
Bab 50. Cinta
^^^" Lima huruf yang membuat persoalan tak pernah selesai, CINTA!"^^^
.
.
.
...πππ...
Pandu
Pandu menarik nafasnya, sungguh ia sangat teringat dengan mendiang adiknya yang sama-sama takut akan Petir.
Apa yang terlontar dari mulutnya, nyatanya sama sekali tidak relevan seperti yang tengah ia rasakan dalam hatinya.
Ia peduli.
Ia mencemaskan Fina.
Benar-benar sialan!
Lalu apa faedahnya ia mengucapkan kata untuk ingin hidup seperti saat belum mengenal Fina? Jelas ia telah menjilat ludahnya sendiri.
Jantung Pandu berdetak lebih cepat. Ia tahu jika tangan Fina saat ini melingkar di perutnya yang tanpa sehelai benangpun. Rasa yang sungguh sialan.
Apalagi tubuhnya tak mengenakan pakaian. Membuat sengatan aneh kini menjalari tubuhnya. Fina membuatnya begitu tergugah.
Ia bisa merasakan tubuh bergetar Fina yang berangsur-angsur normal. Meski intensitas hujan masih sama derasnya seperti saat beberapa menit yang lalu. Namun anehnya wanita itu tak bergerak.
Pandu menyibak rambut setengah basah Fina guna melihat wajah wanita itu.
" Oh sial, Fina rupanya tertidur!"
" Maafin aku Ndu!" suara parau Fina terdengar, namun sejurus kemudian nafas teratur dari wanita itu kembali terdengar dari hidung Fina.
Fina mengigau.
.
.
Serafina
Ia sadar jika Pandu merengkuhnya. Tapi ketakutannya akan suara petir yang sangat keras, membuatnya larut dalam sikap hangat Pandu.
Ia tak bohong.
Fina merasa nyaman.
Kebisuan yang terjadi semakin membuat Fina memejamkan matanya dengan khusyu. Aroma tubuh Pandu yang membuat otak bodoh Fina makin bodoh, kini juga membuatnya lebih cepat tertidur.
Hawa dingin, jam yang sudah sangat larut serta riuh suara deras hujan membuat Fina larut dalam lelap. Selain itu, jiwa raganya juga sudah sangat lelah. Bahkan untuk sekedar terjaga.
.
.
Pandu menatap wajah Fina lekat. Bibir ranum Fina jelas terlihat begitu menggoda dari posisi yang sama sekali tak berjarak.
Hatinya sempat merasakan kasihan kala mendengar Fina yang meminta maaf bahkan diluar kesadarannya. Jelas menandakan jika Fina benar-benar merasa bersalah.
Timbul dalam hatinya untuk menepis amarah.
Fina cantik, tiba-tiba seulas senyum terbit dari bibir Pandu demi mengingat pertemuan mereka yang cukup aneh.
Ia juga ingat saat Fina dengan tanpa bersalahnya memeluknya sewaktu di kamar mandi rumah mamak Mariana hanya karena takut dengan kecoa.
Sepertinya wanita itu sama sekali tak menyukai binatang apapun. Dan terakhir saat dengan sikap impulsifnya yang tak pernah habis, Fina menciumnya untuk membuat Riko pergi.
Benar-benar wanita sembrono.
Ngomong-ngomong soal Riko , Pandu kini berfikir. Akan sangat tidak adil jika dia menyalahkan Fina. Mengingat Fina pernah bercerita jika Riko telah berselingkuh dengan sahabatnya. Ia kembali menatap wajah Fina kasihan.
Entahlah, hatinya kini terombang-ambing dengan perasaan tak menentu.
.
.
" Hah!!!!"
Fina terlonjak dan langsung menghentakkan kakinya , kemudian duduk diatas pangkuan Pandu sembari menghadap ke arah pria itu, demi melihat kaki seribu yang merayap diatas kaki mulusnya.
Seketika ia langsung membenamkan wajahnya ke dada bidang Pandu.
" Kenapa lagi Fin?" wajah cemas Pandu tak bisa di sembunyikan. Ia lebih fokus kepada wajah Fina yang kembali ketakutan.
" Banyak banget binatang!" Fina bergidik jijik.
" Sumpah, aku gak suka banget disini!"
Pandu terkekeh, " Ini di sawah, bukan dirumah kamu!"
Fina baru tersadar.
Fina yang tertidur lupa jika ia bersama Pandu tengah terjebak derasnya hujan. Kini baik ia maupun Pandu saling menatap. Sama-sama meneguk ludah masing-masing.
Suasana kian dingin, hujan deras juga seolah tak akan berhenti dalam waktu dekat. Fina menatap nanar wajah Pandu, begitu juga dengan pria itu.
Hanya guyuran hujan yang kini terdengar, bersama dengan sahutan katak yang ngak ngok berbunyi tiada henti.
Oh tidak, kini mereka terjebak diantara perasaan aneh yang tak bisa mereka nafikkan begitu saja.
Pandu merasa tertantang dengan sikap Fina.
Sudah dikatakan, jika ada dua orang bersama, maka yang ketiganya adalah si perusak.
Pandu meraba pipi Fina dalam sorot mata sendu, wanita itu kini merasakan degup jantung yang kian menggila.
Apakah Pandu akan menciumnya?
Oh astaga, ini gila benar-benar gila.
Jakun Pandu terlihat naik turun, seolah mengisyaratkan dirinya untuk berpikir. Benarkah yang mereka lakukan malam ini?
Pandu semakin menekan tengkuk Fina mendekat, sialnya lagi wanita itu justru tersugesti dan menurut. Fina memejamkan matanya.
Membuat Pandu kini yakin dengan apa yang akan ia lakukan.
Gempuran hawa dingin, juga hujan yang seolah menjadi pemandu sorak benar-benar membuat Pandu kehilangan kewarasannya.
Lebih tepatnya, keduanya.
Pandu mencium bibir Fina malam itu dengan perlahan. Fina tak menolak, jauh di dalam hatinya Fina bingung. Bukankah pria itu masih marah kepadanya, namun, mengapa ia memperlakukan Fina dengan begitu lembut saat ini.
Tapi persetan dengan hal itu. Fina sudah lama mendamba Pandu. Sungguh mereka hanyalah anak manusia yang terjebak dalam permainan takdir
Lidah itu kini saling membelit, mereka hanya dua insan dewasa yang masuk dalam pusaran rasa aneh kala berdua.
Fina terlihat menyambut ciuman itu dengan antusias. Tak di sangka, Pandu yang sekilas menurutnya adalah pria lugu, justru kini terlihat beringas.
Pandu juga tak menyangka bila Fina menerima ciumannya. Merasa tak ada penolakan, pria itu kini meraba punggung Fina. Lenguhan dan desa*han terdengar dari bibir Fina.
Mereka berdua telah sama-sama lupa diri. Dengan terengah-engah Fina melepaskan ciumannya. Pandu merasa sesuatu di bawah sana telah sesak, menuntut dan memaksa Pandu untuk bertanggung jawab lantaran telah membangkitkan makhluk penting itu.
Sorot mata mereka berdua berbicara dengan tatapan sendu. Saling menuntut dan saling menginginkan yang lebih. Fina yang telah lebih dulu mencicipi rasa itu, kini seolah juga menginginkan hal yang sama.
Benarkah yang mereka lakukan malam ini?
Benar atau salah biarlah mereka yang menanggung. Apalagi, usia mereka merupakan usia para petualang cinta.
Fina kembali menempelkan bibirnya kepada bibir Pandu, kali ini lebih bergairah dan penuh buncahan gelora. Fina menangkup wajah ganteng pria itu menggunakan kedua tangannya. Menciumnya dengan penuh selera.
Malam tetaplah malam, aku takut sendiri.
.
.
.