatapnya muram itu. Pandangan mereka terkunci selama beberapa detik. "Are you Ok?"


" Pak Aji!" Ucap ibu yang membuat mereka langsung mengalihkan pandangannya satu sama lain.


" Gimana keadaan kamu?" Mas Aji berjalan mendekat. Pria itu benar-benar terlihat sangat cemas.


Wida menarik senyuman. " Aku baik-baik aja. Tinggal pusing dikit"


" Wid, ibu belikan minum kamu dulu ya?"


" Biar saya temani Buk. Mari!" Pandu sengaja membiarkan dua anak manusia itu untuk berbicara berdua.


Pandu mengedipkan matanya memberikan sebuah clue pada Aji untuk melanjutkan tugasnya sebagai pria.


"This your time!"


" Thanks!"


Kini mereka tinggal berdua. Saling tertunduk meski banyak pertanyaan yang juga bermunculan terkait Bik Arning.


" Aku minta maaf!" Ucap Mas Aji sejurus kemudian.


Wida mendongak, ia belum cerita apa-apa. Tapi kenapa Mas Aji mengatakan hal itu?


Mata Wida memanas. " Sebaiknya kita jangan dekat-dekat lagi mas!" Wida takut jika ia nekat bersama Aji, maka hal buruk akan menimpanya lagi.


" Ngomong apa kamu?" Aji seketika tak setuju dengan ucapan Wida. Lebih tepatnya tak suka.


" Dari awal bibi kamu enggak suka sama aku, dan sekarang anak aku yang jadi korbannya!"


" Aku minta kamu jauhin aku aja mas!" Wida menangis. Meski apa yang terucap bertolak belakang dengan hatinya.


" Widaninggar!"


Aji melotot sembari berucap dengan nada tinggi. Membuat Wida tersentak karena benar-benar terkejut. Aji marah besar!


Apakah Aji benar-benar membentaknya?


Cairan bening itu lolos begitu saja. Aji langsung mengusap wajahnya dengan kasar, begitu menyadari jika ia telah kehilangan kendali.


" Maaf! Aku tertawa emosi!" Kini Aji meriah tangan Wida dengan penuh rasa sesal usai mengangkat suaranya.


" Tolong kamu jangan bicara apapun saat ini!"


Membuat air mata Wida makin deras mengalir.


" Tolong jangan berkata seperti itu Wid. Aku cinta kamu, kau sayang sama kamu. Urusan bibiku biar jadi urusanku. Tolong kamu jangan bilang kayak gitu lagi!"


Aji merengkuh tubuh Wida dalam pelukannya. Memeluknya erat-erat. Sungguh, Aji tak mau sedikitpun mendengar kata-kata seperti itu dari bibir Wida. Tidak mau!


Wida menangis, sungguh ia hanya takut saat ini. Aji mengecup kening Wida penuh cinta. Membuat wanita itu kini pasrah.


" Kamu yang sabar. Habis ini aku pergi dulu. Mau beresin apa yang seharusnya aku beresin dari dulu, hm?" Aji mengecup bibir Wida sekilas lalu memeluk wanita itu sekali lagi. Benar-benar tak mau kehilangan Wida.


Sungguh, Wida lebih berharga daripada dirinya sendiri.


.


.


.


.


.